Prolog
Langkahnya yang pendek mendekat pada cermin di dinding. Matanya
kemudian melebar melihat bayangan menakutkan di sana. Itu bukan orang lain,
melainkan dirinya sendiri.
“Kenapa aku seperti ini?” gumamnya, membendung air mata.
Ia mendekat lagi. Dengan saksama, diperiksanya bola mata
yang tampak sangat berbeda dengan manusia pada umumnya. Jika kebanyakan
teman-temannya memiliki bola mata berwarna cokelat, ia malah memiliki iris
dengan warna biru dan sedikit guratan hitam. Bola mata itu tidak normal, bahkan
terkesan menakutkan.
“Lagi?” Pak Permana mengernyitkan kening.
“Kenapa bola mataku berbeda, Ayah?” tanya Alam.
“Karena kamu itu istimewa, Nak,” jawab Pak Permana mencolek hidung
Alam yang tidak terlalu mancung. “Tapi keistimewaanmu itu harus kamu tutupi,
ya. Karena jika orang lain tahu, mereka akan iri sama kamu. Dan asal kamu tahu,
mereka juga ingin memiliki mata seperti kamu, lho,” lanjutnya.
“Benarkah?” ucap Alam polos.
Pak Permana mengangguk.
“Kamu tahu bagaimana cara menyembunyikannya, iya, kan?”
Alam memejamkan mata, lalu membukanya setelah beberapa detik
kemudian. Warna matanya berubah. Tidak akan ada yang tahu kalau ia memiliki
warna mata yang berbeda. Karena sekarang, warna matanya sudah sama dengan
teman-temannya, yakni berwarna cokelat.
Pak Permana tersenyum, lalu merangkul Alam. “Sekarang, ayo kita
pergi. Nanti kamu terlambat.”
Alam menurut. Ia mengikuti sang ayah keluar
kamar menuju sepeda motor yang terparkir di halaman.
Begitulah Alam, ia berhasil menyembunyikan warna matanya yang
menakutkan. Hingga ia beranjak remaja, tak ada yang tahu kalau ia berbeda.
Bukan saja mata, tapi ada beberapa hal lain yang membuatnya tidak sama. Perbedaan
itu seringkali menimbulkan tanda tanya dalam benaknya. Bahkan terkadang ia
merasa tersiksa.
***



Tidak ada komentar:
Posting Komentar