Novel, Short Story, and anymore from Sahrial Pratama

Untaian Cinta Aisyah (Part 22. Tidak Semudah Itu)

22. Tidak Semudah Itu


Aisyah duduk dengan dahi berkerut. Ia memindai ekspresi wajah di sekelilingnya. Perlahan, tangannya terulur untuk mengambil roti. Tetapi, ketika mendengar cekikikan, ia langsung menarik tangannya kembali.

“Kenapa tidak jadi ngambil roti, Syah?” tanya Pak Samudera.

“Ambil aja, Kak. Enggak usah malu.” Lisa mengambil dua lembar roti dan meletakkannya di piring Aisyah. “Nanti enggak punya tenaga buat ngurus suaminya, lho.”

Aisyah terbatuk. Hari ini ia pasti habis-habisan digoda oleh Lisa. Sebenarnya tidak masalah. Akan tetapi, kalau di depan Pak Samudera, Aisyah tidak bisa mencubit Lisa seperti biasa.

Pak Samudera tersenyum. Ia sangat bahagia melihat beban di wajah Aisyah mulai hilang. Dari awal, Pak Samudera yakin kalau Aisyah mampu menaklukkan Bayu. Dan, itu terbukti berhasil. Bayu telah membuka hatinya. Walaupun belum sepenuhnya, tapi Pak Samudera yakin Aisyah akan membuat Bayu tersenyum.

Kehangatan yang hilang mulai kembali. Dinding pemisah yang selama ini menghalangi perlahan runtuh. Tidak ada lagi terdengar keluh kesah, yang ada hanya cerita bahagia.

Waktu berlalu dengan indah. Bayu telah sembuh hingga hari ini memutuskan untuk kembali bekerja. Terlalu lama istirahat membuat tubuhnya terasa kaku dan malah bertambah sakit. Karena itu, meski tidak ada yang setuju, Bayu tetap bersikukuh untuk ke kantor.

“Mas Bayu benar sudah bisa ke kantor?” tanya Aisyah ketika Bayu hendak mandi.

“Iya. Tenang saja. Aku sudah kuat. Lagi pula, di rumah terus membuatku bosan.” Bayu masuk ke kamar mandi, tapi beberapa detik berselang ia keluar lagi. “Tolong siapkan pakaianku ke kantor. Kamu bisa, kan?”

Tangan Aisyah yang sedang merapikan tempat tidur mendadak berhenti bergerak. Apa yang dikatakan Bayu mengingatkannya pada hari pertama Aisyah sebagai seorang istri. Bayu marah besar karena telah lancang pakaian yang ada dalam lemari. Akan tetapi, buah kesabaran itu memang manis. Aisyah sampai tidak bisa menahan senyumannya saat menjawab, “Aku akan menyiapkannya, Mas.”

Pagi yang menyenangkan tanpa ada yang mengomel. Sarapan pun terasa nikmat tanpa wajah berkerut di meja makan.

“Lisa, kalau kamu sudah selesai sarapan, ke ruang kerja Kakak bentar, ya. Ada yang mau Kakak diskusikan,” kata Bayu, berdiri dari kursi. Ia lalu pergi ke ruang kerjanya untuk menyiapkan berkas-berkas yang akan dibawa ke kantor.

“Kak Bayu mau ngomong apaan? Enggak biasanya ngajak Lisa ngomong. Pake kata diskusi lagi,” tanya Lisa pada Aisyah.

“Kak Aisyah tidak tahu. Mas Bayu tidak mengatakan apa-apa tadi pagi.”

Jawaban Aisyah membuat Lisa penasaran. Meski sarapannya belum habis, Lisa berhenti makan. Ia bergegas ke ruang kerja Bayu dengan tanda tanya besar di benaknya.

“Beneran Bayu tidak mengatakan sesuatu, Syah?” Pak Samudera yang ikut penasaran bertanya. Namun, jawaban Aisyah tetap sama. “Ulang tahun Lisa masih lama. Kalau mau buat kejutan, kenapa diskusinya sama Lisa?”

Tidak berapa lama, Lisa keluar dari ruang kerja Bayu dengan wajah semringah. Ia menatap satu per satu orang yang ada di meja makan dengan senyum lebar. Di tangannya, ia memegang kartu kredit.

“Itu kartu kredit Bayu?” tanya Pak Samudera dengan amunisi penuh untuk menceramahi Lisa. “Kenapa kamu yang pegang kartu kredit Bayu? Cepat berikan pada Aisyah.”

Lisa tetap tersenyum meski Pak Samudera mengomelinya. “Hari ini, kartu kredit Kak Bayu, Lisa yang pegang. Sebenarnya, Lisa juga nolak tadi, takut dimarahi Papa. Tapi, karena Kak Bayu bilang ini sebagai ucapan permintaan maaf, ya, terpaksa Lisa terima.”

“Ini tidak benar. Ini ….”

Lisa berdiri dari kursi. Ia mendekat pada Samudera, lalu membisikkan sesuatu. Mendengar apa yang dikatakan Lisa, Pak Samudera menggeleng, mengangguk, kemudian tersenyum. “Kalau begitu, kenapa tidak ngomong dari tadi? Papa juga akan memberikan kartu kredit Papa kalau memang begitu.”

“Wah, apa Lisa enggak salah dengar?” ujar Lisa gembira. “Hari ini Lisa bakalan puasin-puasin belanja.”

“Tidak jadi, deh,” kata Pak Samudera setelah mendengar ucapan Lisa.

“Enggak boleh plin-plan, Pa. Gimana, sih? Pokoknya Papa juga harus ngasih kartu kredit Papa.” Lisa memonyongkan bibir. “Oh ya, kamu mau dibeliin apa, Dim? Mumpung Kak Lisa punya dua kartu kredit, nih.”

“Serius, Kak? Aku mau dibeliin?” ujar Dimas antusias. Akan tetapi, ketika bertemu dengan bola mata Aisyah yang melotot padanya, antusiasme Dimas mendadak mengendur.

“Tenang aja, Dim. Kak Aisyah enggak bakalan bisa ngelarang Kakak hari ini.” Lisa tertawa puas. “Handphonemu udah jadul, kan? Nanti Kakak belikan handphone keluaran terbaru buatmu.”

Dimas tersenyum. Mendengar Lisa akan membelikannya handphone, membuatnya sangat senang. Ia tidak peduli lagi bola mata Aisyah yang seolah akan keluar menjitak kepalanya.

“Kak Aisyah harus ikut nanti. Lisa bakal pilihin baju yang bagus buat Kak Aisyah.”

“Tidak usah. Baju Kakak masih banyak.”

“Ini untuk malam spesial, Kak.”

“Malam spesial?”

“Pokoknya Kak Aisyah harus ikut,” tegas Lisa.

***

Satu bulan tidak masuk kantor, membuat pekerjaan Bayu menumpuk. Dari tadi pagi, ia tidak berhenti membuka lembar demi lembar berkas yang harus diperiksa. Bahkan, untuk istirahat makan siang pun ia hampir tidak punya waktu.

“Permisi, Pak. Saya membawa berkas-berkas yang harus Bapak tanda tangani.” Keyla masuk ke ruangan Bayu.

“Tolong minta Anjani untuk  membawakan data klien yang akan mengadakan acara di hotel kita,” kata Bayu sambil fokus menandatangani berkas yang diberikan Keyla.

Setelah Bayu mengembalikan berkas yang ditanda tanganinya, Keyla tetap berdiri di depan meja. Wanita itu memperhatikan Bayu lekat.

“Apa ada lagi yang kamu butuhkan, Key?” tanya Bayu.

“Bay, apa kamu tidak kangen aku?” ucap Keyla dengan nada yang manja. Ia meletakkan berkas di tangannya, kemudian bergerak mengitari meja. “Aku kangen kamu, lho, Bay. Satu bulan enggak ketemu, rasanya aku hampir mati.”

Bayu memejamkan mata. Suasana hatinya yang membaik mendadak berubah. Ia menelan ludahnya berkali-kali. Sentuhan tangan di wajahnya, membuat ia teringat kembali hubungannya dengan Keyla.

“Ini kantor, aku sedang bekerja.” Bayu berdiri dari kursi untuk menghindari tangan Keyla.

“Kamu kenapa, sih, Bay?” Kening Keyla berkerut. “Kita kan biasa seperti ini. Apa kamu sudah lupa? Kamu bahkan sering memelukku di ruangan ini.”

Bayu merasa sesak mendengar ucapan Keyla. Tidak. Bukan hatinya yang berpelukan dengan Keyla waktu itu. Lukanya yang memeluk Keyla, bukan hatinya.

“Aku mau mengatakan sesuatu padamu, Key.” Bayu mendekati Keyla perlahan. “Kita tidak bisa melanjutkan ini. Aku sudah menikah. Dan, sebaiknya kamu mencari laki-laki yang bisa memberikan kebahagiaan untukmu.”

Bola mata Keyla melebar. Bagaikan disambar petir di siang bolong yang cerah, Keyla sontak terdiam. Ia tidak bisa percaya dengan apa yang dikatakan Bayu. “Kamu bercanda, kan, Bay?” ucapnya, memastikan.

“Tidak, Key. Aku serius. Kita tidak bisa melanjutkan ini. Bagaimana pun aku berusaha, sepertinya aku tidak akan bisa lepas dari ….”



“Tidak. Aku tidak mau. Kamu sudah berjanji akan menceraikan istrimu itu. Setelah apa yang kulakukan selama ini, kamu akan mencampakkanku? Kamu tidak boleh seperti ini, Bay. Aku bukan bungkus jajanan di pinggir jalan. Setelah kamu menikmati isinya, kamu membuangnya. Tidak. Aku tidak seperti itu.”

“Key, tenanglah. Kita bisa bicarakan ini baik-baik. Aku menganggapmu wanita yang baik. Kamu wanita terbaik yang pernah kutemui. Tapi, sekarang ceritanya lain. Aku tidak bisa melukai Aisyah.”

Keyla tersenyum sinis. “Kamu tidak bisa melukai dia, tapi kamu dengan mudah bisa melukaiku. Itu maksudmu, Bay? Hah?”

“Bukan itu maksudku.” Bayu memijat keningnya. Seharusnya ia tidak membicarakan ini sekarang. Ia tidak sempat berpikir bagaimana reaksi Keyla setelah mendengar keputusannya.

“Kamu mencintaiku, kan, Bay? Kamu sayang aku, ‘kan? Kita sudah pacaran tiga tahun, lho. Kamu tidak mungkin membuangku, kan?” Air mata Keyla mulai jatuh.

“Iya. Aku tahu. Tapi, aku bukan yang terbaik untukmu, Key. Aku sudah punya istri.”

“Tidak. Kamu sudah berjanji untuk menceraikan istrimu dan menikahiku. Aku akan menagih janji itu. Apa pun yang kamu katakan, aku akan menagih janji itu, Bay,” tegas Keyla.

Bayu menghela napas. Sepertinya sia-sia jika ia terus melanjutkan perdebatan dengan Keyla untuk saat ini. “Sudahlah. Kamu tenangin diri dulu.” Bayu melangkah mundur, lalu pergi.

Namun, saat ia sampai di depan pintu, Keyla memanggilnya. “Kamu tidak bisa meninggalkanku, Bay. Aku sedang hamil. Aku mengandung anakmu.”

Bayu terkejut mendengar ucapan Keyla. Begitu pula dengan dua wanita yang bertepatan membuka pintu. Tas belanjaan yang ada di tangan mereka sampai lepas karena mendengarnya.

Hanya sejenak senyuman itu datang. Kini ia kembali harus terhempas badai. Bagaimana sekarang? Bayu tidak bisa lagi berpikir. Cahaya yang mulai menyala di dalam hatinya kembali redup. Kegelapan perlahan kembali menyelimuti. Ia tahu, keputusan apa pun yang diambilnya akan ada yang terluka, tapi kenapa harus seperti ini?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

My Instagram