Novel, Short Story, and anymore from Sahrial Pratama

Untaian Cinta Aisyah (Part 7. Hari Pertama yang Menyakitkan)


7. Hari Pertama yang Menyakitkan



Aisyah terjaga pukul lima lewat sepuluh menit. Kepalanya terasa sakit karena menangis semalam. Begitu bangkit dari tempat tidur, ia baru menyadari kalau ia tidak sedang berbaring di kamarnya dulu, melainkan di kamar yang sungguh terasa asing baginya.

Hal pertama yang paling disesalkan Aisyah adalah keteledorannya meninggalkan shalat Isya. Kesedihannya semalam membuat setan yang setia mengintai menyerangnya dengan mudah. Ia tidak berdaya menghadapi buaian setan yang begitu meneduhkan.

Selepas shalat Subuh, Aisyah bergegas menuju dapur. Di hari pertamanya ini, ia tidak mau dicap menantu kurang ajar dengan bermalas-malasan. Bahkan, sebenarnya sekarang ia sudah terlambat. Seharusnya ia bangun pukul empat atau paling lambat pukul tengah lima tadi.

Tidak seperti dugaannya, ia berpikir tidak akan ada orang di dapur. Namun, begitu ia sampai, dua orang wanita langsung menyambutnya.

“Selamat pagi, Bu,” sapa wanita mengenakan jilbab biru tua. Usianya kira-kira sama dengan Bu Jum. “Saya, Bi Darti. Dan ini, Ratih.”

“Selamat pagi, Bu,” ucap gadis berkucir kuda dengan ramah.

“Nama saya Aisyah.” Tangan Aisyah terulur, mengajak bersalaman. Ia tersenyum sambil berkata, “Tolong jangan panggil saya ibu, Bi. Saya belum setua itu.”

“Ah, lebih enak kalau panggil ibu.” Bi Darti kembali mengupas bawang setelah bersalaman dengan Aisyah. “Oh, ya, ada apa, Bu? Apa Ibu perlu sesuatu?”

“Bi Darti dan Ratih mau masak apa pagi ini?”

“Tidak masak apa-apa, Bu. Karena kalau pagi, Pak Samudera dan Den Bayu sarapannya pakai roti. Kami sudah siapkan di meja makan.”

Aisyah mengangguk. Lalu ia menatap tangan Bi Darti yang tengah asyik mengupas bawang. “Lalu itu?”

“Oh. Ini untuk makan siang, Bu. Sebelum Pak Samudera dan Den Bayu berangkat ke kantor, kami selalu menyiapkan bahan untuk masak nanti. Kalau Pak Samudera dan Den Bayu sudah pergi, baru kami beres-beres rumah.” Bi Darti memberikan bawang yang sudah selesai dikupas pada Ratih. “Lebih baik Ibu menyiapkan pakaian Den Bayu saja. Biasanya, sebentar lagi Den Bayu akan berangkat ke kantor, Bu.”

“Iya. Terima kasih, Bi.” Aisyah berbalik. Ia bergegas kembali ke kamar.

Saat ia sampai, Bayu sudah tidak ada di tempat tidur. Mendengar bunyi gemerisik air dari kamar mandi, ia kemudian tahu kalau suaminya itu ada di sana. Daripada menunggu, ia berinisiatif menyiapkan pakaian yang akan dikenakan Bayu ke kantor.

Aisyah mengambil kemeja berwarna biru, celana, jas hitam, serta dasi bermotif polkadot. Ia meletakkan semuanya di atas tempat tidur. Sudutnya bibirnya bergerak membentuk senyuman. Dalam benaknya, ia membayangkan betapa tampannya Bayu mengenakan pakaian yang disiapkannya.

“Apa-apaan ini?” Bayu keluar dari kamar mandi. Ia menatap pakaian yang tergeletak di atas kasur tanpa menoleh pada Aisyah. “Siapa yang menyuruhmu menyentuh pakaianku? Aku tidak menyuruhmu, ‘kan?”

“Mas Bayu memang tidak menyuruh, tapi ini kan kewajiban ….”

“Kewajiban?” bentak Bayu. “Jangan pernah ngomongin kewajiban di depanku. Sudah kukatakan semalam, bahkan beberapa hari yang lalu, aku tidak menginginkan pernikahan ini. Jadi, tolong keluar dari kamar ini. Aku mau siap-siap ke kantor.”

Mulut Aisyah terbuka, tapi menutup kembali. Menurutnya, percuma ia berdebat sekarang. Semua tidak akan pernah selesai. Malah bisa saja masalah yang dihadapinya semakin bertambah.

Setelah mendengar langkah kaki keluar dan pintu tertutup, Bayu berbalik. Ia menggeram, tangannya terkepal keras saking kesalnya. Ia tidak suka ada orang yang menyentuh lemarinya seperti yang dilakukan Aisyah. Terlebih lagi karena ia tidak menyukai wanita yang berstatus sebagai istrinya itu.

Di luar, Aisyah berdiri di depan pintu. Menatap langit-langit dengan bola mata yang memerah. Ia hanya ingin melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri. Tidak lebih. Tetapi, kenapa lelaki di dalam sana sedikit pun tidak menghargai niatnya?



Seorang suami adalah imam dalam rumah tangga. Suami yang menuntun istri menuju surga. Kewajiban suami juga untuk memegang tangan istri dan melindunginya dari nyanyian setan yang mempesona. Terkadang, bagaimana seorang istri, mencerminkan bagaimana seorang suami. Dengan kata lain, setelah pernikahan, suami berperan serta dalam membentuk akidah dan akhlak istri.

Akan tetapi, sepertinya lelaki di dalam sana tidak tahu itu semua. Tidak mungkin pula Aisyah berkoar-koar mengajarkannya sekarang. Ia datang bukan sebagai guru, tapi ia datang sebagai istri yang berusaha taat pada suami.

Di sela renungannya, Aisyah teringat Dimas. Adiknya itu mungkin masih tidur dan melalaikan shalat Subuh seperti biasa jika Aisyah tidak membangunkan.

Namun, ketika Aisyah sampai di dekat tangga, bel rumah berbunyi. Tidak sekali atau dua kali, tapi dengan frekuensi yang tinggi. Aisyah berpikir, siapa yang bertamu pagi-pagi dan tidak sabar untuk dibukakan pintu?

Begitu pintu terbuka, orang yang bertamu berkata, “Kenapa lama sekali?”

Orang yang bertamu itu adalah seorang gadis. Penampilannya sungguh acak-acakan. Rambut berantakan, pakaian kusut, dan juga mata yang terlihat berat.

Gadis itu menatap Aisyah dari ujung kaki hingga ke ujung kepala. “Asisten rumah tangga baru, ya?” ujar gadis itu kemudian.

“Bukan, Mbak.” Aisyah berusaha bersikap ramah. “Mbak ini siapa?”

“Kalau bukan asisten rumah tangga baru, lalu siapa? Enggak usah bohong, deh. Ngapain juga lo bohong, entar gue bakal tahu sendiri, kok.”

Sebelum sempat Aisyah menjawab, Ratih datang menghampiri. “Non Lisa, ini Bu Aisyah. Istirnya Den Bayu.”

Gadis yang bernama Lisa itu tertawa. Ia kembali mengamati Aisyah dari ujung kaki hingga ke ujung kepala. “Nasib buruk apa yang menimpa Kak Bayu, dapat istri kok model beginian? Kak Bayu kan enggak suka cewek beginian. Yang Kak Bayu suka itu cewek yang seksi.” Lisa mendekatkan bibirnya ke telinga Aisyah. “Pake pelet apa sampe maknyus gitu? Bagi resepnya, dong?”

Aisyah terlonjak dan langsung mengucap istigfar. Namun, adik iparnya itu tidak peduli dengan ekspresi terkejutnya. Gadis itu melenggang masuk dan langsung menuju lantai dua.

Sekali lagi dan untuk kesekian kalinya, Aisyah mengelus dada. Entah seperti apa keluarganya suaminya ini. Setiap orang seperti berada dalam dunianya masing-masing. Bayu terlihat tidak terlalu akrab dengan Pak Samudera, begitu pula sebaliknya. Lisa, gadis itu seakan tidak peduli dengan apa yang terjadi. Lisa bahkan tidak hadir dalam pernikahan Aisyah dan Bayu. Yang paling membuat Aisyah heran, bagaimana bisa seorang gadis baru pulang sepagi ini?

“Apa Lisa memang biasa seperti itu, Ti?” tanya Aisyah pada Ratih.

“Iya, Bu,” sahut Ratih tanpa ragu. “Non Lisa mungkin nginap di rumah temennya, Bu.”

“Baiklah. Saya ke kamar Dimas dulu, Ti.” Aisyah bergegas pergi. Hanya Dimas yang membuat ia merasa masih tinggal di rumah, sedangkan apa yang ada di sekitarnya masih terasa sangat asing untuknya.

“Sedang ngerjain apa?” Aisyah menghampiri Dimas yang sedang sibuk dengan beberapa buku di atas tempat tidur.

“Lagi belajar, Kak. Om Samudera kan mau daftarin aku sekolah di sini. Jadi, aku harus belajar lebih giat biar enggak kelihatan terlalu bodoh,” kekeh Dimas.

“Apa kamu nyaman tinggal di sini?”

“Ya. Sangat nyaman, Kak.” Dimas menjawab dengan penuh antusias. “Kakak lihat kan kamar ini? Kamar ini dua kali lebih luas daripada kamar Dimas di kampung. Bahkan ada kamar mandinya, Kak. Halamannya juga sangat luas. Kata Pak Yanto, yang nganterin koper Dimas semalam, di belakang ada kolam ikan hias. Ikan yang seperti di TV itu, yang cuma buat pajangan, doang. Aku mau lihat ke sana nanti.”

“Kakak juga mau lihat, ah. Tapi, kamu tadi tidak lupa shalat Subuh, kan?”

“Jelas, dong, Kak. Dimas udah gede, enggak perlu disemprot lagi baru shalat.” Dimas menepuk dadanya, bangga.

Aisyah senang Dimas menyukai tempat ini. Senyuman adiknya itu membuat ia merasa kalau apa yang telah dilakukannya tidak sia-sia.

***

Dimas berhasil menghabiskan sepuluh potong roti lapis dengan cepat. Sangat berbeda dengan Pak Samudera, Bayu, dan Lisa yang hanya menghabiskan dua potong. Pak Samudera dan Lisa sampai tersenyum menatap tingkah polos anggota keluarga baru mereka itu, sedangkan Bayu malah menatap jijik.

“Kamu laper banget, ya?” kata Lisa sembari meletakkan roti di atas piring Dimas.

Dimas lantas tersipu malu. “Sedikit, Kak. Soalnya di kampung kami makan nasi, enggak makan roti.”

“Kalau kamu masih mau nambah, ambil aja. Masih banyak, nih.” Lisa meraih plastik roti dan meletakkannya di samping piring Dimas.

“Udah, Lis. Dimas udah makan banyak, tuh,” sela Aisyah mengembalikan plastik roti.

“Enggak apa-apa, Kak. Kalau masih lapar, ya harus makan. Obat lapar itu cuma satu, yaitu makan,” kekeh Lisa. “Oh, ya, yang tadi pagi, aku minta maaf. Aku beneran enggak nyangka kalau Kak Aisyah itu istrinya Kak Bayu.” Lisa tersenyum sambil melirik Bayu.

“Kamu ngapain, Lis? Apa kamu ngelakuin sesuatu pada Aisyah?” ujar Pak Samudera dengan nada yang cukup tinggi.

“Enggak kok, Pa. Ini cuma salah paham aja.” Raut wajah Lisa sontak berubah. Ekspresi cerianya memudar, berganti dengan garis-garis murung.

Pak Samudera memang terbiasa berbicara dengan keras pada Lisa dan Bayu. Namun, bagaimana pun kerasnya Pak Samudera berbicara, sifat Lisa sepertinya tetap jauh dari kata disiplin. Ia bebas tanpa mengkhawatirkan apa pun. Seperti pagi ini, ia baru pulang pukul setengah tujuh, tapi Pak Samudera sama sekali tidak menanyakan dari mana dan di mana Lisa semalam.

“Bayu duluan, Pa.” Bayu berdiri. Saat ia melewati ruang tamu, tangannya dengan sigap menyambar koper yang biasa ia bawa ke kantor dari sofa.

“Kak Aisyah enggak nganterin Kak Bayu sampai pintu depan?” Lisa memberi saran.

Meski yakin Bayu tidak akan menyukainya, Aisyah berdiri karena tidak tahan dengan tatapan Pak Samudera dan Lisa yang seakan menusuk setiap pori-porinya. Ia berlari kecil mengejar Bayu yang baru sampai di teras.

“Ada apa?” ketus Bayu tanpa berbalik. Sebelum Aisyah sempat menjawab, Bayu lanjut berkata, “Sudah berapa kali kukatakan, jangan bersikap seakan hubungan kita ini adalah kenyataan. Aku tidak menginginkan ini semua. Dan hanya tinggal menunggu waktu sebelum kamu angkat kaki dari rumah ini.”

Bayu masih bersikap sama. Dingin dan menakutkan. Entah seberapa jijiknya wajah Aisyah dalam kepala Bayu hingga ia tidak mau berbalik dan menoleh sedikit pun.

Ketika sampai di depan mobil yang sudah disiapkan oleh Pak Yanto, ponsel Bayu berdering. Ia merogoh saku dan mengangkat telepon. Senyum lebar sontak terpancar di bibirnya begitu berbicara dengan orang yang menelepon. Aisyah sampai melongo tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia tidak tahu kalau Bayu bisa juga tersenyum. Tetapi, ia menjadi penasaran, siapa yang menelepon itu hingga membuat Bayu tersenyum bahkan tertawa?

Aisyah menghela napas. Sakit sekali rasanya melihat senyuman Bayu ketika berbicara dengan orang lain, tapi malah merasa jijik menatapnya. Entah sampai kapan Aisyah bisa bertahan dengan kondisi seperti ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

My Instagram