Novel, Short Story, and anymore from Sahrial Pratama

Leave Me Alone Part 1. Tinggalkan Dia

1. Tinggalkan Dia




Jemari Kania bergerak lincah di papan ketik laptop. Sesekali, kepalanya condong ke samping sampai mulutnya berhasil meraih sedotan. Mengerjakan makalah sambil menikmati segelas jus jeruk memang sudah menjadi kebiasaan Kania sejak semester satu.

“Makalah lo belum kelar?” Risa duduk di bangku yang ada di depan Kania. Raut panik di wajah gadis berkulit sawo matang itu langsung memecahkan konsentrasi Kania.

“Ada apa lagi, Ris? Nino berulah lagi?” tanya Kania, membetulkan letak kacamatanya yang melorot.
Tanpa ragu, Risa langsung mengangguk. “Lo pikir aja, Ni. Gue lihat foto dia sama cewek lain di instagram. Mesra banget, Ni,” kata Risa dengan suara seperti sedang menangis.

“Lo kenal nggak sama cewek itu?” Kania bertanya dengan bola mata masih tertuju pada laptop.

“Kenal. Dia teman SMA gue. Namanya Vio.”

“Coba gue lihat fotonya.” Kania mendekatkan mulutnya ke sedotan.
Dengan sigap Risa langsung mengambil ponsel dari dalam tas. Dia buru-buru membuka akun gadis yang dimaksud. “Ini, Ni. Mesra banget, 'kan?”

Begitu melihat foto yang ditunjukkan Risa, Kania langsung terbatuk. Jus jeruk yang baru saja disedotnya terasa naik ke kepala. Namun, dia berusaha mengendalikan ekspresinya. Jangan sampai Risa semakin kalut.

Sebenarnya, Kania juga merasa kalau apa yang dikatakan Risa benar. Pose Nino bersama gadis bernama Vio itu sudah keterlaluan. Di foto itu, Nino dan Vio saling berhadapan. Tangan Nino memegang dagu Vio hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti.

“Lo udah tanya Nino alasan dia berfoto seperti itu? Mungkin mereka cuma iseng.” Kania meraih tangan Risa agar sahabatnya itu tenang. “Sekarang, lo dinginin kepala dulu. Nanti ajak Nino ketemuan. Minta dia ngasih penjelasan. Lo percaya kalau Nino cowok yang baik, kan?”

“Nggak.”

“Apa?”

Risa menggigit bibir bawahnya. “Sebenarnya, ini bukan ketiga kalinya Nino berfoto seperti itu.”

“Bukan ketiga kali? Jadi, selama ini lo sembunyiin semuanya dari gue?” Kania menggeleng. Ditutupnya lembar kerja makalah yang belum selesai. Sekarang, dia harus fokus mengatasi masalah Risa. “Lo harus jujur sama gue, Ris. Gue temen lo. Semua yang gue omongin itu buat kebaikan lo juga. Pasti lo sembunyiin semuanya dari gue karena gue selalu minta lo putusin Nino, 'kan?”

Risa kembali mengangguk. “Gue sayang sama dia, Ni.”

“Lo emang sayang sama dia, tapi dia? Nggak jelas. Dengan cinta lo yang terlalu besar, dia jadi berbuat sesuka hatinya. Dua minggu lalu, lo ngebaca chat dia sama cewek mesra banget. Sekarang, foto sama cewek lain juga mesra banget. Belum lagi yang lo ceritain ke gue dari minggu-minggu sebelumnya.” Mengingat semua curahan hati Risa, Kania lantas menggeleng. “Lo udah terlalu baik sama Nino. Dan, yang mengandung kata ‘terlalu’ itu nggak bener. Sekarang, gue tanya, lo mau bagaimana?”

“Menurut lo, gue harus gimana?” Risa malah balik bertanya.

“Nggak. Bukan gue yang mutusin, tapi lo sendiri. Lo yang menilai, apa dia pantas dipertahanin atau nggak. Coba tanya hati lo, deh. Walaupun hati sering kali bertentangan dengan logika, tapi kali ini lo harus merangkul logika untuk ngambil keputusan.”


Seolah sedang didesak dengan pertanyaan yang teramat sulit, Risa menunduk.

“Nggak usah buru-buru. Lo pikirin aja dulu.”

Risa mengangguk. Ditatapnya kembali foto yang masih menghiasi layar ponselnya. Ingin sekali rasanya ia menangis. Namun, ia berusaha menahannya karena sedang di tengah keramaian.

“Gue pesenin lo minum, ya,” kata Kania, berdiri dari bangku.

Kania sengaja membawa ponselnya saat memesan jus jeruk untuk Risa. Setelah mengatakan pesanannya pada penjaga kantin, Kania buru-buru membuka instagram. Dicarinya kembali foto yang ditunjukkan Risa. Untung dia sempat mengingat nama akun itu.

Sekali lagi kepalanya spontan menggeleng saat melihat foto Nino yang begitu mesra. Khawatir salah memberi saran, Kania memutuskan untuk mengecek keseharian gadis bernama Vio itu. 

Diperhatikannya satu per satu foto yang terpampang di layar.
Tidak dia pungkiri, Vio memang cukup cantik. Terlebih lagi dia sedang kuliah di fakultas kedokteran, terlihat dari beberapa captions postingan-nya.

Ketika Kania sampai dipostingan yang diunggah dua bulan lalu, bibirnya mengerucut. Dalam postingan itu terpampang dua buah tangan yang saling bergenggaman. Dan Kania kenal betul dengan salah satu tangan yang ada di sana. Itu adalah tangan Nino yang sedang memakai jam tangan pemberian Risa saat ulang tahun lelaki itu.

“Dasar cowok kampret,” umpat Kania.

“Siapa yang kampret, Neng?” Wanita penjaga kantin mengulurkan segelas jus jeruk. “Pacarnya, ya?”

“Nggak, Bu. Ini ada cowok kampret yang perlu disemprot pestisida,” sahut Kania, mengambil jus jeruk lalu kembali ke bangkunya.

Namun, saat berbalik, dia melihat Lusi sudah duduk di tempatnya. Lantas dia menghela napas sembari bersiap mendengarkan lagi curahan hati sahabatnya itu.

“Gue nggak ada masalah, kok. Lo tenang aja,” ujar Lusi saat melihat wajah masam Kania.

“Alhamdulillah!” seru Kania. Dia bernapas lega karena lepas dari cerita tentang kekasih Lusi hari ini.

Risa mengambil jus jeruk dari tangan Kania. Disedotnya jus jeruk itu hingga setengah gelas. “Mikirin cowok ternyata bisa ngebuat haus juga, ya?” ucapnya kemudian.

“Ngapain, sih, lo mikirin si Nino? Udah tampang biasa aja, kelakukan malah kayak sampah. Gue heran lo belum mutusin dia sampai sekarang,” komentar Lusi.

Risa berdecak kesal. “Gue sama lo, beda. Gue itu setia, dan lo nggak.”
“Setia itu cuma buat orang bodoh yang percaya namanya cinta sejati.”

“Jadi,” sela Kania. “Kapan lo mutusin cowok lo yang sekarang?”

Lusi terdiam sejenak. Dia memang terkenal dengan sebutan playgirl. Dalam bulan ini saja, dia sudah memutuskan dua lelaki sekaligus. Dan, untuk kekasihnya yang sekarang, Lusi merasa sedikit berbeda. Dia ingin pacaran lebih lama lagi dengan lelaki itu.

“Emang sekarang cowok lo yang mana, sih? Anak kampus kita juga?” tanya Risa karena Lusi tak kunjung menjawab.
Lusi tersenyum. “Kalian nggak perlu tahu.”

“Iya. Kita nggak perlu tahu karena kalau ada masalah nanti, curhatnya bakal ke kita juga, kok,” celetuk Kania.

“Pinter.” Lusi bertepuk tangan. “Eh, gue hampir lupa. Senior dari Fakultas Hukum titip salam sama lo.”

“Hah?” Kening Kania membentuk lipatan. “Siapa?”

“Ruben.”

“Ih, ogah. Dia kan mantan lo bulan lalu. Masa sekarang dia mau ngedeketin gue? Gila!”

Lusi berdecak kesal. “Aduh, Kania. Lo nggak usah mikirin itu. Mungkin ini sudah saatnya lo ngelepas masa-masa suram hidup lo.”

Kania menggeleng. “Siapa bilang hidup gue suram? I’m single and very happy. Eh, tapi kalau lo berbaik hati mau nyariin gue cowok, boleh aja. Gue ada satu kriteria.”

“Cowok yang gimana?” Risa yang dari tadi hanya diam, ikut penasaran dengan lelaki kriteria Kania.

Melihat ekspresi kedua sahabatnya, Kania tersenyum. “Tapi kriteria gue bakal sulit ditemuin.”

“Nggak masalah. Gue bakal nyari ke mana saja asal lo nggak jomlo lagi. Ngubek-ngubek tong sampah juga gue rela,” ujar Lusi penuh percaya diri.

“Iya. Gue juga bakal bantu,” tambah Risa.

Senyuman Kania semakin lebar. “Gue bakal mau pacaran kalau cowok yang nembak gue itu kayak Harry Potter.”

Sontak ekspresi Lusi dan Risa berubah setelah mendengar ucapan Kania. Harry Potter? Yang benar saja. Itu hanya tokoh dalam novel.

“Sudah gue duga kalian nggak bakal bisa nyari cowok idaman gue.” Kania memanyunkan bibir.

“Kaniaku sayang.” Lusi meraih tangan Kania. “Lo mau ketemu cowok yang kayak Harry Potter, 'kan? Bisa, kok. Lo pulang, masuk ke kamar. Lalu lo tutup mata sambil tarik selimut. Harry Potter, kan? Mimpi sana!”

Kania dan Risa tersenyum melihat wajah kesal Lusi.

“Kalau lo gini terus, gue yakin lo bakal ngejomlo seumur hidup.”

“Tenang aja. Suatu hari nanti, gue bakal bawa Harry Potter gue ke depan kalian.” Kania memamerkan senyumannya. “Udah, ya. Gue ngajar les dulu. Jangan lupa bayar jus jeruk itu, Ris. Sekalian punya gue. Hitung-hitung biaya konsultasi.”

“Apa? Belum jadi psikolog aja lo udah gini sama temen sendiri, apalagi jadi psikolog beneran?” keluh Risa.

Kania hanya tersenyum mendengar ucapan sahabatnya itu. Dia memasukkan laptop ke dalam tas, lalu bergegas pergi. “Sampai jumpa besok. Jangan lupa kabari gue soal Nino.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

My Instagram