Novel, Short Story, and anymore from Sahrial Pratama

Untaian Cinta Aisyah (Part 18. Kehilangannya)

18. Kehilangannya



Pak Samudera mondar-mandir di ruang tengah. Berulang kali ia menoleh pada jam dinding yang menunjukkan pukul tujuh lewat dua puluh. Ia lantas memijat keningnya ketika melihat pintu masih tertutup rapat.

“Ratih!” panggil Pak Samudera.

Gadis yang dipanggil buru-buru keluar dari dapur. “Ya, Pak. Ada apa?”

“Aisyah benar-benar tidak meninggalkan pesan?” tanya Pak Samudera.

“Maaf, Pak. Bu Aisyah tidak mengatakan apa-apa. Kalau tidak salah, Bu Aisyah bahkan belum pulang dari tadi pagi,” jawab Ratih, menundukkan pandangannya. Ia sama sekali tidak berani menatap Pak Samudera karena mengetahui kepanikan sang majikan.

“Belum pulang dari tadi pagi?” Bola mata Pak Samudera melebar. “Kok bisa belum pulang? “

“Saya juga tidak mengerti, Pak.”

“Baiklah. Kamu selesaikan pekerjaanmu saja.”

Pak Samudera merogoh ponsel dari saku. Ia menelepon Bayu buru-buru. “Bayu, apa Aisyah bersamamu?” tanya Pak Samudera setelah telepon tersambung.

“Tidak, Pa,” sahut Bayu bermalas-malasan. “Memang dia tidak bilang apa-apa sebelum pergi?”

“Bagaimana Aisyah bilang apa-apa? Dia bahkan belum pulang dari tadi pagi.” Pak Samudera berusaha menahan amarahnya. “Apa yang terjadi tadi pagi? Apa kamu memarahi Aisyah? Oh ya, kamu memberikan dia ongkos pulang, kan? Oh iya, alamat rumah ini dia sudah tahu, kan?”

“Apa? Ongkos pulang? Alamat rumah?”

“Bayu!” bentak Pak Samudera. “Apa kamu sama sekali tidak berbicara apa-apa dengan Aisyah tadi? Kamu tidak tanya dia tahu jalan pulang atau tidak?”

“Apa masalahnya denganku?”

“Bayu!” Pak Samudera tidak sanggup membendung amarahnya. “Papa mengerti, kamu belum memaafkan Papa atas meninggalnya mamamu. Tapi, Aisyah tidak ada hubungannya dengan itu. Dia tidak salah. Jangan sampai kamu menyesal, Bay. Aisyah tidak boleh bernasib sama dengan mamamu. Dia wanita yang baik. Dan, kamu juga tidak boleh menjadi seperti Papa.”

Tidak ada respons dari Bayu. Telepon telah terputus tanpa ada kata yang membuat pikiran Pak Samudera tenang.

“Aku harus mencari Aisyah.” Pak Samudera bergegas ke kamar untuk mengambil kunci mobil. Sebelum sempat keluar, ia mendengar seseorang mengucapkan salam.

Pak Samudera lantas berlari ke luar kamar. Ia tersenyum lebar saat melihat Aisyah dan Lisa di pintu. “Aisyah, kamu dari mana saja? Kenapa baru pulang sekarang?” tanya Pak Samudera.

“Maaf, Pa.” Aisyah berusaha tersenyum meski tubuhnya terasa remuk. “Aisyah tidak tahu jalan pulang tadi.”

“Iya, Pa. Untung Aisyah bertemu Pak Rudy. Kalau enggak, Kak Aisyah mungkin  masih belum pulang sampai sekarang,” jelas Lisa.

“Pak Rudy?”

“Dosen Lisa di kampus, Pa. Pak Rudy itu teman Kak Aisyah waktu di kampung dulu.” Lisa melingkarkan tangannya di lengan Aisyah.

“Tapi, kenapa dia baru mengantarkanmu sekarang?” Pak Samudera kembali bertanya.

Lisa menghela napas. “Baiklah. Lisa akan ceritain semuanya.”

Aisyah melotot pada Lisa. Dari tatapannya, terlihat jelas kalau ia sedang mengancam adik iparnya itu.

“Sebenarnya apa yang terjadi? Pasti Bayu mengatakan sesuatu, iya, kan?” Pak Samudera berkacak pinggang. “Kamu tidak perlu menyembunyikannya pada Papa. Bayu sudah mengatakannya.”

“Kak Bayu ninggalin Kak Aisyah di tengah jalan, Pa. Jadi, Kak Aisyah harus jalan kaki ke laundry. Bayangkan, Pa. Jalan kaki di bawah terik matahari. Penat, lelah, haus. Semua menjadi satu. Untung Pak Rudy ketemu sama Kak Aisyah. Tapi, Kak Aisyah malah enggak mau dianterin,” ujar Lisa dengan penuh ekspresi.

“Tidak usah berlebihan, Lis. Aku tahu Rudy lagi sibuk. Makanya, aku tidak mau dianterin,” sela Aisyah. Ia menatap ke belakang Pak Samudera, mencari seseorang yang selalu mengganggu pikirannya. “Apa Mas Bayu belum pulang, Pa?” tanyanya ketika tidak melihat orang yang dicari.

“Biarkan saja. Dia juga tidak peduli kamu sudah pulang atau tidak,” ketus Pak Samudera.

Giliran Lisa yang melotot pada Pak Samudera. Apa yang baru saja diucapkan oleh Pak Samudera jelas bukan kalimat yang seharusnya didengar oleh seorang wanita yang berusaha memenangkan hati Bayu.

“Papa minta maaf,” kata Pak Samudera, membuat Lisa menepuk dahinya sendiri.

“Tidak apa-apa, Pa.” Aisyah pergi ke kamar dengan mendung menggelayut di wajahnya.

“Papa gimana, sih?” Lisa menampar lengan Pak Samudera. “Enggak bisa baca kondisi amat. Ngapain Papa minta maaf tadi? Kan semakin jelas.”

Pak Samudera mengedik sambil garuk kepala.

***

Bayu masih bertahan di ruangannya. Ia harus menyelesaikan beberapa berkas untuk meeting besok. Namun, seseorang kembali mengusik pikirannya.

“Ah, kenapa begini lagi?” geram Bayu, menghantam meja.

Tadi siang, ia sudah bersusah payah untuk mendapatkan konsentrasinya kembali setelah sempat diusik oleh sebuah kenangan menyakitkan. Ia bisa kembali menyelesaikan beberapa pekerjaan. Namun, sekarang pikirannya kembali terganggu.

Meski berusaha sekuat mungkin, Bayu akhirnya gagal. Ia tidak bisa fokus. Hujan di luar membuat berbagai pikiran buruk menyelusup ke dalam kepalanya dengan mudah. Di telinganya terus terngiang ucapan Pak Samudera. Dan, ia membenarkan semua itu. Aisyah tidak boleh bernasib sama dengan mamanya. Ia juga tidak mau menjadi seperti papanya.

Bayu bergegas merapikan meja. Kemudian, ia berlari kecil menuju parkiran. Hujan yang turun membuat bajunya basah. “Benar-benar merepotkan!” gerutu Bayu, menyalakan mobil.

Di tengah kegelapan dan hujan, Bayu mengemudi perlahan. Ia melirik ke kiri dan kanan, berharap Aisyah ada di sana. Namun, yang dicari tidak kunjung ketemu hingga ia sampai di tempat mamanya meninggal.



“Aku memang tidak menganggapnya istriku, tapi dia juga tidak boleh bernasib sama dengan Mama,” tegas Bayu, menatap tempat terakhir kali ia bertemu mamanya.

Saat Bayu berniat menginjak gas, dua orang pria tiba-tiba berdiri di depan mobil. Keduanya tersenyum, memindai mobil jengkal demi jengkal.

Bayu membunyikan klakson agar kedua pria itu pergi. Tetapi, bukannya pergi, keduanya malah mendekat. Pria bertubuh gemuk dengan rambut keriting menyeringai. Di tangannya, ia memegang pisau.

“Sial!” umpat Bayu. Niatnya untuk menolong Aisyah membuatnya menghadapi situasi bahaya. Sekarang, ia yang butuh bantuan untuk menghadapi dua pria yang jelas memiliki niat jahat.

Sebelum sempat menelepon polisi, Bayu bergegas membuka pintu mobil karena pria berambut gondrong hendak melempar batu padanya. “Kalian mau apa? Katakan saja. Aku akan memberikannya,” kata Bayu, berusaha menyembunyikan ketakutannya.

“Kami mau semuanya,” kekeh pria bertubuh gemuk, mengangkat pisau tepat di depan wajahnya.

Bola mata Bayu tertuju pada pisau. Bagaimana mamanya terbunuh kembali melintas di benaknya. Ketakutannya lenyap, berganti dengan amarah yang menggelegak. Dengan tangan terkepal, Bayu melangkah maju.

“Jangan mendekat, atau pisau ini akan merobek perutmu,” ancam pria bertubuh gemuk.

Namun, ancaman itu tidak sedikit pun digubris oleh Bayu. Ia mendekat perlahan. “Tidak akan kubiarkan manusia seperti kalian hidup lebih lama,” teriak Bayu di antara hujan yang turun semakin deras.

“Kamu berani melawan?” Pria berambut gondrong tersenyum sinis. Ia melemparkan batu pada Bayu. Namun, lemparannya meleset.

Bayu melayangkan pukulan pada pria berambut gondrong, tapi pria bertubuh gemuk dengan cepat menyambar lengannya. Darah segar merembes, menodai kemeja merah yang dikenakannya. “Ini akibatnya kalau berani melawan,” ujar pria berambut gondrong.

“Ini bukan apa-apa. Aku tidak akan mati hanya karena luka kecil seperti ini.” Bayu kembali menegakkan tubuhnya. “Kalian tidak pantas disebut manusia. Dan, kalian tidak lebih baik dari binatang hina! Manusia seperti apa yang tega menghabisi nyawa orang lain hanya agar bisa makan, hah?” Bayu melemparkan ludahnya tepat di baju pria berambut gondrong.

“Jangan banyak omong!” teriak pria berambut gondrong sambil melayangkan pisau.

Bayu berhasil menghindar. Namun, pria bertubuh gemuk berhasil menahannya. “Apa kamu bilang? Kami binatang? Kalau kami binatang, lalu kamu apa? Kamu adalah mangsa binatang.” Pria bertubuh gemuk tertawa tepat di telinga Bayu, membuat darahnya semakin mendidih.

Bayu meronta, berusaha meloloskan diri. Tetapi, kekuatannya tidak mampu mengalahkan cengkeraman pria bertubuh gemuk.

Ketika pria bertubuh gemuk menahan Bayu, pria berambut gondrong dengan leluasa menjarah mobil. Tidak ada sesuatu yang bisa diambil di sana. Mobil itu bersih, seolah pemiliknya bukan orang kaya.

“Sial! Tidak ada apa-apa di dalam mobil. Kita seharusnya merampok wanita saja. Kalau wanita, mereka selalu memakai perhiasan ke mana-mana. Tapi kalau laki-laki, kita tidak akan mendapatkan apa-apa,” ujar pria berambut gondrong pada rekannya.

“Sial!” umpat pria bertubuh gemuk. “Ya, sudah. Ambil saja dompet dan handphonenya.”

Pria berambut gondrong langsung merogoh celana Bayu. Namun, bola matanya tiba-tiba teruju pada sebuah cincin yang melingkar di jari manis Bayu. “Wah, dia memakai cincin. Pasti ini cincin kawin, iya, kan?” Pria berambut gondrong tersenyum sembari melepaskan cincin dari jari Bayu.

Bayu tidak berusaha mempertahankan cincin itu. Menurutnya, cincin itu ada atau tidak, sama sekali tidak ada beda untuknya. Mungkin juga ini alasan ia memakai cincin itu hari ini, agar ia bisa kehilangannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

My Instagram