Sudah satu jam lebih Aisyah memandangi layar
ponselnya. Ia sedang menunggu telepon dari Pak Samudera. Karena sore tadi, Pak
Samudera mengirim pesan singkat yang meminta Aisyah agar menunggu telepon pukul
delapan malam.
“Ternyata cuma tipuan.” Aisyah tertawa. Lebih
tepatnya menertawakan dirinya sendiri. “Bagaimana bisa aku langsung percaya
dengan orang-orang seperti itu? Dasar bodoh!”
Aisyah berdiri, lalu keluar menuju kamar Dimas. Ia
tersenyum hingga lesung pipitnya tercetak sempurna. Kebahagiaan Aisyah langsung
membuncah saat melihat Dimas sedang shalat. Sontak saja air matanya menetes. Biasanya
sangat sulit untuk menyuruh adiknya itu untuk shalat. Tetapi, seolah terjadi
keajaiban, Dimas shalat tanpa ada perintah darinya.
Seusai shalat, Dimas melipat sajadah dan
meletakkannya di atas nakas. Wajahnya bersemu merah saat mengetahui Aisyah
sedang memperhatikannya. “Kak Aisyah sudah lama di situ?”
Aisyah mengangguk.
“Kakak udah shalat belum?” Dimas menyilangkan tangan
di dada. “Jangan cuma tahunya nyuruh, doang.”
“Sejak kapan adik Kakak yang manja ini berubah?”
ucap Aisyah.
“Manja? Berubah?” Dahi Dimas mengerut. “Kayaknya
Kakak tidak punya adik yang manja. Dan, adik Kakak ini belum berubah jadi
kodok, kok.”
“Terserah.” Aisyah mencubit pipi Dimas dengan
lembut. “Kakak bangga punya adik seperti kamu. Bapak juga pasti bangga melihat
kamu rajin shalat.”
Senyuman Dimas mengembang. Pipinya semakin merona
mendengar pujian Aisyah. Ini pertama kali kakaknya itu memujinya seperti itu.
Namun, ia bergegas melewati Aisyah agar kakaknya itu tidak melihat bola matanya
yang mulai basah. “Aku mau ngambil minum, Kak,” ucapnya, menuju dapur.
Aisyah membiarkan Dimas lewat. Ia tahu Dimas pasti
sedih mendengar apa yang baru saja ia ucapkan. Aisyah memukul kepalanya sembari
mengumpat, “Dasar bodoh!” Ia menyesalkan ucapannya yang telah mengingat Dimas
pada sang ayah.
“Kak Aisyah udah shalat belum?” Telinga Aisyah
menangkap suara Dimas dari arah dapur. “Entar Kakak malah lupa kalau ditunda.”
Seberkas senyuman muncul di bibir Aisyah. Dalam hati
ia menekankan Dimas tidak apa-apa. Adiknya itu sudah jauh lebih dewasa. “Iya.
Ini juga mau sholat!” balas Aisyah menuju kamarnya.
Ia bergegas melaksanakan sholat Isya agar tidak
keburu mengantuk. Ditepisnya semua pikiran aneh tentang lamaran Pak Samudera. Mungkin
Pak Samudera sedang sibuk, ucapnya dalam hati. Seandainya lamaran dari Pak
Samudera gagal, ia tidak peduli lagi. Jika harus bekerja untuk membiayai
sekolah Dimas, akan ia lakukan. Tidak apa jika nanti tangannya menjadi kasar
seperti tangan ayahnya.
Tepat setelah mengucapkan salam, ponsel Aisyah
berdering. Ia berdiri untuk memeriksa siapa yang menelepon. Ketika melihat
nomor baru di layar ponsel, kedua alisnya langsung bertautan. “Apa ini nomor
baru Pak Samudera?” Aisyah bertanya pada ponsel yang terus berbunyi.
Begitu Aisyah menekan tombol hijau, seorang pria
langsung berkata, “Apa kamu Aisyah? Apa kamu yang akan dinikahkan dengan saya?”
Suara pria itu sangat tegas hingga Aisyah hampir tercekat.
“I-iya. Nama saya Aisyah,” sahut Aisyah
terbata-bata. “Ini siapa?”
“Namaku Bayu.” Pria itu masih belum menurunkan nada
suaranya. Hanya cara bicaranya yang berubah. “Aku anak Pak Samudera.”
“Ada apa,
Mas?” tanya Aisyah sambil berusaha keras menjaga suaranya agar tidak bergetar.
“Tidak usah bersikap sok manis. Aku tahu kamu wanita
seperti apa,” ucap Bayu dengan kasar. “Aku tidak tahu apa yang terjadi dan aku
juga tidak peduli. Kata Papa, seseorang kecelakaan karena mobil mereka mogok di
tengah jalan. Dan, sebagai bukti rasa bersalah, Papa mau menjodohkanku dengan
putri dari orang yang kecelakaan itu. Apa ini adil? Kalau hanya untuk
bertanggung jawab, sepertinya tidak perlu sampai mengadakan pernikahan.”
Kedua bola mata Aisyah berputar. Apa yang diucapkan
suara di telepon itu seolah menghunjam dadanya dengan palu gada berukuran
raksasa. Air matanya merebak, merasakan sakit yang luar biasa.
“Tolong jaga ucapannya, Mas. Bukan aku yang
menginginkan ini. Aku tidak ….”
“Aku tidak butuh basa-basi,” potong Bayu. “Kamu
bilang saja berapa jumlah yang kamu inginkan. Akan aku transfer sekarang.”
“Apa?”
“Cepat. Aku tidak punya banyak waktu. Ini memang
tujuanmu, kan? Katakan saja jumlah uang yang kamu inginkan.”
“Aku tidak butuh uangmu,” pekik Aisyah. Matanya
kemudian langsung tertuju pada pintu kamar. Ia memastikan Dimas tidak mendengar
apa yang dikatakannya. “Aku tegaskan sekali lagi, sedikit pun aku tidak
mengharapkan uang kalian.”
Bayu tertawa sinis. “Kalau begitu, batalkan
pernikahan ini.”
“Baik. Katakan saja pada Pak Samudera, jangan pernah
datang ke sini lagi.”
Bayu kembali tertawa. “Apa kamu pura-pura bodoh atau
kamu memang goblok? Aku tahu kamu itu wanita kampung, tapi sepertinya Papa
tidak akan menikahkan anaknya dengan wanita bodoh, deh.”
“Kamu pasti tahu kalau Papa tidak akan mendengarkan
kalau aku yang mengatakannya, iya, kan? Jangan perpanjang masalah ini lagi,”
tegas Bayu. “Aku tidak ingin pernikahan ini terjadi. Dan kamu harus bilang pada
Papa kalau kamu juga tidak ingin menikah. Oke?”
“Baik. Aku yang akan mengatakannya pada Pak
Samudera.”
“Bagus. Aku tunggu kabar baiknya.”
Telepon terputus. Bayu memutuskan telepon begitu
saja. Tanpa salam ataupun kalimat basa-basi.
Aisyah menggeram. Dihempaskannya tubuhnya ke atas kasur.
Ia tidak percaya sikap pria yang menelepon. “Apa itu benar Bayu, anak Pak
Samudera? Bagaimana mungkin sikap anak dan ayah sangat bertolak belakang
begitu?”
Benar atau tidaknya pria yang menelepon itu anak Pak
Samudera, Aisyah tidak peduli. Ia terlalu sakit dengan kalimat yang baru saja
didengarnya. Ia sudah memutuskan akan menolak lamaran Pak Samudera.
***
“Apa? Kenapa? Apa kamu sudah memikirkannya
matang-matang, Nduk?” Bu Jum terkejut dengan keputusan Aisyah. “Bukannya kamu sudah
setuju dengan pernikahan itu? Lalu kenapa kamu berubah pikiran lagi?” sesalnya.
“Lelaki itu sangat kasar, Bu.” Aisyah meredam
ekspresi marahnya. “Dia sudah merendahkan Aisyah tadi malam. Dia sangat sombong
dan tidak tahu sopan santun.”
“Itu karena dia belum kenal kamu, Syah.”
“Karena dia belum mengenal Aisyah, bukankah
seharusnya dia berbicara baik-baik, Bu?” Tangan Aisyah meremas pegangan kursi
dengan erat. “Tapi kenapa dia malah mengoceh seenak jidatnya?”
“Assalamualaikum!”
Pandangan Aisyah dan Bu Jum tertuju pada pintu.
Mereka sama-sama tersenyum saat melihat Dimas di sana.
“Baru pulang sekolah, Dim?” tanya Bu Jum basa-basi.
“Iya, Bu.” Dimas melangkah ragu, lalu duduk di
samping Aisyah. “Kata Bu Guru, minggu depan kami bakal ngadain praktikum, Kak. Jadi
….”
“Kakak tahu,” sela Aisyah saat Dimas tidak mampu
melanjutkan ucapannya. Diusapnya kepala Dimas sambil berkata, “Kamu tenang
saja. Kakak punya uang, kok. Kamu tidak perlu khawatir.”
“Alhamdulillah!” seru Dimas mengusap wajahnya. “Aku
ke kamar dulu, Kak. Ganti baju,” ucapnya berdiri.
“Iya,” sahut Aisyah tersenyum.
Begitu Dimas masuk ke kamar, Aisyah menatap Bu Jum
lekat-lekat. “Bu Jum ada uang, kan?”
Bu Jum menghela napas. “Ibu masih punya simpanan.
Tapi, sampai kapan kamu akan seperti ini, Syah? Hari ini Ibu ada uang, besok?
Tidak ada yang tahu, kan?”
“Jadi, Aisyah harus bagaimana, Bu?” Aisyah mengusap
wajahnya. “Apa Aisyah harus tetap menerima lamaran itu? Tapi, bagaimana dengan
anaknya Pak Samudera? Dia tidak setuju dengan pernikahan ini.”
Sebelum sempat Bu Jum memberikan respons, ponsel
Aisyah berdering. Ia merogoh sakunya dan langsung menekan tombol hijau setelah
melihat nama Pak Samudera di layar ponsel.
“Aisyah, apa Bayu meneleponmu?” tanya Pak Samudera
langsung.
“Iya, Pak.”
“Abaikan semua yang dia katakan,” perintah Pak
Samudera. “Anak itu tidak tahu apa yang dia lakukan. Saya yakin, kamu wanita
yang tepat untuk menjadi istrinya.”
“Tapi, anak Bapak tidak setuju dengan pernikahan
ini.”
“Jangan pedulikan dia, Syah. Yakinkan saja hatimu
kalau kamu bisa menjadi istri baik yang untuk Bayu. Ingat, aku percaya kamu
adalah gadis yang hebat. Saya tutup teleponnya, karena meeting akan dimulai.” Telpon terputus dan meninggalkan tanda tanya
besar untuk Aisyah.
“Kamu dengar apa yang dikatakan Pak Samudera, kan?”
Bu Jum memegang punggung telapak tangan Aisyah. “Kamu tidak usah peduli dengan
… siapa namanya?”
“Bayu.”
“Ya, Bayu. Mungkin dia anak manja yang butuh
pengasuh.”
“Apa?” Dahi Aisyah mengerut. “Jadi, Aisyah akan jadi
pengasuh orang dewasa, dong, Bu?”
“Mungkin.” Gelak tawa Bu Jum pecah. Ia sampai
memegang perutnya.
Keputusan telah diambil. Aisyah tidak akan mundur
dari pernikahan itu. Meski calon suaminya tidak menginginkannya, ia akan tetap
maju.
Harapan akan terus tumbuh jika kaki terus melangkah.
Kalau ia menyerah sekarang, maka tidak ada harapan untuknya. Ia akan berada di
titik yang sama, selamanya.
Setelah Bu Jum pulang, Aisyah pergi ke kamar Dimas.
Ia melihat adiknya itu sedang belajar di sana. Keputusan yang ia ambil
sepertinya sudah benar. Dengan melihat kesungguhan Dimas belajar, rasanya tidak
sia-sia ia berkorban sedikit. Ya, mengorbankan perasaannya pada lelaki yang
sekarang entah di mana keberadaannya. Ia harus memutus cinta yang lama untuk
menguntai cinta yang baru.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar