Novel, Short Story, and anymore from Sahrial Pratama

Untaian Cinta Aisyah (Part 17. Kenangan Memilukan)

17. Kenangan Memilukan




Gerimis turun membasahi bumi ketika Bu Renata pulang dari arisan. Sialnya, mobil yang dikirim Pak Samudera untuk menjemput, mogok di jalan yang sepi.

“Kenapa bisa mogok, Pak?” tanya Bu Renata pada Pak Slamet.

“Biar saya periksa dulu, Bu.” Pak Slamet buru-buru keluar. Ia membuka kap mobil untuk memeriksa mesin mobil apa ada masalah.

Bu Renata yang mulai gelisah, mengeluarkan ponsel dari dalam saku. Ia membaca pesan singkat dari Bayu, putranya satu-satunya. Ada sepuluh pesan berbunyi sama, yaitu menanyakan Bu Renata sudah sampai di mana. Pasti Bayu khawatir sms-nya tidak balas, pikir Bu Renata, mengaktifkan dering ponselnya.

“Met, mobilnya kenapa?” Bu Renata menjulurkan kepala lewat jendala.

“Bentar lagi, Bu,” sahut Pak Slamet sambil mengotak-atik mesin.

Bu Renata kembali menyandarkan punggungnya sembari menekan tombol hijau di ponsel. “Bayu, Papa sudah pulang?” tanya Bu Renata setelah telepon tersambung.

“Sudah, Ma. Sekarang lagi ada di ruang kerja,” jawab Bayu diujung ponsel. “Mama kok belum sampai, sih? Ini sudah malam banget, lho, Ma. Apa Pak Slamet belum datang?”

“Mama lagi di jalan, kok. Ini mobilnya mogok, makanya Mama belum sampai.” Bu Renata melirik jam tangannya. “Mungkin setengah jam lagi Mama akan sampai.”

Percakapan Bu Renata dan Bayu berakhir tepat ketika Pak Slamet menutup kap mobil. Berpikir Pak Slamet akan segera kembali masuk, Bu Renata memejamkan mata. Namun, lima menit berselang, ia tidak kunjung mendengar suara pintu mobil dibuka.

Merasa aneh, Bu Renata membuka mata. Ia kemudian memutuskan keluar setelah tidak melihat Pak Slamet ada di sekeliling mobil. “Slamet?” panggilnya, keluar dari mobil tanpa peduli hujan yang membasahi tubuhnya.

“Pak Slamet lagi tidur, Bu.” Seorang pria muncul dari depan mobil, bersama dengan rekannya. Dilihat dari penampilan mereka, insting Bu Renata langsung menyadari ia dalam bahaya.

“Apa yang kalian lakukan pada Slamet?” bentak Bu Renata. Ia berusaha menyembunyikan ketakutan yang menyergap. “Cepat pergi dari sini! Atau kutelepon polisi.”

Pria berkumis tebal tertawa mendengar ancaman Bu Renata. Tangannya sibuk memeriksa isi dompet yang dikenali Bu Renata adalah dompet Pak Slamet. “Apa lo enggak ngasih gaji yang cukup untuk sopir ini? Mana mungkin sopir orang kaya cuma punya uang dua ratus ribu?”

Pria bertubuh kurus yang sedang memainkan ponsel milik Pak Slamet mendekat pada Bu Renata. “Kami tidak melarang untuk menelepon polisi. Tapi, sebelum itu serahkan dulu semua barang berhargamu.”

Bu Renata menelan ludahnya. Ia menimbang sejenak mana yang lebih berharga, nyawanya atau apa yang pada dirinya. “Kalian boleh mengambil semuanya.” Bu Renata melempar tas, gelang, kalung dan ponselnya. “Sekarang, biarkan kami pergi.”

Kedua pria menakutkan itu memungut semua yang dilempar Bu Renata sambil tertawa puas. “Pilihan yang bijak,” ucap pria berkumis tebal.

“Ada satu lagi, tuh.” Pria bertubuh kurus menatap cincin yang melingkar di jari manis Bu Renata. “Cincin itu sepertinya juga sangat mahal.”

“Tidak,” ujar Bu Renata panik. “Ini cincin yang sangat murah. Tolong jangan ambil yang satu ini. Cincin ini pemberian suamiku waktu dia mendapatkan gaji pertama. Ini harganya sangat murah.”

“Kami tidak peduli kalau cincin itu pemberian siapa. Kami juga tidak peduli harganya berapa. Yang penting itu bisa dijual.” Pria bertubuh kurus mengeluarkan pisau dari balik jaketnya. “Lo berikan atau ….”

“Tidak.” Bu Renata berbalik. Ia memacu kakinya. Namun, berlari dengan sepatu hak tinggi bukanlah keputusan yang tepat.

Pria bertubuh kurus dengan mudah mengejarnya. Pria itu membekap Bu Renata sembari berkata, “Cepat lepas cincinnya atau pisau ini akan merobek perutmu.”

“Tidak akan kuberikan!” Bu Renata menggenggam jarinya. Tetapi, ketika ia terus meronta, ia menyadari satu hal, pisau di tangan pria bertubuh kurus telah merobek perutnya.

“Bodoh! Kenapa kamu menusuknya?” Pria berkumis tebal menghampiri. “Kita harus cepat pergi dari sini sebelum ada orang yang lewat.”

Bu Renata merintih kesakitan ketika kedua perampok itu pergi begitu saja. Teriakannya meminta tolong diredam oleh hujan yang mulai turun. Perlahan, suara itu menghilang bersamaan dengan menutupnya kelopak mata Bu Renata.

Sementara Bu Renata meregang nyawa, Bayu terus menunggu di rumah. Ia mondar-mandir di ruang tengah. Sesekali ia melirik jam dinding. Dahinya mengerut ketika melihat jarum jam menunjukkan pukul sembilan malam. Sudah satu jam lebih sejak Bu Renata menelepon, membuat Bayu semakin tidak tenang.

“Papa tidak khawatir? Mama belum pulang, lho, Pa.” Bayu masuk ke ruang kerja Pak Samudera.

“Bentar lagi Mama pasti pulang, kamu tenang saja, Bay. Mama kamu kan memang seperti itu. Suka lupa waktu kalau ketemu sama teman-teman arisannya.” Pak Samudera tetap fokus pada komputernya.

Bayu mendengkus kesal. Ia membanting pintu saat keluar. “Kalau terjadi sesuatu pada Mama, Bayu tidak akan pernah maafin papa,” ujar Bayu.

Karena tidak tenang, Bayu pergi mencari Bu Renata. Di tengah perjalanan, ia melihat sebuah mobil terparkir di pinggir jalan. Bola matanya sontak melebar ketika ia mengenali mobil itu.

“Pak Slamet?” Bayu mengernyit, melihat sosok pria terbaring di depan mobil. Bayu tidak menghampirinya, ia mengamati sekeliling untuk mencari mamanya.

Bayu mengusap wajahnya karena hujan yang turun dengan deras sedikit menghalangi pandangan. Ia lantas berlari ketika melihat sosok lain tergeletak tidak jauh dari mobil. Sebelum ia sampai, air matanya mengalir lebih dulu. “Tidak mungkin,” ujarnya, menggeleng.

“Ma! Mama kenapa?” Bayu berusaha membangunkan Bu Renata. Diguncangnya tubuh Bu Renata dengan keras.

“Darah?” Bayu melotot, melihat perut Bu Renata bernoda merah.

“Ma, bangun, Ma! Bayu ada di sini. Jangan tinggalin Bayu,” ucap Bayu dengan air mata berderai. Ia terus memanggil mamanya. Tetapi, yang dipanggil tidak pernah lagi membuka mata.
“Ma! Bangun, Ma!”

***

Bayu menggeram, tubuhnya bergetar hebat. Aisyah telah mengingatkannya pada satu kejadian. Kejadian yang membuat Bayu kehilangan sisi hangatnya. Yang telah menumbuhkan dinding pemisah antara dirinya, Pak Samudera dan Lisa.

Satu janji yang telah diucapkan Bayu setelah mamanya meninggal, masih ditepatinya hingga saat ini. Ia tidak akan memaafkan Pak Samudera. Tidak akan pernah.



Menurut Bayu, penyebab kematian Bu Renata adalah Pak Samudera yang tidak menjemput langsung. Pak Samudera lebih memlih untuk menyuruh Pak Slamet untuk pergi menjemput. Andai saja Pak Samudera yang menjemput langsung. Andai saja Pak Samudera tidak mengutamakan pekerjaannya. Oh, andai saja!

Bayu meraih berkas-berkas yang telah disiapkan sekretarisnya. Namun, begitu ia membuka lembar pertama, ia hanya bisa melihat darah yang merembes dari perut Bu Renata. Kenangan memilukan itu kembali muncul, membuat huruf yang tertera di atas kertas berubah menjadi tetesan darah.

Bayu menggeram. Ia memukul meja. Harus bagaimana ia sekarang? Ia sudah mengikuti cara papanya untuk melupakan semua hal yang menyakitkan. Ia melarutkan dirinya dalam pekerjaan. Sudah lama ia tidak peduli dengan dunia luar. Sahabat dan keluarga, ia hampir melupakannya.

Keyla? Bayu sendiri tidak mengerti bagaimana ia bisa dekat dengan wanita itu. Ia sama sekali tidak pernah mengulurkan tangan. Wanita itu yang selalu mendekat dan mengejarnya.

Kebersamaan Bayu dan Keyla jelas bukan cinta. Sekali saja tidak pernah terlontar kata indah itu dari mulut Bayu. Pelampiasan, kata yang sangat tepat untuk menjelaskan hubungan keduanya. Di saat marah pada takdir yang harus dijalani,  Bayu selalu bertemu dengan Keyla. Namun, berapa kali pun ia bertemu dengan Keyla, hatinya tidak pernah memperoleh kedamaian sepenuhya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

My Instagram