Setelah mendengar penjelasan Bu Jum, Aisyah pasrah.
Ternyata, ayahnya yang salah karena menyetir ketika mengantuk. Bahkan, ia
seharusnya minta maaf karena marah-marah tidak jelas kemarin.
Dua belas hari telah berlalu sejak kejadian
memilukan itu. Masih terasa sakit dan sesak, karena tidak mudah kesembuhan
diraih dengan kesedihan yang mendera begitu keras. Terlebih lagi untuk adik
Aisyah, Dimas.
Dimas yang masih duduk di bangku SMP selalu
mengurung diri di dalam kamar. Untuk makan saja, Aisyah harus mengantarkan dan
menyuapinya. Kehilangan sang ayah merupakan pukulan telak untuk anak yang
sering dimanja seperti Dimas. Kini tidak ada lagi tempatnya untuk
bermanja-manja dan menceritakan apa yang terjadi di sekolah. Pada Aisyah, itu
tidak mungkin. Kakaknya itu hanya bisa menyuruh untuk shalat, mengaji dan
belajar. Dan, itu yang selalu dihindari Dimas.
“Aisyah.” Bu Jum berdiri di pintu kamar Dimas.
Aisyah menoleh dan berhenti menyuapi Dimas. “Ada
apa, Bu?”
“Sini bentar. Ibu mau bicarakan sesuatu yang
penting.”
Aisyah meletakkan piring di samping Dimas. “Kamu
habiskan makanannya, ya,” kata Aisyah mengacak-acak rambut Dimas yang memang
sudah berantakan dari awal.
“Ada apa, Bu? Apa ada masalah?” tanyanya ketika
mereka sudah duduk di kursi rotan ruang tamu.
“Kamu masih ingat sama Pak Samudera, kan?” Bu Jum
menunggu jawaban. Setelah Aisyah mengangguk, ia kemudian berkata, “Pak Samudera
akan datang hari ini. Beliau ingin menemui kamu. Selain untuk meminta maaf,
beliau ingin membicarakan suatu hal yang sangat penting.”
“Tunggu sebentar, Bu. Sesuatu yang penting?” Dahi
Aisyah mengerut. “Dari mana Bu Jum tahu kalau Pak Samudera akan datang ke
sini?”
“Ibu memberikan nomor telepon pada sopir yang kemarin.”
Bu Jum menjawab sambil menggaruk kepalanya yang ditutupi jilbab biru tua. “Ibu
tahu kalau kamu tidak suka dengan yang Ibu lakukan, tapi ini demi kebaikanmu
dan Dimas,” lanjutnya cepat saat melihat ekspresi tidak senang di wajah Aisyah.
“Apa maksud Bu Jum?”
“Bukannya Ibu bermaksud apa-apa.” Bu Jum meraih
tangan Aisyah dan menggenggamnya. “Tapi apa kamu sudah memikirkan biaya
kehidupan kalian? Jujur, Ibu tidak akan bisa membantu kalian berdua, Nduk. Kamu
tahu sendiri, kan? Si Beni saja sudah Ibu kirim ke pakliknya yang ada di
Surabaya, karena Ibu tidak sanggup dengan biaya sekolahnya.”
Aisyah menatap langit-langit ruang tamu. Ia memang
baru memikirkan apa yang dikatakan Bu Jum. Bagaimana ia akan membiayai
kehidupannya dan Dimas? Untuk bekerja seperti Pak Tejo dulu, jelas Aisyah tidak
akan sanggup.
“Ibu berpikir, sebagai permintaan maaf, mungkin saja
mereka akan memberimu pekerjaan yang layak. Atau setidaknya, uang kompensasi.
Ibu lihat, Pak Samudera itu orang yang sangat kaya dan juga … baik.”
Aisyah meremas tangannya. Ia benci saat seperti ini.
Saat ia tak memiliki daya apa-apa untuk melawan. Apa ia harus pasrah dengan mengikuti
ke mana arus membawanya?
“Assalamualaikum!”
Aisyah dan Bu Jum menoleh ke arah pintu. Di sana
telah berdiri dua orang pria dengan penampilan yang perbedaannya terlihat sangat
kontras. Pria yang satu mengenakan setelan jas hitam, sedangkan pria yang satu
lagi hanya mengenakan kemeja coklat yang hampir pudar warnanya. Bukan saja dari
pakaian, dilihat dari wajah pun kedua pria itu bagaikan bumi dan langit. Yang
satu putih bersih, sedangkan yang satu lagi coklat kusam. Meski usia pria
bersetelan mewah itu lebih tua, tapi ia tampak lebih muda daripada pria di
sampingnya yang sebenarnya lebih muda darinya.
“Pak Samudera, Pak Slamet, silakan masuk, Pak.” Bu
Jum berdiri dari kursi rotan di mana ia duduk. Aisyah pun menyusul berdiri.
Pak Samudera tersenyum, lalu duduk di kursi yang
sama dengan Pak Slamet. Agar tamunya tidak melihat wajah masamnya, Aisyah
bergegas ke dapur untuk mengambil minum. Ia membiarkan Bu Jum yang meladeni
tamu mereka itu.
Lebih dari lima belas menit Aisyah berada di dapur.
Enggan rasanya ia keluar lagi untuk menemui tamu yang tidak diharapkannya.
Tanpa disadari, ia meremas tangannya hingga ia sendiri merasa sakit.
“Aku harus kuat dan menemui mereka,” perintah Aisyah
pada dirinya sendiri.
Ketika ia sampai di ruang tamu, jantungnya berdetak
kencang melihat ekspresi bingung dan gugup Bu Jum. Pasti ada sesuatu yang
dikatakan dua pria di depannya. Yang jelas, apa yang dikatakan pria itu pasti
tidak menyenangkan untuk didengar.
Karena terlalu fokus membaca ekspresi Bu Jum, Aisyah
menyenggol kursi hingga teh yang dibawa nyaris terjatuh jika Pak Samudera tidak
segera menahannya. Setelah ia mampu menguasai dirinya kembali, Aisyah
meletakkan teh di atas meja. Matanya terpejam untuk meredam getaran tangannya.
“Duduk, Nduk,” kata Bu Jum saat melihat Aisyah
hendak berbalik menuju dapur. “Pak Samudera ingin mengatakan sesuatu.”
“Apa tidak bisa Bu Jum saja yang membicarakannya?”
“Tidak bisa,” sahut Bu Jum cepat. Saat pandangannya tertuju
pada Pak Samudera, ia lanjut berkata, “Ibu tidak bisa memutuskan sesuatu hal
yang berkaitan denganmu. Kamu sudah dewasa. Dan, kamu yang harus memutuskan
ini, Nduk.”
Dengan berat hati, Aisyah duduk di samping Bu Jum.
Ia memangku nampan, lalu kembali meremas tangannya. Tidak ia pungkiri, ia
sangat gugup berhadapan dengan Pak Samudera. Ia juga tak tahu penyebabnya
hingga seperti itu.
“Langsung saja.” Pak Samudera berbicara dengan suara
berwibawa yang tidak disadari Aisyah sebelumnya. “Saya tidak akan berbasa-basi.
Kedatangan kami kemari, selain untuk meminta maaf, kami juga membawa sebuah
lamaran.”
Bola mata Aisyah melebar. Ia mengerjap, lalu menatap
Bu Jum. Apa ia tidak salah dengar? Lamaran? Apa pria beruban di depannya
berniat untuk menjadikannya isri? Jelas Aisyah akan menolak. Ia masih belum
sepasrah itu untuk menjadi istri seorang pria yang seharusnya menjadi ayahnya.
“Tunggu dulu. Jangan berpikir kalau lamaran ini
untuk saya.” Pak Samudera menepis pikiran aneh yang ada dalam benak Aisyah.
“Jadi?” Spontan Aisyah meminta penjelasan.
“Ini untuk anak saya. Namanya, Bayu Andra Samudera,”
ucap Pak Samudera tersenyum, seakan tahu apa yang sempat menyusup ke pikiran gadis
di depannya.
Pembicaraan terus berlanjut. Namun, Aisyah lebih
banyak diam. Semua perkataan Pak Samudera lebih banyak direspons oleh Bu Jum.
Bagaimana kebiasaan Aisyah, sekolah Aisyah dan juga hal lainnya. Semua dijawab
oleh Bu Jum dengan mudah. Lagi pula, Bu Jum sudah dianggap ibu oleh Aisyah. Wanita
lima puluh tahunan itu sudah banyak membantu Aisyah dan sangat dekat dengan
keluarganya.
“Apa kamu setuju, Nak?”
Aisyah terpaku. Pertanyaan terakhir yang dilontarkan
Pak Samudera bagaikan bom es yang membekukan setiap sel darahnya. Apa yang
harus ia jawab sekarang? Menikah dengan pria yang tidak ia kenal, apa itu
mungkin? Seandainya ia setuju, apa lelaki yang akan dinikahkan dengannya itu
akan menerima wanita seperti dia? Wanita kampung yang tidak mengetahui gaya fashion
terbaru.
“Ini sesuatu yang sangat penting dalam hidupnya.
Jadi, mungkin dia butuh waktu untuk memikirkannya, Pak.” Bu Jum menggantikan
Aisyah untuk menjawab.
Aisyah masih terpaku dan tidak memberi respons
apa-apa. Hingga Pak Samudera dan Pak Slamet berpamitan, Aisyah tetap saja
mematung dengan dua kata yang menggelayut dalam kepalanya. Ia tak bisa
memutuskan antara ya atau tidak.
“Bagaimana?” Aisyah tersentak saat tangan Bu Jum
menyentuh pundaknya.
“Apa, Bu? Mereka sudah pulang?” Kepala Aisyah
mendongak, menatap pintu yang terbuka.
“Sudah.”
“Kamu harus memikirkan apa yang dikatakan Pak
Samudera, Nduk. Pikirkan dengan matang,” ujar Bu Jum antusias.
Aisyah meremas tangannya. “Apa yang harus Aisyah
pikirkan, Bu? Aisyah tidak akan memikirkan apa-apa karena ini semua tidak masuk
akal. Bagaimana bisa Pak Samudera meminta Aisyah menjadi istri anaknya? Dia
saja belum kenal Aisyah. Apa dia pikir, Aisyah akan mau begitu saja?”
“Syah, tidak baik bersikap suuzan seperti itu.
Mungkin saja Pak Samudera memang menginginkan wanita yang menjadi istrinya itu
adalah wanita salihah seperti kamu.”
“Wanita salihah apaan, Bu?” Aisyah memutar bola
matanya. “Wanita kampung, iya.”
“Ibu berkata serius. Coba pikirkan. Dengan menjadi
istri dari anak Pak Samudera, kamu bisa memperbaiki kehidupan kalian. Kamu bisa
memberikan pendidikan yang lebih baik untuk Dimas. Kamu bisa membantu adikmu
menjadi orang yang sukses,” kata Bu Jum berapi-api.
“Bukankah ini sama saja dengan aku mengincar harta
mereka, Bu?”
“Tentu saja tidak.” Bu Jum menarik napas panjang. Ia
tidak tega melihat Aisyah semakin murung dengan ucapannya. “Ibu pergi dulu,
Nduk. Pikirkan lamaran Pak Samudera dengan baik,” ucap Bu Jum, lalu pergi.
Aisyah menghela napas. Ia dilema. Jika ia menjawab ya untuk lamaran itu, bagaimana nasib
lelaki yang ia tunggu kedatangannya? Apa ia harus pasrah dan melepas lelaki
tanpa kabar itu sekarang? Tidak. Ia belum sanggup melupakan lelaki yang telah
mengikrarkan janji untuknya.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar