6. Simbiosis Parasitisme
Pernikahan berlangsung
sesuai dengan kesepakatan. Pernikahan sederhana itu disaksikan oleh para
tetangga yang memang sudah penasaran sejak kemunculan Pak Samudera dengan mobil
mewah memasuki daerah pedesaan. Dari pihak lelaki, yang hadir hanya Pak
Samudera dan Pak Slamet.
Dalam hati, Aisyah
menangis histeris. Betapa menyedihkan dirinya. Sepanjang acara pernikahan, Bayu
Andra Samudera, sang suami, tidak pernah menatapnya sedikit pun. Bayu selalu
menatap ke arah yang berlawanan dengan tempat Aisyah duduk.
Di dalam mobil menuju
Jakarta, Bayu dan Aisyah bagaikan sedang melakukan hening cipta. Tidak ada
suara yang terdengar di antara keduanya, kecuali raungan mesin mobil yang
seakan tidak sabar untuk sampai di tujuan.
Pak Samudera sengaja
membuat Bayu dan Aisyah berada satu mobil, sedangkan ia berada di mobil yang
lain. Dengan seperti itu, ia berharap akan tercipta kedekatan antara anak dan
menantunya.
Namun, apa yang
diharapkannnya tidak terjadi. Bayu dan Aisyah saling diam. Bayu fokus menyetir
dan Aisyah fokus menikmati pemandangan. Sesekali Aisyah mencuri pandang ke
wajah suaminya itu. Tetapi, ia hanya bisa melihat amarah di sana. Tidak ada
sedikit pun kebahagiaan.
“Apa kabarnya Bu Jum?”
Aisyah bertanya dalam hati. Meski baru berpisah beberapa menit yang lalu,
Aisyah merasa sangat rindu dengan wanita itu. Bu Jum bagaikan seorang ibu
untuknya, bahkan lebih. Bu Jum juga mampu menjadi teman curhat bagi Aisyah.
Entah bagaimana ia nanti di rumah Pak Samudera tanpa kehadiran Bu Jum.
Setelah menempuh
perjalanan seharian, mobil yang dikemudikan Bayu berhenti di depan sebuah rumah
dengan tinggi pagar hampir dua meter. Bayu menekan klakson beberapa kali agar
satpam yang sedang berjaga membuka gerbang. Setelah pintu gerbang terbuka, Bayu
kembali menginjak gas, melewati halaman yang ditanami pohon hias.
Tanpa basa-basi, Bayu
keluar begitu saja setelah mematikan mesin mobil.
“Bayu, tolong
panggilkan Pak Yanto untuk mengangkat barang-barang di mobil Papa!” Panggilan
Pak Samudera berhasil menghentikan langkah kaki Bayu yang sudah berada di depan
pintu. Ia berbalik menuju pos satpam yang ada di samping gerbang dengan langkah
malas-malasan.
Aisyah menghela napas.
Ia masih tak percaya melihat apa yang ada di sekelilingnya. Sangat berbeda
dengan rumahnya di desa. Jika di sana ia hanya punya halaman dua meter dan
rumah tidak lebih luas dari seratus meter persegi. Sekarang, di sini ia punya
halaman berpuluh kali lipat lebih luas dan rumah yang sangat besar. Entah
kejutan apa lagi yang ada di dalam sana. Ia tidak sabar lagi.
“Ayo turun, Nak.
Sekarang, ini adalah rumahmu.” Pak Samudera membukakan pintu mobil untuk
menantunya.
“Terima kasih, Pak.”
Aisyah meremas tangannya. Tidak enak rasanya orang tua seperti Pak Samudera
membuka pintu untuknya. Terlebih status Pak Samudera adalah sebagai mertua.
“Karena kamu sudah
menikah dengan Bayu, maka kamu juga harus memanggil saya Papa”.
“A-a-apa?” Remasan
tangan Aisyah semakin keras. Meski lidahnya terasa kelu, ia berusaha mengulang
kata yang diucapkan Pak Samudera. “Pa-pa.”
“Bagus. Sekarang, ayo
kita masuk. Biarkan Bayu dan Pak Yanto yang membawa barang-barang kalian.” Pak
Samudera berjalan di depan, diikuti Aisyah. Dimas yang baru turun dari mobil
mengamati sekeliling sambil bergegas mengikuti kakaknya.
“Selamat datang di
rumah.”
Pintu terbuka,
memperlihatkan isinya yang begitu menakjubkan. Luas dan mewah. Di samping kiri
ada sofa berwarna merah gelap. Di atasnya dihiasi lampu gantung yang cukup
besar. Dua meter dari sofa, terdapat sebuah pintu yang merupakan ruang kerja pribadi
Pak Samudera. Lalu, di sisi berlawanan terdapat kursi kayu dengan ukiran
tradisonal, tapi tetap terlihat mewah. Di sana juga terdapat sebuah pintu yang
merupakan ruang kerja pribadi milik Bayu.
“Kamar Dimas ada di
lantai dua, sebelah kanan.” Pak Samudera menunjuk tangga menuju lantai dua
tepat di depan mereka. Kemudian, tangan Pak Samudera bergeser ke pintu yang
berhadapan dengan ruang kerja Bayu. “Dan kamar Aisyah ada di sana.”
Aisyah meneguk
ludahnya menatap pintu kamar yang ditunjuk Pak Samudera. Itu adalah kamarnya
dan Bayu. Pikirannya lantas berkecamuk membayangkan apa yang akan terjadi di
dalam sana. Bagaimana ia akan menghadapi kemarahan Bayu? Dilihat dari ekspresi
Bayu di mobil tadi, bisa dipastikan kemarahan suaminya itu belum hilang.
Bahkan, semakin berkobar.
“Ya, Allah! Tolong hamba-Mu ini,” pinta Aisyah dalam hati.
“Pak, kopernya ditaruh
di mana?” tanya Pak Yanto menjinjing dua koper berukuran sedang.
“Itu koper saya. Biar
saya yang bawa, Pak.” Dimas meraih salah satu koper.
“Tolong Pak Yanto bawa
koper itu ke atas, ya. Ke kamar yang sebelah kanan,” kata Pak Samudera.
“Sini, Den. Biar Bapak
aja yang bawa.” Pak Yanto menarik koper yang diambil Dimas.
“Enggak usah, Pak.
Bapak bawa yang itu aja.” Dimas tersenyum lebar.
Pak Yanto balas tersenyum.
“Baiklah kalau Den ….”
“Dimas, Pak,” ucap
Dimas memperkenalkan namanya sambil mengulurkan tangan. Dengan senyum ramah,
Pak Yanto membalas uluran tangan itu.
“Kalau Den Dimas memaksa, tidak apa-apa.”
Pak Yanto dan Dimas
kemudian menapaki satu persatu anak tangga. Aisyah melihat adiknya itu begitu
bahagia. Pandangannya tidak lepas dari Dimas yang terus mengoceh pada Pak Yanto
saat menuju kamarnya. Terlepas dari sikap Bayu padanya nanti, sekali lagi ia
yakin jika keputusannya ini adalah keputusan yang tepat.
“Koper ini ditaruh di
mana, Pak?” Pak Slamet datang membawa dua koper berukuran sama dengan koper
Dimas.
“Koper yang itu taruh
di kamar Bayu saja, Met.”
Pak Slamet mengangguk,
lalu pergi ke kamar yang dimaksud. Sebelum Pak Slamet memasuki kamar, Pak
Samudera bertanya, “Bayu di mana, Met?’
Pak Slamet menoleh,
lalu menjawab, “Lagi masukin mobil ke bagasi, Pak.”
Pak Samudera beralih
pada Annisa. “Kamu istirahat saja, Syah. Papa juga mau istirahat. Maaf, karena
tidak ada acara penyambutan khusus.”
“Tidak apa-apa, Pa.
Aisyah juga tidak terlalu suka dengan acara seperti itu.”
Pak Samudera
tersenyum. Ia kemudian berbalik menuju kamarnya, begitu pula dengan Aisyah. Ia
pergi ke kamar setelah Pak Slamet berlalu, tapi dengan langkah kaki yang
bergetar hebat.
Aisyah kembali terpesona. Kamar yang ia masuki telah
didekorasi dengan indah. Ada taburan bunga mawar di atas tempat tidur. Lilin
aromaterapi menyala di sudut ruangan. Serta cahaya lampu diredupkan. Namun,
kekaguman Aisyah mendadak menguap saat mengingat kembali akan bersama siapa ia
di kamar itu.
“Siapa yang melakukan ini semua?” Bayu menggerutu ketika
memasuki kamar.
Ia mematikan lilin aromaterapi yang menyala. Bunga yang ada
di tempat tidur ditepisnya hingga tidak tersisa satu pun. Ia melepas jas dan dasi,
kemudian merebahkan tubuhnya yang terasa remuk. Tingkahnya bagaikan tidak ada
orang lain di kamar itu.
Karena merasa tidak dianggap, Aisyah mendekat. “Aku ….”
“Jangan bicara sedikit pun,” tegas Bayu dengan mata
terpejam. “Jika kamu mau tidur, tidur saja. Aku tidak akan mengganggu.”
Mulut Aisyah terbuka. Ia tidak percaya jika lelaki di
depannya akan bersikap seperti itu. Ia lebih suka Bayu marah-marah padanya
daripada tidak mengacuhkannya seperti ini.
Sepuluh menit berjalan, Aisyah masih bergeming. Ia menatap
Bayu yang telentang di tempat tidur. Ia tidak tahu apakah Bayu sudah tertidur
atau tidak. Yang bisa ia lihat hanya kelopak mata yang tertutup rapat.
“Hubungan kita ini bukanlah sebuah pernikahan, karena aku
tidak menginginkannya.”
Apa Bayu bermimpi? Kenapa ia berbicara
dengan mata tertutup? Dahi Aisyah membentuk lipatan. Satu
detik kemudian Aisyah tersadar. Bayu tidak bermimpi. Lelaki itu bahkan belum
tidur.
“Jangan pernah berharap aku akan menatapmu. Dan asal kamu
tahu, hubungan kita ini adalah simbiosis parasitisme. Hanya kamu yang
diuntungkan dalam pernikahan ini, sedangkan aku hanya mendapatkan rugi.”
“Rugi?”
“Perlu kutegaskan, jangan pernah mengangguku.” Bayu
memiringkan tubuhnya, membuat Aisyah hanya bisa menatap punggung suaminya itu.
Tidak terasa, sebutir air mata meleleh di sudut mata Aisyah.
Ia berjalan mendekati tempat tidur dengan hati yang perih seolah baru saja
diiris sembilu yang dilapisi air garam. Dadanya sakit karena ucapan Bayu
menusuk sangat dalam.
Saat Aisyah membaringkan tubuhnya, air matanya masih saja
terus mengalir hingga bantal putih penyangga kepalanya basah.
Ia tidak sanggup lagi berdiri. Meski kebaya yang dikenakan
terasa menyesakkan ketika berbaring, ia tetap tidak menggantinya.
Seribu kata andai mulai bermunculan dalam benak Aisyah.
Andai ayah tidak meninggal. Andai lelaki yang ia cintai tidak menghilang. Andai
Pak Samudera tidak memintanya menikah. Andai Bayu tidak bersikap seperti itu.
Ah, semua kata andai itu semakin membuat Aisyah merasa remuk dan hancur.
Ikatan simbiosis parasitisme. Entah sampai kapan Aisyah
mampu bertahan dengan ikatan seperti itu. Ia menjadi pihak yang diuntungkan,
tapi dengan demikan ia juga menjadi parasit. Tidak diharapkan dan selalu ingin
dilenyapkan.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar