Novel, Short Story, and anymore from Sahrial Pratama

Untaian Cinta Aisyah ( Part 16. Melanjutkan Cinta Yang Tertunda)

16. Melanjutkan Cinta Yang Tertunda




Untuk sesaat, Aisyah merasa Bayu mulai menganggapnya ada. Namun, kemudian anggapan itu pupus hanya dalam waktu hitungan jam. Semua seolah menekankan bahwa ia memang tidak punya harapan.

Tadi malam di tengah pesta, bukannya pulang bersama Aisyah, Bayu malah lebih memilih mengantarkan Keyla. Lisa yang merasa kakaknya mulai membuka hati pun kecewa dengan akhir semalam. Ia sudah berharap akan ada kemajuan dalam hubungan Aisyah dan Bayu, tapi ternyata masih sama saja.

“Kak Aisyah mau ke mana?” tanya Lisa, melihat Aisyah memegang jas yang dikenakan Pak Samudera tadi malam.

“Bi Darti lagi masak makan siang, sedangkan Ratih pergi ke pasar. Jadi, Kakak yang harus nganterin jas Papa ini ke laundry.”

“Papa suka gitu. Mentang-mentang jasnya dibeli di luar negeri, Papa enggak mau kalau Bi Darti dan Mbak Ratih yang nyuci jas itu. Ngerepotin orang aja.”

“Kak Aisyah tidak merasa direpotin, kok.”

“Oh, iya. Kenapa Kakak enggak sama Kak Bayu aja?” Lisa menatap Bayu yang baru keluar dari ruang kerjanya. Ia belum menyerah setelah apa yang terjadi tadi malam.

Bayu dan Pak Samudera berangkat ke kantor agak siang hari ini. Karena setelah pesta semalam usai, Bayu dan Pak Samudera harus mengurus beberapa hal. Bahkan, keduanya harus pulang pukul tiga pagi.

“Itu ide bagus, Lis.” Pak Samudera datang menimpali.

“Hah? Papa belum pergi ke kantor?” tanya Lisa.

“Tadi masih ada berkas yang Papa harus beresin,” kekeh Pak Samudera.

“Kak Bayu,” cegat Lisa saat Bayu melewati mereka. “Kata Papa, Kakak  harus nganter Kak Aisyah ke laundry.”

Bayu menatap jas yang dipegang Aisyah. Ia mengulurkan tangan, lalu berkata, “Aku saja yang mengantarkannya. Dia tidak perlu ikut.”

“Apa kamu tidak dengar apa yang dikatakan Lisa? Papa bilang kamu ngantar Aisyah ke laundry, bukan ngantar jasnya. Kamu sudah terlambat ke kantor, ‘kan? Lebih baik kamu bergegas daripada telat kejebak macet.”

Bayu mendengus. “Ayo!”

Dengan terpaksa Bayu menurut. Entah ini hal yang baik atau buruk, Aisyah tidak mengerti. Sekarang, ia berada satu mobil dengan Bayu, persis seperti di hari pertama mereka menjadi suami istri.



Bayu tersenyum sinis. “Bagaimana rasanya bertemu dengan orang yang dicintai setelah sekian lama?” ucapnya tiba-tiba.

“Maksudnya, Mas?” Aisyah mengenyit.

“Laki-laki yang tadi malam. Namanya Rudy, iya, kan?” Bayu mengangkat alis. “Aku tahu, kamu mencintai laki-laki itu. Aku juga ingat, bukankah laki-laki itu yang dimaksud Lisa?”

“Apa maksud Mas Bayu?”

“Tidak usah berlagak bodoh. Aku sudah mencari tahu tentang dia. Kalian berasal dari kampung yang sama. Dia merantau ke sini dan menjadi dosen di kampusnya Lisa. Aku tahu dia juga menyukaimu.”

“Itu tidak benar.”

“Apa kamu masih mau berbohong?” Bayu menginjak gas dan mempercepat laju mobil.

“Kami memang sempat berencana untuk menikah. Tapi, itu dulu, Mas. Sekarang, kehidupanku di sini, sebagai istri Mas Bayu.”

“Apa kamu tidak bosan mengatakan itu, hah? Aku punya saran yang bagus. Bagaimana kalau kamu dan dia memulai lagi kisah cinta kalian yang sempat tertunda. Kalian bisa melanjutkan rencana yang belum sempat kalian wujudkan.”

“Apa maksud semua ini, Mas?” bentak Aisyah.

“Diam!” balas Bayu lebih keras. “Sekarang, kamu sudah tidak menggunakan cadar. Seperti yang kukatakan sebelumnya, aku tidak mau membuat kenangan tentang wajahmu dalam hidupku. Jadi, cepatlah pergi dan jangan muncul lagi.”

“Turunkan aku di sini, Mas,” ujar Aisyah dengan suara bergetar.

Tanpa menunggu diminta untuk kedua kalinya, Bayu langsung menghentikan mobil. Begitu berhenti, keduanya keluar bersama.

“Kamu harus ingat apa yang aku katakan. Cepat pergi dari hidupku!” teriak Bayu. Untunglah jalan di mana mereka sekarang sedang sepi sehingga mereka tidak perlu menjadi tontonan.

“Mas Bayu! Apa Mas tidak berpikir apa yang sedang terjadi sekarang? Mas Bayu, Papa, Lisa, seolah tidak ada ikatan. Mas Bayu selalu berbuat apa yang Mas inginkan tanpa mendengarkan apa yang dikatakan orang lain. Papa, entah kenapa Papa juga tenggelam dalam dunianya sendiri. Dan, Lisa. Apa Mas tidak berpikir kalau Lisa membutuhkan Mas Bayu dan Papa? Dia butuh perhatian. Dia perlu sandaran.”

“Diam!” Bayu mengangkat tangan. Hampir saja ia memukul Aisyah jika tidak segera mengendalikan amarahnya. “Kamu tidak tahu apa-apa tentang keluargaku. Jangan pernah berpikir kalau kamu salah satu bagian dari kami. Kamu hanya orang lain dan selamanya akan tetap seperti itu.”

Bayu buru-buru masuk ke dalam mobil. Ia pergi meninggalkan Aisyah dengan jas yang seharusnya diantarkan ke laundry.

Aisyah merasa bagaikan layang-layang yang ditarik ulur. Semalam Bayu mampu bersikap manis, lalu sekarang kembali bersikap sangat menjengkelkan.

Saat Aisyah berjalan, seorang pria datang menghampiri. “Aku melihat semuanya,” ujarnya mengejutkan Aisyah.

“Rudy?” Aisyah menoleh. “Sejak kapan kamu ada di sini?”

“Jadi, laki-laki seperti itu yang menjadi suamimu?” Rudy tersenyum  sinis, menatap mobil Bayu yang hilang di tikungan. Ia sama sekali tidak memedulikan pertanyaan yang diajukan Aisyah. “Dia tidak pantas mendapatkanmu, Aisyah. Kamu terlalu baik untuknya.”

“Apa hakmu berbicara seperti itu, Rud?”

Rudy menatap mata Aisyah yang memerah. “Aku tahu, hanya air mata yang dia berikan padamu. Dia hanya bisa membuatmu sengsara. Apa kamu akan bertahan dengan suami yang seperti itu?”

Aisyah terdiam.

“Aku mencintaimu dan selamanya akan mencintaimu. Aku ….”

“Hentikan, Rud! Aku sudah ….”

“Tolong, jangan potong ucapanku kali ini. Kamu mungkin sakit hati karena aku tidak memberi kabar padamu. Tapi, itu karena aku kehilangan handphoneku. Dan aku lupa nomormu. Aku juga tidak menginginkan semua ini terjadi, Aisyah.”

Aisyah memejamkan mata. Akhirnya, ia tahu alasan Rudy tidak memberi kabar padanya. Rudy tidak melupakannya. Pria itu masih mencintainya.

“Aku berniat setelah libur semester ini akan menjemputmu ke kampung. Aku dosen baru. Jadi, aku tidak bisa bolos mengajar untuk saat ini.”

Aisyah tidak tahan lagi. Jika ia bertahan, bisa-bisa Rudy berhasil meruntuhkan keyakinannya.

“Tinggalkan laki-laki itu, Aisyah. Kita masih bisa bersama. Aku akan memenuhi semua janji yang pernah kuucapkan. Semua impian yang pernah kamu ceritakan, semua akan menjadi nyata.”

“Tidak, Mas. Aku bukan Aisyah yang dulu. Sekarang, aku memiliki kewajiban yang tidak bisa aku tinggalkan.”

“Jangan bodoh, Aisyah. Kamu hanya akan sengsara jika terus bersama laki-laki itu. Kamu tidak akan pernah bahagia. Tidak ada yang bisa kamu harapkan darinya.”

Aisyah menggeram. “Aku memang tidak mengharapkan apa-apa darinya. Karena aku tahu, Allah sudah memenuhi apa yang kuharapkan.”

“Aisyah, tolonglah! Kali ini dengarkan aku.”

“Kamu seorang dosen, ‘kan? Itu berarti, kamu orang yang berpendidikan. Bukankah seharusnya orang yang  berpendidikan tahu bahwa mengganggu rumah tangga orang lain merupakan hal yang salah?”

Rudy mengusap wajahnya. Entah apa yang harus ia katakan agar Aisyah mau meninggalkan Bayu. “Ini bukan masalah berpendidikan atau tidak. Ini masalah hati. Bagaimana mungkin aku berdiam diri, sedangkan wanita yang kucintai menderita di depan mataku? Bagaimana aku berpangku tangan ketika aku melihat wanita yang kucintai dilukai orang lain? Bagaimana aku bisa, Aisyah?”

“Siapa bilang aku terluka?” bantah Aisyah. “Aku sama sekali tidak merasa terluka.”

“Kamu harus membuka mata, Aisyah. Kamu tidak akan bisa mendekat pada Allah jika kamu di sampingnya. Kamu pernah mengatakan akan menikah dengan seorang laki-laki yang mampu menjadi imam untukmu. Dan laki-laki yang sekarang menjadi suamimu bukanlah orang seperti itu. Dia tidak mampu menjadi imam untukmu. Apa kamu tidak memikirkannya? Bagaimana seseorang yang tidak mampu menjadi imam untuk dirinya sendiri akan menuntunmu?”



“Cukup, Rud. Entah ini salah atau benar, aku juga tidak tahu. Tapi, aku yakin, seorang istri yang mencintai suaminya dengan ikhlas, akan bernilai ibadah di mata Allah. Aku percaya itu.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

My Instagram