Novel, Short Story, and anymore from Sahrial Pratama

Untaian Cinta Aisyah (Part 20. Masih Memalingkan Wajah)

20. Masih Memalingkan Wajah



Bayu sedang ditangani dokter di IGD, sedangkan Pak Samudera dan Aisyah duduk menunggu. Aisyah menyandarkan kepalanya ke dinding. Mulutnya tiada henti komat-kamit mengucap Asma Allah. Pakaiannya yang agak basah tidak dihiraukan. Yang terpenting saat ini untuknya adalah keselamatan Bayu.

Pak Samudera menghela napas. Ia menatap wajah Aisyah yang dipenuhi kekhawatiran. Air matanya jatuh menahan sesak di dada. Ia telah gagal menjadi seorang suami. Ia juga tidak mampu untuk menjadi seorang ayah. Sekarang, ia tidak bisa menjadi seorang mertua yang baik. Pak Samudera merutuki dirinya sendiri karena tidak mampu menjaga keluarganya. Dan, ia malah membawa seseorang untuk ikut menderita karenanya.

“Maafin Papa, Syah,” ujar Pak Samudera, menyadarkan Aisyah.

“Apa yang Papa katakan? Mas Bayu akan baik-baik saja, Pa.” Aisyah berusaha tersenyum, meski ia juga tidak bisa tenang.

“Papa, Kak Aisyah!” Lisa datang tergesa-gesa. Setelah menerima telepon dari Pak Samudera tadi, ia langsung menyusul ke rumah sakit. “Kak Bayu enggak apa-apa, kan?” tanya Lisa dengan mata berkaca-kaca.

“Mas Bayu akan baik-baik saja,” sahut Aisyah, memeluk adik iparnya itu.

Lisa menghela napas. Ia memejamkan mata untuk menahan tangisnya. “Oh ya, Lisa udah bawa baju ganti untuk Papa dan Kak Aisyah. Sekarang lebih baik Papa dan Kak Aisyah ganti baju, biar Lisa yang nungguin Kak Bayu di sini.”

“Kamu duluan aja, Syah. Papa tidak bisa biarin Lisa sendirin di sini. Kamu tahu sendiri Lisa bagaimana, ‘kan?” kata Pak Samudera berusaha mencairkan suasana.

Aisyah mengangguk. Ia bergegas ke kamar mandi untuk mengganti baju. Ketika melihat bayangannya di cermin, Aisyah hampir tercekat. Penampilannya sangat berantakan. Bahkan auratnya hampir terbuka. Bajunya kusut dan kepalanya hanya ditutupi dengan anakan jilbab. Aisyah tidak sempat mengenakan kembali jilbab yang digunakannya untuk mengelap tubuh Bayu.


Setelah Aisyah berganti baju, kemudian giliran Pak Samudera.

Ketika Pak Samudera belum kembali, dokter yang menangani Bayu keluar dari ruang IGD. “Suami saya tidak apa-apa, kan, Dok?” tanya Aisyah.

“Ibu tenang saja. Pak Bayu baik-baik saja, Bu. Sekarang, Pak Bayu akan kami pindahkan ke ruang perawatan agar Pak Bayu bisa istirahat,” jelas sang dokter.

“Luka di perut Kak Bayu tidak apa-apa, kan, Dok?” Lisa memastikan. Selama perjalanan menuju rumah sakit tadi, luka di perut Bayu selalu mengusik pikirannya karena sang mama meninggal disebabkan luka yang sama.

***

Kening Pak Samudera mengerut, melihat Lisa duduk di depan kamar Bayu. “Lis, kenapa tidak masuk? Bayu di dalam, ‘kan?”

Lisa menarik tangan Pak Samudera agar duduk di sampingnya. “Papa jangan masuk dulu. Di dalam ada Kak Aisyah. Biarkan Kak Aisyah berduaan dulu dengan Kak Bayu. Jarang-jarang kan ada momen seperti ini?” Lisa mengerling jail.

“Wah, kamu benar juga, Lis.” Pak Samudera tiba-tiba bersemangat. “Semoga saja kakakmu itu cepat bangun, biar dia lihat bagaimana Aisyah merawatnya.”

“Dan satu lagi, Kak Bayu enggak akan bisa kabur,” kekeh Lisa. Ia teringat bagaimana Bayu selalu menghindari Aisyah. Kakaknya itu bahkan tidak mau melihat wajah Aisyah selama ini.

“Papa tahu, enggak? Di pesta kemarin, Kak Bayu dan Kak Aisyah bertabrakan. Tapi anehnya, Kak Bayu enggak ngenalin Kak Aisyah. Coba bayangkan, Pa. Kak Bayu, enggak ngenalin istrinya sendiri.” Lisa menggelengkan kepala.

“Tapi, sekarang dia tidak akan bisa menghindar.” Pak Samudera tertawa lebar. “Kakakmu itu akan melihat bagaimana istri yang Papa pilihkan buat dia. Aisyah yang terbaik untuk Bayu.”

“Papa, Lisa, Mas Bayu udah sadar!” ujar Aisyah, keluar dari kamar Bayu.

Pak Samudera dan Lisa langsung berdiri. Tetapi, Pak Samudera membelok, ia hendak memanggil dokter yang menangani Bayu.

“Kak Bayu enggak apa-apa?” tanya Lisa, menghampiri Bayu.

Bayu meringis. Ia kemudian memindai sekeliling. “Siapa yang bawa aku ke sini?” tanyanya dengan suara yang berat.

“Kamu harus berterima kasih pada Aisyah, Bay.” Pak Samudera masuk dengan seorang dokter. “Dia yang bersikukuh buat nyari kamu. Yah, ikatan kalian sebagai suami istri memang luar biasa. Aisyah tahu saja kalau kamu dalam bahaya. Hebat kan istri pilihan Papa buat kamu?”

Bayu menghela napas. Ia melirik Aisyah sejenak, lalu menatap dokter yang datang bersama Pak Samudera. “Apa saya bisa pulang sekarang, Dok?” tanyanya berusaha untuk duduk. Namun,  gagal karena perutnya yang terasa sakit.

“Sebenarnya, Pak Bayu bisa saja pulang dan menjalani rawat jalan. Tapi, sebaiknya Pak Bayu istirahat saja malam ini. Besok baru Bapak pulang,” kata sang dokter.

“Bagaimana dengan luka di perutnya, Dok?” Pak Samudera ikut bertanya.

“Luka di perut Pak Bayu tidak apa-apa. Lukanya tidak dalam, jadi tidak ada masalah. Mungkin yang menjadi penyebab Pak Bayu pingsan adalah pukulan di belakang kepalanya. Tapi, untunglah pukulan itu tidak berakibat fatal.”

Aisyah, Pak Samudera, dan Lisa mengembuskan napas lega setelah mendengar penjelasan dokter. Sekarang tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Bayu akan baik-baik saja dan kejadian di masa lalu tidak akan terulang lagi.

Setelah selesai melakukan pemeriksaan, dokter yang menangani Bayu pergi. Tinggal Aisyah, Pak Samudera, dan Lisa yang merapikan tempat tidur Bayu. Namun, bukannya merasa senang, Bayu malah merasa risih. Menurutnya, perhatian yang diberikan tiga orang di dekatnya terlalu berlebihan.

“Kalian pulang saja,” kata Bayu, menghentikan kegiatan Aisyah, Pak Samudera, dan Lisa.

“Udah sakit gini, masih aja songong.” Lisa mencubit lengan Bayu. “Kalau kami pergi, siapa yang bantuin Kakak nanti?”

“Aku tidak butuh bantuan, Lis. Aku bisa sendiri. Apa kamu tidak mendengar apa yang dikatakan dokter tadi? Dokter bilang Kakak baik-baik saja. Kamu dengar, ‘kan?” Bayu bersikukuh.

Lisa memutar bola matanya. Ia menarik napas, lalu membuangnya dengan keras. “Pa, Kak Aisyah, ayo kita pulang!” Lisa menarik lengan Pak Samudera dan Aisyah ke luar.

“Kamu gimana, sih, Lis?” sela Aisyah ketika mereka sudah di luar. “Bagaimana kalau Mas Bayu butuh sesuatu? Mas Bayu kan belum bisa berdiri.”



“Kita enggak akan pergi, Kak. Kita nunggu di sini aja. Kak Aisyah tahu sendiri kalau gengsi Kak Bayu itu selangit. Jadi, kita di luar aja. Aku mau lihat apa yang bisa dia lakukan kalau sendiri."

“Lisa benar, Syah. Kita tunggu di sini saja.” Pak Samudera duduk di salah satu deretan kursi di depan kamar Bayu. Ia menyandarkan kepala, melepas lelah yang menyerang setiap jengkal tubuhnya. Lisa dan Aisyah melakukan hal yang sama. Apa yang baru saja terjadi benar-benar menguras tenaga mereka.

Di saat masih asyik melepas penat, dari kamar Bayu terdengar suara gelas pecah. Aisyah sontak berlari, diikuti Pak Samudera dan Lisa. Begitu masuk, pandangan Aisyah langsung tertuju pada pecahan gelas yang berserakan di dekat tempat tidur. Tanpa bertanya, Aisyah sudah tahu apa yang terjadi. Bayu ingin minum, tapi gelas yang telah berisi air lepas dari tangannya.

“Makanya Kak, kalau udah sakit jangan sok kuat,” celetuk Lisa. Ia menyilangkan tangan di dada, menahan kesal karena sikap Bayu.

Bayu memalingkan wajah. Ia benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa untuk saat ini. Tangan Aisyah yang membantunya untuk kembali tidur tidak dapat ia tolak.

“Kak Aisyah kasih aja minum Kak Bayu, biar Lisa yang beresin pecahan gelasnya,” kata Lisa, mulai memunguti pecahan kaca dan membuangnya ke tempat sampah yang ada di sudut kamar. Pak Samudera ikut membantu.

“Kak Aisyah nungguin apa?” tanya Lisa, melihat Aisyah masih terpaku menatap gelas.

“Tidak apa-apa.” Aisyah tersentak. Tangannya dengan sigap meraih gelas. Namun, ia kembali terdiam. Ia ragu untuk memberikan minum pada Bayu. Ia takut, Bayu akan menepis tangannya hingga membuat hatinya terluka. Namun, Aisyah berusaha keras membuang pikiran itu. Entah Bayu akan menolak, ia berusaha untuk tidak peduli.

Aisyah buru-buru menuangkan air ke dalam gelas, lalu memberikannya pada Bayu. Untung Bayu tidak menolak air yang diberikannya. Meski seperti itu. ia tetap tidak memiliki keberanian untuk beradu pandang dengan Bayu. Tatapannya fokus pada air di gelas yang berkurang sedikit demi sedikit.

Lisa dan Pak Samudera yang baru selesai membersihkan pecahan kaca, saling bertukar tatapan. “Apa ada yang menekan tombol pause tadi?” bisik Pak Samudera pada Lisa.

Lisa tidak menjawab, ia malah menyilangkan tangan di dada sambil menggelengkan kepala. Hingga beberapa detik, Lisa dan Pak Samudera terus memperhatikan bola mata Bayu yang terpaku pada wajah Aisyah. “Katanya tidak mau dibantuin. Tapi kenapa matanya enggak bisa lepas dari wajah istrinya? Baru nyadar kalau istrinya cantik?” celetuk Lisa, membuat Bayu terbatuk.

“Lisa, kamu bisa tidak, kalau ngomong jangan tiba-tiba?” kata Aisyah, mengembalikan gelas. Sebenarnya, ia juga terkejut dengan ucapan Lisa.

Lisa tersenyum. Ia puas melihat rona merah di wajah Bayu dan Aisyah.

“Mas Bayu tidak apa-apa?” Aisyah bertanya dengan ragu.

Seperti biasa, Bayu tidak menjawab. Kali ini bukan karena tidak mau menjawab, tapi karena terlalu malu. Ketahuan menatap wajah Aisyah adalah hal yang sangat memalukan untuknya. Karena dengan seperti itu, semua orang akan tahu kalau hatinya mulai terbuka untuk wanita yang telah menjadi istrinya itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

My Instagram