Novel, Short Story, and anymore from Sahrial Pratama

Untaian Cinta Aisyah (Part 23. Apa Salah?)

23. Apa Salah?




Seusai belanja, Lisa membawa Aisyah ke tempat kerja Bayu. Kali ini Lisa yakin tidak akan ada kejadian saat pertama kali mereka mengunjungi kantor Bayu. Kakaknya tidak akan marah ataupun mengatakan hal yang menyakitkan.

Namun, Lisa salah. Begitu ia membuka pintu ruangan untuk memberi kejutan, ia dan Aisyah harus mendengar kabar yang menghancurkan setitik kebahagiaan yang telah diraih. Tas belanjaan lepas dari tangan mereka. Bahkan, hampir saja Aisyah jatuh jika Lisa tidak sigap memegangnya.

“Lisa salah dengar, kan, Kak?” tanya Lisa. Tangannya bergetar dan napasnya tercekat. Ia beberapa kali harus menengadahkan wajah agar air matanya tidak tumpah. “Ini tidak mungkin terjadi, ‘kan? Wanita itu cuma berhalusinasi, kan, Kak?”

Bayu tidak mampu untuk menjawab. Ia menatap Aisyah yang terpaku menatap Keyla. Mereka baru saja memulai hubungan baru. Ia baru saja membuka hati. Tetapi, dinding pemisah kembali berdiri kokoh di antara mereka.

Keyla mendekat. Ia tersenyum menatap Lisa. “Kamu adiknya Bayu, ‘kan? Sebentar lagi aku akan menjadi kakak iparmu.” Keyla mengulurkan tangan, tapi Lisa langsung menepisnya.

“Jangan pernah berkhayal ketinggian, Mak Lampir!” bentak Lisa. Ia menunjukkan sifatnya sebelum bertemu Aisyah. “Kamu tidak akan pernah menjadi istri Kak Bayu. Karena hanya Kak Aisyah, hanya Kak Aisyah yang akan menjadi istrinya. Kamu tidak akan bisa memisahkan mereka.”

Keyla tertawa. “Lisa, kita memang tidak terlalu akrab, tapi kamu jelas mengenalku. Aku bukanlah orang yang gampang menyerah, terutama untuk memperjuangkan apa yang menjadi hakku. Kamu bisa saja mengatakan apa yang ada dalam kepalamu. Tapi, sebelumnya apa kamu sudah memikirkan apa yang terjadi?”

Keyla mendekat pada Bayu. Tangannya menyentuh pundak Bayu dengan lembut. “Di saat Bayu mendapatkan masalah, dia datang padaku. Di saat Bayu tidak tahu harus menyandarkan kepalanya pada siapa, dia bersandar di dadaku. Dan di saat Bayu tidak tahu harus pulang ke mana, dia pulang ke rumahku. Lalu, kamu menyebutku pemisah antara Bayu dan Aisyah? Tidak, Lisa. Aisyah yang menjadi pemisah antara aku dan Bayu. Aisyah yang mengambil Bayu dariku setelah apa yang kulakukan. Bayu mencintaiku dan Aisyah merebut dia seenaknya.”

Air mata mengalir di pipi Aisyah. Kalimat yang diucapkan Keyla langsung menghunjam dadanya. Ia yang menjadi pemisah antara Bayu dan Keyla. Itu benar. Aisyah bahkan pernah melihat bagaimana Bayu memeluk Keyla dengan mesra. Ya, ia yang menjadi pemisah.



“Diam, Mak Lampir!” bentak Lisa. “Kak Bayu tidak pernah mencintaimu. Kak Bayu tidak pernah memiliki perasaan padamu. Dia hanya menjadikanmu pelampiasannya saja.”

“Jangan memanggilku Mak Lampir!” Keyla balas membentak. “Kalau aku memang menjadi pelampiasan Bayu, apa aku yang salah? Kalau aku hamil karena menjadi pelampiasannya, apa aku yang salah, hah?”

“Kak, katakan padanya kalau Kakak enggak akan menuruti keinginannya.” Lisa beralih pada Bayu. Ia memegang kedua tangan Bayu dengan wajah memelas. “Kak, ayo katakan.”

“Tidak, Lisa.” Aisyah menyela. Ia mendekat pada Bayu, lalu memegang lengan suaminya itu. “Kamu sudah melakukan kesalahan besar dengan menghamilinya, Mas. Dan kamu tidak boleh menambah kesalahan lagi dengan tidak mau bertanggung jawab. Nikahi dia. Dengan begitu, mungkin Allah akan mengampunimu.”

Sebelum Bayu sempat mengatakan apa-apa, Aisyah langsung berbalik. Ia berlari meninggalkan Bayu yang tetap membeku. Lisa yang mengejar sambil terus memanggil namanya tidak ia acuhkan. Ia terlalu sakit dan terlalu malu untuk menunjukkan wajahnya.

“Kak Aisyah, kenapa Kakak lari?” Lisa berhasil meraih lengan Aisyah di halaman hotel. “Kita enggak bisa biarin wanita itu seenak jidatnya. Kakak istrinya Kak Bayu. Kakak lebih berhak atas Kak Bayu.”

“Ini bukan masalah berhak atau tidak, Lis. Wanita itu mengandung anak Mas Bayu. Dia hamil. Bagaimana mungkin Kakak membiarkannya begitu saja?”

“Jadi, Kak Aisyah akan melepaskan Kak Bayu? Kakak akan menceraikan Kak Bayu?”

“Tidak. Siapa yang bilang Kakak akan cerai dengan Mas Bayu?”

“Apa Kakak mau dimadu?”

Aisyah diam. Ia menatap langit, lalu mengelap air matanya yang terus menetes. “Tidak ada pilihan lain, Lis. Jika aku ingin bertahan di samping Mas Bayu, aku harus mengambil jalan ini.”

Lisa memeluk Aisyah erat. Air matanya tumpah dengan deras. Jika Bayu akan menikah dengan Keyla dan membawa wanita itu ke rumah, entah apa yang dilakukan Lisa. Mungkin ia akan kembali seperti semula. Keluyuran tidak jelas karena tidak betah di rumah.

***

Bayu membenturkan kepalanya ke meja. Rasa sakit yang dirasakannya tidak seberapa dengan rasa sakit di dadanya. Ketika matanya tertuju pada kantong belanjaan yang ditinggalkan Lisa dan Aisyah, Bayu mencengkeram kepalanya. Seharusnya malam ini menjadi malam yang membahagiakan. Ia sudah menyusun rencana dengan matang. Bahkan, ia rela memberikan kartu kreditnya pada Lisa demi rencana malam ini.

Namun, semua sia-sia. Rencana makan malam romantis bersama Aisyah tidak akan terjadi. Baju baru Aisyah yang dibelikan Lisa tidak akan terpakai.

Bayu membuka laci meja kerjanya. Di dalam laci, ia menatap dua buah cincin yang telah ia persiapkan tadi pagi. Salah satu cincin itu akan dipasangkannya ke jari Aisyah. Dan  satu lagi ke jarinya, sebagai ganti cincin yang diambil perampok satu bulan yang lalu.

“Bayu, apa yang terjadi?” Pak Samudera menerobos masuk. “Apa yang dikatakan Lisa tidak benar, ‘kan? Kamu tidak menghamili Keyla, ‘kan?”

Bayu diam. Ia mencengkeram kepalanya. Pertanyaan yang diajukan Pak Samudera, membuat kepalanya terasa ditusuk-tusuk dengan jarum.

“Apa yang harus kulakukan, Pa?” ucap Bayu. “Aku tidak tahu kenapa ini bisa sampai terjadi.”

Pak Samudera memijat kening. “Apa yang dikatakan Aisyah? Apa Aisyah mengatakan sesuatu? Waktu Papa tanya pada Lisa respons Aisyah, dia hanya diam.”

“Aisyah memintaku untuk ….”

“Aisyah memintamu untuk menikahi Keyla?” tanya Pak Samudera yang langsung dijawab Bayu dengan sebuah anggukan. “Tidak bisa seperti ini. Bagaimana mungkin kamu menikahi Keyla, sedangkan Aisyah masih menjadi istrimu yang sah.”

Pak Samudera mendekat pada Bayu. “Papa tidak peduli keputusan apa yang akan kamu ambil. Itu terserah kamu. Tapi, satu yang akan Papa tekankan. Papa dan Lisa tidak akan memaafkanmu jika kamu berani menceraikan Aisyah.”

Pak Samudera kemudian berbalik dan pergi. Kedatangan Pak Samudera tidak membuat Bayu merasa tenang, tapi malah membuat Bayu semakin pusing.

Tiba-tiba ponsel Bayu berdering. Ia langsung mengambilnya, berharap yang menelepon itu Aisyah. Namun, yang menelepon adalah Lisa.

“Kak, keputusan ada sama Kakak,” ujar Lisa begitu telepon tersambung.

“Lisa, kamu jangan seperti ini pada Kakak. Kakak tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Kakak tidak mungkin poligami, ‘kan?”

“Kalau itu yang terbaik, Kakak harus melakukannya. Bagaimana pun juga, Kak Bayu tidak bisa membiarkan anak dalam kandungan Mak Lam … maksud Lisa, Kak Keyla begitu saja.”

Kening Bayu mengernyit. Ia merasa aneh dengan cara bicara Lisa. Dari tadi Lisa sangat marah mendengar Keyla hamil. Dan sekarang, nada bicaranya sangat tenang. Lisa tidak sendiri, di sampingnya pasti ada Aisyah, pikir Bayu.

“Apa tidak ada solusi yang bisa kamu berikan?” Dalam benak Bayu, ia sedang berbicara dengan Aisyah meski dengan perantara Lisa.

Lisa berdiam sejenak. “Salat istikharah, Kak. Dengan salat istikharah, semoga Allah akan memberikan solusi yang terbaik untuk Kak Bayu.”

Apa yang dikatakan Lisa membuat Bayu semakin yakin kalau di samping Lisa ada Aisyah. “Salat istikharah? Bagaimana caranya?” tanya Bayu kemudian.

“Umm ….” Lisa berpikir sejenak. “Kak Bayu lihat saja di internet. Pasti ada di sana, kok. Jangan manja, deh.”

Lisa menutup telepon hingga membuat Bayu tersenyum. Pasti Lisa tidak tahan bersikap tenang, batinnya.

“Terima kasih, Aisyah. Kamu sudah memberi solusi untukku,” gumam Bayu, mulai membuka laptop untuk mencari tahu apa itu salat istikharah.

Seandainya sejak awal, ia tidak bersikukuh untuk mengusir Aisyah, pasti ini semua tidak akan terjadi. Jika langsung menerima Aisyah tanpa menunggu wanita itu mengambil hatinya, ia tidak akan terjerat masalah sebesar ini. Namun, Bayu sadar semua ini adalah salahnya. Aisyah dan Keyla tidak bersalah dalam hal ini. Keduanya hanya menjadi korban dari kebodohan Bayu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

My Instagram