Novel, Short Story, and anymore from Sahrial Pratama

Untaian Cinta Aisyah (Part 2. Lamaran yang Mengejutkan)

2. Lamaran yang Mengejutkan



Setelah mendengar penjelasan Bu Jum, Aisyah pasrah. Ternyata, ayahnya yang salah karena menyetir ketika mengantuk. Bahkan, ia seharusnya minta maaf karena marah-marah tidak jelas kemarin.

Dua belas hari telah berlalu sejak kejadian memilukan itu. Masih terasa sakit dan sesak, karena tidak mudah kesembuhan diraih dengan kesedihan yang mendera begitu keras. Terlebih lagi untuk adik Aisyah, Dimas.

Dimas yang masih duduk di bangku SMP selalu mengurung diri di dalam kamar. Untuk makan saja, Aisyah harus mengantarkan dan menyuapinya. Kehilangan sang ayah merupakan pukulan telak untuk anak yang sering dimanja seperti Dimas. Kini tidak ada lagi tempatnya untuk bermanja-manja dan menceritakan apa yang terjadi di sekolah. Pada Aisyah, itu tidak mungkin. Kakaknya itu hanya bisa menyuruh untuk shalat, mengaji dan belajar. Dan, itu yang selalu dihindari Dimas.

“Aisyah.” Bu Jum berdiri di pintu kamar Dimas.

Aisyah menoleh dan berhenti menyuapi Dimas. “Ada apa, Bu?”

“Sini bentar. Ibu mau bicarakan sesuatu yang penting.”

Aisyah meletakkan piring di samping Dimas. “Kamu habiskan makanannya, ya,” kata Aisyah mengacak-acak rambut Dimas yang memang sudah berantakan dari awal.

“Ada apa, Bu? Apa ada masalah?” tanyanya ketika mereka sudah duduk di kursi rotan ruang tamu.

“Kamu masih ingat sama Pak Samudera, kan?” Bu Jum menunggu jawaban. Setelah Aisyah mengangguk, ia kemudian berkata, “Pak Samudera akan datang hari ini. Beliau ingin menemui kamu. Selain untuk meminta maaf, beliau ingin membicarakan suatu hal yang sangat penting.”

“Tunggu sebentar, Bu. Sesuatu yang penting?” Dahi Aisyah mengerut. “Dari mana Bu Jum tahu kalau Pak Samudera akan datang ke sini?”

“Ibu memberikan nomor telepon pada sopir yang kemarin.” Bu Jum menjawab sambil menggaruk kepalanya yang ditutupi jilbab biru tua. “Ibu tahu kalau kamu tidak suka dengan yang Ibu lakukan, tapi ini demi kebaikanmu dan Dimas,” lanjutnya cepat saat melihat ekspresi tidak senang di wajah Aisyah.

“Apa maksud Bu Jum?”

“Bukannya Ibu bermaksud apa-apa.” Bu Jum meraih tangan Aisyah dan menggenggamnya. “Tapi apa kamu sudah memikirkan biaya kehidupan kalian? Jujur, Ibu tidak akan bisa membantu kalian berdua, Nduk. Kamu tahu sendiri, kan? Si Beni saja sudah Ibu kirim ke pakliknya yang ada di Surabaya, karena Ibu tidak sanggup dengan biaya sekolahnya.”

Aisyah menatap langit-langit ruang tamu. Ia memang baru memikirkan apa yang dikatakan Bu Jum. Bagaimana ia akan membiayai kehidupannya dan Dimas? Untuk bekerja seperti Pak Tejo dulu, jelas Aisyah tidak akan sanggup.

“Ibu berpikir, sebagai permintaan maaf, mungkin saja mereka akan memberimu pekerjaan yang layak. Atau setidaknya, uang kompensasi. Ibu lihat, Pak Samudera itu orang yang sangat kaya dan juga … baik.”

Aisyah meremas tangannya. Ia benci saat seperti ini. Saat ia tak memiliki daya apa-apa untuk melawan. Apa ia harus pasrah dengan mengikuti ke mana arus membawanya?

 “Assalamualaikum!”

Aisyah dan Bu Jum menoleh ke arah pintu. Di sana telah berdiri dua orang pria dengan penampilan yang perbedaannya terlihat sangat kontras. Pria yang satu mengenakan setelan jas hitam, sedangkan pria yang satu lagi hanya mengenakan kemeja coklat yang hampir pudar warnanya. Bukan saja dari pakaian, dilihat dari wajah pun kedua pria itu bagaikan bumi dan langit. Yang satu putih bersih, sedangkan yang satu lagi coklat kusam. Meski usia pria bersetelan mewah itu lebih tua, tapi ia tampak lebih muda daripada pria di sampingnya yang sebenarnya lebih muda darinya.

“Pak Samudera, Pak Slamet, silakan masuk, Pak.” Bu Jum berdiri dari kursi rotan di mana ia duduk. Aisyah pun menyusul berdiri.

Pak Samudera tersenyum, lalu duduk di kursi yang sama dengan Pak Slamet. Agar tamunya tidak melihat wajah masamnya, Aisyah bergegas ke dapur untuk mengambil minum. Ia membiarkan Bu Jum yang meladeni tamu mereka itu.

Lebih dari lima belas menit Aisyah berada di dapur. Enggan rasanya ia keluar lagi untuk menemui tamu yang tidak diharapkannya. Tanpa disadari, ia meremas tangannya hingga ia sendiri merasa sakit.

“Aku harus kuat dan menemui mereka,” perintah Aisyah pada dirinya sendiri.

Ketika ia sampai di ruang tamu, jantungnya berdetak kencang melihat ekspresi bingung dan gugup Bu Jum. Pasti ada sesuatu yang dikatakan dua pria di depannya. Yang jelas, apa yang dikatakan pria itu pasti tidak menyenangkan untuk didengar.

Karena terlalu fokus membaca ekspresi Bu Jum, Aisyah menyenggol kursi hingga teh yang dibawa nyaris terjatuh jika Pak Samudera tidak segera menahannya. Setelah ia mampu menguasai dirinya kembali, Aisyah meletakkan teh di atas meja. Matanya terpejam untuk meredam getaran tangannya.

“Duduk, Nduk,” kata Bu Jum saat melihat Aisyah hendak berbalik menuju dapur. “Pak Samudera ingin mengatakan sesuatu.”

“Apa tidak bisa Bu Jum saja yang membicarakannya?”

“Tidak bisa,” sahut Bu Jum cepat. Saat pandangannya tertuju pada Pak Samudera, ia lanjut berkata, “Ibu tidak bisa memutuskan sesuatu hal yang berkaitan denganmu. Kamu sudah dewasa. Dan, kamu yang harus memutuskan ini, Nduk.”

Dengan berat hati, Aisyah duduk di samping Bu Jum. Ia memangku nampan, lalu kembali meremas tangannya. Tidak ia pungkiri, ia sangat gugup berhadapan dengan Pak Samudera. Ia juga tak tahu penyebabnya hingga seperti itu.

“Langsung saja.” Pak Samudera berbicara dengan suara berwibawa yang tidak disadari Aisyah sebelumnya. “Saya tidak akan berbasa-basi. Kedatangan kami kemari, selain untuk meminta maaf, kami juga membawa sebuah lamaran.”

Bola mata Aisyah melebar. Ia mengerjap, lalu menatap Bu Jum. Apa ia tidak salah dengar? Lamaran? Apa pria beruban di depannya berniat untuk menjadikannya isri? Jelas Aisyah akan menolak. Ia masih belum sepasrah itu untuk menjadi istri seorang pria yang seharusnya menjadi ayahnya.

“Tunggu dulu. Jangan berpikir kalau lamaran ini untuk saya.” Pak Samudera menepis pikiran aneh yang ada dalam benak Aisyah.

“Jadi?” Spontan Aisyah meminta penjelasan.

“Ini untuk anak saya. Namanya, Bayu Andra Samudera,” ucap Pak Samudera tersenyum, seakan tahu apa yang sempat menyusup ke pikiran gadis di depannya.

Pembicaraan terus berlanjut. Namun, Aisyah lebih banyak diam. Semua perkataan Pak Samudera lebih banyak direspons oleh Bu Jum. Bagaimana kebiasaan Aisyah, sekolah Aisyah dan juga hal lainnya. Semua dijawab oleh Bu Jum dengan mudah. Lagi pula, Bu Jum sudah dianggap ibu oleh Aisyah. Wanita lima puluh tahunan itu sudah banyak membantu Aisyah dan sangat dekat dengan keluarganya.

“Apa kamu setuju, Nak?”

Aisyah terpaku. Pertanyaan terakhir yang dilontarkan Pak Samudera bagaikan bom es yang membekukan setiap sel darahnya. Apa yang harus ia jawab sekarang? Menikah dengan pria yang tidak ia kenal, apa itu mungkin? Seandainya ia setuju, apa lelaki yang akan dinikahkan dengannya itu akan menerima wanita seperti dia? Wanita kampung yang tidak mengetahui gaya fashion terbaru.

“Ini sesuatu yang sangat penting dalam hidupnya. Jadi, mungkin dia butuh waktu untuk memikirkannya, Pak.” Bu Jum menggantikan Aisyah untuk menjawab.

Aisyah masih terpaku dan tidak memberi respons apa-apa. Hingga Pak Samudera dan Pak Slamet berpamitan, Aisyah tetap saja mematung dengan dua kata yang menggelayut dalam kepalanya. Ia tak bisa memutuskan antara ya atau tidak.

“Bagaimana?” Aisyah tersentak saat tangan Bu Jum menyentuh pundaknya.

“Apa, Bu? Mereka sudah pulang?” Kepala Aisyah mendongak, menatap pintu yang terbuka.

“Sudah.”

“Kamu harus memikirkan apa yang dikatakan Pak Samudera, Nduk. Pikirkan dengan matang,” ujar Bu Jum antusias.

Aisyah meremas tangannya. “Apa yang harus Aisyah pikirkan, Bu? Aisyah tidak akan memikirkan apa-apa karena ini semua tidak masuk akal. Bagaimana bisa Pak Samudera meminta Aisyah menjadi istri anaknya? Dia saja belum kenal Aisyah. Apa dia pikir, Aisyah akan mau begitu saja?”

“Syah, tidak baik bersikap suuzan seperti itu. Mungkin saja Pak Samudera memang menginginkan wanita yang menjadi istrinya itu adalah wanita salihah seperti kamu.”

“Wanita salihah apaan, Bu?” Aisyah memutar bola matanya. “Wanita kampung, iya.”

“Ibu berkata serius. Coba pikirkan. Dengan menjadi istri dari anak Pak Samudera, kamu bisa memperbaiki kehidupan kalian. Kamu bisa memberikan pendidikan yang lebih baik untuk Dimas. Kamu bisa membantu adikmu menjadi orang yang sukses,” kata Bu Jum berapi-api.

“Bukankah ini sama saja dengan aku mengincar harta mereka, Bu?”

“Tentu saja tidak.” Bu Jum menarik napas panjang. Ia tidak tega melihat Aisyah semakin murung dengan ucapannya. “Ibu pergi dulu, Nduk. Pikirkan lamaran Pak Samudera dengan baik,” ucap Bu Jum, lalu pergi.



Aisyah menghela napas. Ia dilema. Jika ia menjawab ya untuk lamaran itu, bagaimana nasib lelaki yang ia tunggu kedatangannya? Apa ia harus pasrah dan melepas lelaki tanpa kabar itu sekarang? Tidak. Ia belum sanggup melupakan lelaki yang telah mengikrarkan janji untuknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

My Instagram