Novel, Short Story, and anymore from Sahrial Pratama

Untaian Cinta Aisyah (Part 4. Harus Tetap Maju)


4. Harus Tetap Maju



Sudah satu jam lebih Aisyah memandangi layar ponselnya. Ia sedang menunggu telepon dari Pak Samudera. Karena sore tadi, Pak Samudera mengirim pesan singkat yang meminta Aisyah agar menunggu telepon pukul delapan malam.

“Ternyata cuma tipuan.” Aisyah tertawa. Lebih tepatnya menertawakan dirinya sendiri. “Bagaimana bisa aku langsung percaya dengan orang-orang seperti itu? Dasar bodoh!”

Aisyah berdiri, lalu keluar menuju kamar Dimas. Ia tersenyum hingga lesung pipitnya tercetak sempurna. Kebahagiaan Aisyah langsung membuncah saat melihat Dimas sedang shalat. Sontak saja air matanya menetes. Biasanya sangat sulit untuk menyuruh adiknya itu untuk shalat. Tetapi, seolah terjadi keajaiban, Dimas shalat tanpa ada perintah darinya.

Seusai shalat, Dimas melipat sajadah dan meletakkannya di atas nakas. Wajahnya bersemu merah saat mengetahui Aisyah sedang memperhatikannya. “Kak Aisyah sudah lama di situ?”

Aisyah mengangguk.

“Kakak udah shalat belum?” Dimas menyilangkan tangan di dada. “Jangan cuma tahunya nyuruh, doang.”

“Sejak kapan adik Kakak yang manja ini berubah?” ucap Aisyah.

“Manja? Berubah?” Dahi Dimas mengerut. “Kayaknya Kakak tidak punya adik yang manja. Dan, adik Kakak ini belum berubah jadi kodok, kok.”

“Terserah.” Aisyah mencubit pipi Dimas dengan lembut. “Kakak bangga punya adik seperti kamu. Bapak juga pasti bangga melihat kamu rajin shalat.”

Senyuman Dimas mengembang. Pipinya semakin merona mendengar pujian Aisyah. Ini pertama kali kakaknya itu memujinya seperti itu. Namun, ia bergegas melewati Aisyah agar kakaknya itu tidak melihat bola matanya yang mulai basah. “Aku mau ngambil minum, Kak,” ucapnya, menuju dapur.

Aisyah membiarkan Dimas lewat. Ia tahu Dimas pasti sedih mendengar apa yang baru saja ia ucapkan. Aisyah memukul kepalanya sembari mengumpat, “Dasar bodoh!” Ia menyesalkan ucapannya yang telah mengingat Dimas pada sang ayah.

“Kak Aisyah udah shalat belum?” Telinga Aisyah menangkap suara Dimas dari arah dapur. “Entar Kakak malah lupa kalau ditunda.”

Seberkas senyuman muncul di bibir Aisyah. Dalam hati ia menekankan Dimas tidak apa-apa. Adiknya itu sudah jauh lebih dewasa. “Iya. Ini juga mau sholat!” balas Aisyah menuju kamarnya.

Ia bergegas melaksanakan sholat Isya agar tidak keburu mengantuk. Ditepisnya semua pikiran aneh tentang lamaran Pak Samudera. Mungkin Pak Samudera sedang sibuk, ucapnya dalam hati. Seandainya lamaran dari Pak Samudera gagal, ia tidak peduli lagi. Jika harus bekerja untuk membiayai sekolah Dimas, akan ia lakukan. Tidak apa jika nanti tangannya menjadi kasar seperti tangan ayahnya.

Tepat setelah mengucapkan salam, ponsel Aisyah berdering. Ia berdiri untuk memeriksa siapa yang menelepon. Ketika melihat nomor baru di layar ponsel, kedua alisnya langsung bertautan. “Apa ini nomor baru Pak Samudera?” Aisyah bertanya pada ponsel yang terus berbunyi.

Begitu Aisyah menekan tombol hijau, seorang pria langsung berkata, “Apa kamu Aisyah? Apa kamu yang akan dinikahkan dengan saya?” Suara pria itu sangat tegas hingga Aisyah hampir tercekat.

“I-iya. Nama saya Aisyah,” sahut Aisyah terbata-bata. “Ini siapa?”

“Namaku Bayu.” Pria itu masih belum menurunkan nada suaranya. Hanya cara bicaranya yang berubah. “Aku anak Pak Samudera.”

 “Ada apa, Mas?” tanya Aisyah sambil berusaha keras menjaga suaranya agar tidak bergetar.

“Tidak usah bersikap sok manis. Aku tahu kamu wanita seperti apa,” ucap Bayu dengan kasar. “Aku tidak tahu apa yang terjadi dan aku juga tidak peduli. Kata Papa, seseorang kecelakaan karena mobil mereka mogok di tengah jalan. Dan, sebagai bukti rasa bersalah, Papa mau menjodohkanku dengan putri dari orang yang kecelakaan itu. Apa ini adil? Kalau hanya untuk bertanggung jawab, sepertinya tidak perlu sampai mengadakan pernikahan.”

Kedua bola mata Aisyah berputar. Apa yang diucapkan suara di telepon itu seolah menghunjam dadanya dengan palu gada berukuran raksasa. Air matanya merebak, merasakan sakit yang luar biasa.

“Tolong jaga ucapannya, Mas. Bukan aku yang menginginkan ini. Aku tidak ….”

“Aku tidak butuh basa-basi,” potong Bayu. “Kamu bilang saja berapa jumlah yang kamu inginkan. Akan aku transfer sekarang.”

“Apa?”

“Cepat. Aku tidak punya banyak waktu. Ini memang tujuanmu, kan? Katakan saja jumlah uang yang kamu inginkan.”

“Aku tidak butuh uangmu,” pekik Aisyah. Matanya kemudian langsung tertuju pada pintu kamar. Ia memastikan Dimas tidak mendengar apa yang dikatakannya. “Aku tegaskan sekali lagi, sedikit pun aku tidak mengharapkan uang kalian.”

Bayu tertawa sinis. “Kalau begitu, batalkan pernikahan ini.”

“Baik. Katakan saja pada Pak Samudera, jangan pernah datang ke sini lagi.”

Bayu kembali tertawa. “Apa kamu pura-pura bodoh atau kamu memang goblok? Aku tahu kamu itu wanita kampung, tapi sepertinya Papa tidak akan menikahkan anaknya dengan wanita bodoh, deh.”

“Apa maksudmu berbicara seperti itu?” Aisyah menahan suaranya agar tidak terlalu keras.



“Kamu pasti tahu kalau Papa tidak akan mendengarkan kalau aku yang mengatakannya, iya, kan? Jangan perpanjang masalah ini lagi,” tegas Bayu. “Aku tidak ingin pernikahan ini terjadi. Dan kamu harus bilang pada Papa kalau kamu juga tidak ingin menikah. Oke?”

“Baik. Aku yang akan mengatakannya pada Pak Samudera.”

“Bagus. Aku tunggu kabar baiknya.”

Telepon terputus. Bayu memutuskan telepon begitu saja. Tanpa salam ataupun kalimat basa-basi.

Aisyah menggeram. Dihempaskannya tubuhnya ke atas kasur. Ia tidak percaya sikap pria yang menelepon. “Apa itu benar Bayu, anak Pak Samudera? Bagaimana mungkin sikap anak dan ayah sangat bertolak belakang begitu?”

Benar atau tidaknya pria yang menelepon itu anak Pak Samudera, Aisyah tidak peduli. Ia terlalu sakit dengan kalimat yang baru saja didengarnya. Ia sudah memutuskan akan menolak lamaran Pak Samudera.

***

“Apa? Kenapa? Apa kamu sudah memikirkannya matang-matang, Nduk?” Bu Jum terkejut dengan keputusan Aisyah. “Bukannya kamu sudah setuju dengan pernikahan itu? Lalu kenapa kamu berubah pikiran lagi?” sesalnya.

“Lelaki itu sangat kasar, Bu.” Aisyah meredam ekspresi marahnya. “Dia sudah merendahkan Aisyah tadi malam. Dia sangat sombong dan tidak tahu sopan santun.”

“Itu karena dia belum kenal kamu, Syah.”

“Karena dia belum mengenal Aisyah, bukankah seharusnya dia berbicara baik-baik, Bu?” Tangan Aisyah meremas pegangan kursi dengan erat. “Tapi kenapa dia malah mengoceh seenak jidatnya?”

“Assalamualaikum!”

Pandangan Aisyah dan Bu Jum tertuju pada pintu. Mereka sama-sama tersenyum saat melihat Dimas di sana.

“Baru pulang sekolah, Dim?” tanya Bu Jum basa-basi.

“Iya, Bu.” Dimas melangkah ragu, lalu duduk di samping Aisyah. “Kata Bu Guru, minggu depan kami bakal ngadain praktikum, Kak. Jadi ….”

“Kakak tahu,” sela Aisyah saat Dimas tidak mampu melanjutkan ucapannya. Diusapnya kepala Dimas sambil berkata, “Kamu tenang saja. Kakak punya uang, kok. Kamu tidak perlu khawatir.”

“Alhamdulillah!” seru Dimas mengusap wajahnya. “Aku ke kamar dulu, Kak. Ganti baju,” ucapnya berdiri.

“Iya,” sahut Aisyah tersenyum.

Begitu Dimas masuk ke kamar, Aisyah menatap Bu Jum lekat-lekat. “Bu Jum ada uang, kan?”

Bu Jum menghela napas. “Ibu masih punya simpanan. Tapi, sampai kapan kamu akan seperti ini, Syah? Hari ini Ibu ada uang, besok? Tidak ada yang tahu, kan?”

“Jadi, Aisyah harus bagaimana, Bu?” Aisyah mengusap wajahnya. “Apa Aisyah harus tetap menerima lamaran itu? Tapi, bagaimana dengan anaknya Pak Samudera? Dia tidak setuju dengan pernikahan ini.”

Sebelum sempat Bu Jum memberikan respons, ponsel Aisyah berdering. Ia merogoh sakunya dan langsung menekan tombol hijau setelah melihat nama Pak Samudera di layar ponsel.

“Aisyah, apa Bayu meneleponmu?” tanya Pak Samudera langsung.

“Iya, Pak.”

“Abaikan semua yang dia katakan,” perintah Pak Samudera. “Anak itu tidak tahu apa yang dia lakukan. Saya yakin, kamu wanita yang tepat untuk menjadi istrinya.”

“Tapi, anak Bapak tidak setuju dengan pernikahan ini.”

“Jangan pedulikan dia, Syah. Yakinkan saja hatimu kalau kamu bisa menjadi istri baik yang untuk Bayu. Ingat, aku percaya kamu adalah gadis yang hebat. Saya tutup teleponnya, karena meeting akan dimulai.” Telpon terputus dan meninggalkan tanda tanya besar untuk Aisyah.

“Kamu dengar apa yang dikatakan Pak Samudera, kan?” Bu Jum memegang punggung telapak tangan Aisyah. “Kamu tidak usah peduli dengan … siapa namanya?”

“Bayu.”

“Ya, Bayu. Mungkin dia anak manja yang butuh pengasuh.”

“Apa?” Dahi Aisyah mengerut. “Jadi, Aisyah akan jadi pengasuh orang dewasa, dong, Bu?”

“Mungkin.” Gelak tawa Bu Jum pecah. Ia sampai memegang perutnya.

Keputusan telah diambil. Aisyah tidak akan mundur dari pernikahan itu. Meski calon suaminya tidak menginginkannya, ia akan tetap maju.

Harapan akan terus tumbuh jika kaki terus melangkah. Kalau ia menyerah sekarang, maka tidak ada harapan untuknya. Ia akan berada di titik yang sama, selamanya.

Setelah Bu Jum pulang, Aisyah pergi ke kamar Dimas. Ia melihat adiknya itu sedang belajar di sana. Keputusan yang ia ambil sepertinya sudah benar. Dengan melihat kesungguhan Dimas belajar, rasanya tidak sia-sia ia berkorban sedikit. Ya, mengorbankan perasaannya pada lelaki yang sekarang entah di mana keberadaannya. Ia harus memutus cinta yang lama untuk menguntai cinta yang baru.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

My Instagram