5. Manusia Paling Menjijikkan
Bu Jum mengetuk pintu
rumah Aisyah. Karena tidak mendapat respons, ketukan lembut itu berubah menjadi
gedoran yang membabi buta. “Aisyah, kamu di dalam, kan? Buka pintunya, Nduk!
Ada masalah darurat!” teriak Bu Jum tiada henti menggedor pintu.
“Sabar, Bu!” Aisyah
yang baru selesai shalat Zuhur dan belum sempat melepas mukena yang
dikenakannya segera membuka pintu.
Begitu pintu terbuka,
terlihatlah wajah panik Bu Jum. Butiran keringat yang membasahi jilbabnya
menyatakan kalau benar-benar sedang terjadi masalah darurat. “Ada apa, Bu?”
Aisyah ikut-ikutan panik.
“Cepat bersiap-siap!”
perintah Bu Jum menerobos masuk. Ia langsung membereskan rumah yang terlihat
sedikit berantakan. Letak kursi yang miring ia luruskan. Buku-buku Dimas yang
ada di lemari kecil di sudut ruangan itu ia rapikan. Bu Jum melakukan semuanya
dengan buru-buru. Bahkan untuk menenangkan napasnya yang tidak beraturan, ia
sama sekali tidak punya waktu.
“Memangnya ada apa,
Bu?” tanya Aisyah, masih bingung dengan apa yang terjadi.
“Pak Samudera dan
anaknya akan datang ke sini. Mereka akan sampai kira-kira dua jam lagi.” Mata
Bu Jum menatap gadis di depannya dari ujung kaki hingga ke puncak kepala yang
tertutupi mukena. Ia kemudian menggeleng. “Tidak. Kamu tidak bisa menemui
mereka dengan penampilan seperti ini. Cepat siap-siap! Kita sudah tidak punya
banyak waktu.”
Aisyah menuju kamar
dengan Bu Jum yang memegang bahunya. Tangan Bu Jum kemudian menekan bahu Aisyah
agar gadis itu duduk di pinggir tempat tidur. “Semuanya ada di sini, kan?”
tanya Bu Jum, meraih tas kecil di atas nakas.
“Apa, Bu?”
“Alat make-up, Nduk.” Tangan Bu Jum berganti
merogoh laci setelah tidak menemukan apa-apa di dalam tas yang diambil. Namun,
ia juga tidak menemukan yang dicari di sana. “Alat make-upmu di mana,
Syah?”
“Aisyah tidak punya
alat begituan, Bu. Emang Bu Jum pernah lihat Aisyah pakai riasan? Lagian, Pak
Samudera kok buru-buru banget? Ini baru empat hari dari kedatangan Pak Samudera
kemarin, lho, Bu.”
Bu Jum mengembuskan
napas mendengar jawaban Aisyah. Tangannya diletakkan di pinggang, kemudian
menatap gadis yang masih tampak bingung di depannya sambil menggeleng. “Kita
tidak perlu memikirkan apa yang tidak perlu dipikirkan. Kamu tunggu di sini.”
Bu Jum pergi dengan langkah kaki selebar mungkin.
Saat ia tinggal
sendiri, baru Aisyah menelaah kata-kata Bu Jum. Pak Samudera dan anaknya?
Datang kemari? Untuk …. Aisyah terlonjak. Ia melepas mukena dan buru-buru
mengenakan bergo abu-abu favoritnya.
“Bu Jum ke mana, sih?”
Aisyah meremas tangannya. Kali ini, ia benar-benar sangat panik. Ia membenarkan
apa yang dikatakan Bu Jum. Tidak mungkin ia bertemu dengan calon suaminya
dengan penampilan seperti sekarang. Ia harus membuat pria itu kagum melihatnya
sehingga tidak diremehkan lagi seperti pertama kali pria itu menelepon.
“Ayo cepat!” Bu Jum
yang baru datang menarik tangan Aisyah ke depan cermin. Di tangannya yang lain,
ia menenteng sebuah tas kecil transparan. Bisa dilihat kalau di dalamnya
bersarang berbagai alat make-up yang Aisyah tidak tahu apa saja
fungsinya.
Beberapa menit
kemudian, wajah Aisyah sudah selesai dipoles dengan make-up tipis.
Ketika Bu Jum hendak mengganti jilbab yang dikenakannnya dengan pasmina motif
bunga-bunga, Aisyah menolak. Ia lebih suka memakai jilbab berwana biru peninggalan
sang ibu, lebih nyaman dan membuatnya percaya diri.
“Oh, iya. Ini make-up
siapa, Bu Jum? Kok Bu Jum ngerti pakai alat beginian?”
“Ini punyanya si Ratri,
anaknya Bu Kokom. Kamu kan tahu si Ratri hobi make-up. Ke ladang aja dia
pake make-up. Dia yang ngajarin ibu pakai semua alat ini.” Bu Jum
mengambil bulu mata palsu. “Kamu mau pake ini, tidak?”
“Tidak,” ujar Aisyah
hampir memekik.
“Kamu beneran tidak mau
pakai ini? Kalau kamu pakai bulu mata ini, kamu bisa kedip-kedip seperti orang
kelilipan, lho. Seperti si Ratri itu?” goda Bu Jum. “Lagi pula, Ibu tidak tahu
cara memasangnya, kok.”
“Aduh, Bu. Tidak baik
ngomongin orang.” Aisyah meraih cermin kecil dari dalam tas. “Biar bagaimana
pun juga, Ratri itu kembang desa kita, Bu. Semua pemuda di desa ini berebut
menjadi suaminya.”
“Alah, dianya aja yang
….” Aisyah menatap tajam Bu Jum sebelum wanita lima puluh tahunan itu selesai
mengucapkan kalimatnya.
“Make-up yang
kita pakai ini punyanya si Ratri, lho, Bu.” Aisyah tersenyum melihat penampilan
barunya. “Masa kita mau ngomongin orang yang sudah berbaik hati meminjamkan
kita alat ini?”
“Ibu juga tahu itu. Kan
Ibu yang pinjam langsung.”
Setelah selesai
bersiap-siap, Bu Jum pergi untuk mengembalikan alat rias yang mereka pinjam.
Sambil menunggu kedatangan Pak Samudera dan anaknya, Aisyah memeriksa apa yang
bisa disuguhkan nanti. Hanya ada teh, tidak ada yang lain lagi. “Apa tidak
masalah kalau cuma teh saja?” gumamnya tidak enak.
***
Aisyah bersandar ke
dinding. Kakinya terasa enggan untuk dilangkahkan keluar. “Ya, Allah! Beri aku
kekuatan,” pintanya dengan mata terpejam.
“Kak, Bu Jum minta
Kakak keluar. Pak Samudera udah datang, tuh!” Dimas mengetuk pintu kamar
Aisyah.
Bukannya Aisyah tidak
tahu kalau Pak Samudera sudah datang. Tetapi, ia yang terlalu gugup untuk
menemui siapa yang ada di luar sana. Sudah lima belas menit ia berdiam diri di
dalam kamar karena tidak kunjung berhasil mengumpulkan kekuatan untuk melangkah
keluar. Ia hanya bisa meremas tangannya seperti yang dilakukannya di saat
sedang gugup.
“Kak Aisyah, cepat!
Enggak enak sama tamunya dibuat nunggu lama.” Dimas kembali mengetuk pintu.
Aisyah mengembuskan
napas dengan keras. “Ya. Kakak akan keluar,” sahutnya kemudian.
Perlahan pintu kamar
terbuka sedikit. Kepala Aisyah yang pertama kali muncul. “Bagaimana tampang
anaknya Pak Samudera? Wajahnya tidak seram, kan?”
Saat Dimas pulang
sekolah satu jam yang lalu, Aisyah meminta adiknya itu bersama dengan Bu Jum.
Ia ingin memastikan kalau calon suaminya itu memiliki tampang tidak terlalu
menakutkan untuk ditemui. Selain itu, ia perlu mengumpulkan keberaniannya yang
mendadak hilang saat Bu Jum menerima telepon dari Pak Samudera kalau mereka
akan sampai beberapa menit lagi tadi.
Dimas memasang wajah
sedih. “Apa Kakak akan menikah dengan anaknya Pak Samudera itu?”
“Memangnya ada apa?”
tanya Aisyah dengan nyali yang semakin menciut.
“Dimas saranin Kakak
banyak-banyak bersabar dan sering-sering ngucap istigfar, ya.” Tangan Dimas
memegang tangan sang kakak, membuat jantung Aisyah berdentam kuat. Sebuah firasat
buruk menelusup ke hati Aisyah. Mungkinkah lelaki yang akan menjadi suaminya
itu memiliki tampang menakutkan, sifat yang kasar, juga tidak memiliki sopan
santun? Seperti yang ada dalam pikirannya akhir-akhir ini? Jika benar demikian,
pantas saja Pak Samudera yang harus mencarikan istri untuk anaknya itu.
Walaupun keraguan
semakin menyergap, Aisyah harus tetap menemui lelaki itu. Bagaimana pun tampang
dan sifatnya, ia sudah berkomitmen untuk menikah dengannya.
Aisyah sampai di ruang
tamu, di mana Bu Jum sedang mengobrol dengan Pak Samudera. Hal yang pertama
kali dilakukan Aisyah setelah duduk adalah melirik calon suaminya. Matanya
melebar seakan tak percaya. Sejurus kemudian, pandangan Aisyah berpindah dari
calon suaminya menuju Dimas yang sedang tersenyum lebar di sampingnya.
Masih belum bisa
percaya, Aisyah menatap lelaki di depannya berulang kali. Dari ujung rambut ke
ujung kaki, lalu kembali ke ujung rambut. Lelaki itu memiliki bola mata yang
indah berwarna coklat, alis yang tidak terlalu tebal, hidung berukuran sedang,
bibir tipis dan rambut yang klimis. Kulitnya yang putih menandakan ia
benar-benar keturunan orang kaya yang jarang terkena sengatan matahari.
Sekali lagi, Aisyah
menoleh pada Dimas. Apa yang dikatakan Dimas tadi sempat membuatnya berpikir
buruk tentang calon suaminya itu. Namun, ia menyadari satu hal. Mungkin ia
benar-benar harus banyak bersabar dan sering mengucap istigfar. Akan banyak
kaum hawa yang terpesona dengan ketampanan calon suaminya. Dengan seperti itu,
ia harus bisa mengendalikan rasa cemburunya, bukan?
Tangan Dimas menyentuh
pundak Aisyah. Wanita itu sontak komat-kamit mengucap istigfar begitu
mendapatkan kesadarannya kembali. Apa yang baru saja ia lakukan? Begitu mudah
ia terlena dengan hanya menatap lelaki itu.
“Bagaimana? Kamu
setuju, kan?” tanya Pak Samudera, menepuk pundak putranya.
“Terserah, Papa.”
Aisyah bagaikan berdiri
di pinggir pantai. Sejenak, ia terpesona dengan indahnya laut yang berwarna biru.
Namun, saat air laut menyentuh kakinya. Ia baru sadar bahwa laut itu hendak
menenggelamkannya. Membawanya ke tengah hingga ia tidak mampu bernapas lagi.
Bayu tidak menginginkan
Aisyah. Sedikit pun ia tidak menoleh pada gadis di depannya. Bola matanya
selalu berkeliaran ke berbagai arah, tapi tidak pernah tertuju ke depan, pada gadis
yang akan menjadi istrinya.
Dari air muka Bayu,
Aisyah tahu apa yang ada di dalam hati lelaki itu. Pikiran Bayu sedang melayang
entah ke mana. Tidak sedikit pun Bayu mendengarkan Pak Samudera dan Bu Jum yang
tengah seru-serunya membahas pernikahan.
Sia-sia semua yang
dilakukan Aisyah. Untuk pertama kalinya ia mengenakan make-up seperti
saat ini. Namun, hasilnya nihil. Lelaki yang akan menjadi suaminya tidak
melihat itu semua. Lelaki itu lebih tertarik menekuni meja daripada Aisyah.
Aisyah merasakan hatinya merintih kesakitan. Ia merasa hina sebagai seorang perempuan. Hanya ia yang menginginkan pernikahan ini, sedangkan lelaki itu tidak sama sekali. Bahkan, untuk menatap wajah Aisyah, lelaki itu seolah merasa jijik.
“Bagaimana kalau
pernikahan kita laksanakan satu minggu lagi?” Semangat Pak Samudera tidak
mengendur meski Bayu malah sebaliknya. “Bayu, kamu setuju, kan?”
“Terserah, Papa.”
Ah, alangkah bencinya
Aisyah mendengar jawaban itu. Ingin sekali ia mengambil palu dan memukul kepala
lelaki itu sambil berteriak, “Kalau kamu
tidak suka, batalkan saja!” Aisyah lebih suka jika lelaki itu berkata jujur
sekarang daripada bersikap pasif seperti ini.
***
Di malam hari, Aisyah
rebah di atas tempat tidur. Pikirannya melayang pada kedatangan Pak Samudera dan
Bayu. Sikap anak Pak Samudera, Bayu Andra Samudera, sungguh menjengkelkan.
Lelaki itu sangat pengecut dan tidak dewasa sama sekali. Sangat berbeda dengan
lelaki yang dinanti oleh Aisyah selama ini. Tetapi, bukankah lelaki itu sama
pengecutnya dengan tidak memberi kabar dan kepastian padanya?
Saat Aisyah mulai
memejamkan mata, ponsel di atas nakas berbunyi. Ia bangkit dan meraihnya. Detak
jantungnya sontak berpacu begitu melihat nama Bayu di layar ponsel.
“Ada apa denganmu?”
tanya suara di ujung ponsel. “Kenapa kamu tidak bilang apa-apa tadi?
Aisyah mengelus dada
karena sikap ketus lelaki yang meneleponnya. “Memangnya, apa yang harus aku
katakan? Bukankah tadi siang kamu juga diam saja seperti perawan pingitan?”
“Dasar tidak tahu diri!
Kamu gadis munafik! Bukankah kamu sudah setuju untuk membatalkan pernikahan
ini? Tapi kenapa kamu tidak mengatakan apa-apa? Itu tidak sesuai dengan apa
yang sudah kamu janjikan. Apa kamu sudah lupa, hah?”
Aisyah diam. Benar. Ia
sudah setuju untuk membatalkan pernikahan mereka. Namun, ia yang salah dengan
kembali berubah pikiran. Jadi, tidak masalah baginya jika Bayu mengomel seperti
emak-emak kehilangan panci padanya.
“Kenapa kamu diam? Kamu
tahu apa yang aku katakan benar, iya, kan? Dasar tidak tahu diri! Lepas saja
jilbabmu kalau kamu hanya menggunakannya sebagai topeng!”
Aisyah tidak tahan. Ia
menekan tombol merah dan melempar ponselnya ke atas kasur. Tubuhnya roboh,
bersandar pada dinding. Aisyah tidak peduli pada ponsel yang kembali berdering.
Ia terlalu sakit untuk menerima telepon itu lagi. Bahkan, untuk menyeka air
matanya yang mengucur deras, ia sudah tidak sanggup.
“Bapak,” panggil Aisyah
dengan suara tertahan. Kedua kakinya dipeluk dengan erat. Dagunya bertumpu pada
kedua lutut. Ia tampak menyedihkan di antara malam yang bergulir dengan ribuan
bintang.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar