1.
Sandaran yang Roboh
Bola mata Aisyah fokus menatap layar ponsel. Ia
tetap bertahan meski tubuhnya mulai terasa pegal. Satu jam berlalu, ia masih
menunggu. Namun, akhirnya ia menyerah saat melihat jam dinding menunjukkan
pukul dua siang.
Satu bulan terakhir, Aisyah rutin menunggu telepon
dari seseorang di jam yang sama. Namun, yang ditunggu tidak kunjung datang.
Sering kali juga ia yang mencoba untuk menelepon balik, tapi hasilnya tetap nol
besar. Telepon yang dituju tidak pernah diangkat. Bahkan, nomor itu seakan
sudah mati dan tidak digunakan lagi.
Tepatnya dua bulan yang lalu, lelaki yang berjanji
menikahinya, pergi mengadu nasib ke Jakarta. Lelaki itu mengatakan akan selalu
memberi kabar. Setidaknya, ia akan menelepon sekali tiga hari jam satu siang.
Awalnya semua berjalan lancar. Lelaki itu menelepon
sesuai dengan apa yang dijanjikan. Namun, setelah satu bulan berlalu, tidak
pernah ada lagi telepon yang datang untuk sekadar menyapa hati yang merindu.
Satu bulan tanpa kabar tidak membuat Aisyah suuzan.
Ia menekankan dalam benaknya bahwa lelaki yang ia tunggu pasti sedang sibuk
atau ponsel lelaki itu hilang. Pasti salah satu dari hal itu yang menjadi
alasannya. Tidak salah lagi.
Saat Aisyah berdiri dari kursi, ponselnya berdering.
Tangannya dengan cepat menyambar ponsel. Namun, telepon itu datang bukan dari
nomor yang ditunggu.
“Halo! Aisyah, cepat datang ke rumah sakit!” Suara
wanita yang menelepon terdengar panik, membuat seribu firasat buruk
menghampiri.
“Ada apa, Bu Jum?” Aisyah berusaha bersikap tenang.
“Bapakmu ditabrak orang, Nduk. Sekarang lagi
ditangani ….”
Aisyah tidak menunggu sampai kalimat Bu Jum selesai.
Ia memasukkan ponsel ke dalam saku rok dan bergegas menuju rumah sakit. Tidak
ada waktu untuk mengganti pakaian atau sekadar merapikan diri. Wajah sang ayah
menahan sakit muncul di matanya hingga untuk menarik napas dengan benar saja ia
sudah tak sanggup.
Hanya ayah dan adiknya keluarga yang Aisyah miliki.
Ibunya telah meninggal karena penyakit jantung dua tahun yang lalu. Semenjak
itu, Aisyah yang menggantikan tugas ibunya untuk merawat ayah dan sang adik.
Karena tidak mau membuang waktu, Aisyah meminta
tolong pada Paklik Harun untuk mengantarnya.
“Ada apa, Bu Jum?” tanya Aisyah sesampainya di rumah
sakit. “Bagaimana keadaan Bapak? Bapak baik-baik saja, kan?”
Bu Jum tidak menjawab. Ia malah memeluk Aisyah
dengan erat seakan sesuatu hal yang buruk telah terjadi. Setelah beberapa saat,
Bu Jum melepas pelukannya, lalu mengalihkan pandangan pada ruang UGD di depan
mereka.
“Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Paklik Harun.
Ia menoleh sejenak pada dua orang polisi yang sedang berbicara dengan dokter.
“Waktu perjalanan mau pulang, Pak Tejo teringat
kalau buah yang dibeli untuk Dimas ketinggalan di tempat kami berjualan. Karena
lapar, Ibu turun mau makan di warung, sedangkan Pak Tejo menjemput buah yang
ketinggalan. Kata orang yang melihat kejadiannya, Pak Tejo banting setir karena
hampir menabrak mobil yang berhenti di tengah jalan,” jelas Bu Jum sambil mengelap air matanya.
“Di mana pemilik mobil itu, Bu Jum? Kita harus
menjebloskannya ke penjara. Gara-gara dia
Pak Tejo
meninggal,” ujar Paklik Harun memindai sekeliling.
“Bukan itu masalahnya, Run. Mobil itu sudah mogok di
tengah jalan hampir setengah jam. Pak Tejo yang salah karena menyetir padahal
sedang mengantuk.”
“Lalu bagaimana sekarang?”
“Kita urus masalah itu nanti saja, Run. Lebih baik kita
fokus ke Aisyah dulu.” Bu Jum menatap gadis yang dimaksud.
Aisyah tidak mendengar percakapan Bu Jum dan Paklik
Harun karena ia memilih mendekati pintu UGD. Kedua kakinya terasa bergetar.
Keringat membasahi jilbab yang ia kenakan.
“Bagaimana keadaan Bapak saya, Dok?” Aisyah bertanya
begitu seorang dokter membuka pintu UGD.
“Maaf. Kami sudah berusaha sebaik mungkin, tapi
Allah berkehendak lain. Sekali lagi kami minta maaf, Pak Tejo tidak
terselamatkan. Beliau terlalu banyak kehilangan darah karena luka di bagian
kepala.” Dokter itu menghela napas. “Kamu harus bersabar, Nak.”
Tangan Aisyah menempel di mulut untuk membungkam
suara teriakannya. Ia tidak sanggup menerima ini. Dengan kepala menggeleng,
lututnya membentur lantai. “Bapak!” panggilnya dengan air mata mengucur deras.
“Bapak tidak mungkin ninggalin Aisyah. Tidak mungkin.”
Selama ini, hanya Pak Tejo yang mencari nafkah untuk
kedua anaknya. Lalu sekarang? Entah bagaimana nasib Aisyah nantinya. Untuk
sekarang saja, Aisyah merasa dunianya telah runtuh.
“Bapak! Bangun, Pak! Aisyah ada di sini. Bapak,
lihat Aisyah! Aisyah tinggal sama siapa, Pak?” Aisyah meraung saat jenazah Pak
Tejo dibawa keluar dari UGD. Namun, perlahan suara tangis itu mulai tak
terdengar lagi. Terlalu sakit yang ia rasakan hingga dadanya sesak.
“Kuatkan dirimu, Nduk!” kata Bu Jum mendekap Aisyah.
Ia mengecup puncak kepala gadis itu. Air matanya yang mengalir deras membasahi
jilbab gadis yang dipeluk. “Kamu harus ikhlas, Nduk. Biarkan bapakmu tenang di
sisi Gusti Allah. Jangan lupa, kamu punya tanggung jawab untuk menguatkan
adikmu, Syah. Kamu harus ikhlas.”
Saat jenazah Pak Tejo diurus oleh petugas rumah
sakit, Aisyah duduk di bangku yang ada di lobi. Sedangkan, Bu Jum dan Paklik
Harun mengurus hal-hal yang berkaitan dengan administrasi. Tubuh Aisyah terlalu
letih untuk mengurusi hal semacam itu. Ia perlu menenangkan tubuh dan pikirannya
dulu.
Semua orang yang lewat menyempatkan diri menatap
Aisyah. Bola matanya yang memandang kosong ke depan, membuatnya terlihat
seperti orang gila. Di wajahnya jelas terpetakan semangat hidup yang redup
dibawa oleh kematian sang ayah.
“Bapak,” gumamnya, mengingat senyuman Pak Tejo tadi
pagi sebelum berangkat ke pasar.
Sudah bertahun-tahun Pak Tejo pulang pergi ke pasar
untuk berjualan sayur. Bersama Bu Jum, Pak Tejo menjual sayur dari hasil kebun
penduduk desa. Meski dengan keuntungan sedikit, Pak Tejo tetap semangat
bekerja. Namun, entah nasib apa yang menimpanya hingga sampai begitu sial hari
ini.
“Maaf.” Sebuah suara yang tidak dikenal Aisyah
menghampiri, membuyarkan lamunannya tentang kenangan indah bersama sang ayah.
Aisyah menghapus air matanya lalu menoleh pada
sumber suara yang menyapa. “Ya. Ada apa, Pak? Apa saya mengenal Bapak?”
tanyanya dengan suara yang lemah.
Pria beruban yang menghampiri Aisyah menarik napas
panjang. Setelah ia melihat kesedihan di wajah Aisyah, seketika kalimat yang ingin
diucapkan menghilang dari kepalanya. Pandangannya bergerak-gerak ke arah yang
tidak menentu seolah mencari kalimat yang kabur entah ke mana. Ia benar-benar
bingung, rasanya lebih baik menghilang saja daripada menghadapi gadis di
depannya sekarang. Namun, semua harus dijelaskan agar perasaan bersalah itu
berkurang.
“Maaf.” Hanya kata itu yang kembali terdengar.
“Maaf untuk apa, Pak? Apa Bapak punya salah pada
saya?”
“Sepertinya, saya punya satu kesalahan yang sangat
besar. Bahkan, saya tidak tahu apa saya berhak mengucapkan kata maaf dengan
kesalahan sebesar itu.”
Awalnya, Aisyah tidak mengerti apa maksud pria itu.
Namun, saat menyadari di mana ia sekarang, Aisyah tersadar dan mengetahui apa
arti dari kalimat yang diucapkan oleh pria di depannya meski tidak dijelaskan
lebih detail lagi.
“Apa Bapak yang membuat bapak saya kecelakaan?”
Aisyah berdiri.
“Maafkan saya. Tapi ….”
Aisyah mengamati pria di depannya dari ujung kepala
hingga ke ujung kaki. Rambut beruban yang disisir rapi, setelan mewah yang
biasa dikenakan oleh para konglomerat, serta sepatu yang mengilap hampir tanpa
debu. Dengan tanda-tanda seperti itu, Aisyah menyimpulkan bahwa pria di
depannya ini adalah pria dengan harta berlimpah.
“Kenapa? Kenapa ini sampai terjadi? Waktu Anda
menyetir, apa mata Anda sedang sibuk menghitung uang yang Anda hasilkan hari
ini?” Butir kesopanan menguap begitu saja dari tutur kata Aisyah setelah
mengetahui siapa pria yang berhadapan dengannya.
“Maaf.”
“Ya. Karena semua ini sudah terjadi, memangnya apa
lagi yang bisa Anda lakukan selain mengucapkan maaf? Tidak mungkin juga saya
mengambil batu dan melemparkannya pada Anda.” Urat leher Aisyah menegang.
Tangannya menunjuk-nunjuk pada wajah pria itu. “Biar Allah yang membalas
perbuatan Anda. Saya yakin, Allah akan memberikan balasan yang tepat daripada
apa yang bisa saya berikan.”
“Saya ….”
“Sebaiknya Bapak pergi dari sini sebelum saya
berubah pikiran,” tegas Aisyah berbalik badan.
“Apa saya boleh minta sesuatu?” ucap pria itu meski
Aisyah tidak merespons. “Saya minta maaf, mewakili sopir saya.”
Bukannya merasa simpati, Aisyah malah semakin geram.
Ia tidak suka melihat orang kaya melimpahkan kesalahan yang diperbuat pada
orang tidak mampu seperti yang dilakukan pria di depannya sekarang.
“Kenapa Bapak harus melimpahkan kesalahan Bapak pada
orang miskin seperti kami? Ketidakmampuan kami bukan untuk dimanfaat seperti
ini, Pak. Apa Bapak sedikit pun tidak memiliki belas kasihan?”
“Maaf, Neng.” Seorang pria bertubuh kurus datang
bersama Bu Jum. “Ini bukan kesalahan Pak Samudera, Neng. Ini kesalahan saya.
Saya yang ngeyel tetap membawa mobil itu meski Pak Samudera sudah bilang untuk memperbaikinya
lebih dulu. Saya minta maaf, Neng,” ucap pria itu dengan air mata mengalir.
Aisyah meletakkan tangannya di bahu sopir Pak
Samudera. “Bapak tidak perlu seperti ini. Jangan takut, Pak. Kita harus berani.
Kalau tidak, orang seperti majikan Bapak ini akan terus menginjak-injak kita.”
“Saya tidak takut, Neng.” Pria itu meraih lengan Pak
Samudera. “Pak Samudera adalah orang yang baik. Beliau sudah banyak membantu
saya.”
“Cukup, Syah.” Bu Jum meraih bahu Aisyah. “Kita
harus membawa jenazah bapakmu pulang.”
Aisyah berbalik mengikuti beberapa orang perawat
yang membawa jenazah Pak Tejo menuju mobil ambulans. Ia menyempatkan diri
menoleh ke belakang. Alangkah terkejutnya ia saat melihat pria bernama Pak
Samudera itu mengusap punggung si sopir.
“Kamu tenang saja, Met. Dia pasti memaafkan kita.
Saya lihat, dia gadis yang mampu membuat pilihan yang bijak,” kata Pak Samudera
penuh percaya diri. Sudutnya bibirnya bergerak hingga membentuk senyuman tipis.
“Sepertinya, saya sudah menemukan apa yang saya cari, Met. Gadis itu yang saya
cari selama ini.”
“Untuk siapa, Pak?” tanya Pak Slamet.
Pak Samudera menghilangkan senyumannya, lalu menatap
tajam sang sopir. “Jangan bercanda seperti itu dengan saya, Met. Memangnya
untuk siapa lagi?”
“Maaf, Pak.” Pak Slamet tersenyum melihat ekspresi
kesal Pak Samudera.
“Dia gadis yang sempurna untuk menghancurkan dinding
pemisah yang semakin lama kian meninggi,” ucap Pak Samudera, menarik napas
panjang, lalu kembali tersenyum.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar