Aisyah terjaga pukul lima lewat sepuluh menit. Kepalanya
terasa sakit karena menangis semalam. Begitu bangkit dari tempat tidur, ia baru
menyadari kalau ia tidak sedang berbaring di kamarnya dulu, melainkan di kamar
yang sungguh terasa asing baginya.
Hal pertama yang paling disesalkan Aisyah adalah
keteledorannya meninggalkan shalat Isya. Kesedihannya semalam membuat setan
yang setia mengintai menyerangnya dengan mudah. Ia tidak berdaya menghadapi
buaian setan yang begitu meneduhkan.
Selepas shalat Subuh, Aisyah bergegas menuju dapur. Di hari
pertamanya ini, ia tidak mau dicap menantu kurang ajar dengan bermalas-malasan.
Bahkan, sebenarnya sekarang ia sudah terlambat. Seharusnya ia bangun pukul
empat atau paling lambat pukul tengah lima tadi.
Tidak seperti dugaannya, ia berpikir tidak akan ada orang di
dapur. Namun, begitu ia sampai, dua orang wanita langsung menyambutnya.
“Selamat pagi, Bu,” sapa wanita mengenakan jilbab biru tua.
Usianya kira-kira sama dengan Bu Jum. “Saya, Bi Darti. Dan ini, Ratih.”
“Selamat pagi, Bu,” ucap gadis berkucir kuda dengan ramah.
“Nama saya Aisyah.” Tangan Aisyah terulur, mengajak
bersalaman. Ia tersenyum sambil berkata, “Tolong jangan panggil saya ibu, Bi.
Saya belum setua itu.”
“Ah, lebih enak kalau panggil ibu.” Bi Darti kembali
mengupas bawang setelah bersalaman dengan Aisyah. “Oh, ya, ada apa, Bu? Apa Ibu
perlu sesuatu?”
“Bi Darti dan Ratih mau masak apa pagi ini?”
“Tidak masak apa-apa, Bu. Karena kalau pagi, Pak Samudera
dan Den Bayu sarapannya pakai roti. Kami sudah siapkan di meja makan.”
Aisyah mengangguk. Lalu ia menatap tangan Bi Darti yang
tengah asyik mengupas bawang. “Lalu itu?”
“Oh. Ini untuk makan siang, Bu. Sebelum Pak Samudera dan Den
Bayu berangkat ke kantor, kami selalu menyiapkan bahan untuk masak nanti. Kalau
Pak Samudera dan Den Bayu sudah pergi, baru kami beres-beres rumah.” Bi Darti
memberikan bawang yang sudah selesai dikupas pada Ratih. “Lebih baik Ibu
menyiapkan pakaian Den Bayu saja. Biasanya, sebentar lagi Den Bayu akan
berangkat ke kantor, Bu.”
“Iya. Terima kasih, Bi.” Aisyah berbalik. Ia bergegas
kembali ke kamar.
Saat ia sampai, Bayu sudah tidak ada di tempat tidur.
Mendengar bunyi gemerisik air dari kamar mandi, ia kemudian tahu kalau suaminya
itu ada di sana. Daripada menunggu, ia berinisiatif menyiapkan pakaian yang
akan dikenakan Bayu ke kantor.
Aisyah mengambil kemeja berwarna biru, celana, jas hitam,
serta dasi bermotif polkadot. Ia meletakkan semuanya di atas tempat tidur.
Sudutnya bibirnya bergerak membentuk senyuman. Dalam benaknya, ia membayangkan
betapa tampannya Bayu mengenakan pakaian yang disiapkannya.
“Apa-apaan ini?” Bayu keluar dari kamar mandi. Ia menatap
pakaian yang tergeletak di atas kasur tanpa menoleh pada Aisyah. “Siapa yang
menyuruhmu menyentuh pakaianku? Aku tidak menyuruhmu, ‘kan?”
“Mas Bayu memang tidak menyuruh, tapi ini kan kewajiban ….”
“Kewajiban?” bentak Bayu. “Jangan pernah ngomongin kewajiban
di depanku. Sudah kukatakan semalam, bahkan beberapa hari yang lalu, aku tidak
menginginkan pernikahan ini. Jadi, tolong keluar dari kamar ini. Aku mau
siap-siap ke kantor.”
Mulut Aisyah terbuka, tapi menutup kembali. Menurutnya,
percuma ia berdebat sekarang. Semua tidak akan pernah selesai. Malah bisa saja
masalah yang dihadapinya semakin bertambah.
Setelah mendengar langkah kaki keluar dan pintu tertutup,
Bayu berbalik. Ia menggeram, tangannya terkepal keras saking kesalnya. Ia tidak
suka ada orang yang menyentuh lemarinya seperti yang dilakukan Aisyah. Terlebih
lagi karena ia tidak menyukai wanita yang berstatus sebagai istrinya itu.
Di luar, Aisyah berdiri di depan pintu. Menatap
langit-langit dengan bola mata yang memerah. Ia hanya ingin melaksanakan
kewajibannya sebagai seorang istri. Tidak lebih. Tetapi, kenapa lelaki di dalam
sana sedikit pun tidak menghargai niatnya?
Seorang suami adalah imam dalam rumah tangga. Suami yang
menuntun istri menuju surga. Kewajiban suami juga untuk memegang tangan istri
dan melindunginya dari nyanyian setan yang mempesona. Terkadang, bagaimana
seorang istri, mencerminkan bagaimana seorang suami. Dengan kata lain, setelah
pernikahan, suami berperan serta dalam membentuk akidah dan akhlak istri.
Akan tetapi, sepertinya lelaki di dalam sana tidak tahu itu
semua. Tidak mungkin pula Aisyah berkoar-koar mengajarkannya sekarang. Ia
datang bukan sebagai guru, tapi ia datang sebagai istri yang berusaha taat pada
suami.
Di sela renungannya, Aisyah teringat Dimas. Adiknya itu
mungkin masih tidur dan melalaikan shalat Subuh seperti biasa jika Aisyah tidak
membangunkan.
Namun, ketika Aisyah sampai di dekat tangga, bel rumah
berbunyi. Tidak sekali atau dua kali, tapi dengan frekuensi yang tinggi. Aisyah
berpikir, siapa yang bertamu pagi-pagi dan tidak sabar untuk dibukakan pintu?
Begitu pintu terbuka, orang yang bertamu berkata, “Kenapa
lama sekali?”
Orang yang bertamu itu adalah seorang gadis. Penampilannya
sungguh acak-acakan. Rambut berantakan, pakaian kusut, dan juga mata yang
terlihat berat.
Gadis itu menatap Aisyah dari ujung kaki hingga ke ujung
kepala. “Asisten rumah tangga baru, ya?” ujar gadis itu kemudian.
“Bukan, Mbak.” Aisyah berusaha bersikap ramah. “Mbak ini
siapa?”
“Kalau bukan asisten rumah tangga baru, lalu siapa? Enggak
usah bohong, deh. Ngapain juga lo bohong, entar gue bakal tahu sendiri, kok.”
Sebelum sempat Aisyah menjawab, Ratih datang menghampiri.
“Non Lisa, ini Bu Aisyah. Istirnya Den Bayu.”
Gadis yang bernama Lisa itu tertawa. Ia kembali mengamati
Aisyah dari ujung kaki hingga ke ujung kepala. “Nasib buruk apa yang menimpa
Kak Bayu, dapat istri kok model beginian? Kak Bayu kan enggak suka cewek beginian.
Yang Kak Bayu suka itu cewek yang seksi.” Lisa mendekatkan bibirnya ke telinga
Aisyah. “Pake pelet apa sampe maknyus gitu? Bagi resepnya, dong?”
Aisyah terlonjak dan langsung mengucap istigfar. Namun, adik
iparnya itu tidak peduli dengan ekspresi terkejutnya. Gadis itu melenggang
masuk dan langsung menuju lantai dua.
Sekali lagi dan untuk kesekian kalinya, Aisyah mengelus
dada. Entah seperti apa keluarganya suaminya ini. Setiap orang seperti berada
dalam dunianya masing-masing. Bayu terlihat tidak terlalu akrab dengan Pak
Samudera, begitu pula sebaliknya. Lisa, gadis itu seakan tidak peduli dengan
apa yang terjadi. Lisa bahkan tidak hadir dalam pernikahan Aisyah dan Bayu.
Yang paling membuat Aisyah heran, bagaimana bisa seorang gadis baru pulang
sepagi ini?
“Apa Lisa memang biasa seperti itu, Ti?” tanya Aisyah pada
Ratih.
“Iya, Bu,” sahut Ratih tanpa ragu. “Non Lisa mungkin nginap
di rumah temennya, Bu.”
“Baiklah. Saya ke kamar Dimas dulu, Ti.” Aisyah bergegas
pergi. Hanya Dimas yang membuat ia merasa masih tinggal di rumah, sedangkan apa
yang ada di sekitarnya masih terasa sangat asing untuknya.
“Sedang ngerjain apa?” Aisyah menghampiri Dimas yang sedang
sibuk dengan beberapa buku di atas tempat tidur.
“Lagi belajar, Kak. Om Samudera kan mau daftarin aku sekolah
di sini. Jadi, aku harus belajar lebih giat biar enggak kelihatan terlalu
bodoh,” kekeh Dimas.
“Apa kamu nyaman tinggal di sini?”
“Ya. Sangat nyaman, Kak.” Dimas menjawab dengan penuh
antusias. “Kakak lihat kan kamar ini? Kamar ini dua kali lebih luas daripada
kamar Dimas di kampung. Bahkan ada kamar mandinya, Kak. Halamannya juga sangat
luas. Kata Pak Yanto, yang nganterin koper Dimas semalam, di belakang ada kolam
ikan hias. Ikan yang seperti di TV itu, yang cuma buat pajangan, doang. Aku mau
lihat ke sana nanti.”
“Kakak juga mau lihat, ah. Tapi, kamu tadi tidak lupa shalat
Subuh, kan?”
“Jelas, dong, Kak. Dimas udah gede, enggak perlu disemprot lagi
baru shalat.” Dimas menepuk dadanya, bangga.
Aisyah senang Dimas menyukai tempat ini. Senyuman adiknya
itu membuat ia merasa kalau apa yang telah dilakukannya tidak sia-sia.
***
Dimas berhasil menghabiskan sepuluh potong roti lapis dengan
cepat. Sangat berbeda dengan Pak Samudera, Bayu, dan Lisa yang hanya
menghabiskan dua potong. Pak Samudera dan Lisa sampai tersenyum menatap tingkah
polos anggota keluarga baru mereka itu, sedangkan Bayu malah menatap jijik.
“Kamu laper banget, ya?” kata Lisa sembari meletakkan roti
di atas piring Dimas.
Dimas lantas tersipu malu. “Sedikit, Kak. Soalnya di kampung
kami makan nasi, enggak makan roti.”
“Kalau kamu masih mau nambah, ambil aja. Masih banyak, nih.”
Lisa meraih plastik roti dan meletakkannya di samping piring Dimas.
“Udah, Lis. Dimas udah makan banyak, tuh,” sela Aisyah
mengembalikan plastik roti.
“Enggak apa-apa, Kak. Kalau masih lapar, ya harus makan.
Obat lapar itu cuma satu, yaitu makan,” kekeh Lisa. “Oh, ya, yang tadi pagi, aku
minta maaf. Aku beneran enggak nyangka kalau Kak Aisyah itu istrinya Kak Bayu.”
Lisa tersenyum sambil melirik Bayu.
“Kamu ngapain, Lis? Apa kamu ngelakuin sesuatu pada Aisyah?”
ujar Pak Samudera dengan nada yang cukup tinggi.
“Enggak kok, Pa. Ini cuma salah paham aja.” Raut wajah Lisa
sontak berubah. Ekspresi cerianya memudar, berganti dengan garis-garis murung.
Pak Samudera memang terbiasa berbicara dengan keras pada
Lisa dan Bayu. Namun, bagaimana pun kerasnya Pak Samudera berbicara, sifat Lisa
sepertinya tetap jauh dari kata disiplin. Ia bebas tanpa mengkhawatirkan apa
pun. Seperti pagi ini, ia baru pulang pukul setengah tujuh, tapi Pak Samudera
sama sekali tidak menanyakan dari mana dan di mana Lisa semalam.
“Bayu duluan, Pa.” Bayu berdiri. Saat ia melewati ruang
tamu, tangannya dengan sigap menyambar koper yang biasa ia bawa ke kantor dari
sofa.
“Kak Aisyah enggak nganterin Kak Bayu sampai pintu depan?”
Lisa memberi saran.
Meski yakin Bayu tidak akan menyukainya, Aisyah berdiri
karena tidak tahan dengan tatapan Pak Samudera dan Lisa yang seakan menusuk
setiap pori-porinya. Ia berlari kecil mengejar Bayu yang baru sampai di teras.
“Ada apa?” ketus Bayu tanpa berbalik. Sebelum Aisyah sempat
menjawab, Bayu lanjut berkata, “Sudah berapa kali kukatakan, jangan bersikap
seakan hubungan kita ini adalah kenyataan. Aku tidak menginginkan ini semua.
Dan hanya tinggal menunggu waktu sebelum kamu angkat kaki dari rumah ini.”
Bayu masih bersikap sama. Dingin dan menakutkan. Entah
seberapa jijiknya wajah Aisyah dalam kepala Bayu hingga ia tidak mau berbalik
dan menoleh sedikit pun.
Ketika sampai di depan mobil yang sudah disiapkan oleh Pak
Yanto, ponsel Bayu berdering. Ia merogoh saku dan mengangkat telepon. Senyum
lebar sontak terpancar di bibirnya begitu berbicara dengan orang yang
menelepon. Aisyah sampai melongo tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia
tidak tahu kalau Bayu bisa juga tersenyum. Tetapi, ia menjadi penasaran, siapa
yang menelepon itu hingga membuat Bayu tersenyum bahkan tertawa?
Aisyah menghela napas. Sakit sekali rasanya melihat senyuman
Bayu ketika berbicara dengan orang lain, tapi malah merasa jijik menatapnya.
Entah sampai kapan Aisyah bisa bertahan dengan kondisi seperti ini.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar