Novel, Short Story, and anymore from Sahrial Pratama

Untaian Cinta Aisyah (Part 12. Tidak Ada yang Tersisa)

12. Tidak Ada yang Tersisa



Sesampainya di rumah, hal yang pertama kali dilakukan oleh Lisa adalah mencari Aisyah. Sejak di kampus tadi, ia sudah tidak sabar untuk menginterogasi kakak iparnya itu. Air mata Aisyah yang mengalir ketika bertemu salah satu dosennya, menimbulkan tanda tanya besar dalam benak Lisa.

“Kak Aisyah!” panggil Lisa sambil menggedor pintu kamar.

“Ada apa, Lis? Apa ada masalah?” tanya Aisyah panik.

“Ada masalah yang sangat besar,” gurau Lisa. “Aku enggak tahu gimana nyelesein masalahnya, Kak. Masalah ini benar-benar gawat.”

Aisyah menarik lengan Lisa menuju sofa di ruang tengah. Ia menekan bahu gadis itu untuk duduk. “Sebenarnya, masalah apa yang kamu maksud, Lis? Coba ceritakan.”

“Masalah ini bakal selesai kalau Kak Aisyah jujur.” Lisa mendekatkan wajahnya. “Jawab pertanyaan Lisa dengan sejujur-jujurnya, Kak. Kalau enggak, masalah ini enggak bakal semakin besar.”

“Iya. Kak Aisyah akan jawab sejujur-jujurnya. Emang ada masalah apa, sih?” Aisyah tidak sabar dengan ucapan Lisa yang berulang-ulang.

“Apa hubungan Kak Aisyah dengan Pak Rudy, dosen Lisa di kampus tadi?” Lisa semakin mendekatkan wajahnya. “Jawab, Kak. Pakai jujur aja, enggak usah pakai bohong. Bohong itu asem, enggak enak.”

“Umm ….” Aisyah berpikir sejenak. Ia ragu untuk menjawab pertanyaan Lisa. Selama ini, ia sudah bersusah payah untuk menghapus masa lalu itu. Dan, sekarang ia harus mengingat dan menceritakan kenangan yang begitu memilukan untuknya. Ah, rasanya berat sekali.

“Ayo jawab, Kak. Masalah ini bakal terus membesar dan bakal mengundang masalah lainnya kalau Kak Aisyah enggak jujur. Apa yang Kakak bilang kemarin? Kakak ingin memperbaiki rumah ini, kan? Jadi, kalau Kakak enggak jujur, apa yang dikatakan Kak Aisyah enggak bakal pernah terwujud.”

“Baik. Aku akan menceritakannya.” Aisyah menghela napas sembari terus meremas tangannya. “Sebelum pergi ke Jakarta, Rudy berjanji untuk menikah dengan Kakak. Ia berjanji untuk memberi kabar setidaknya sekali tiga hari. Tapi, kira-kira dua bulan yang lalu, dia berhenti memberi kabar. Dia menghilang dan nomornya tidak pernah aktif.”

Lisa bersandar ke sofa. Ternyata air mata yang dilihatnya tadi adalah akibat luka yang masih terasa sakit di hati kakak iparnya. Dan sekarang, dengan hubungan Aisyah yang tidak baik dengan Bayu, sebuah tanda tanya kembali mencuat. Apakah Aisyah akan pergi meninggalkan Bayu dan berpaling pada Rudy?

“Kak Aisyah pasti sangat mencintai Pak Rudy sampai Kakak enggak bisa nahan air mata Kakak, iya, kan?” Lisa memastikan kalau apa yang ada dalam benaknya tidak salah.

Aisyah memutar mata. Ia mencari ke dalam hatinya sisa cinta untuk Rudy. Namun, ia ragu. Hatinya terasa sakit, mengingat kenangan manis saat Rudy mengucapkan janji yang membuatnya melayang. Janji yang membuat hatinya bahagia hingga berani mengukir mimpi yang indah.

Ia tidak akan semenderita ini andai Rudy tidak menghilang. Ia tidak akan pernah setuju untuk menikah dengan Bayu, jika Rudy masih ada di sampingnya. Ia tidak perlu takut, seandainya Rudy ada untuk menjadi sandarannya menggantikan sang ayah. Lalu, ia tidak perlu menerima semua hinaan yang dilontarkan Bayu padanya. Oh, seandainya.

“Aku sangat membencinya,” aku Aisyah, mengepalkan tangan.

Lisa tersenyum. “Kalau Kak Aisyah membencinya, berarti Kakak masih mencintainya. Kebencian Kak Aisyah akan memudahkan Pak Rudy untuk masuk ke dalam hati Kakak lagi. Pak Rudy akan mudah melumpuhkan hati Kakak karena kenangan yang kalian miliki.”

“Itu tidak akan pernah terjadi. Dia hanya masa lalu dan akan selamanya menjadi masa lalu.”

“Apa itu benar, Kak?” Tangan Lisa menyilang di dada, layaknya seseorang yang bertugas untuk menginterogasi. “Apa Kak Aisyah bakal bertahan pada sikap Kak Bayu dan enggak peduli pada Pak Rudy?”

“Tentu saja.”

“Lisa enggak yakin. Kakak seperti enggak kenal Pak Rudy saja. Pak Rudy itu pintar ngerayu, Kak. Dia pernah praktekinnya di kelas. Walaupun Pak Rudy itu dosen killer, tapi tetap saja dia banyak fans.” Lisa menerawang, membayangkan wajah Rudy. “Kulit sawo matang, tinggi, senyumnya manis, dan tegas. Bener-bener idola cewek di kampus, deh, Kak.”

“Kamu dukung siapa, sih?” Aisyah mengerucutkan bibir di balik cadarnya. “Kamu bener-bener tidak bisa menjaga perasaan orang, ya?”

“Bukannya gimana-gimana, Kak.” Wajah Lisa berubah menjadi serius. “Kalau Kakak bersama dengan Pak Rudy, mungkin akan lebih baik. Kakak lihat perlakuan Kak Bayu, kan? Semua akan lebih buruk jika Kakak bertahan di sini.”

“Itu tidak mungkin, Lisa. Aku adalah seorang istri. Dan tugas seorang istri adalah bersama dengan suaminya. Jika aku menyerah karena hal kecil seperti ini, berarti imanku terlalu lemah untuk meyakini Allah ada bersamaku.”

“Tapi, Kak Bayu enggak akan berubah, Kak.”

“Aku akan berusaha,” ujar Aisyah mantap. “Jika aku keluar dari rumah ini, maka aku akan keluar dengan memperbaiki apa yang bisa kuperbaiki.”

“Aku berharap Kak Aisyah menepati itu.”

***

Setelah salat Isya, Aisyah berdiam diri di dalam kamar. Ia duduk di pinggir ranjang sambil meremas ujung jilbabnya. Pembicaraan dengan Lisa tadi sore sungguh tidak membuatnya nyaman. Lisa berjanji untuk  mengatakan apa yang sudah diceritakan Aisyah pada Bayu. Katanya, untuk membuat Bayu cemburu. Cemburu? Satu-satunya hal yang diharapkan Aisyah untuk terjadi. Tetapi, kenyataan itu akan sangat sulit untuk terwujud.

“Kak Aisyah, udah makan malam, belum? Kok enggak ikut makan? Kata Kak Bayu, Kakak enggak enak badan. Apa itu benar?” Dimas membuka pintu kamar.

Aisyah memunculkan kepalanya dari balik selimut. “Kakak makan nanti saja, Dim,” ucapnya dengan wajah yang memelas.

“Apa Kak Aisyah sakit? Kalau iya, aku bilangin ke Om Samudera buat ke dokter, ya, Kak. Pasti Om Samudera akan mengantarkan Kakak ke rumah sakit.”

“Kakak enggak lagi sakit, kok. Cuma kelelahan aja,” kata Aisyah berbohong.

Dimas mengangguk. “Ya, sudah. Aku balik makan dulu, Kak. Kalau Kak Aisyah butuh sesuatu, panggil Dimas aja.”

“Aisyah, ayo makan!” Pak Samudera muncul di belakang Dimas. “Apa harus seisi rumah ini yang memanggilmu, hah? Dim, cepat panggil semua orang. Sepertinya, kakakmu sekarang udah berubah jadi manja.”

“Tidak, Pa.” Aisyah buru-buru keluar. Ucapan mertuanya bagaikan sebuah tamparan keras untuknya. Ah, sejak kapan pula ia berubah jadi cengeng seperti sekarang? Ia harus menghadapi apa pun yang akan dikatakan Bayu setelah mendengar cerita dari Lisa. Ia tidak boleh takut.

“Akhirnya, Kak Aisyah muncul juga ke permukaan,” kata Lisa menyambut Aisyah dengan senyum jail. “Udah siap menghadapi dunia, Kak?”

“Memangnya ada apa? Apa akan terjadi perang dunia lagi? Papa belum siapin senjata soalnya,” ujar Pak Samudera berusaha membaur.

“Papa siapin mental aja,” kekeh Lisa, puas melihat ekspresi panik Aisyah.

Aisyah menghela napas. “Aku sudah menyiapkan senjata. Jadi, aku sudah siap,” ucapnya, melirik Bayu yang fokus mengunyah potongan ayam.

Beberapa detik kemudian, tidak ada suara terdengar. Masing-masing sibuk melahap makan malam yang tersedia, sedangkan Aisyah masih berusaha menetralisir ekspresi wajahnya. Bayu mempertahankan ekspresi masam, sementara Lisa senyam-senyum meliriknya dan Aisyah.  Sesekali Pak Samudera dan Dimas mengangkat wajah karena tidak mengerti.

“Oh, ya, sepertinya sedikit nepotisme enggak akan masalah, kan, Pa?” Pandangan Lisa tertuju pada Pak Samudera, lalu bergeser pada Aisyah. “Aku minta bantuannya, dong, Kak.”

“Bantuan apa?”

“Kakak deket sama Pak Rudy, kan? Jadi, tolong bilangin sama Pak Rudy, jangan galak-galak, dong. Kan, sayang tampang ganteng cuma dipakai buat marah-marah. Sama kalau ngasih nilai sama Lisa itu jangan pelit.”

“Pak Rudy? Siapa itu?” sela Pak Samudera.

“Dosen Lisa di kampus, Pa. Dosennya ganteng banget, tapi galak,” sesal Lisa.

“Kamu kenal dengan dosen itu, Syah?” Pak Samudera menatap menantunya tanpa mengetahui kalau jantung Aisyah sedang berpacu seolah sedang berlomba. “Kamu kenal di mana, Syah? Kok, kamu tidak pernah cerita kalau ada temanmu yang mengajar di kampusnya Lisa?”

“Kak Aisyah juga ….”

“Cuma orang bodoh yang menangis ketika melihat orang yang dirindukan ada di depan mata. Kalau orang pintar, dia pasti sudah menyapa atau bahkan memeluknya.” Bayu berhasil menyerobot Lisa untuk berbicara. Ia meneguk air, lalu bergegas pergi ke ruang kerja.

“Ada apa sama Bayu?” tanya Pak Samudera.

Lisa mengedik.

Orang bodoh? Aisyah mengepalkan tangan. Lagi. Bayu membuatnya kesal. Dalam benaknya Aisyah bertanya, Kenapa dia harus marah? Untuk apa dia berkata seperti tadi, sementara dia sendiri yang mengatakan kalau di antara kami tidak ada apa-apa?

Seusai makan malam, enggan rasanya Aisyah untuk masuk ke dalam kamar. Daripada tidur di samping Bayu yang bagaikan pedang siap siaga mencincangnya, lebih baik ia tidur di sofa. Namun, semua itu hanya akan membuat masalah semakin runyam.

Di sinilah Aisyah, berdiri dengan kaki gemetar dan tangan selalu di remas. Ia menatap ranjang yang kosong karena Bayu sedang berada di ruang kerja. Ia perlahan memejamkan mata. “Kenapa kamu baru datang sekarang?” batin Aisyah mengingat pertemuannya dengan Rudy tadi siang.

“Masih memikirkan pacarmu yang baru nongol?” Suara Bayu berhasil membuat jantung Aisyah hampir berhenti berdetak.

“Tidak.”

“Kenapa kamu tidak memikirkannya? Lebih baik kamu pikirkan dia agar kalian bisa merencanakan pernikahan kalian yang tertunda.”



“Aku tidak sedang memikirkannya dan tidak akan pernah. Karena sekarang, otakku selalu memikirkanmu,” ujar Aisyah tiba-tiba. Kalimatnya berhasil membuat Bayu terpaku. “Ada apa denganmu, Mas? Apa kamu tidak bisa menatapku sekali saja? Apa kamu tidak bisa menerima kenyataan kalau kita sudah … menikah?”

“Tidak.” Bayu berjalan ke seberang ranjang. “Aku tidak akan pernah menerima kenyataan itu. Titik.”

“Kalau begitu, kenapa kamu selalu menggangguku?”

“Mengganggu? Jika kamu merasa terganggu, kenapa tidak pergi saja dari rumah ini?”

Aisyah tertawa. “Itu hanya ada dalam mimpimu, Mas. Aku tidak akan pergi dari rumah ini semudah itu. Aku akan merebut semua harta yang ada di rumah ini. Tidak terkecuali.”

“Bagus. Kamu sudah menunjukkan belangmu yang sebenarnya.”

Aisyah menelan ludah. Bagaimana bisa ia mengatakan hal yang tidak pernah terpikirkan olehnya selama ini? Merebut harta? Yang benar saja.

Kalimat istigfar terucap beruntun dari bibirnya. Entah apa yang harus dilakukannya untuk mengambil hati Bayu, sementara pria itu enggan untuk sekadar menoleh. Dan, dilihat dari kejadian di kantor, sepertinya Bayu sudah memiliki seseorang yang mengisi hatinya. Pantas saja Bayu tidak menerima pernikahannya dengan Aisyah. Jika benar seperti itu, bukankah lebih baik mengatakan dari awal sehingga tidak ada yang terluka?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

My Instagram