Novel, Short Story, and anymore from Sahrial Pratama

April 28, 2019

Untaian Cinta Aisyah (Part 28. Bukan Urusanmu)

by , in
28. Bukan Urusanmu



Aisyah menarik napas lega. Ia baru selesai membersihkan rumah yang dipenuhi debu setelah ditinggal beberapa bulan. Begitu pula dengan Dimas. Sampai dua gelas air tidak cukup untuk menghilangkan rasa lelahnya.

“Apa tidak sebaiknya kita menelepon Lisa? Mungkin dia menunggu kabar kita apa sudah sampai.”

“Enggak,” tolak Dimas. “Kita enggak boleh menelepon atau menghubungi mereka, Kak. Aku sudah enggak mau melihat dan mendengar suara mereka.”

Aisyah mencubit pipi Dimas. “Wah, adikku ini sedang marah, ya?” kata Aisyah, tersenyum lebar.

Dimas berdiri untuk menghindari cubitan Aisyah. “Aku mau ketemu teman-temanku, Kak. Mungkin mereka sudah kangen melihat wajahku yang tampan dan menawan ini.” Dimas menyisir rambutnya dengan jari.

“Wah, ini yang kamu dapat dari sekolah di sana?” kekeh Aisyah. “Kamu jadi narsis, ya. Atau jangan-jangan kamu sudah punya pacar di sana? Itu tidak boleh, Dim. Kamu masih kecil, belum boleh pacar-pacaran.”

“Kak Aisyah ngomong apa, sih?” Dimas bergegas pergi sebelum kakaknya itu mengoceh semakin tidak jelas.

“Assalamualaikum!” Tidak berapa lama setelah Dimas pergi, Bu Jum datang tergopoh-gopoh. “Apa yang terjadi, Nduk? Kenapa kamu tidak beritahu Ibu kalau kalian sudah pulang? Untung Ibu ketemu Dimas tadi. Kalau tidak, mungkin Ibu akan jadi orang terakhir yang tahu kalian sudah pulang.”

Aisyah tersenyum. “Wa’alaikum salam, Bu,” ucapnya dengan tenang. “Aisyah akan beritahu Bu Jum, kok. Tadi Aisyah dan Dimas beres-beres dulu, baru memanggil Bu Jum. Kan, tidak enak memanggil Bu Jum dengan rumah berdebu.”

“Kalau kamu panggil Ibu dari tadi, Ibu malah bisa bantu beres-beres,” sungut Bu Jum.

“Itu yang tidak Aisyah inginkan, Bu. Masa kami baru pulang, langsung ngerepotin Bu Jum?” kekeh Aisyah.

“Ya, sudahlah.” Bu Jum mengibaskan tangannya, lalu ekspresinya tiba-tiba berubah serius. “Tapi kenapa kalian pulang, Nduk? Apa ada masalah? Bayu tidak menyakitimu, kan? Jangan bilang itu terjadi. Kalau tidak, aku akan mengulek laki-laki itu dan seluruh keluarganya. Apalagi Pak Samudera. Dia yang berjanji kalau Bayu tidak akan menyakitimu.”

“Aku tidak apa-apa, Bu.” Aisyah berusaha menenangkan Bu Jum dengan senyumannya. “Semua memang harus berakhir. Dari awal, ini kan sudah salah. Mas Bayu tidak pernah menginginkan pernikahan ini.”

“Bayu menceraikanmu, Nduk? Kalian sudah cerai?”

Aisyah menggeleng. “Belum. Mas Bayu belum menceraikan Aisyah. Hanya saja, Mas Bayu sudah menikah lagi.”

“Lalu? Bukankah kamu sudah setuju kalau dia menikah lagi?” Bu Jum berdiri saking marahnya. “Kenapa baru sekarang kamu protes? Kalau dia belum menceraikanmu, kamu yang minta cerai. Sekarang juga. Bagaimana mungkin dia menikah lagi, sementara kamu masih sehat bugar begini? Benar-benar perlu diberi pelajaran mereka.”

“Ini bukan keinginan Mas Bayu, Bu. Dia juga tidak menginginkannya.”

Bu Jum kembali duduk. “Kalau Bayu tidak menginginkan pernikahan itu, berarti Pak Samudera yang memaksa? Walaupun kamu menjelaskannya berulang kali, sepertinya Ibu tidak akan pernah mengerti,  Nduk.”

“Aisyah juga jadi bingung, Bu.”

“Lah, bagaimana kamu, Nduk? Ibu tidak mengerti karena memang tidak mau mengerti. Tapi, coba kamu jelaskan sekali lagi, Nduk.” Bu Jum menggaruk kepalanya.

“Wanita itu hamil, Bu. Jadi, Mas Bayu terpaksa menikahinya.”

“Hamil? Siapa yang menghamilinya?”

“Mas … Bayu,” jawab Aisyah, ragu.

“Apa?” Bu Jum kembali berdiri sambil tertawa sinis. “Bayu tidak menginginkan pernikahan itu? Tapi, dia membuat wanita itu hamil. Wah, anak Pak Samudera benar-benar gila, ya. Dia tidak mau menikah, tapi dia membuat wanita itu hamil. Benar-benar gila.”

“Kondisinya tidak seperti yang Bu Jum pikirkan.” Aisyah memijat keningnya. Bu Jum sama sekali tidak mengerti dengan kondisi Bayu saat itu. Namun, Aisyah urung untuk menjelaskan.

“Tapi, bagaimana dengan sekolah Dimas, Nduk? Dia baru mulai sekolah di sana, ‘kan?”

“Aku juga tidak mengerti, Bu. Mungkin dia harus pindah lagi.” Aisyah mengusap wajahnya. Ia juga bingung memikirkan sekolah Dimas. Karena pernikahannya yang tidak jelas, sekolah Dimas menjadi terganggu.

***

Di sore hari, matahari bersinar terik. Rudy sedang mondar-mandir di depan Hotel Samudera. Beberapa kali ia menoleh ke dalam, tapi ia kembali berbalik. “Apa aku tidak apa-apa melakukan ini?” tanyanya pada diri sendiri.

“Ada yang bisa saya bantu, Pak?” Satpam yang dari tadi memperhatikan Rudy akhirnya mendekat.

Rudy tersenyum. “Tidak apa-apa, Pak. Saya sedang menunggu seseorang.”

Satpam itu mengangguk. “Bapak bisa menunggu di dalam. Di sana ada kursi. Daripada Bapak mondar-mandir di sini, saya ikut pusing melihatnya,” kekeh si satpam sambil menunjuk deretan kursi yang ada di lobi.

Rudy memutuskan untuk masuk ke dalam daripada membuat si satpam pusing. Ia menoleh ke kiri dan kanan, mengamati sekeliling dengan saksama. Setelah puas memindai sudut lobi, ia menghela napas. Dalam hati, ia membandingkan dirinya sendiri dengan Bayu. “Aku memang tidak apa-apanya kalau dibandingkan dengan dia,” sesal Rudy.

Ia tidak punya nyali lagi untuk menemui Bayu. Padahal, ketika mendengar Aisyah telah kembali ke kampung, Rudy sangat marah. Bahkan, ketika mengajar tadi, ia sudah menyusun kalimat-kalimat kasar yang akan diucapkannya. Tetapi, realita telah mengalahkan kemarahannya.

Daripada lebih malu lagi, Rudy memutuskan untuk pergi. Namun, ketika ia baru berbalik, seseorang menyetuh pundaknya. Ia menoleh sejenak ke belakang. Mampus, batin Rudy.

“Selamat sore! Kamu temannya Aisyah, kan? Ada yang bisa kubantu?” Bayu menyapa dengan ramah, tidak seperti pertama kali mereka bertemu.

Rudy menarik napas panjang, lalu menatap Bayu. “Iya. Tapi, aku bukan mau memesan kamar di sini. Aku mau menemuimu untuk mengatakan satu hal.”

“Apa?”

Rudy menatap kiri dan kanan. Ada beberapa pegawai Hotel Samudera yang mondar-mandir di sekelilingnya. Jika ia menarik kerah kemeja Bayu seperti yang ada dalam rencananya, mungkin ia akan langsung diusir.

Rudy tertawa sinis. “Hotel ini memang luar biasa. Hanya orang-orang dengan kantung tebal yang bisa memesan kamar di sini.”

“Tidak seperti itu juga.”

“Tidak usah dibahas.” Rudy mengibaskan tangannya. “Apa dengan menjadi pemilik hotel semewah ini, kamu bisa melakukan semua sesuka hatimu?”

Bayu mengernyit. Ia tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan Rudy. “Aku tidak mengerti dengan apa yang kamu bicarakan. Sebaiknya kita ke ruanganku. Tidak enak bicara di sini.”

“Aku hanya sebentar.” Rudy menyilangkan tangan di dada. “Apa yang terjadi pada Aisyah?”

“Aisyah? Apakah Lisa yang menceritakan itu padamu?”

“Bukan. Apa kamu tidak tahu kalau Aisyah tinggal di daerah pedesaan? Gosip di sana sangat cepat berkembang. Pamanku yang ada di sana sampai menelepon hanya untuk menanyakan tentang kebenaran Aisyah.”

“Kebenaran?”

“Orang-orang di sana menggosipkan Aisyah sebagai istri yang tidak becus, apa kamu tahu itu?”

“Maaf. Tapi, sebenarnya ini bukan urusanmu. Ini rumah tangga kami dan orang lain tidak perlu ikut campur.” Bayu meradang. “Aisyah adalah istriku. Aku adalah suaminya. Dan, kamu adalah orang lain. Paham?”



“Aku memang orang lain. Tapi, aku orang yang peduli dengannya. Aku tidak perlu ikatan pernikahan untuk peduli dengan seorang teman, bukan?”

Bayu melotot. Ia tidak terima dengan ucapan Rudy. Sebelum amarahnya semakin memuncak, ia memutuskan untuk pergi. Berhadapan dengan Rudy sama saja akan menambah masalahnya. Semua ucapan Rudy yang mengindikasikan ia menyakiti Aisyah, sedikit pun tidak bisa ia toleransi.

April 28, 2019

Untaian Cinta Aisyah (Part 27. Kalut)

by , in
27. Kalut



“Bagaimana kondisi istri saya, Dok?” tanya Bayu ketika dokter selesai memeriksa Keyla.
Dokter itu tersenyum, lalu menjawab, “Bapak tenang saja. Istri dan bayi Bapak baik-baik saja. Untunglah baju istri Bapak agak longgar dan dia menarik bajunya sehingga tidak mengenai perut. Jadi, tidak ada masalah. Tapi, untuk memastikan kondisinya, lebih baik istri Bapak menginap untuk malam ini.”

“Iya, Dok,” sahut Bayu, mengembuskan napas lega.

“Kalau begitu, kami permisi dulu, Pak.” Dokter yang memeriksa Keyla pergi bersama dengan dua orang suster yang membantunya.

Bayu menatap Keyla yang sedang tertidur. Ia benar-benar bersyukur istrinya itu baik-baik saja. Dunianya sempat terasa gelap saat melihat Keyla merintih kesakitan sambil memegang perutnya tadi. “Untunglah tidak terjadi apa-apa,” desah Bayu.

Pak Samudera merangkul Bayu. “Ayo kita bicara di luar agar Keyla bisa istirahat. Kalau kita di sini, nanti bisa mengganggunya.”

Bayu menurut. Ia mengikuti Pak Samudera keluar dan duduk di kursi yang ada di depan kamar Keyla. Mereka melepas lelah setelah panik yang mendera beberapa jam belakangan ini.

“Bay, apa kamu tidak ingin menelepon Aisyah?” kata Pak Samudera ketika Bayu mulai memejamkan mata.

Kelopak mata Bayu terbuka. Nama Aisyah seolah mendobrak pintu kesadarannya. Ia langsung merogoh ponsel dari saku dan menelepon Aisyah. Tetapi, berapa kali pun Bayu mencoba menelepon, Aisyah tidak kunjung menjawab

Memorinya mendadak memunculkan gambar-gambar yang sama sekali sulit diterima oleh Bayu. Ia mendorong Aisyah dan mengatakan Aisyah sengaja mencelakai Keyla. Mengingat kejadian itu, Bayu meremas kepalanya. Ia tidak percaya sudah melakukan semua itu pada Aisyah.

“Bay, tenangkan dirimu.” Melihat Bayu sangat gelisah karena telepon yang tidak diangkat, Pak Samudera berdiri. “Mungkin Aisyah sedang tidur sekarang.”

“Tidak mungkin, Pa. Aisyah bukan orang yang seperti itu. Kalau ada orang yang terluka, dia pasti tidak akan bisa tidur,” ujar Bayu.

“Kalau kamu tahu itu, kenapa kamu masih membentaknya tadi, hah? Kalau Aisyah memang wanita seperti yang kamu katakan, apa mungkin dia melakukan semua itu pada Keyla?”

Bayu terdiam. Bibirnya bergetar. Namun, tidak sepatah kata pun ia ucapkan. Ia juga tidak mengerti apa yang ada dalam benaknya hingga bisa melakukan itu. Ia sangat kalut ketika Keyla kesakitan. Sudah banyak derita yang diberikannya pada Keyla. Dan, ia tidak bisa menambahnya lagi dengan membuat Keyla kehilangan bayinya.

Ya, perasaan bersalah itu sungguh mengganggu. Meski sudah menikah, tapi perasaan Bayu belum berubah untuk Keyla. Ia tidak akan pernah bisa mencintai Keyla seperti ia mencintai Aisyah.

Cinta? Kapan cinta itu datang? Entahlah. Hanya saja Bayu menyadari kalau ia tidak mau kehilangan Aisyah.

Pak Samudera menuntun Bayu untuk kembali duduk. “Aisyah wanita yang baik. Dia pasti mengerti kenapa kamu melakukan itu. Dia pasti tahu kalau kamu tidak sengaja.”

“Aku harus pulang dan menemuinya, Pa. Aku harus minta maaf. Setiap detik, aku tidak akan bisa tenang sebelum bertemu dengan Aisyah.”

“Apa kamu akan pulang dan meninggalkan Keyla di sini sendirian? Dia juga istrimu, Bay. Kamu yang mengatakan itu.” Pak Samudera menahan Bayu. “Kamu bertemu Aisyah besok pagi saja. Kamu harus bersabar.”

Bayu tidak bisa berbuat apa-apa. Semua yang dikatakan Pak Samudera benar. Bayu tidak bisa melupakan Keyla begitu saja. Meski akan terasa lambat, tapi malam akan berlalu juga. Pagi akan datang dan ia akan bertemu dengan Aisyah, kemudian menjelaskan semuanya.

***

Seperti yang dikatakan Pak Samudera, mereka pulang di pagi hari setelah kondisi Keyla diperiksa dokter untuk memastikan ia dan bayinya baik-baik saja. Keyla sudah mampu berjalan dengan baik dan rasa panas di perutnya sudah tidak terasa.

“Bagaimana kondisi … Kak Keyla?” tanya Lisa menyambut Keyla, Bayu dan Pak Samudera. Setelah bertanya, ia mengalihkan pandangan ke arah lain.

“Keyla baik-baik saja,” jawab Pak Samudera. “Oh ya, Aisyah di mana? Dimas sudah pergi sekolah, ya?”

Bayu membantu Keyla ke kamarnya, sementara Pak Samudera mengobrol dengan Lisa. Sembari berjalan, bola mata Bayu melirik ke kiri dan kanan. Ia mencari seseorang yang sejak semalam ingin ditemuinya. Tetapi, ia tidak melihat atau mendengar suara dari wanita yang dirindukannya itu.

Setelah mengantar Keyla ke kamar, Bayu kembali turun. Ia pergi ke kamar, dapur, ruang kerjanya, dan ke kamar Dimas. Namun, ia tidak menemukan Aisyah meski sudah berkeliling rumah.

“Apa Papa tahu Aisyah di mana?” tanya Bayu pada Pak Samudera yang baru keluar kamar.

“Lisa belum mengatakannya?”

“Mengatakan apa, Pa?” Dahi Bayu berkerut. Ia merasakan firasat buruk.

“Tadi waktu kamu mengantarkan Keyla ke kamar, Lisa bilang, Aisyah dan Dimas pergi.”

“Pergi?” ujarnya tidak percaya. “Mereka pergi ke mana? Kok pergi tidak pamit sama Bayu atau pada Papa?”

Pak Samudera menarik napas. “Mereka kembali ke kampung. Dan, ini adalah keputusan Aisyah. Dia tidak mau tinggal di rumah ini lagi.”

Bayu menggeleng. “Tidak bisa, Pa. Aisyah tidak bisa meninggalkanku seperti ini. Dia tidak boleh pergi sebelum mendengar penjelasanku. Tidak mungkin Aisyah pergi. Dia sudah berjanji.”

Bayu berlari ke luar. Ia akan mengejar Aisyah. Tidak akan ia biarkan Aisyah pergi begitu saja tanpa mengucapkan apa-apa padanya. Bayu sadar kalau Aisyah tersakiti dengan sikapnya tadi malam. Tetapi, pergi tanpa mendengar penjelasannya, Bayu tidak bisa menerimanya.

“Kak Bayu!” teriak Lisa ketika Bayu baru membuka pintu mobil. Ia kemudian berlari kecil menghampiri kakaknya itu. “Kak Bayu tidak boleh mengejar Kak Aisyah,” kata Lisa, menutup pintu mobil.

“Apa yang kamu katakan, Lisa? Aisyah adalah istriku. Aku berhak untuk membawanya kembali ke rumah ini.”

“Kak Bayu memang suami Kak Aisyah, tapi Kakak tidak berhak menyakitinya. Kak Bayu tidak memiliki hak untuk melukainya lebih dalam dan menghancurkannya lebih parah lagi.”

“Apa yang kamu katakan, Lisa?” Bayu memijat keningnya. “Kamu tahu kalau Kakak sudah berubah, ‘kan? Kamu tahu kalau Kakak sangat mencintai Aisyah. Kamu tahu kalau Kakak tidak akan menyakitinya. Dan semalam, itu tidak sengaja. Kakak hanya panik melihat Keyla kesakitan.”



“Ya. Kak Keyla. Semua karena Mak Lampir itu.” Lisa melirik jendela kamar Keyla yang bisa dilihat dari bawah. “Kak Aisyah tahu kalau Kakak mencintainya. Kak Aisyah juga tahu kalau Kakak tidak sengaja melakukan tindakan bodoh seperti semalam. Tapi, Kak Aisyah tidak sanggup lagi, Kak. Dia sudah terlalu sakit. Dan, jika terus dia bertahan di sini, dia takut tidak bisa bangkit lagi.”

“Aku tidak peduli,” tegas Bayu, membuka kembali pintu mobil.

“Kak Bayu!” Lisa tidak mau kalah. Ia menutup lagi pintu mobil. “Tolong Kakak mengerti. Kalau Kakak membawa Kak Aisyah tinggal di sini, maka akan banyak orang yang terluka. Bukan hanya Kak Aisyah dan Keyla, tapi Dimas juga. Apa Kakak tidak memikirkan Dimas? Dia melihat semuanya, Kak. Dia tidak mungkin terima kalau Kakaknya diperlakukan seperti ini. Dan, Kak Keyla. Ya, aku memang tidak menyukai Kak Keyla, tapi aku juga kasihan padanya. Dia sedang hamil. Dia sedang mengandung anak Kak Bayu. Kakak juga tidak pantas memperlakukan dia seperti ini. Kakak harus menjaganya. Coba Kak Bayu pikir, kalau Kak Aisyah tinggal di sini, apa Kak Bayu akan memberi perhatian penuh pada anak yang dikandung Kak Keyla?”

Lisa mengambil kunci mobil yang ada di tangan Bayu. “Biarkan Kak Aisyah pergi. Ini adalah keputusannya. Dan, Kakak harus melakukan yang terbaik untuk anak Kakak. Jangan sampai pengorbanan Kak Aisyah sia-sia.” Lisa kemudian masuk, membawa kuncil mobil untuk memastikan Bayu tidak menyusul Aisyah.

Sementara itu, Bayu terkulai lemas. Ia bersandar pada mobil dengan mata terpejam. “Aisyah,” panggilnya. Tidak sekali, tapi berulang kali ia memanggil nama Aisyah hingga tanpa sadar air matanya menetes.

April 28, 2019

Untaian Cinta Aisyah (Part 26. Panik)

by , in
26. Panik




Malam hari, Lisa duduk di depan TV sambil sesekali menoleh ke kamar Keyla yang terletak di lantai dua. Ia menunggu apa lagi yang akan dilakukan Keyla untuk membuat Aisyah jengkel. Saat melihat pintu kamar Keyla terbuka, Lisa lantas berdiri. Keningnya berkerut, melihat Keyla membawa sebuah plastik.

Karena tidak sabar, Lisa berdiri dan menunggu Keyla di ujung tangga.

“Kamu pasti penasaran apa yang ada dalam kantung plastik ini, ‘kan?” ujar Keyla ketika berpapasan dengan Lisa.

Lisa mengalihkan pandangan. Kali ini, ia tidak bisa membantah ucapan Keyla.

“Tenang aja.” Keyla menepuk lengan Lisa. “Ini bukan bom, kok. Ini cuma jilbab. Tadi aku beli online. Yah, packingnya agak berantakan, sih. Tapi, tidak apa-apa selama isinya tidak berantakan. Oh ya, aku juga beliin satu untuk kamu.”

“Tidak butuh.”

“Aku beli ini bukan karena kamu butuh, tapi karena aku ingin membelikannya.” Keyla memberikan salah satu jilbab yang baru dibelinya. “Di mana Aisyah? Aku juga beliin satu buat dia, sekalian mau minta diajari cara pakainya.”

“Kenapa harus Kak Aisyah yang ngajarin Kakak? Aku juga bisa, kok,” kata Lisa, mencegah Keyla untuk menyusun rencana yang bisa membuat Aisyah terluka.

“Ah, Kakak tidak mau kalau kamu yang ngajarin. Nanti, jilbabnya bukannya nutupin kepala, tapi ngegantungin leher,” kekeh Keyla, membuat Lisa hampir meradang. “Cuma bercanda, kok,” ucapnya kemudian.

Keyla berjalan menuju meja makan sambil tertawa cekikikan. Tawanya tidak kunjung reda, meski ia sudah di meja makan dan berdiri di depan Aisyah.

“Ada apa, Key? Kenapa kamu tertawa seperti itu?” tanya Aisyah, melihat Keyla masih tertawa.

“Tidak ada apa-apa.” Keyla berusaha meredakan tawanya, lalu memberikan sebuah jilbab berwarna merah muda pada Aisyah. “Aku beli ini buat kamu. Aku juga beli buat Lisa. Oh ya, aku ingin kamu ngajari aku pakai jilbab ini.”

“Terima kasih, Key. Aku akan mengajarimu nanti.”

“Jangan nanti, sekarang aja. Aku mau semua orang melihatku memakai jilbab waktu makan malam.”

“Bu, sop ini diletakkan di mana?” Bi Darti membawa sebuah baskom dengan asap yang masih mengepul.

Aisyah meletakkan jilbab yang diberikan Keyla dikursi, lalu menggantikan Bi Darti memegang sop yang masih panas. “Bi Darti, tolong minta Ratih bawain ayam goreng tadi siang. Aku sudah panaskan ayamnya, jadi itu masih bisa dimakan,” kata Aisyah, meletakkan sop ke atas meja.

“Ajari aku sekarang, ya,” pinta Keyla, menarik lengan Aisyah hingga sop yang belum sempat diletakkan tumpah mengenai perutnya.

Keyla menjerit. Perutnya terasa terbakar setelah tersiram sop yang masih panas. Ia jatuh sambil terus memegang perutnya. “Bayiku! Panas!” teriak Keyla hingga seisi rumah keluar.

“Ada apa? Apa yang terjadi?” tanya Bayu, keluar dari ruang kerjanya. Pak Samudera, Lisa, dan Dimas pun sudah berdiri, menatap Keyla yang terus merintih.

“Tadi aku mau meletakkan sop ke atas meja, Mas. Tapi, Keyla menarik tanganku dan sop yang kupegang ….” Aisyah tidak mampu meneruskan ucapannya. Ia panik dan tidak bisa berpikir apa-apa. Ketika tangannya menyentuh perut Keyla, ia merasa bersalah. Jika terjadi sesuatu pada bayi yang dikandung Keyla, Aisyah tidak akan memaafkan dirinya sendiri.

“Key, kamu tidak apa-apa?” Bayu memeluk Keyla dan memeriksa perut istrinya itu. Namun, Keyla hanya menjawab dengan tangis dan rintihan.

“Bi Darti, cepat ambilkan es batu!” Pak Samudera memberi perintah. Ia juga panik melihat menantunya kesakitan. “Lisa, siapkan mobil. Kita akan bawa Keyla ke rumah sakit.”

Meski tidak menyukai Keyla, Lisa tidak bisa membantah perintah papanya. Ia juga merasa kasihan melihat Keyla kesakitan seperti itu.

“Key ….” Aisyah mencoba membantu meredakan panas di perut Keyla dengan es batu yang diambil Bi Darti. Namun, Bayu mendorongnya hingga terhempas.

Aisyah menahan perasaannya. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa Bayu mendorongnya karena panik. Namun, bukan ia sendiri yang harus ditenangkannya. Kemarahan Dimas yang berdiri di sampingnya juga perlu dikendalikan. “Kakak tidak apa-apa,” ucap Aisyah pada Dimas lewat gerak bibirnya.

“Mobilnya udah siap,” ujar Lisa kehabisan napas karena berlari.

Aisyah kembali mendekati Keyla untuk membantu Bayu memapahnya. Tetapi, Bayu kembali mendorong Aisyah hingga hampir terjatuh jika saja Dimas tidak sigap memegangnya. “Jangan berani menyentuhnya! Kamu yang membuat Keyla seperti ini. Kamu tidak ingin Keyla melahirkan anakku, makanya kamu melakukan semua ini,” bentak Bayu.

“Kak Bayu.” Lisa berusaha menahan Bayu sebelum kakaknya itu mengucapkan kata-kata yang lebih menyakiti Aisyah.

 “Jangan berani mendekati Keyla,” ujar Bayu dengan nada yang penuh ancaman.

Pak Samudera tidak mampu berkata apa-apa melihat ekspresi Bayu. Ditambah Keyla yang terus merintih, kepalanya terasa mau pecah. “Kita bicarakan ini nanti. Lebih baik sekarang kita bawa Keyla ke rumah sakit sebelum kondisinya makin parah.” Pak Samudera bergegas pergi setelah meminta kunci mobil pada Lisa.

Aisyah yang terkejut dengan ucapan Bayu, berdiri terpaku dengan air mata mengalir di pipinya. Ia terus menatap punggung Bayu yang seolah mengucapkan selamat tinggal untuknya.

“Kak Aisyah, ucapan Kak Bayu ….”

“Ayo kita pergi, Kak!” Dimas menarik tangan Aisyah sebelum Lisa menyelesaikan kalimat yang ingin diucapkan. Dengan amarah yang meggelegak, Dimas membawa kakaknya ke kamar. Ia sudah tidak bisa menoleransi apa yang dilakukan Bayu pada Aisyah. Ia akan membawa Aisyah pulang malam ini juga.

“Barang-barang Kak Aisyah di mana?” tanya Dimas, mengambil koper yang ada di atas lemari.

“Kamu mau ngapain, Dim?” tanya Lisa, merampas koper dari tangan Dimas.

“Apa Kak Lisa tidak melihat Kak Aisyah?” Dimas menunjuk pada kakaknya yang menangis di pinggir tempat tidur. “Kami akan pulang, Kak. Ini yang terbaik.”

“Kalian tidak boleh pergi.” Lisa tidak mau menyerahkan koper yang ada di tangannya.


“Tolong biarkan kami pergi, Kak.” Dimas menarik napas. “Tolong biarkan Kak Aisyah lepas dari penderitaannya. Aku enggak bisa melihat Kak Aisyah menangis lagi. Sudah cukup sampai di sini saja. Kalau kami bertahan lebih lama, aku tidak tahu harus sehancur apa lagi Kak Aisyah.”

Kali ini Lisa tidak bisa membantah ucapan Dimas. Aisyah memang sudah terlalu banyak terluka. Tidak seharusnya ia egois dengan mempertahankan Aisyah untuk mengalami penderitaan lagi.

Dimas memasukkan semua barang Aisyah ke dalam koper yang akhirnya diberikan Lisa. Setelah barang-barang Aisyah selesai dikemas, Dimas bergegas ke kamarnya untuk mengambil barang-barangnya.

“Apa Kak Aisyah akan benar-benar pergi?” tanya Lisa, setelah Dimas pergi.

Aisyah menengadahkan wajah, lalu menyeka kedua matanya. “Dimas benar. Kami harus pergi. Ini yang terbaik.”

“Apakah Kak Aisyah sudah menyerah?”

“Tidak. Aku pergi bukan karena menyerah, tapi hanya karena semua memang sudah selesai.” Aisyah meraih tangan Lisa, lalu menggenggamnya. “Mas Bayu sudah memiliki Keyla. Bahkan, sebentar lagi mereka akan punya anak. Lagi pula, semua sudah lebih baik dari sebelumnya. Seperti yang kujanjikan padamu.”

“Tapi ….”



Aisyah menggeleng. “Aku bukan malaikat. Aku hanya wanita yang bisa terluka dan membenci. Sebelum luka di hatiku menjadi benci yang mendalam, aku harus pergi dan melupakannya.”

“Apa Kak Aisyah tidak mencintai Kak Bayu?”



“Untuk saat ini, cinta bukanlah hal yang tepat untuk ditanyakan. Karena apa yang terbaik, itu yang lebih penting.”

“Dan menurut Kak Aisyah, ini yang terbaik?” Lisa menunjukkan kekecewaannya.

“Menurutku ini yang terbaik, Lis. Aku dan Keyla akan sama-sama terluka jika aku tetap bertahan di sini. Dan yang lebih penting lagi, Mas Bayu akan kesulitan memilih jika aku tetap di dekatnya.”

Aisyah kemudian berdiri setelah mendengar Dimas memanggilnya. Ia memeluk Lisa dengan erat. Hari-harinya akan lebih buruk jika seandainya Lisa tidak ada. “Kamu harus selalu tersenyum, ya. Dan, jangan biarkan Boy main-main denganmu.”

Lisa mengantarkan Aisyah dan Dimas sampai ke pintu gerbang. Mereka akan diantar oleh Pak Slamet ke terminal.

Tiba-tiba saja Lisa merasa sesak. Air matanya tumpah tidak mampu ia bendung. Ini sama seperti saat mamanya meninggal. Ia sedih dan kehilangan arah. Namun, kali ini ia telah berjanji pada dirinya sendiri. Ia akan lebih kuat dan lebih tegar. Ia harus merelakan Aisyah dan Dimas pergi. Karena dengan seperti itu, Aisyah tidak akan terluka lagi seperti yang dikatakan Dimas.

April 28, 2019

Untaian Cinta Aisyah (Part 25. Pahit)

by , in
25. Pahit



Takdir itu sama sekali tidak bisa dihindarkan. Karena satu bulan kemudian, Keyla telah berada di rumah Pak Samudera dengan status sebagai istri Bayu. Bukan membawa bahagia, melainkan membawa kelam. Tidak ada yang tersenyum, semua menyambut Keyla dengan dahi berkerut.

Pesta pernikahan diadakan sederhana dua hari yang lalu. Hanya akad nikah tanpa ada resepsi. Meski seperti itu, semua pegawai hotel Samudera mengetahui tentang pernikahan ini. Mereka membicarakan Keyla, menuduh Keyla bertingkah genit sehingga berhasil merebut Bayu dari Aisyah.

“Lisa, kamu lihat Bayu, enggak?” tanya Keyla, keluar dari kamar.

“Tanya aja sama tembok.” Lisa lewat begitu saja menuju meja makan. Sejak kedatangan Keyla, Lisa belum pernah tersenyum lagi.

Keyla mendengkus, menahan kesal. Ia merasa tidak pantas menerima perlakuan seperti ini. Ia bukan wanita yang ditemukan di jalanan begitu saja. Sekarang, ia adalah istri Bayu dan sedang mengandung penerus keluarga Samudera.

“Selamat pagi, Aisyah,” sapa Keyla ketika ia melihat Aisyah keluar dari kamar. “Apa kamu melihat Bayu?”

“Selamat pagi. Aku belum melihat Mas Bayu dari semalam. Bukannya Mas Bayu tidur di …” Aisyah menahan sesak di dadanya, “di kamarmu?”

“Tidak. Semalam aku tidur sendiri.”

Mendengar jawaban Keyla, Aisyah bergegas ke ruang kerja Bayu. Dugaan Aisyah tepat. Bayu sedang berada di ruangan itu dengan wajah menempel ke meja. Mas Bayu tidur di sini, batin Aisyah.

“Mas Bayu, bangun. Udah pagi, Mas.” Aisyah mengguncang tubuh Bayu dengan pelan. “Mas Bayu hari ini ke kantor, ‘kan?”

Bayu mengangkat kepalanya, lalu meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku.

“Kenapa Mas Bayu tidur di sini?” tanya Aisyah.

Bayu tidak menjawab. Ia malah memeluk Aisyah dengan erat. “Aku tidak tahu apa aku sanggup terus seperti ini.” Bayu menghela napas. “Aku tidak bisa berbuat seperti apa yang sudah kurencanakan. Setiap berdiri di depan pintu kamar Keyla, aku merasa menjadi laki-laki yang paling hina di dunia ini.”



“Semua ini sudah terjadi, Mas. Kita tidak bisa menghapus kesalahan di masa lalu. Tapi, kita bisa memperbaikinya dengan melakukan yang terbaik di masa sekarang.”

“Bayu.” Keyla menerobos masuk. “Apa kamu tidak bisa menghargai aku sedikit saja? Apa kamu juga tidak sadar kalau aku sedang mengandung anakmu? Ini buah cinta kita, Bay.”

“Jangan mulai lagi, Key. Ini masih pagi.” Bayu mendekati Keyla. “Ayo kita keluar.”

“Siapa yang mulai duluan, Bay. Kamu yang duluan.” Keyla menepis tangan Bayu yang berusaha meraih tangannya. “Semalaman aku nungguin kamu. Dan, pagi ini aku nyariin kamu. Tapi, kamu malah di sini berpelukan dengan Aisyah. Kamu anggap aku ini apa, Bay? Kamu memangnya tidak menyayangi anak kita?”

“Tidak seperti itu, Key. Semalam aku harus menyelesaikan beberapa laporan sebelum ditunjukkan ke Papa. Jadi, karena kelelahan, aku tidur di sini.”

“Alah, itu cuma alasanmu.” Keyla keluar dengan wajah ditekuk.

“Ayo, Syah.” Bayu menoleh pada Aisyah, lalu keluar. Kepalanya terasa akan pecah menghadapi sikap Keyla yang selalu membuatnya tidak tenang. Ya, bukan salah Keyla sepenuhnya. Bayu sendiri memiliki andil besar dari sikap yang ditunjukkan istri keduanya itu. Salahnya tidak bisa bersikap seperti dulu pada Keyla. Dulu ia bisa bersikap mesra. Memeluk dan mencium Keyla dengan mudah. Tetapi, setelah ia memutuskan membuka hati untuk Aisyah, perasaan canggung tiba-tiba saja menyergap seperti benteng yang menghalangi tangannya.

***

“Rotinya enggak enak, ya. Pahit,” celetuk Lisa, meletakkan roti kembali ke piring. Ia kemudian menatap Dimas yang sama sekali tidak menyentuh sarapannya. “Sarapannya enggak enak, kan, Dim?”

Dimas tidak menjawab, ia hanya memutar-mutar piring dengan pandangan kosong.

“Walaupun sarapannya kurang enak, tapi anak kita suka. Iya, kan, Bay?” Keyla meletakkan tangannya di atas tangan Bayu. “Kamu enggak mau nyapa anak kita, Bay? Kamu belum pernah nyapa dia, lho.”

Lisa mengalihkan pandangannya. Ia hampir muntah mendengar nada bicara Keyla yang sok imut dan sok manja. Hampir saja kalimat yang menyakitkan keluar dari mulutnya. Namun, Lisa menahan kekesalannya karena anak yang ada dalam kandungan Keyla juga adalah keponakannya sendiri.

“Aisyah, kamu juga boleh menyapa anak dalam perutku. Karena bagaimana pun, kamu juga adalah ibunya.” Keyla sengaja memancing kemarahan Aisyah. Ini juga untuk membalas kejadian tadi pagi.

“Iya, Key. Tapi, sebaiknya kita tidak banyak bicara ketika makan,” sahut Aisyah tersenyum lebar.

Bayu menghela napas. Ia berdiri sambil berkata, “Aku berangkat dulu. Pa, Bayu duluan.”

Melihat Bayu pergi, Aisyah ikut berdiri dari kursi. Namun, Keyla tidak mau kalah. Ia ikut mengantar Bayu berangkat ke kantor. Ini bukan pertama kalinya Keyla mengantarkan Bayu seperti ini. Ia sudah sering melakukannya ketika Bayu menginap di rumahnya dulu. Bahkan, lebih sering dari Aisyah.

“Mas Bayu,” panggil Aisyah. Ia meraih tangan suaminya itu dan menciumnya. “Hati-hati, Mas.”

Bayu tersenyum, lalu mencium kening Aisyah. “Kamu harus bertahan Aisyah. Aku mencintaimu lebih dari apa pun.”

“Bayu.” Keyla datang menyusul. “Kamu tidak lupa kebiasaan lamamu, ‘kan? Atau jangan-jangan kamu sudah berubah? Kalau kamu lupa atau sudah berubah, aku mau ingatin kamu, deh. Dulu kamu sering nginap di rumahku, ingat, kan? Dan waktu kamu mau pergi ke kantor, kamu selalu nyium pipi kiri dan kananku. Jangan bilang kamu lupa.”

Bayu menatap Aisyah. Melihat istrinya itu memalingkan wajah, Bayu mengulurkan tangan. Niatnya untuk bersalaman, tapi Keyla malah ingin mencium. Sialnya, tidak jadi karena Bayu langsung menghindar.

“Kak Aisyah, Dimas nyariin, tuh. Dia lupa naruh bukunya di mana,” kata Lisa, dengan wajah ditekuk.

“Iya.” Aisyah buru-buru masuk.

“Kamu enggak bareng sama Kakak, Lis?” tanya Bayu, sengaja menghindar dari Keyla.

“Enggak, Kak. Aku sama Papa aja.”

Bayu mengangguk, lalu pergi. Ia mengabaikan Keyla yang seperti ingin mengatakan sesuatu. Ketika sudah masuk mobil, Bayu memijat keningnya. Entah sampai kapan ia bisa menghadapi suasana seperti ini. Aisyah yang selalu diam dan Keyla yang terlalu agresif. Benar-benar membuat pusing. Apa akan ada kata tenang dalam pernikahannya?

“Kak Keyla sengaja manas-manasin Kak Aisyah?” ujar Lisa, mencegat Keyla.

“Apa kamu tidak bisa menunjukkan sikap hormat sedikit saja di depanku, Lis?” Keyla menyilangkan tangan di dada. Kemudian, ia tersenyum, “Aku pernah ke rumah ini dan beberapa kali melihatmu di kantor Bayu. Tapi, waktu itu kamu tidak memakai jilbab seperti sekarang. Apa ini semua karena Aisyah?”

“Jangan pedulikan penampilan Lisa, Kak. Lisa juga kenal Kak Keyla. Bahkan, teman-teman Lisa juga kenal Kakak. Tapi, satu hal yang harus Kakak ingat. Jangan pernah menyakiti Kak Aisyah. Kak Aisyah itu wanita yang baik, tidak seperti ….”

Keyla menegang. “Kamu mau bilang aku bukan wanita yang baik, hah?” Keyla menghela napas. “Aku sudah capek mendengar itu, Lis. Di kantor, aku jadi bahan omongan karyawan lain. Mereka menghinaku, mengatakan aku wanita murahan. Dan di sini, di rumah suamiku sendiri aku juga dicap bukan wanita baik-baik.” Keyla kembali menarik napas. “Apa kamu tidak bisa melihat kalau aku juga menderita?”

“Menderita?”

“Bayu yang datang padaku, bukan aku yang merayunya. Ingat itu. Bukan aku yang menawarkan dadaku sebagai tempat bersandarnya, dia yang datang sendiri.” Keyla melotot tajam. “Kutegaskan sekali lagi, dia yang datang sendiri padaku.”

“Apa itu benar?” Lisa tidak mau kalah. “Sebagai seorang wanita, seharusnya kita enggak membuka pintu rumah begitu saja untuk seorang laki-laki, terutama kalau wanita itu hanya tinggal sendiri.”

“Bayu bukan orang lain untukku, Lis.”

“Ya, aku tahu Kak Bayu bukan orang lain untuk Kak Keyla. Kalian sama-sama kuliah di London, aku tahu. Aku sering lihat foto-foto Kak Bayu sama Kak Keyla di sosmednya.” Lisa manarik napas. Perlahan, air matanya menetes. Ia teringat saat mamanya meninggal. “Di saat Kak Bayu datang ke rumah Kakak, apa dia langsung merebahkan kepalanya di dada Kak Keyla? Lisa tahu pada saat itu Kak Bayu tertekan banget karena meninggalnya mama. Tapi, sebagai seorang sahabat, Kak Keyla seharusnya mendekatkannya pada Allah, bukan menjerumuskannya.”

“Apa kamu bilang? Menjerumuskannya?” Keyla tidak terima.

Lisa mengalihkan pandangan. Ia tersenyum sinis, lalu berkata, “Sebagai seseorang yang berpendidikan, Kakak seharusnya bisa menjaga diri.”

Lisa buru-buru masuk ke dalam rumah sebelum Keyla sempat membalas ucapannya. Mengobrol dengan Keyla, hanya akan membuat darahnya mendidih. Ia tahu tidak seharusnya menyalahkan Keyla begitu saja. Tetapi, melihat Keyla selalu menunjukkan kelebihannya di depan Aisyah, Lisa merasa tidak bisa diam begitu saja.

April 28, 2019

Untaian Cinta Aisyah (Part 24. Aku Akan Bertahan)

by , in
23. Aku Akan Bertahan


Sampai jam pulang kantor, Bayu masih berkutat dengan laptopnya. Ia terus membaca artikel di internet mengenai salat istikharah. Benar, ini yang ia butuhkan. Saat diri sendiri tidak bisa memilih di antara dua pilihan, hanya Allah yang bisa membantu.

Tiga hari Bayu melakukan salat istikharah berturut-turut. Meski bukan pilihan yang diharapkannya yang muncul, ia tetap berusaha memantapkan hati. Ia berharap, semoga apa yang ada dalam mimpinya adalah petunjuk dari Allah.

“Aku sudah membuat keputusan,” kata Bayu di tengah makan malam.

“Jangan sekarang, Bay. Nanti saja setelah selesai makan,” sela Pak Samudera.

“Enggak, Pa. Sekarang aja. Lisa udah enggak sabar mau denger keputusan Kak Bayu.” Lisa meletakkan sendok dan garpu dari tangannya. “Jadi, apa keputusan Kak Bayu?”

Bayu menarik napas, lalu menatap Aisyah yang menundukkan pandangan. “Aku sudah melakukan salat istikharah selama tiga hari.” Mata Bayu terpejam. Kalimat yang ingin ia ucapkan terasa sulit dikeluarkan.

Lisa dan Pak Samudera menatap Bayu. Mereka sudah tidak sabar untuk mendengar keputusan yang kemungkinan besar akan menyakiti Aisyah. Dimas yang tidak mengerti apa yang terjadi pun ikut menunggu. Ia menanti keputusan apa yang akan diberikan Bayu sehingga membuat Lisa dan Pak Samudera sangat penasaran.

“Aku akan menikahi Keyla.”

Lisa dan Pak Samudera sontak menundukkan kepala. Aisyah memejamkan mata, menahan sakit di dalam hatinya. Hanya Dimas yang berdiri dengan mata melotot tajam pada Bayu.

“Apa yang terjadi, Kak? Kenapa Kak Bayu akan menikah lagi, sedangkan Kak Aisyah masih ada di sini?” tanya Dimas. “Ini tidak benar, Kak.”

“Dimas, tenanglah. Ini bukan hal yang bisa kamu mengerti,” kata Aisyah.

“Bagaimana aku bisa tenang, Kak? Kak Bayu akan menikah lagi, apa Kakak bisa menerimanya? Seandainya Bapak masih di sini, dia tidak akan setuju dengan ide gila ini.”

“Dimas, tenang. Jangan bawa-bawa Bapak dalam masalah ini. Kak Aisyah dan Kak Bayu sudah membahas semuanya dengan matang. Jadi, kamu tidak perlu memikirkannya,” kata Aisyah, dengan sorot mata yang berusaha dikuatkan.

Dimas menggeleng. Ia kemudian berbalik dan berlari menuju kamarnya. Sungguh, apa pun penjelasan Aisyah, ia tetap tidak bisa menerima keputusan Bayu. Meski ada alasan yang sangat kuat di balik keputusan itu, Dimas tidak ada pernah terima. Ia tidak akan mau kakaknya dipoligami.

 Aisyah berdiri. “Dia masih anak-anak. Jadi, dia tidak akan mudah mengerti masalah seperti ini. Tapi, aku akan coba bicara padanya.”  Aisyah tersenyum menatap Lisa dan Pak Samudera, lalu pergi mengejar Dimas.

Tepat di depan pintu kamar Dimas, ponsel Aisyah berdering. Ia merogoh sakunya dan melihat siapa yang menelepon. Ternyata Bu Jum.

“Assalamualaikum, Aisyah,” sapa Bu Jum setelah telepon diangkat.

“Wa’alaikum salam, Bu. Bu Jum apa kabar?” sahut Aisyah dengan suara yang dibuat seceria mungkin.

“Kabar Ibu baik. Kalau kalian bagaimana, Nduk? Dimas betah tinggal di sana, kan?” tanya Bu Jum.

“Dimas betah, Bu. Sekarang dia lagi belajar di kamarnya.” Aisyah menarik napas. “Bu Jum masih jualan di pasar?”

“Iya. Sekarang Ibu jualan sama Paklik Harun.” Bu Jum tertawa sejenak. “Jangan bahas Ibulah. Ceritakan bagaimana kalian di sana. Oh ya, suamimu masih bersikap dingin sama kamu, Nduk?”

Nada bicara Bu Jum mendadak berubah. Selama ini, yang paling dikhawatirkan wanita itu adalah sikap Bayu pada Aisyah. Sejak pertama kali melihat suami Aisyah itu, Bu Jum sudah merasa kalau pernikahan mereka tidak akan berjalan dengan mudah.

“Aisyah,” panggil Bu Jum karena tak kunjung mendapat jawaban. “Apa pernikahan kalian baik-baik saja?”

Aisyah menarik napas. Ia tidak sanggup untuk berbohong pada Bu Jum. “Mas Bayu akan menikah lagi, Bu.”

“Apa?” pekik Bu Jum, membuat Aisyah harus menjauhkan ponsel dari telinganya.

“Bagaimana bisa? Apa Pak Samudera tidak melarangnya?” Bu Jum menghela napas. “Sejak kedatangan Pak Samudera dan Bayu ke rumahmu waktu itu, Ibu sudah tidak setuju dengan pernikahan kalian. Ibu merasa Bayu tidak sungguh-sungguh dalam pernikahan kalian. Tapi, waktu Ibu menelepon untuk mengatakannya, Pak Samudera berjanji akan menjagamu. Pak Samudera tidak akan membiarkan Bayu menyakitimu. Maafkan Ibu, Syah. Ibu tidak tahu akan jadi seperti ini.”

“Ini bukan kesalahan Bu Jum. Ini hanya ….”

“Kenapa Bayu akan menikahi wanita lain? Kamu kan bisa melarangnya, Nduk?” tanya Bu Jum.

“Ini sudah di luar kendaliku, Bu. Jika Mas Bayu menikahi wanita lain karena keinginannya, aku mungkin bisa mencegahnya. Tapi, ini tidak seperti itu.”

“Apa maksudmu, Nduk?”

“Sebelum menikah dengan Aisyah, Mas Bayu menjalin hubungan dengan seorang wanita bernama Keyla. Sekarang, wanita itu hamil.”

“Hamil?” Bu Jum kembali memekik. “Ini sudah di luar batas. Kamu tidak bisa hanya diam, Nduk. Bayu sudah tidak bisa dibiarkan begitu saja.”

“Aku akan bertahan, Bu.”

“Bertahan? Apa kamu sudah tidak bisa berpikir dengan benar, Syah? Bagaimana kamu akan tinggal satu atap dengan wanita yang akan menjadi istrinya Bayu?”

Aisyah diam. Ini adalah keputusan yang berat untuknya. Tetapi, tidak ada pilihan lain.

“Baiklah. Ibu percaya kamu sudah memikirkannya, Nduk. Kamu sudah dewasa, kamu pasti bisa mengambil pilihan yang terbaik.” Bu Jum diam sejenak. “Udah dulu, ya, Syah. Kamu baik-baik di sana.”

“Iya, Bu. Bu Jum juga baik-baik, ya.”

“Iya, Nduk. Assalamualaikum.”

“Wa’alaikum salam, Bu.”

Setelah telepon terputus, Aisyah menatap ponselnya. Ingin sekali ia bertemu dengan Bu Jum. Pelukan hangat wanita itu pasti mampu membuat hatinya lebih kuat saat ini.

“Ayo kita pulang, Kak.” Suara Dimas tiba-tiba terdengar.

Aisyah mengalihkan pandangannya. Dimas telah berdiri di pintu dengan mata berkaca-kaca. “Ayo kita kembali ke kampung, Kak,” ucapnya sekali lagi.

“Dimas ….”

“Aku enggak mau melihat Kak Aisyah menderita. Cukup sampai di sini Kak Bayu membuat Kak Aisyah menangis,” kata Dimas dengan wajah memelas.

“Tidak, Dim. Kita harus tetap di sini.” Aisyah menggeleng. “Mas Bayu membutuhkan Kak Aisyah.”

“Membutuhkan bagaimana, Kak?” Dimas menaikkan nada bicaranya. “Sejak hari pertama kita ada di rumah ini, Kak Bayu enggak pernah menerima Kak Aisyah. Selama ini Dimas diam saja melihat Kak Aisyah diperlakukan Kak Bayu seenak jidatnya. Tapi, apa yang dikatakan Kak Bayu tadi enggak bisa ditoleransi lagi. Dia sudah keterlaluan.”

“Apa kamu bisa menunggu sebentar lagi, Dim? Jika Kak Aisyah sudah tidak mampu bertahan, maka kita akan pergi. Untuk saat ini, Kakak mohon kita di sini dulu. Kak Aisyah masih memiliki sedikit harapan. Kakak yakin, Mas Bayu juga ingin mempertahankan Kakak.”

Dimas tidak menjawab. Ia menghambur ke pelukan Aisyah. Air matanya jatuh, melihat betapa besar keinginan Aisyah untuk bertahan meski telah tersakiti.

Setelah berhasil membujuk Dimas untuk tidak pergi, Aisyah menuju kamarnya. Begitu pintu kamar dibuka, ia melihat Bayu duduk di pinggir ranjang dengan wajah yang kusut. Ia berusaha tersenyum setelah apa yang terjadi. Ia tidak mau menunjukkan sisi lemahnya pada Bayu.

Bayu berdiri dan menghampiri Aisyah. Melihat senyuman di wajah istrinya itu, lututnya jatuh ke lantai. Ia sama sekali tidak mau kehilangan senyum Aisyah.

“Apa yang Mas Bayu lakukan?” Aisyah meraih lengan Bayu agar berdiri kembali.

“Maafkan Mas Bayu, Aisyah. Mas Bayu tidak bisa berbuat apa-apa,” ucap Bayu.

“Jika Mas Bayu ingin kumaafkan, berdiri, Mas. Aku tidak mau melihat Mas seperti ini.” Aisyah mundur dua langkah. “Lebih baik aku melihat Mas Bayu seperti dulu daripada seperti ini. Mas Bayu yang angkuh, Mas Bayu yang dingin, dan Mas yang tidak peduli dengan apa pun.”

Bayu mendongakkan wajahnya. Ia teringat pertama kali menelepon Aisyah. Saat itu ia langsung memaki-maki Aisyah dan meminta membatalkan pernikahan. Dan, setelah penikahan, berhari-hari ia berusaha menghindari wajah Aisyah. Bahkan, ia meminta Aisyah untuk mengenakan cadar agar tidak melihat wajah istrinya itu.

Namun, begitu melihat senyum Aisyah di pesta ulang tahun sahabat Pak Samudera, kegigihan Bayu untuk menghindar perlahan runtuh. Di pesta itu, ia tidak pernah melepaskan pandangannya dari wajah Aisyah. Ia bahkan merasa kesal saat Rudy berhasil membuat Aisyah tertawa lebar.

Sebenarnya, mudah saja untuk Bayu mengatakan bahwa ia tidak suka melihat Aisyah dekat dengan pria lain. Namun, ia masih ragu. Ia masih harus memastikan apakah Aisyah benar-benar sudah tidak memiliki perasaan lagi pada Rudy.

Kini keraguan itu telah hilang. Aisyah masih di dekatnya, masih berusaha bertahan untuknya. Itu lebih dari cukup untuk meyakinkan Bayu.



Bayu perlahan berdiri. Ia mendekat pada Aisyah. Tangannya meraih lengan Aisyah dengan lembut. Dengan mengucapkan basmalah, ia mendekatkan bibirnya ke kening Aisyah. “Dengan nama Allah, aku mencintaimu, Aisyah. Aku ingin kamu ada di dekatku selamanya,” ucap Bayu, memeluk erat Aisyah.

Untaian cinta Aisyah telah utuh. Meksi ada badai yang menghantam, tidak jadi masalah. Sekarang bukan hanya tangannya yang menggenggam, tapi Bayu juga menggenggam tangannya. Dengan satu kalimat yang telah diucapkan Bayu, air mata dan rasa sakit yang selama ini ditahannya tiada berarti lagi.


April 28, 2019

Untaian Cinta Aisyah (Part 23. Apa Salah?)

by , in
23. Apa Salah?




Seusai belanja, Lisa membawa Aisyah ke tempat kerja Bayu. Kali ini Lisa yakin tidak akan ada kejadian saat pertama kali mereka mengunjungi kantor Bayu. Kakaknya tidak akan marah ataupun mengatakan hal yang menyakitkan.

Namun, Lisa salah. Begitu ia membuka pintu ruangan untuk memberi kejutan, ia dan Aisyah harus mendengar kabar yang menghancurkan setitik kebahagiaan yang telah diraih. Tas belanjaan lepas dari tangan mereka. Bahkan, hampir saja Aisyah jatuh jika Lisa tidak sigap memegangnya.

“Lisa salah dengar, kan, Kak?” tanya Lisa. Tangannya bergetar dan napasnya tercekat. Ia beberapa kali harus menengadahkan wajah agar air matanya tidak tumpah. “Ini tidak mungkin terjadi, ‘kan? Wanita itu cuma berhalusinasi, kan, Kak?”

Bayu tidak mampu untuk menjawab. Ia menatap Aisyah yang terpaku menatap Keyla. Mereka baru saja memulai hubungan baru. Ia baru saja membuka hati. Tetapi, dinding pemisah kembali berdiri kokoh di antara mereka.

Keyla mendekat. Ia tersenyum menatap Lisa. “Kamu adiknya Bayu, ‘kan? Sebentar lagi aku akan menjadi kakak iparmu.” Keyla mengulurkan tangan, tapi Lisa langsung menepisnya.

“Jangan pernah berkhayal ketinggian, Mak Lampir!” bentak Lisa. Ia menunjukkan sifatnya sebelum bertemu Aisyah. “Kamu tidak akan pernah menjadi istri Kak Bayu. Karena hanya Kak Aisyah, hanya Kak Aisyah yang akan menjadi istrinya. Kamu tidak akan bisa memisahkan mereka.”

Keyla tertawa. “Lisa, kita memang tidak terlalu akrab, tapi kamu jelas mengenalku. Aku bukanlah orang yang gampang menyerah, terutama untuk memperjuangkan apa yang menjadi hakku. Kamu bisa saja mengatakan apa yang ada dalam kepalamu. Tapi, sebelumnya apa kamu sudah memikirkan apa yang terjadi?”

Keyla mendekat pada Bayu. Tangannya menyentuh pundak Bayu dengan lembut. “Di saat Bayu mendapatkan masalah, dia datang padaku. Di saat Bayu tidak tahu harus menyandarkan kepalanya pada siapa, dia bersandar di dadaku. Dan di saat Bayu tidak tahu harus pulang ke mana, dia pulang ke rumahku. Lalu, kamu menyebutku pemisah antara Bayu dan Aisyah? Tidak, Lisa. Aisyah yang menjadi pemisah antara aku dan Bayu. Aisyah yang mengambil Bayu dariku setelah apa yang kulakukan. Bayu mencintaiku dan Aisyah merebut dia seenaknya.”

Air mata mengalir di pipi Aisyah. Kalimat yang diucapkan Keyla langsung menghunjam dadanya. Ia yang menjadi pemisah antara Bayu dan Keyla. Itu benar. Aisyah bahkan pernah melihat bagaimana Bayu memeluk Keyla dengan mesra. Ya, ia yang menjadi pemisah.



“Diam, Mak Lampir!” bentak Lisa. “Kak Bayu tidak pernah mencintaimu. Kak Bayu tidak pernah memiliki perasaan padamu. Dia hanya menjadikanmu pelampiasannya saja.”

“Jangan memanggilku Mak Lampir!” Keyla balas membentak. “Kalau aku memang menjadi pelampiasan Bayu, apa aku yang salah? Kalau aku hamil karena menjadi pelampiasannya, apa aku yang salah, hah?”

“Kak, katakan padanya kalau Kakak enggak akan menuruti keinginannya.” Lisa beralih pada Bayu. Ia memegang kedua tangan Bayu dengan wajah memelas. “Kak, ayo katakan.”

“Tidak, Lisa.” Aisyah menyela. Ia mendekat pada Bayu, lalu memegang lengan suaminya itu. “Kamu sudah melakukan kesalahan besar dengan menghamilinya, Mas. Dan kamu tidak boleh menambah kesalahan lagi dengan tidak mau bertanggung jawab. Nikahi dia. Dengan begitu, mungkin Allah akan mengampunimu.”

Sebelum Bayu sempat mengatakan apa-apa, Aisyah langsung berbalik. Ia berlari meninggalkan Bayu yang tetap membeku. Lisa yang mengejar sambil terus memanggil namanya tidak ia acuhkan. Ia terlalu sakit dan terlalu malu untuk menunjukkan wajahnya.

“Kak Aisyah, kenapa Kakak lari?” Lisa berhasil meraih lengan Aisyah di halaman hotel. “Kita enggak bisa biarin wanita itu seenak jidatnya. Kakak istrinya Kak Bayu. Kakak lebih berhak atas Kak Bayu.”

“Ini bukan masalah berhak atau tidak, Lis. Wanita itu mengandung anak Mas Bayu. Dia hamil. Bagaimana mungkin Kakak membiarkannya begitu saja?”

“Jadi, Kak Aisyah akan melepaskan Kak Bayu? Kakak akan menceraikan Kak Bayu?”

“Tidak. Siapa yang bilang Kakak akan cerai dengan Mas Bayu?”

“Apa Kakak mau dimadu?”

Aisyah diam. Ia menatap langit, lalu mengelap air matanya yang terus menetes. “Tidak ada pilihan lain, Lis. Jika aku ingin bertahan di samping Mas Bayu, aku harus mengambil jalan ini.”

Lisa memeluk Aisyah erat. Air matanya tumpah dengan deras. Jika Bayu akan menikah dengan Keyla dan membawa wanita itu ke rumah, entah apa yang dilakukan Lisa. Mungkin ia akan kembali seperti semula. Keluyuran tidak jelas karena tidak betah di rumah.

***

Bayu membenturkan kepalanya ke meja. Rasa sakit yang dirasakannya tidak seberapa dengan rasa sakit di dadanya. Ketika matanya tertuju pada kantong belanjaan yang ditinggalkan Lisa dan Aisyah, Bayu mencengkeram kepalanya. Seharusnya malam ini menjadi malam yang membahagiakan. Ia sudah menyusun rencana dengan matang. Bahkan, ia rela memberikan kartu kreditnya pada Lisa demi rencana malam ini.

Namun, semua sia-sia. Rencana makan malam romantis bersama Aisyah tidak akan terjadi. Baju baru Aisyah yang dibelikan Lisa tidak akan terpakai.

Bayu membuka laci meja kerjanya. Di dalam laci, ia menatap dua buah cincin yang telah ia persiapkan tadi pagi. Salah satu cincin itu akan dipasangkannya ke jari Aisyah. Dan  satu lagi ke jarinya, sebagai ganti cincin yang diambil perampok satu bulan yang lalu.

“Bayu, apa yang terjadi?” Pak Samudera menerobos masuk. “Apa yang dikatakan Lisa tidak benar, ‘kan? Kamu tidak menghamili Keyla, ‘kan?”

Bayu diam. Ia mencengkeram kepalanya. Pertanyaan yang diajukan Pak Samudera, membuat kepalanya terasa ditusuk-tusuk dengan jarum.

“Apa yang harus kulakukan, Pa?” ucap Bayu. “Aku tidak tahu kenapa ini bisa sampai terjadi.”

Pak Samudera memijat kening. “Apa yang dikatakan Aisyah? Apa Aisyah mengatakan sesuatu? Waktu Papa tanya pada Lisa respons Aisyah, dia hanya diam.”

“Aisyah memintaku untuk ….”

“Aisyah memintamu untuk menikahi Keyla?” tanya Pak Samudera yang langsung dijawab Bayu dengan sebuah anggukan. “Tidak bisa seperti ini. Bagaimana mungkin kamu menikahi Keyla, sedangkan Aisyah masih menjadi istrimu yang sah.”

Pak Samudera mendekat pada Bayu. “Papa tidak peduli keputusan apa yang akan kamu ambil. Itu terserah kamu. Tapi, satu yang akan Papa tekankan. Papa dan Lisa tidak akan memaafkanmu jika kamu berani menceraikan Aisyah.”

Pak Samudera kemudian berbalik dan pergi. Kedatangan Pak Samudera tidak membuat Bayu merasa tenang, tapi malah membuat Bayu semakin pusing.

Tiba-tiba ponsel Bayu berdering. Ia langsung mengambilnya, berharap yang menelepon itu Aisyah. Namun, yang menelepon adalah Lisa.

“Kak, keputusan ada sama Kakak,” ujar Lisa begitu telepon tersambung.

“Lisa, kamu jangan seperti ini pada Kakak. Kakak tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Kakak tidak mungkin poligami, ‘kan?”

“Kalau itu yang terbaik, Kakak harus melakukannya. Bagaimana pun juga, Kak Bayu tidak bisa membiarkan anak dalam kandungan Mak Lam … maksud Lisa, Kak Keyla begitu saja.”

Kening Bayu mengernyit. Ia merasa aneh dengan cara bicara Lisa. Dari tadi Lisa sangat marah mendengar Keyla hamil. Dan sekarang, nada bicaranya sangat tenang. Lisa tidak sendiri, di sampingnya pasti ada Aisyah, pikir Bayu.

“Apa tidak ada solusi yang bisa kamu berikan?” Dalam benak Bayu, ia sedang berbicara dengan Aisyah meski dengan perantara Lisa.

Lisa berdiam sejenak. “Salat istikharah, Kak. Dengan salat istikharah, semoga Allah akan memberikan solusi yang terbaik untuk Kak Bayu.”

Apa yang dikatakan Lisa membuat Bayu semakin yakin kalau di samping Lisa ada Aisyah. “Salat istikharah? Bagaimana caranya?” tanya Bayu kemudian.

“Umm ….” Lisa berpikir sejenak. “Kak Bayu lihat saja di internet. Pasti ada di sana, kok. Jangan manja, deh.”

Lisa menutup telepon hingga membuat Bayu tersenyum. Pasti Lisa tidak tahan bersikap tenang, batinnya.

“Terima kasih, Aisyah. Kamu sudah memberi solusi untukku,” gumam Bayu, mulai membuka laptop untuk mencari tahu apa itu salat istikharah.

Seandainya sejak awal, ia tidak bersikukuh untuk mengusir Aisyah, pasti ini semua tidak akan terjadi. Jika langsung menerima Aisyah tanpa menunggu wanita itu mengambil hatinya, ia tidak akan terjerat masalah sebesar ini. Namun, Bayu sadar semua ini adalah salahnya. Aisyah dan Keyla tidak bersalah dalam hal ini. Keduanya hanya menjadi korban dari kebodohan Bayu.

April 28, 2019

Untaian Cinta Aisyah (Part 22. Tidak Semudah Itu)

by , in
22. Tidak Semudah Itu


Aisyah duduk dengan dahi berkerut. Ia memindai ekspresi wajah di sekelilingnya. Perlahan, tangannya terulur untuk mengambil roti. Tetapi, ketika mendengar cekikikan, ia langsung menarik tangannya kembali.

“Kenapa tidak jadi ngambil roti, Syah?” tanya Pak Samudera.

“Ambil aja, Kak. Enggak usah malu.” Lisa mengambil dua lembar roti dan meletakkannya di piring Aisyah. “Nanti enggak punya tenaga buat ngurus suaminya, lho.”

Aisyah terbatuk. Hari ini ia pasti habis-habisan digoda oleh Lisa. Sebenarnya tidak masalah. Akan tetapi, kalau di depan Pak Samudera, Aisyah tidak bisa mencubit Lisa seperti biasa.

Pak Samudera tersenyum. Ia sangat bahagia melihat beban di wajah Aisyah mulai hilang. Dari awal, Pak Samudera yakin kalau Aisyah mampu menaklukkan Bayu. Dan, itu terbukti berhasil. Bayu telah membuka hatinya. Walaupun belum sepenuhnya, tapi Pak Samudera yakin Aisyah akan membuat Bayu tersenyum.

Kehangatan yang hilang mulai kembali. Dinding pemisah yang selama ini menghalangi perlahan runtuh. Tidak ada lagi terdengar keluh kesah, yang ada hanya cerita bahagia.

Waktu berlalu dengan indah. Bayu telah sembuh hingga hari ini memutuskan untuk kembali bekerja. Terlalu lama istirahat membuat tubuhnya terasa kaku dan malah bertambah sakit. Karena itu, meski tidak ada yang setuju, Bayu tetap bersikukuh untuk ke kantor.

“Mas Bayu benar sudah bisa ke kantor?” tanya Aisyah ketika Bayu hendak mandi.

“Iya. Tenang saja. Aku sudah kuat. Lagi pula, di rumah terus membuatku bosan.” Bayu masuk ke kamar mandi, tapi beberapa detik berselang ia keluar lagi. “Tolong siapkan pakaianku ke kantor. Kamu bisa, kan?”

Tangan Aisyah yang sedang merapikan tempat tidur mendadak berhenti bergerak. Apa yang dikatakan Bayu mengingatkannya pada hari pertama Aisyah sebagai seorang istri. Bayu marah besar karena telah lancang pakaian yang ada dalam lemari. Akan tetapi, buah kesabaran itu memang manis. Aisyah sampai tidak bisa menahan senyumannya saat menjawab, “Aku akan menyiapkannya, Mas.”

Pagi yang menyenangkan tanpa ada yang mengomel. Sarapan pun terasa nikmat tanpa wajah berkerut di meja makan.

“Lisa, kalau kamu sudah selesai sarapan, ke ruang kerja Kakak bentar, ya. Ada yang mau Kakak diskusikan,” kata Bayu, berdiri dari kursi. Ia lalu pergi ke ruang kerjanya untuk menyiapkan berkas-berkas yang akan dibawa ke kantor.

“Kak Bayu mau ngomong apaan? Enggak biasanya ngajak Lisa ngomong. Pake kata diskusi lagi,” tanya Lisa pada Aisyah.

“Kak Aisyah tidak tahu. Mas Bayu tidak mengatakan apa-apa tadi pagi.”

Jawaban Aisyah membuat Lisa penasaran. Meski sarapannya belum habis, Lisa berhenti makan. Ia bergegas ke ruang kerja Bayu dengan tanda tanya besar di benaknya.

“Beneran Bayu tidak mengatakan sesuatu, Syah?” Pak Samudera yang ikut penasaran bertanya. Namun, jawaban Aisyah tetap sama. “Ulang tahun Lisa masih lama. Kalau mau buat kejutan, kenapa diskusinya sama Lisa?”

Tidak berapa lama, Lisa keluar dari ruang kerja Bayu dengan wajah semringah. Ia menatap satu per satu orang yang ada di meja makan dengan senyum lebar. Di tangannya, ia memegang kartu kredit.

“Itu kartu kredit Bayu?” tanya Pak Samudera dengan amunisi penuh untuk menceramahi Lisa. “Kenapa kamu yang pegang kartu kredit Bayu? Cepat berikan pada Aisyah.”

Lisa tetap tersenyum meski Pak Samudera mengomelinya. “Hari ini, kartu kredit Kak Bayu, Lisa yang pegang. Sebenarnya, Lisa juga nolak tadi, takut dimarahi Papa. Tapi, karena Kak Bayu bilang ini sebagai ucapan permintaan maaf, ya, terpaksa Lisa terima.”

“Ini tidak benar. Ini ….”

Lisa berdiri dari kursi. Ia mendekat pada Samudera, lalu membisikkan sesuatu. Mendengar apa yang dikatakan Lisa, Pak Samudera menggeleng, mengangguk, kemudian tersenyum. “Kalau begitu, kenapa tidak ngomong dari tadi? Papa juga akan memberikan kartu kredit Papa kalau memang begitu.”

“Wah, apa Lisa enggak salah dengar?” ujar Lisa gembira. “Hari ini Lisa bakalan puasin-puasin belanja.”

“Tidak jadi, deh,” kata Pak Samudera setelah mendengar ucapan Lisa.

“Enggak boleh plin-plan, Pa. Gimana, sih? Pokoknya Papa juga harus ngasih kartu kredit Papa.” Lisa memonyongkan bibir. “Oh ya, kamu mau dibeliin apa, Dim? Mumpung Kak Lisa punya dua kartu kredit, nih.”

“Serius, Kak? Aku mau dibeliin?” ujar Dimas antusias. Akan tetapi, ketika bertemu dengan bola mata Aisyah yang melotot padanya, antusiasme Dimas mendadak mengendur.

“Tenang aja, Dim. Kak Aisyah enggak bakalan bisa ngelarang Kakak hari ini.” Lisa tertawa puas. “Handphonemu udah jadul, kan? Nanti Kakak belikan handphone keluaran terbaru buatmu.”

Dimas tersenyum. Mendengar Lisa akan membelikannya handphone, membuatnya sangat senang. Ia tidak peduli lagi bola mata Aisyah yang seolah akan keluar menjitak kepalanya.

“Kak Aisyah harus ikut nanti. Lisa bakal pilihin baju yang bagus buat Kak Aisyah.”

“Tidak usah. Baju Kakak masih banyak.”

“Ini untuk malam spesial, Kak.”

“Malam spesial?”

“Pokoknya Kak Aisyah harus ikut,” tegas Lisa.

***

Satu bulan tidak masuk kantor, membuat pekerjaan Bayu menumpuk. Dari tadi pagi, ia tidak berhenti membuka lembar demi lembar berkas yang harus diperiksa. Bahkan, untuk istirahat makan siang pun ia hampir tidak punya waktu.

“Permisi, Pak. Saya membawa berkas-berkas yang harus Bapak tanda tangani.” Keyla masuk ke ruangan Bayu.

“Tolong minta Anjani untuk  membawakan data klien yang akan mengadakan acara di hotel kita,” kata Bayu sambil fokus menandatangani berkas yang diberikan Keyla.

Setelah Bayu mengembalikan berkas yang ditanda tanganinya, Keyla tetap berdiri di depan meja. Wanita itu memperhatikan Bayu lekat.

“Apa ada lagi yang kamu butuhkan, Key?” tanya Bayu.

“Bay, apa kamu tidak kangen aku?” ucap Keyla dengan nada yang manja. Ia meletakkan berkas di tangannya, kemudian bergerak mengitari meja. “Aku kangen kamu, lho, Bay. Satu bulan enggak ketemu, rasanya aku hampir mati.”

Bayu memejamkan mata. Suasana hatinya yang membaik mendadak berubah. Ia menelan ludahnya berkali-kali. Sentuhan tangan di wajahnya, membuat ia teringat kembali hubungannya dengan Keyla.

“Ini kantor, aku sedang bekerja.” Bayu berdiri dari kursi untuk menghindari tangan Keyla.

“Kamu kenapa, sih, Bay?” Kening Keyla berkerut. “Kita kan biasa seperti ini. Apa kamu sudah lupa? Kamu bahkan sering memelukku di ruangan ini.”

Bayu merasa sesak mendengar ucapan Keyla. Tidak. Bukan hatinya yang berpelukan dengan Keyla waktu itu. Lukanya yang memeluk Keyla, bukan hatinya.

“Aku mau mengatakan sesuatu padamu, Key.” Bayu mendekati Keyla perlahan. “Kita tidak bisa melanjutkan ini. Aku sudah menikah. Dan, sebaiknya kamu mencari laki-laki yang bisa memberikan kebahagiaan untukmu.”

Bola mata Keyla melebar. Bagaikan disambar petir di siang bolong yang cerah, Keyla sontak terdiam. Ia tidak bisa percaya dengan apa yang dikatakan Bayu. “Kamu bercanda, kan, Bay?” ucapnya, memastikan.

“Tidak, Key. Aku serius. Kita tidak bisa melanjutkan ini. Bagaimana pun aku berusaha, sepertinya aku tidak akan bisa lepas dari ….”



“Tidak. Aku tidak mau. Kamu sudah berjanji akan menceraikan istrimu itu. Setelah apa yang kulakukan selama ini, kamu akan mencampakkanku? Kamu tidak boleh seperti ini, Bay. Aku bukan bungkus jajanan di pinggir jalan. Setelah kamu menikmati isinya, kamu membuangnya. Tidak. Aku tidak seperti itu.”

“Key, tenanglah. Kita bisa bicarakan ini baik-baik. Aku menganggapmu wanita yang baik. Kamu wanita terbaik yang pernah kutemui. Tapi, sekarang ceritanya lain. Aku tidak bisa melukai Aisyah.”

Keyla tersenyum sinis. “Kamu tidak bisa melukai dia, tapi kamu dengan mudah bisa melukaiku. Itu maksudmu, Bay? Hah?”

“Bukan itu maksudku.” Bayu memijat keningnya. Seharusnya ia tidak membicarakan ini sekarang. Ia tidak sempat berpikir bagaimana reaksi Keyla setelah mendengar keputusannya.

“Kamu mencintaiku, kan, Bay? Kamu sayang aku, ‘kan? Kita sudah pacaran tiga tahun, lho. Kamu tidak mungkin membuangku, kan?” Air mata Keyla mulai jatuh.

“Iya. Aku tahu. Tapi, aku bukan yang terbaik untukmu, Key. Aku sudah punya istri.”

“Tidak. Kamu sudah berjanji untuk menceraikan istrimu dan menikahiku. Aku akan menagih janji itu. Apa pun yang kamu katakan, aku akan menagih janji itu, Bay,” tegas Keyla.

Bayu menghela napas. Sepertinya sia-sia jika ia terus melanjutkan perdebatan dengan Keyla untuk saat ini. “Sudahlah. Kamu tenangin diri dulu.” Bayu melangkah mundur, lalu pergi.

Namun, saat ia sampai di depan pintu, Keyla memanggilnya. “Kamu tidak bisa meninggalkanku, Bay. Aku sedang hamil. Aku mengandung anakmu.”

Bayu terkejut mendengar ucapan Keyla. Begitu pula dengan dua wanita yang bertepatan membuka pintu. Tas belanjaan yang ada di tangan mereka sampai lepas karena mendengarnya.

Hanya sejenak senyuman itu datang. Kini ia kembali harus terhempas badai. Bagaimana sekarang? Bayu tidak bisa lagi berpikir. Cahaya yang mulai menyala di dalam hatinya kembali redup. Kegelapan perlahan kembali menyelimuti. Ia tahu, keputusan apa pun yang diambilnya akan ada yang terluka, tapi kenapa harus seperti ini?

April 28, 2019

Untaian Cinta Aisyah (Part 21. Sebuah Janji)

by , in
21. Sebuah Janji




Pak Samudera memapah Bayu keluar dari mobil. Terlihat Bayu masih menahan sakit ketika berjalan. Tentu saja, seharusnya ia masih dirawat di rumah sakit. Tetapi, karena sifat keras kepalanya, dokter terpaksa menyetujui.

Begitu sampai di kamar, Bayu merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Bola matanya tidak pernah berhenti bergerak. Mengikuti Aisyah, Lisa, dan Pak Samudera yang mondar-mandir keluar masuk kamar. Di antara mereka ada yang membawa air, merapikan tempat tidur, bahkan ada yang hanya sekadar mengganggu. “Bisa keluar, tidak?” protes Bayu ketika ia sudah tidak tahan lagi. Dari tadi ia sudah berusaha bersabar, tapi tidak ada yang memedulikan.

Aisyah, Pak Samudera, dan Lisa saling bertukar tatapan. Pak Samudera dan Lisa kemudian tertawa sambil perlahan keluar. Keduanya saling mengerti apa yang ada di dalam benak masing-masing.

“Bisa ambilkan laptop di dalam tasku itu?” kata Bayu begitu papa dan adiknya sudah tidak ada dalam kamar.

“Tidak,” tegas Aisyah. “Orang sakit itu harus banyak istirahat. Bukan banyak kerja.”

Bola mata Bayu membola. Ia tidak menyangka kalau Aisyah bisa seberani itu. Untuk mengatakan sebuah kata, Bayu tidak sanggup saking terkejutnya.

Melihat kondisinya saat ini, Bayu merasa inilah awal penderitaannya. Ia tidak akan bisa lagi membuat rencana-rencana untuk membuat Aisyah pergi. Namun, apakah Aisyah pergi merupakan keinginan terbesarnya? Sepertinya tidak. Entah kenapa ia mulai nyaman dengan perhatian yang diberikan Aisyah.

Di malam hari, Bayu tinggal di kamar sendirian. Ia menahan rasa lapar karena gengsi yang terlalu tinggi. Tawaran Aisyah untuk membantunya ke meja makan, ia tolak mentah-mentah. Ia berharap Aisyah terus membujuknya. Namun, tidak sedikit pun ada bujukan yang keluar dari mulut Aisyah.

“Apa dia sudah lelah? Biasanya dia selalu ingin di sampingku, tapi kenapa sekarang malah bersikap biasa saja?” gumam Bayu, memegang perutnya yang menagih jatah malam.

Ponsel Bayu tiba-tiba berbunyi. Ia dengan cepat meraih ponsel yang sengaja diletakkan di dekatnya. Setelah mengetahui kalau telepon yang datang itu dari Keyla, Bayu kembali meletakkan ponsel. Ia malas untuk menjawab pertanyaan Keyla yang pasti hanya akan menanyakan kabar hingga membuat kepalanya bertambah pusing.

“Assalamualaikum!” Seseorang membuka pintu. Sebelum orang yang mengucapkan salam masuk, Bayu memejamkan mata. Ia tidak mau terlihat seperti sedang menunggu.

“Bangun, Mas. Makan dulu, baru minum obat,” kata Aisyah, meletakkan piring dan gelas yang dibawa di atas nakas.

Meski mendengar suara Aisyah, Bayu tetap memejamkan mata. Ia menunggu apa yang akan dilakukan Aisyah selanjutnya.

“Mas, makan dulu.” Aisyah mengguncang tubuh Bayu dengan pelan. Setelah Bayu membuka mata, ia kemudian membantu Bayu untuk duduk. “Luka di perut Mas Bayu tidak apa-apa, kan?” tanya Aisyah ketika melihat Bayu menahan sakit.

Bayu menggeleng. Ia melirik bubur yang ada di atas nakas. “Kenapa lama sekali? Aku sudah lapar dari tadi,” rengek Bayu dalam hati.

Aisyah mulai menyuapi Bayu. Tanpa ada kata yang terucap di antara keduanya, makanan di piring perlahan berkurang. Karena terus mengunyah, tenggorokan Bayu tiba-tiba terasa penuh. Ia tidak sanggup lagi untuk menelan. Untuk meminta air, ia sendiri teramat malu.

“Apa aku boleh minum?” tanya Bayu ketika ia tidak sanggup lagi untuk menelan sesendok bubur yang diberikan Aisyah.

Aisyah yang mendengarnya tersenyum. Ia merasa lucu. Biasanya Bayu sangat lancar mengatakan apa yang ada di pikirannya. Entah sejak kapan ada penyumbat di tenggrokan suaminya itu? “Ada apa dengan Mas Bayu? Biasanya tidak seperti ini?” tanya Aisyah dengan segenap keberanian yang dimiliki.

“Maksudnya?”

“Biasanya Mas Bayu langsung bilang kalau menginginkan sesuatu. Tapi, kenapa sekarang Mas Bayu seperti menahannya? Aku bisa melihatnya, Mas.”

“Umm ….” Bayu mengalihkan pandangannya ke arah lain, lalu menatap wanita di depannya. “Aisyah, apa kamu mau berjanji satu hal padaku?” ucapnya kemudian.

Darah Aisyah berdesir. Ini pertama kalinya Bayu memanggil namanya. Ada sepercik kebahagiaan dan ketakutan yang menyentuh hati Aisyah. Ia begitu bahagia karena Bayu mau menyebut namanya. Namun, ia juga takut dengan janji yang diminta Bayu. Bagaimana kalau janji itu akan menghancurkan cinta yang telah bersusah payah ia untai?

“Mas Bayu ingin aku berjanji apa?” tanya Aisyah, meneguk ludah.



Bayu tidak langsung menjawab. Ia menarik napas sejenak, lalu mengembuskannya. “Aku ingin kamu berjanji tidak akan pergi dari sampingku untuk selamanya.”

Bola mata Aisyah melebar. Apa ini mimpi? Bayu memintanya untuk tidak pergi? Apa tidak salah? Aisyah terpaku, menatap pria yang baru saja menghentikan degup jantungnya.

“Aku ingin kamu tetap menemaniku di sini,” tambah Bayu.

Air mata Aisyah meleleh. Apa ini permainan Bayu lagi? Jika benar, tega sekali ia mempermainkan hati Aisyah. Jika bukan, kenapa? Aisyah tidak bisa menebak alasannya. Tenggorokannya tersumbat dan udara seolah menjauh darinya.

“Maaf, sudah membuatmu menangis.” Bola mata Bayu memerah. Dan, perlahan matanya berkaca-kaca. “Aku tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Selama ini, aku selalu menjauhkan diri dari Papa dan Lisa. Aku membenci Papa dan aku juga membenci diriku sendiri. Mama meninggal karena kami. Karena Papa sibuk dengan urusan kantornya, sedangkan aku sibuk dengan teman-temanku. Kami tidak peduli pada Mama.”

Aisyah semakin terkejut. Bayu sedang tidak mempermainkannya. Pria itu benar-benar menangis. Aisyah meletakkan gelas dan piring di atas nakas. Ia kemudian menarik napas untuk menenangkan hatinya.

“Jika aku mengatakan kalau hidup dan mati seseorang ada di tangan Allah, pasti Mas Bayu sudah mengetahuinya. Tapi, aku ingin mengatakan satu hal. Ini adalah hal yang sangat sulit untuk dilakukan, tapi kalau berhasil melakukannya, efeknya sangat hebat.” Aisyah tersenyum. “Ikhlas. Hanya itu yang bisa kita lakukan, Mas. Air mata, kemarahan, benci, dendam. Semua itu terasa menggoda. Tapi, tidak akan ada hasil yang kita dapat darinya.  Meski terasa seperti nyawa dipaksa untuk keluar dari badan, ikhlas tetap jalan terbaik. Berserah diri pada Allah, Mas.”

Aisyah memejamkan mata. Ia teringat kembali saat sang ayah meninggal. Kemarahan dan kebenciannya. Ia tidak menyangka mampu meredamnya. Dan sekarang, ia malah tinggal bersama dengan orang yang ikut serta dalam kejadian itu.

Untuk beberapa saat, hening memenuhi kamar. Aisyah dan Bayu saling bertatapan, seolah mencoba menyelami kesakitan masing-masing.

“Apa kamu akan bertahan di sampingku?” ucap Bayu tiba-tiba. “Jika Rudy terus mendekatimu, apa kamu akan tetap di sampingku? Walaupun aku tidak mampu menjadi imam yang baik untukmu, apa kamu akan tetap bersamaku?”

Aisyah teringat kemarin. Bagaimana Bayu memintanya pergi dan melanjutkan hubungan dengan Rudy. Hatinya sangat sakit saat itu.

“Saat ini, aku tidak bisa menentukan yang terbaik. Tapi, aku akan berusaha bertahan bersama dengan orang yang mempertahankanku.”

“Bertahanlah untukku, Aisyah,” tegas Bayu tanpa ragu.

Air mata Aisyah kembali jatuh. Setelah menahan rasa sakit sejak bertemu, akhirnya cinta yang ia untai perlahan mulai utuh. Bayu telah memintanya untuk bertahan. Dan, itu sudah lebih dari cukup untuk saat ini.

Perlahan, Bayu bergerak. Bola matanya tertuju pada mata Aisyah. Seolah sedang menghipnotis, Bayu terus menatap sambil mendekatkan wajahnya.

Jantung Aisyah kembali bereaksi. Mengetahui jarak antara wajah Bayu dengan wajahnya hanya tinggal beberapa senti, udara yang bersusah payah diraihnya kembali menjauh. Aisyah memejamkan mata, menunggu yang terjadi selanjutnya.

“Kak Aisyah, Kak Bayu udah ….”

Lisa, Pak Samudera, dan Dimas muncul di pintu. Ketiganya mematung di sana. Lisa menyeringai melihat Bayu yang gagal mencium kening Aisyah. Salah waktu. Mereka datang di waktu yang tidak tepat.

“Aku balikin piring ini dulu, Mas.” Aisyah berdiri dari samping Bayu. Sambil berusaha menahan malu, ia menghampiri Lisa, Pak Samudera, dan Dimas. “Papa mau bicara dengan Mas Bayu? Silakan masuk, Pa.”

Lisa menghela napas. Sial. Ia merutuki dirinya sendiri. Sedikit lagi. Andai saja ia, Pak Samudera, dan Dimas datang satu menit lebih lambat. Pasti semua akan tuntas. Namun, Lisa kembali tersenyum lebar saat menyadari satu hal. Bayu telah membuka hatinya.

April 28, 2019

Untaian Cinta Aisyah (Part 20. Masih Memalingkan Wajah)

by , in
20. Masih Memalingkan Wajah



Bayu sedang ditangani dokter di IGD, sedangkan Pak Samudera dan Aisyah duduk menunggu. Aisyah menyandarkan kepalanya ke dinding. Mulutnya tiada henti komat-kamit mengucap Asma Allah. Pakaiannya yang agak basah tidak dihiraukan. Yang terpenting saat ini untuknya adalah keselamatan Bayu.

Pak Samudera menghela napas. Ia menatap wajah Aisyah yang dipenuhi kekhawatiran. Air matanya jatuh menahan sesak di dada. Ia telah gagal menjadi seorang suami. Ia juga tidak mampu untuk menjadi seorang ayah. Sekarang, ia tidak bisa menjadi seorang mertua yang baik. Pak Samudera merutuki dirinya sendiri karena tidak mampu menjaga keluarganya. Dan, ia malah membawa seseorang untuk ikut menderita karenanya.

“Maafin Papa, Syah,” ujar Pak Samudera, menyadarkan Aisyah.

“Apa yang Papa katakan? Mas Bayu akan baik-baik saja, Pa.” Aisyah berusaha tersenyum, meski ia juga tidak bisa tenang.

“Papa, Kak Aisyah!” Lisa datang tergesa-gesa. Setelah menerima telepon dari Pak Samudera tadi, ia langsung menyusul ke rumah sakit. “Kak Bayu enggak apa-apa, kan?” tanya Lisa dengan mata berkaca-kaca.

“Mas Bayu akan baik-baik saja,” sahut Aisyah, memeluk adik iparnya itu.

Lisa menghela napas. Ia memejamkan mata untuk menahan tangisnya. “Oh ya, Lisa udah bawa baju ganti untuk Papa dan Kak Aisyah. Sekarang lebih baik Papa dan Kak Aisyah ganti baju, biar Lisa yang nungguin Kak Bayu di sini.”

“Kamu duluan aja, Syah. Papa tidak bisa biarin Lisa sendirin di sini. Kamu tahu sendiri Lisa bagaimana, ‘kan?” kata Pak Samudera berusaha mencairkan suasana.

Aisyah mengangguk. Ia bergegas ke kamar mandi untuk mengganti baju. Ketika melihat bayangannya di cermin, Aisyah hampir tercekat. Penampilannya sangat berantakan. Bahkan auratnya hampir terbuka. Bajunya kusut dan kepalanya hanya ditutupi dengan anakan jilbab. Aisyah tidak sempat mengenakan kembali jilbab yang digunakannya untuk mengelap tubuh Bayu.


Setelah Aisyah berganti baju, kemudian giliran Pak Samudera.

Ketika Pak Samudera belum kembali, dokter yang menangani Bayu keluar dari ruang IGD. “Suami saya tidak apa-apa, kan, Dok?” tanya Aisyah.

“Ibu tenang saja. Pak Bayu baik-baik saja, Bu. Sekarang, Pak Bayu akan kami pindahkan ke ruang perawatan agar Pak Bayu bisa istirahat,” jelas sang dokter.

“Luka di perut Kak Bayu tidak apa-apa, kan, Dok?” Lisa memastikan. Selama perjalanan menuju rumah sakit tadi, luka di perut Bayu selalu mengusik pikirannya karena sang mama meninggal disebabkan luka yang sama.

***

Kening Pak Samudera mengerut, melihat Lisa duduk di depan kamar Bayu. “Lis, kenapa tidak masuk? Bayu di dalam, ‘kan?”

Lisa menarik tangan Pak Samudera agar duduk di sampingnya. “Papa jangan masuk dulu. Di dalam ada Kak Aisyah. Biarkan Kak Aisyah berduaan dulu dengan Kak Bayu. Jarang-jarang kan ada momen seperti ini?” Lisa mengerling jail.

“Wah, kamu benar juga, Lis.” Pak Samudera tiba-tiba bersemangat. “Semoga saja kakakmu itu cepat bangun, biar dia lihat bagaimana Aisyah merawatnya.”

“Dan satu lagi, Kak Bayu enggak akan bisa kabur,” kekeh Lisa. Ia teringat bagaimana Bayu selalu menghindari Aisyah. Kakaknya itu bahkan tidak mau melihat wajah Aisyah selama ini.

“Papa tahu, enggak? Di pesta kemarin, Kak Bayu dan Kak Aisyah bertabrakan. Tapi anehnya, Kak Bayu enggak ngenalin Kak Aisyah. Coba bayangkan, Pa. Kak Bayu, enggak ngenalin istrinya sendiri.” Lisa menggelengkan kepala.

“Tapi, sekarang dia tidak akan bisa menghindar.” Pak Samudera tertawa lebar. “Kakakmu itu akan melihat bagaimana istri yang Papa pilihkan buat dia. Aisyah yang terbaik untuk Bayu.”

“Papa, Lisa, Mas Bayu udah sadar!” ujar Aisyah, keluar dari kamar Bayu.

Pak Samudera dan Lisa langsung berdiri. Tetapi, Pak Samudera membelok, ia hendak memanggil dokter yang menangani Bayu.

“Kak Bayu enggak apa-apa?” tanya Lisa, menghampiri Bayu.

Bayu meringis. Ia kemudian memindai sekeliling. “Siapa yang bawa aku ke sini?” tanyanya dengan suara yang berat.

“Kamu harus berterima kasih pada Aisyah, Bay.” Pak Samudera masuk dengan seorang dokter. “Dia yang bersikukuh buat nyari kamu. Yah, ikatan kalian sebagai suami istri memang luar biasa. Aisyah tahu saja kalau kamu dalam bahaya. Hebat kan istri pilihan Papa buat kamu?”

Bayu menghela napas. Ia melirik Aisyah sejenak, lalu menatap dokter yang datang bersama Pak Samudera. “Apa saya bisa pulang sekarang, Dok?” tanyanya berusaha untuk duduk. Namun,  gagal karena perutnya yang terasa sakit.

“Sebenarnya, Pak Bayu bisa saja pulang dan menjalani rawat jalan. Tapi, sebaiknya Pak Bayu istirahat saja malam ini. Besok baru Bapak pulang,” kata sang dokter.

“Bagaimana dengan luka di perutnya, Dok?” Pak Samudera ikut bertanya.

“Luka di perut Pak Bayu tidak apa-apa. Lukanya tidak dalam, jadi tidak ada masalah. Mungkin yang menjadi penyebab Pak Bayu pingsan adalah pukulan di belakang kepalanya. Tapi, untunglah pukulan itu tidak berakibat fatal.”

Aisyah, Pak Samudera, dan Lisa mengembuskan napas lega setelah mendengar penjelasan dokter. Sekarang tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Bayu akan baik-baik saja dan kejadian di masa lalu tidak akan terulang lagi.

Setelah selesai melakukan pemeriksaan, dokter yang menangani Bayu pergi. Tinggal Aisyah, Pak Samudera, dan Lisa yang merapikan tempat tidur Bayu. Namun, bukannya merasa senang, Bayu malah merasa risih. Menurutnya, perhatian yang diberikan tiga orang di dekatnya terlalu berlebihan.

“Kalian pulang saja,” kata Bayu, menghentikan kegiatan Aisyah, Pak Samudera, dan Lisa.

“Udah sakit gini, masih aja songong.” Lisa mencubit lengan Bayu. “Kalau kami pergi, siapa yang bantuin Kakak nanti?”

“Aku tidak butuh bantuan, Lis. Aku bisa sendiri. Apa kamu tidak mendengar apa yang dikatakan dokter tadi? Dokter bilang Kakak baik-baik saja. Kamu dengar, ‘kan?” Bayu bersikukuh.

Lisa memutar bola matanya. Ia menarik napas, lalu membuangnya dengan keras. “Pa, Kak Aisyah, ayo kita pulang!” Lisa menarik lengan Pak Samudera dan Aisyah ke luar.

“Kamu gimana, sih, Lis?” sela Aisyah ketika mereka sudah di luar. “Bagaimana kalau Mas Bayu butuh sesuatu? Mas Bayu kan belum bisa berdiri.”



“Kita enggak akan pergi, Kak. Kita nunggu di sini aja. Kak Aisyah tahu sendiri kalau gengsi Kak Bayu itu selangit. Jadi, kita di luar aja. Aku mau lihat apa yang bisa dia lakukan kalau sendiri."

“Lisa benar, Syah. Kita tunggu di sini saja.” Pak Samudera duduk di salah satu deretan kursi di depan kamar Bayu. Ia menyandarkan kepala, melepas lelah yang menyerang setiap jengkal tubuhnya. Lisa dan Aisyah melakukan hal yang sama. Apa yang baru saja terjadi benar-benar menguras tenaga mereka.

Di saat masih asyik melepas penat, dari kamar Bayu terdengar suara gelas pecah. Aisyah sontak berlari, diikuti Pak Samudera dan Lisa. Begitu masuk, pandangan Aisyah langsung tertuju pada pecahan gelas yang berserakan di dekat tempat tidur. Tanpa bertanya, Aisyah sudah tahu apa yang terjadi. Bayu ingin minum, tapi gelas yang telah berisi air lepas dari tangannya.

“Makanya Kak, kalau udah sakit jangan sok kuat,” celetuk Lisa. Ia menyilangkan tangan di dada, menahan kesal karena sikap Bayu.

Bayu memalingkan wajah. Ia benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa untuk saat ini. Tangan Aisyah yang membantunya untuk kembali tidur tidak dapat ia tolak.

“Kak Aisyah kasih aja minum Kak Bayu, biar Lisa yang beresin pecahan gelasnya,” kata Lisa, mulai memunguti pecahan kaca dan membuangnya ke tempat sampah yang ada di sudut kamar. Pak Samudera ikut membantu.

“Kak Aisyah nungguin apa?” tanya Lisa, melihat Aisyah masih terpaku menatap gelas.

“Tidak apa-apa.” Aisyah tersentak. Tangannya dengan sigap meraih gelas. Namun, ia kembali terdiam. Ia ragu untuk memberikan minum pada Bayu. Ia takut, Bayu akan menepis tangannya hingga membuat hatinya terluka. Namun, Aisyah berusaha keras membuang pikiran itu. Entah Bayu akan menolak, ia berusaha untuk tidak peduli.

Aisyah buru-buru menuangkan air ke dalam gelas, lalu memberikannya pada Bayu. Untung Bayu tidak menolak air yang diberikannya. Meski seperti itu. ia tetap tidak memiliki keberanian untuk beradu pandang dengan Bayu. Tatapannya fokus pada air di gelas yang berkurang sedikit demi sedikit.

Lisa dan Pak Samudera yang baru selesai membersihkan pecahan kaca, saling bertukar tatapan. “Apa ada yang menekan tombol pause tadi?” bisik Pak Samudera pada Lisa.

Lisa tidak menjawab, ia malah menyilangkan tangan di dada sambil menggelengkan kepala. Hingga beberapa detik, Lisa dan Pak Samudera terus memperhatikan bola mata Bayu yang terpaku pada wajah Aisyah. “Katanya tidak mau dibantuin. Tapi kenapa matanya enggak bisa lepas dari wajah istrinya? Baru nyadar kalau istrinya cantik?” celetuk Lisa, membuat Bayu terbatuk.

“Lisa, kamu bisa tidak, kalau ngomong jangan tiba-tiba?” kata Aisyah, mengembalikan gelas. Sebenarnya, ia juga terkejut dengan ucapan Lisa.

Lisa tersenyum. Ia puas melihat rona merah di wajah Bayu dan Aisyah.

“Mas Bayu tidak apa-apa?” Aisyah bertanya dengan ragu.

Seperti biasa, Bayu tidak menjawab. Kali ini bukan karena tidak mau menjawab, tapi karena terlalu malu. Ketahuan menatap wajah Aisyah adalah hal yang sangat memalukan untuknya. Karena dengan seperti itu, semua orang akan tahu kalau hatinya mulai terbuka untuk wanita yang telah menjadi istrinya itu.

April 28, 2019

Untaian Cinta Aisyah (Part 19. Terulang Lagi)

by , in

19. Terulang Lagi




Petir menggelegar hingga membangunkan Aisyah. Ia tersentak dan langsung melihat jam dinding. Pukul 12 malam. Pandangannya perlahan beralih ke samping. Lantas keningnya mengerut karena tidak menemukan Bayu di sampingnya.

Aisyah keluar kamar untuk mencari Bayu. Ia memeriksa ke ruang kerja, dapur dan kamar tamu. Tetapi, ia hanya menemukan kamar kosong. Apa Mas Bayu belum pulang? pikir Aisyah.

Ia melangkah selebar mungkin menuju kamar Lisa. Karena tidak punya nomor telepon Bayu, Aisyah akan meminta Lisa yang menelepon. Sebenarnya Aisyah tidak enak membangunkan Lisa, tapi fisarat buruk memenuhi kepalanya.

“Lis!” Aisyah mengetuk pintu.

Pintu kamar Lisa tidak segera terbuka. Aisyah harus berteriak dan menggedor sampai Lisa terjaga. Dengan rambut yang kusut dan iler mengalir di sudut bibir, Lisa membuka pintu. “Ada apa, Kak? Apa Kak Bayu nakal? Ambil aja sapu, Kak. Hajar sampai minta ampun.”

“Kamu ngomong apa, sih?” Aisyah membuka mata Lisa. “Mas Bayu belum pulang. Kamu coba telepon dia, deh.”

“Kenapa enggak Kak Aisyah aja yang telepon? Kakak kan punya nomor Kak Bayu,” protes Lisa.

“Nomornya udah dihapus Mas Bayu. Kamu tahu sendiri kan kalau mas Bayu tidak mau bicara pada Kakak?” Aisyah memasang wajah memelas yang membuat Lisa tidak bisa menolak permintaannya.

“Oke. Lisa telepon Kak Bayu, biar Kak Aisyah tenang.”

Lisa kemudian menelepon Bayu. Telepon pertama tidak diangkat. Begitu pula dengan telepon yang kedua dan ketiga. “ Ke mana sih Kak Bayu? Teleponnya kok enggak diangkat?”

“Bagaimana, Lis? Apa ponselnya aktif?”

“Ponselnya aktif kok, Kak. Tapi enggak diangkat.” Lisa memasukkan ponselnya ke dalam saku. “Kak Aisyah enggak usah khawatir, pasti Kak Bayu baik-baik aja, kok. Mungkin dia  lagi lembur di kantor. Atau mungkin dia lagi sama ….”

Aisyah melotot sebelum Lisa mengkhiri ucapannya. “Telepon kantornya sekarang!” perintah Aisyah.

Karena merasa bersalah, Lisa langsung menelepon kantor Bayu. Namun, hasilnya sama saja. “Tetap enggak diangkat, Kak.”

“Itu kamu telepon ke ruangannya langsung?” Lisa mengangguk, menjawab pertanyaan Aisyah. “Sekarang telepon resepsionis hotel atau satpam.”

“Resepsionis? Satpam?” Lisa memberengut. “Yah. Kalau nelepon resepsionis, diikira kita nanti mau pesen kamar.”

“Kak Aisyah tidak mau tahu.” Aisyah bersikukuh.

Lisa menghela napas, lalu masuk ke dalam. Sebelum sempat Aisyah kembali mengoceh, Lisa keluar dengan jilbab menutupi kepalanya. “Ayo kita ke kamar Papa, Kak.”

“Kenapa ke kamar Papa? Kita kan mau nelepon hotel?” protes Aisyah.

“Lisa enggak bisa nelepon ke hotel, Kak. Lisa kan bukan karyawan di sana. Kalau kita nekad nelepon, nanti kita dikira iseng. Kalau Papa yang telepon, pasti langsung direspons sama resepsionis, kan bosnya?” Lisa menarik tangan Aisyah menuju kamar Pak Samudera.

Begitu sampai di kamar Pak Samudera, Lisa langsung menggedor. Perintah Aisyah untuk mengetuk perlahan tidak diacuhkan. “Pa, bangun, Pa! Ada situasi gawat, nih!” teriak Lisa.

“Ada apa, Lis?” Pak Samudera muncul dengan tangan mengucek mata.

“Ini perintah Kak Aisyah, lho, Pa. Ingat, ini Kak Aisyah yang minta.” Lisa memberi tekanan saat menyebut nama Aisyah hingga membuat wanita yang dimaksud terpaksa menundukkan kepala. “Kak Bayu belum pulang. Jadi, Kak Aisyah mau minta Papa telepon ke hotel. Lisa udah bilang kalau Kak Bayu baik-baik aja. Tapi, menantu kesayangan Papa ini enggak mau dengar. Menantu Papa terus ngotot ….”

Pak Samudera langsung masuk kamar sebelum Lisa selesai berbicara. “Begini nih yang bikin kesal. Belum selesai bicara langsung pergi. Gercep amat kalau menantunya yang minta,” keluh Lisa.

Ketika Pak Samudera masih di dalam kamar, Aisyah mencubit lengan Lisa. “Kamu bicara apa tadi, Lis?” ujar Aisyah yang disambut kekehan Lisa.

Beberapa menit kemudian, Pak Samudera kembali keluar. “Papa sudah menelepon resepsionis hotel. Mereka bilang, Bayu sudah pulang sekitar jam delapan tadi.”

Aisyah melirik jam dinding. “Itu empat jam yang lalu, Pa. Tidak mungkin Mas Bayu belum sampai.” Pandangan Aisyah tertuju keluar jendela. Hujan yang turun hanya menyisakan gerimis. Namun, firasat buruk semakin memenuhi kepala Aisyah.

“Kita harus mencari Mas Bayu, Pa. Mungkin sesuatu terjadi pada Mas Bayu.”

Pak Samudera menggaruk kepala. Sebenarnya, ia tidak khawatir jika Bayu belum pulang. Karena selama ini, Bayu sering tidak pulang ke rumah. Bahkan, beberapa kali Bayu tidak pulang sampai berhari-hari. Tetapi, melihat kepanikan Aisyah, Pak Samudera terpaksa menuruti keinginan sang menantu.

***

“Kamu lihat kiri, Papa lihat kanan, ya,” kata Pak Samudera dengan tangan memegang setir.

Pak Samudera melirik Aisyah. Ia merasa kasihan pada menantunya itu. Raut kekhawatiran di wajah Aisyah membuat hati Pak Samudera seolah teriris. “Andai saja kamu melihat ini, Bay. Aisyah sangat mengkhawatirkanmu. Ia tidak bisa tenang karena belum melihatmu. Tapi, kenapa kamu malah tidak peduli padanya, Bay?” ucap Pak Samudera dalam hati.

“Pa, bukannya itu mobil Mas Bayu?” Aisyah mencondongkan kepalanya. Bola matanya menyipit, menatap sebuah mobil yang terparkir di seberang jalan.

“Pa, berhenti!” Aisyah berteriak. Ia melesat ke luar begitu mobil berhenti. Melihat sosok pria tergeletak, lutut Aisyah ikut lemas. Ia roboh dengan napas tercekat.

“Ada apa, Syah?” Pak Samudera menghampiri. Ia membawa payung di tangannya.

Namun, Aisyah tidak menjawab. Ia kembali berdiri, lalu berlari untuk memastikan sosok yang dilihatnya bukan pria yang dicari. Berharap itu bukan Bayu, Aisyah menemukan kekecewaan. Sosok pria yang tergeletak di tengah hujan itu benar Bayu.

“Mas Bayu? Mas Bayu kenapa? Bangun, Mas.” Aisyah tidak sanggup menahan air matanya. Melihat kemeja Bayu yang robek dan noda merah yang mulai memudar, ia tidak bisa mengendalikan diri. Dipeluknya Bayu dengan erat sambil sesekali mencium puncak kepala suaminya itu. Ketika tangannya menyentuh luka di perut Bayu, tangisan Aisyah semakin keras.

“Tidak. Mas Bayu harus bangun. Harus bangun! Tolong buka matamu, Mas!” pinta Aisyah.

Sementara Aisyah meraung, Pak Samudera tidak berbuat apa-apa. Ia mematung, menatap tubuh Bayu dalam pelukan sang menantu. Dalam benaknya, ia teringat kejadian yang sama. Ya, ketika Bu Renata meninggal. Kejadian yang sama dan situasi yang sama.

“Pa, ayo kita bawa Mas Bayu ke rumah sakit!” ujar Aisyah, menyadarkan Pak Samudera.

Pak samudera tersentak. Ia langsung mengangkat Bayu, meski harus dibantu oleh Aisyah.

Di dalam mobil, Aisyah tidak berhenti menangis. Ia terus berusaha membangunkan Bayu. “Mas, kamu harus kuat, ya. Sebentar lagi kita sampai di rumah sakit. Mas Bayu harus kuat,” ucapnya, menepis air yang mengalir di wajah Bayu.

Pak Samudera yang duduk di kursi pengemudi, sesekali menoleh ke belakang. Bola matanya berkaca-kaca melihat wajah pucat Bayu. Dalam hati, Pak Samudera tidak berhenti mengucapkan doa agar kejadian yang menimpa istrinya tidak terulang lagi.



Di tengah perjalan menuju rumah sakit, Aisyah merasakan Bayu gemetar dalam pelukannya. “Mas Bayu kedinginan?” tanya Aisyah tanpa ragu melepas jilbabnya. Dengan tangan gemetar, Aisyah melepas pakaian Bayu hingga luka di perut suaminya itu jelas terlihat.

“Mas Bayu harus bertahan. Kumohon,” bisik Aisyah, mengelap wajah Bayu dengan jilbab yang setengah basah.

My Instagram