23. Aku Akan Bertahan
Sampai jam pulang kantor, Bayu masih berkutat dengan laptopnya. Ia terus membaca artikel di internet mengenai salat istikharah. Benar, ini yang ia butuhkan. Saat diri sendiri tidak bisa memilih di antara dua pilihan, hanya Allah yang bisa membantu.
Tiga hari Bayu melakukan salat istikharah berturut-turut. Meski bukan pilihan yang diharapkannya yang muncul, ia tetap berusaha memantapkan hati. Ia berharap, semoga apa yang ada dalam mimpinya adalah petunjuk dari Allah.
“Aku sudah membuat keputusan,” kata Bayu di tengah makan malam.
“Jangan sekarang, Bay. Nanti saja setelah selesai makan,” sela Pak Samudera.
“Enggak, Pa. Sekarang aja. Lisa udah enggak sabar mau denger keputusan Kak Bayu.” Lisa meletakkan sendok dan garpu dari tangannya. “Jadi, apa keputusan Kak Bayu?”
Bayu menarik napas, lalu menatap Aisyah yang menundukkan pandangan. “Aku sudah melakukan salat istikharah selama tiga hari.” Mata Bayu terpejam. Kalimat yang ingin ia ucapkan terasa sulit dikeluarkan.
Lisa dan Pak Samudera menatap Bayu. Mereka sudah tidak sabar untuk mendengar keputusan yang kemungkinan besar akan menyakiti Aisyah. Dimas yang tidak mengerti apa yang terjadi pun ikut menunggu. Ia menanti keputusan apa yang akan diberikan Bayu sehingga membuat Lisa dan Pak Samudera sangat penasaran.
“Aku akan menikahi Keyla.”
Lisa dan Pak Samudera sontak menundukkan kepala. Aisyah memejamkan mata, menahan sakit di dalam hatinya. Hanya Dimas yang berdiri dengan mata melotot tajam pada Bayu.
“Apa yang terjadi, Kak? Kenapa Kak Bayu akan menikah lagi, sedangkan Kak Aisyah masih ada di sini?” tanya Dimas. “Ini tidak benar, Kak.”
“Dimas, tenanglah. Ini bukan hal yang bisa kamu mengerti,” kata Aisyah.
“Bagaimana aku bisa tenang, Kak? Kak Bayu akan menikah lagi, apa Kakak bisa menerimanya? Seandainya Bapak masih di sini, dia tidak akan setuju dengan ide gila ini.”
“Dimas, tenang. Jangan bawa-bawa Bapak dalam masalah ini. Kak Aisyah dan Kak Bayu sudah membahas semuanya dengan matang. Jadi, kamu tidak perlu memikirkannya,” kata Aisyah, dengan sorot mata yang berusaha dikuatkan.
Dimas menggeleng. Ia kemudian berbalik dan berlari menuju kamarnya. Sungguh, apa pun penjelasan Aisyah, ia tetap tidak bisa menerima keputusan Bayu. Meski ada alasan yang sangat kuat di balik keputusan itu, Dimas tidak ada pernah terima. Ia tidak akan mau kakaknya dipoligami.
Aisyah berdiri. “Dia masih anak-anak. Jadi, dia tidak akan mudah mengerti masalah seperti ini. Tapi, aku akan coba bicara padanya.” Aisyah tersenyum menatap Lisa dan Pak Samudera, lalu pergi mengejar Dimas.
Tepat di depan pintu kamar Dimas, ponsel Aisyah berdering. Ia merogoh sakunya dan melihat siapa yang menelepon. Ternyata Bu Jum.
“Assalamualaikum, Aisyah,” sapa Bu Jum setelah telepon diangkat.
“Wa’alaikum salam, Bu. Bu Jum apa kabar?” sahut Aisyah dengan suara yang dibuat seceria mungkin.
“Kabar Ibu baik. Kalau kalian bagaimana, Nduk? Dimas betah tinggal di sana, kan?” tanya Bu Jum.
“Dimas betah, Bu. Sekarang dia lagi belajar di kamarnya.” Aisyah menarik napas. “Bu Jum masih jualan di pasar?”
“Iya. Sekarang Ibu jualan sama Paklik Harun.” Bu Jum tertawa sejenak. “Jangan bahas Ibulah. Ceritakan bagaimana kalian di sana. Oh ya, suamimu masih bersikap dingin sama kamu, Nduk?”
Nada bicara Bu Jum mendadak berubah. Selama ini, yang paling dikhawatirkan wanita itu adalah sikap Bayu pada Aisyah. Sejak pertama kali melihat suami Aisyah itu, Bu Jum sudah merasa kalau pernikahan mereka tidak akan berjalan dengan mudah.
“Aisyah,” panggil Bu Jum karena tak kunjung mendapat jawaban. “Apa pernikahan kalian baik-baik saja?”
Aisyah menarik napas. Ia tidak sanggup untuk berbohong pada Bu Jum. “Mas Bayu akan menikah lagi, Bu.”
“Apa?” pekik Bu Jum, membuat Aisyah harus menjauhkan ponsel dari telinganya.
“Bagaimana bisa? Apa Pak Samudera tidak melarangnya?” Bu Jum menghela napas. “Sejak kedatangan Pak Samudera dan Bayu ke rumahmu waktu itu, Ibu sudah tidak setuju dengan pernikahan kalian. Ibu merasa Bayu tidak sungguh-sungguh dalam pernikahan kalian. Tapi, waktu Ibu menelepon untuk mengatakannya, Pak Samudera berjanji akan menjagamu. Pak Samudera tidak akan membiarkan Bayu menyakitimu. Maafkan Ibu, Syah. Ibu tidak tahu akan jadi seperti ini.”
“Ini bukan kesalahan Bu Jum. Ini hanya ….”
“Kenapa Bayu akan menikahi wanita lain? Kamu kan bisa melarangnya, Nduk?” tanya Bu Jum.
“Ini sudah di luar kendaliku, Bu. Jika Mas Bayu menikahi wanita lain karena keinginannya, aku mungkin bisa mencegahnya. Tapi, ini tidak seperti itu.”
“Apa maksudmu, Nduk?”
“Sebelum menikah dengan Aisyah, Mas Bayu menjalin hubungan dengan seorang wanita bernama Keyla. Sekarang, wanita itu hamil.”
“Hamil?” Bu Jum kembali memekik. “Ini sudah di luar batas. Kamu tidak bisa hanya diam, Nduk. Bayu sudah tidak bisa dibiarkan begitu saja.”
“Aku akan bertahan, Bu.”
“Bertahan? Apa kamu sudah tidak bisa berpikir dengan benar, Syah? Bagaimana kamu akan tinggal satu atap dengan wanita yang akan menjadi istrinya Bayu?”
Aisyah diam. Ini adalah keputusan yang berat untuknya. Tetapi, tidak ada pilihan lain.
“Baiklah. Ibu percaya kamu sudah memikirkannya, Nduk. Kamu sudah dewasa, kamu pasti bisa mengambil pilihan yang terbaik.” Bu Jum diam sejenak. “Udah dulu, ya, Syah. Kamu baik-baik di sana.”
“Iya, Bu. Bu Jum juga baik-baik, ya.”
“Iya, Nduk. Assalamualaikum.”
“Wa’alaikum salam, Bu.”
Setelah telepon terputus, Aisyah menatap ponselnya. Ingin sekali ia bertemu dengan Bu Jum. Pelukan hangat wanita itu pasti mampu membuat hatinya lebih kuat saat ini.
“Ayo kita pulang, Kak.” Suara Dimas tiba-tiba terdengar.
Aisyah mengalihkan pandangannya. Dimas telah berdiri di pintu dengan mata berkaca-kaca. “Ayo kita kembali ke kampung, Kak,” ucapnya sekali lagi.
“Dimas ….”
“Aku enggak mau melihat Kak Aisyah menderita. Cukup sampai di sini Kak Bayu membuat Kak Aisyah menangis,” kata Dimas dengan wajah memelas.
“Tidak, Dim. Kita harus tetap di sini.” Aisyah menggeleng. “Mas Bayu membutuhkan Kak Aisyah.”
“Membutuhkan bagaimana, Kak?” Dimas menaikkan nada bicaranya. “Sejak hari pertama kita ada di rumah ini, Kak Bayu enggak pernah menerima Kak Aisyah. Selama ini Dimas diam saja melihat Kak Aisyah diperlakukan Kak Bayu seenak jidatnya. Tapi, apa yang dikatakan Kak Bayu tadi enggak bisa ditoleransi lagi. Dia sudah keterlaluan.”
“Apa kamu bisa menunggu sebentar lagi, Dim? Jika Kak Aisyah sudah tidak mampu bertahan, maka kita akan pergi. Untuk saat ini, Kakak mohon kita di sini dulu. Kak Aisyah masih memiliki sedikit harapan. Kakak yakin, Mas Bayu juga ingin mempertahankan Kakak.”
Dimas tidak menjawab. Ia menghambur ke pelukan Aisyah. Air matanya jatuh, melihat betapa besar keinginan Aisyah untuk bertahan meski telah tersakiti.
Setelah berhasil membujuk Dimas untuk tidak pergi, Aisyah menuju kamarnya. Begitu pintu kamar dibuka, ia melihat Bayu duduk di pinggir ranjang dengan wajah yang kusut. Ia berusaha tersenyum setelah apa yang terjadi. Ia tidak mau menunjukkan sisi lemahnya pada Bayu.
Bayu berdiri dan menghampiri Aisyah. Melihat senyuman di wajah istrinya itu, lututnya jatuh ke lantai. Ia sama sekali tidak mau kehilangan senyum Aisyah.
“Apa yang Mas Bayu lakukan?” Aisyah meraih lengan Bayu agar berdiri kembali.
“Maafkan Mas Bayu, Aisyah. Mas Bayu tidak bisa berbuat apa-apa,” ucap Bayu.
“Jika Mas Bayu ingin kumaafkan, berdiri, Mas. Aku tidak mau melihat Mas seperti ini.” Aisyah mundur dua langkah. “Lebih baik aku melihat Mas Bayu seperti dulu daripada seperti ini. Mas Bayu yang angkuh, Mas Bayu yang dingin, dan Mas yang tidak peduli dengan apa pun.”
Bayu mendongakkan wajahnya. Ia teringat pertama kali menelepon Aisyah. Saat itu ia langsung memaki-maki Aisyah dan meminta membatalkan pernikahan. Dan, setelah penikahan, berhari-hari ia berusaha menghindari wajah Aisyah. Bahkan, ia meminta Aisyah untuk mengenakan cadar agar tidak melihat wajah istrinya itu.
Namun, begitu melihat senyum Aisyah di pesta ulang tahun sahabat Pak Samudera, kegigihan Bayu untuk menghindar perlahan runtuh. Di pesta itu, ia tidak pernah melepaskan pandangannya dari wajah Aisyah. Ia bahkan merasa kesal saat Rudy berhasil membuat Aisyah tertawa lebar.
Sebenarnya, mudah saja untuk Bayu mengatakan bahwa ia tidak suka melihat Aisyah dekat dengan pria lain. Namun, ia masih ragu. Ia masih harus memastikan apakah Aisyah benar-benar sudah tidak memiliki perasaan lagi pada Rudy.
Kini keraguan itu telah hilang. Aisyah masih di dekatnya, masih berusaha bertahan untuknya. Itu lebih dari cukup untuk meyakinkan Bayu.
Bayu perlahan berdiri. Ia mendekat pada Aisyah. Tangannya meraih lengan Aisyah dengan lembut. Dengan mengucapkan basmalah, ia mendekatkan bibirnya ke kening Aisyah. “Dengan nama Allah, aku mencintaimu, Aisyah. Aku ingin kamu ada di dekatku selamanya,” ucap Bayu, memeluk erat Aisyah.
Untaian cinta Aisyah telah utuh. Meksi ada badai yang menghantam, tidak jadi masalah. Sekarang bukan hanya tangannya yang menggenggam, tapi Bayu juga menggenggam tangannya. Dengan satu kalimat yang telah diucapkan Bayu, air mata dan rasa sakit yang selama ini ditahannya tiada berarti lagi.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar