Novel, Short Story, and anymore from Sahrial Pratama

Untaian Cinta Aisyah ( Part 13. Cantik Seperti Bidadari)

13. Cantik Seperti Bidadari



Lisa buru-buru pulang dari kampus. Tidak ia pedulikan mata kuliah yang diajarkan oleh salah satu  dosen yang pelit memberi nilai hari ini. Begitulah Lisa, kalau sudah berkaitan dengan hal yang berbau pesta, ia tidak akan bisa berdiam diri.

“Kak Aisyah, cepat siap-siap! Kita ke mall hari ini.” Lisa berteriak hingga suaranya memenuhi sudut rumah.

“Ngapain?” Aisyah yang datang dari dapur bertanya pada Lisa yang sudah sampai di tengah tangga. “Bukannya semalam kita baru beli pakaian baru? Kakak pikir, itu bisa kita pakai, deh.”

“Nanti aku jelasin, Kak.”

Aisyah memutar mata. Seperti biasa, Lisa tidak akan mendengar apa yang dikatakan semua orang. “Baiklah. Sekalian Kak Aisyah mau beli buku untuk Dimas nanti.”

Setengah jam kemudian, Lisa keluar dari kamar. Penampilannya sangat berbeda. Aisyah yang menunggu di depan pintu sampai melongo dibuatnya. Belum pernah ia melihat Lisa secantik itu.

“Gimana penampilan Lisa, Kak?” Lisa berputar-putar di depan Aisyah.

“Masyaallah! Kamu cantik banget, Lis,” ucap Aisyah dengan mata berkaca-kaca. “Kamu bener-bener cantik.”

Lisa tersenyum lebar. Ia kembali memeriksa apa yang dikenakannya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Jilbab merah muda yang menutupi kepalanya sudah rapi. Baju kurung dan rok yang membalut tubuhnya pun terlihat sesuai.

“Lisa pakai pakaian begini, karena enggak mau penampilan kita terlalu berbeda waktu di mall nanti, Kak,” kekeh Lisa.

“Terserah, deh. Pokoknya ini awal yang sangat bagus.” Aisyah meraih lengan adiknya iparnya yang tampil dengan penampilan baru.

Ternyata, tidak hanya Aisyah yang terkejut dengan penampilan baru Lisa. Pak Yanto yang membuka gerbang pun ikut terperangah. Pria berkumis tebal itu tidak melepaskan pandangannya dari Lisa hingga mobil sang majikan luput dari matanya.

Sesampainya di mall, Lisa langsung membaur dengan pakaian-pakaian yang hendak dibelinya sambil terus menggerutu. “Papa, sih. Kenapa kemarin baru ngingetin kalau pestanya entar malem? Pasti sengaja, nih, biar kita enggak bisa belanja dengan nyaman.”

“Kamu juga, Lis. Kenapa harus belanja seperti ini, sih?”

Lisa tidak merespons. Pandangannya tertuju pada sebuah gaun yang dipakaikan pada sebuah manekin. Gaun berwarna biru bersih, layaknya langit tanpa awan. Ditambah hiasan manik-manik berwarna putih dibagian leher dan pinggang. “Gaun yang sempurna,” ucap Lisa mengangguk.

“Itu buat kamu, Lis?” tanya Aisyah, mengikuti pandangan Lisa.

“Enggak. Itu untuk Kak Aisyah. Ayo kita buat Kak Bayu nyesel karena udah ngabaikan Kakak.” Lisa memainkan alis, membuat Aisyah geli sendiri melihatnya.

Saat keluar dari toko, Lisa melihat teman-temannya berjalan ke arahnya. Dengan penampilan barunya saat ini, ia pasti digoda habis-habisan oleh mereka. Untuk menghindari ejekan teman-temannya, Lisa buru-buru membalikkan badan. Namun, salah satu dari temannya memanggil nama Aisyah.

“Sial. Kenapa mereka harus mengenali Kak Aisyah?” gerutu Lisa, mengentakkan kakinya.

“Kak Aisyah lagi belanja?” sapa Boy yang memang terkenal ramah.

“Iya. Kalian mau belanja juga?”

Boy mengamati teman-temannya sambil tersenyum. “Kami cuma mau jalan-jalan, Kak. Oh, ya, Kak Aisyah sama siapa? Adik Kak Aisyah, ya?” Bola mata Boy tertuju pada Lisa yang masih tetap memunggungi teman-temannya.

“Kalian benar-benar tidak mengenalnya?”

“Emang dia siapa, Kak?” Rima mendekat.

Lisa mengambil keputusan sebelum Rima menyentuh pundaknya. “Kejutan!” serunya sambil memutar badan. Ia tersenyum lebar. Tetapi, terlihat jelas kalau senyum itu dipaksakan. Kedua telinganya ia siagakan untuk mendengar respons teman-temannya, karena ia sudah menutup matanya dengan rapat lebih dulu.

Untuk sejenak, Boy dan teman-temannya melongo, mengamati Lisa. Tidak sedikit pun di antara mereka percaya dengan apa yang mereka lihat. Lisa yang terkenal anti dengan pakaian tertutup kini mengenakannya. Sungguh benar-benar sebuah keajaiban.

Rima menarik ujung kemeja Boy. Mereka kemudian tertawa bersama. Berkali-kali mereka menatap Lisa dari ujung kepala hingga ke ujung kaki hingga membuat Lisa kesal.

“Apa ada yang lucu?” sergah Lisa, menghentikan tawa Boy dan yang lainnya.

Lisa menatap tajam Boy. Ia tidak masalah jika Rima dan yang lainnya menertawakannya. Namun, tidak untuk Boy. Lisa merasa sakit melihat Boy tertawa.

Berdiri di antara Lisa dan Boy, membuat Aisyah merasakan sesuatu. Aisyah bisa mengetahui kalau adik iparnya memiliki rasa pada pemuda di depannya.

“Bukankah Lisa terlihat cantik, Boy? Dia seperti bidadari. Anggun dan baik hati. Apa kamu sependapat denganku?” Aisyah menaikkan alis.

Mendengar ucapan Aisyah, pipi Lisa sontak merona. Bidadari? Yang benar saja. Pernyataan Aisyah itu hanya membuat Lisa tidak mampu menatap Boy.

“Iya. Kak Aisyah benar. Dia cantik, seperti bidadari,” ucap Boy, tersenyum menatap Lisa.



“Kecantikan seorang wanita akan terlihat saat kamu mengenal siapa dia lebih dalam lagi. Kamu akan terpesona dengan caranya berbicara, berjalan, tersenyum, marah, dan bersikap. Saat itulah cinta yang sesungguhnya akan timbul.” Aisyah menarik tangan Lisa. “Ayo kita pergi.”

Lisa terus menunduk. Ketika melewati Boy dan yang lainnya, ia mendengar seseorang berbisik, “Lo benar-benar cantik, kayak bidadari. Gue serius.” Senyuman Lisa mengembang dan jantungnya berdetak kencang ketika mengenali suara itu adalah suara Boy.

Hingga sampai di pintu mall, senyuman Lisa belum memudar. Orang-orang yang berpapasan dengannya bahkan sampai mengernyitkan kening, mengira ia sudah gila.

“Lis, kamu pakai cadar deh kalau tidak mau dianggap gila,” protes Aisyah.

“Emangnya kenapa, Kak?” tanya Aisyah sambil terus tersenyum lebar.

“Kamu masih tanya kenapa? Apa kamu tidak sadar kalau kamu senyam-senyum tidak jelas dari tadi? Karena Boy, ya?”

“Bu-bukan,” sanggah Lisa, gelagapan.

“Kalau tidak, kenapa kamu harus gugup begitu? Dan, kenapa pipimu jadi merah seperti tomat?” Aisyah semakin semangat menggoda Lisa.

Lisa menangkup wajahnya dengan kedua tangan, menyembunyikan pipi yang seperti baru saja dikenakan blush on. Ia benar-benar malu. Bola matanya berputar, mencari suatu hal yang bisa mengalihkan perhatian Aisyah.

“Pak Rudy?” gumam Lisa. Ia tidak ingin mengalihkan pembicaraan dengan menyebut nama pria yang memiliki masa lalu dengan Aisyah. Namun, nama itu meluncur begitu saja ketika pria yang dimaksud mendekat.

“Lisa, kalian belanja apa?” sapa Rudy.

“Cuma beli baju, Pak. Anaknya temen Papa ada yang ulang tahun nanti malam. Makanya kami perlu baju baru,” kekeh Lisa.

Rudy melirik Aisyah. Ia sungguh merindukan wanita itu. Tetapi, kenyataan sungguh teramat menyakitkan. Wanita yang ia rindukan itu telah menjadi istri orang lain. Status itu mungkin bisa saja berubah. Namun, ia akan menjadi makhluk yang egois jika mengharapkan hal itu terjadi.

“Pak Rudy mau beli apa?”

“Saya juga mau beli baju. Nanti malam ada mahasiswi yang ulang tahun.”

“Ulang tahun seorang mahasiswi?” Kening Lisa mengerut. Sepenting itukah ulang tahun seorang mahasiswi untuk seorang dosen?

“Mahasiswi ini anaknya yang sering memberikan bantuan untuk acara-acara yang diselenggarakan kampus. Jadi, dari pihak dosen banyak yang diundang.”

Lisa mengangguk. “Pantas saja. Oh, ya, Kak Aisyah enggak mau ngomong apa-apa sama Pak Rudy?” ujar Lisa tanpa sadar. Ia segera menutup mulutnya saat mata Aisyah menatap tajam padanya.

Menyadari perhatian Rudy tertuju ke arahnya, Aisyah cepat-cepat menyusun kalimat yang bisa mengelakkan pembicaraan mereka lebih panjang lagi. “Apa kamu punya masalah di kampus yang harus aku bicarakan, Lis?” tanya Aisyah.

“Enggak ada, Kak.” Lisa menggeleng.

“Kalau tidak ada, apa kita bisa pulang? Sepertinya, kamu butuh persiapan ekstra buat acara nanti malam.”

“Kak Aisyah betul!” seru Lisa.

Mereka pun buru-buru pamit pada Rudy. Bukan karena Lisa merasa butuh persiapan ekstra, tapi karena ia merasa bersalah pada Aisyah. Ia sudah jelas tahu bagaimana hubungan Aisyah dan Rudy, tapi tetap saja ia tidak menggunakan rem pada mulutnya saat berbicara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

My Instagram