11. Ia Datang Ketika Hati Mulai Lupa
Aisyah sedang mengurus berkas-berkas yang diperlukan untuk Dimas masuk sekolah. Rencananya, hari ini ia akan mendaftarkan Dimas sesuai dengan apa yang dikatakan Lisa. Untunglah ada teman Lisa sehingga urusan pendaftaran Dimas menjadi lebih mudah.
“Bu, mobilnya sudah siap.” Pak Yanto mengetuk pintu.
“Terima kasih, Pak. Kami akan keluar.”
Tangan Aisyah dengan sigap memasukkan berkas-berkas yang sudah selesai disusun ke dalam tas. Dimas pun sudah rapi dengan pakaian seragam SMP-nya. Mereka siap berangkat sebelum telepon rumah tiba-tiba berdering. Aisyah buru-buru mengangkat telepon, sedangkan Dimas keluar lebih dulu.
“Halo. Assalamualaikum.”
“Kak Aisyah! Please! Tolong anterin tugasku yang semalam, dong, Kak. Kakak tahu, kan? Yang Lisa kerjakan itu.” Lisa mengerocos begitu Aisyah mengangkat telepon.
“Memangnya kamu letakkan di mana?”
“Di dalam kamar, Kak. Di atas meja rias. Cepet, ya, Kak. Bentar lagi dosennya masuk, nih.”
“Dasar! Kamu ada-ada aja. Sudah tahu tugasnya dibawa hari ini. Eh, pakai acara ditinggal,” gerutu Aisyah. “Kalau nanti Kak Aisyah kejebak macet bagaimana?”
“Enggak apa-apa, Kak. Pokoknya Kakak nyampe ke sini.”
“Baiklah.”
Aisyah menutup telepon, lalu buru-buru naik ke kamar Lisa. Tidak butuh waktu lama untuk Aisyah menemukan tugas yang dimaksud adik iparnya itu. Tetapi, bukan hanya tugas saja yang ditemukan oleh Aisyah. Ia juga menemukan tas belanjaan berisi beberapa potong jilbab. Senyuman mengembang di bibir Aisyah. Dari tas belanjaan itu, Aisyah mengetahui bahwa Lisa sudah memiliki niat yang baik, tapi mungkin gadis itu belum tahu bagaimana memulainya.
“Pak Yanto tahu di mana kampusnya Lisa?” Aisyah bertanya setelah sampai di pos satpam. Mobil yang dikirim dari kantor oleh Pak Samudera terparkir di luar, menunggu Aisyah untuk berangkat.
“Tahu, Bu.”
“Bisa Pak Yanto jelaskan ke Pak Slamet, kan?’
“Pak Slamet? Ah, kalau Pak Slamet, dia juga tahu di mana kampus Non Lisa, Bu. Sebelum punya mobil sendiri, Pak Slamet sering nganterin Non Lisa ke kampus.”
Aisyah mengangguk. “Kalau temennya Lisa yang anaknya kepala sekolah itu, apa Pak Yanto kenal?”
“Tidak, Bu.” Pak Yanto garuk kepala. “Tapi, mungkin Pak Slamet tahu. Soalnya dia sering juga nganter-jemput ke rumah temennya Non Lisa.”
“Baiklah. Terima kasih, ya, Pak.” Aisyah bergegas keluar. Ia langsung masuk ke dalam mobil di mana Dimas sudah menunggu.
“Kita pergi sekarang, Bu?”
“Iya, Pak.” Aisyah merebahkan kepalanya. “Pak Slamet tahu kampusnya Lisa, kan?”
“Kampusnya Non Lisa? Tahu, Bu. Ini kita mau daftarkan Den Dimas ke sekolah yang dibilang Non Lisa juga, kan? Nah, kampusnya itu tidak jauh dari sekolah yang mau kita datangi ini, Bu.”
Aisyah berpaling pada adiknya yang tengah fokus membaca buku. “Dim, kamu tidak apa-apa kalau Pak Slamet yang menemanimu untuk mendaftar? Soalnya Kakak mau ngasih tugasnya Lisa yang tertinggal di rumah.”
“Enggak apa-apa, Kak. Dimas juga udah bilang semalam kalau Dimas bisa sendiri yang daftar. Kata Kak Lisa kan cuma tinggal nyerahin berkasnya, doang.”
“Baiklah.” Aisyah tersenyum bangga dengan adiknya yang mulai mandiri. “Pak Yanto, kita ke kampusnya Lisa dulu, lalu Pak Yanto temani Dimas daftar sekolah, ya.”
“Siap, Bu.”
Empat puluh menit kemudian, Aisyah sudah berdiri di depan gerbang kampus Lisa. Mahasiswa keluar masuk gedung perkuliahan. Saat melewati Aisyah, banyak di antara mereka yang menatap geli. Mereka tidak terbiasa melihat wanita bercadar memasuki area kampus.
“Kak Aisyah!” Lisa berlari kecil menghampiri Aisyah. Ia langsung mengambil tugasnya dari tangan kakak iparnya itu. “Terima kasih ya, Kak. Untung ada Kak Aisyah. Kalau enggak, bisa mampus aku. Dosennya ini killer banget. Yang enggak bawa tugas bisa-bisa langsung dapet nilai D.”
“Killer?”
“Kejam, Kak.”
Aisyah mengangguk. Kemudian, pandangannya teralihkan oleh empat orang mahasiswi yang datang menuju ke arahnya. Para mahasiswi itu menatap sambil berbisik-bisik.
“Lisa, ini siapa?” tanya salah satu dari mahasiswi itu.
“Oh, ini Kak Aisyah, Rim. Kakak ipar gue, istrinya Kak Bayu.”
“Istrinya Kak Bayu?” Gadis yang bernama Rima terkejut. “Bukannya Kak Bayu pacaran dengan Kak Keyla? Kak Keyla itu kan cantik, kenapa Kak Bayu bisa putus?”
“Kalau pacaran belum tentu nikah, kan?” jawab Lisa enteng. “Buktinya, Kak Bayu pacaran sama Kak Keyla, tapi nikahnya sama Kak Aisyah. Jodoh memang enggak bisa ditebak.”
“Ini benar-benar enggak salah? Sejak kapan Kak Bayu ganti selera?”
Aisyah melotot pada Rima. “Jodoh itu bukan masalah selera, tapi masalah hati. Kalau kalian suka melihat laki-laki tampan di majalah, belum tentu kalian merasa nyaman bersamanya,” tegasnya.
Rima terdiam. Ia tidak menyangka Aisyah berani menjawab apa yang dikatakannya.
“Woi!” Seorang mahasiswa datang dan langsung merangkul Lisa. Ia mencubit pipi dan mengacak-acak rambut gadis itu dengan akrab. “Tugas lo udah datang, belum? Lo enggak mau kan dapet nilai D?”
“Lisa, siapa dia?” tanya Aisyah, menatap tajam mahasiswa yang masih melingkarkan tangan di leher Lisa. Kalau ia tidak sedang berada di keramaian, Aisyah pasti sudah menghajar mahasiswa itu habis-habisan.
“Boy, lepas.” Lisa bergerak beberapa langkah ke samping hingga mahasiswa yang bernama Boy itu tidak dapat menjangkaunya.
Ketika Boy menyadari siapa yang ada di depannya, ia langsung kikuk. “Kenapa enggak bilang ada ustazah di sini? Tahu begitu, aku enggak ngerangkul Lisa tadi. Maaf ya, Ustazah.” Boy menunjukkan deretan giginya yang rapi sambil menggaruk kepala. “Tapi, ada acara apa, nih? Kok, pakai undang ustazah segala?”
Rima dan teman-temannya tersenyum mendengar ucapan Boy, sedangkan Lisa cemberut. Ia takut Aisyah tersinggung dengan teman-temannya.
“Ini bukan ustazah, oon.” Lisa mengklarifikasi. “Ini kakak ipar gue, istrinya Kak Bayu. Namanya Kak Aisyah.”
“Kakak ipar?” Boy sama terkejutnya dengan Rima tadi. Tetapi, ia langsung berusaha mengendalikan ekspresi wajahnya. Ia kembali menggaruk kepala sambil cengengesan, lalu berkata, “Maaf, Kak. Aku enggak tahu kalau kakak itu istrinya Kak Bayu. Soalnya, Lisa enggak ngasih undangan pas nikahannya Kak Bayu, sih.”
“Oh, ya, Kak Aisyah. Ini Boy, temen Lisa yang anaknya kepala sekolah itu.”
“Bukan saja anak kepala sekolah, tapi anak pemilik sekolah,” tambah Boy, mengangkat dagu.
“Apa kamu sudah menikah dengan Lisa?” Aisyah bertanya pada Boy, membuat bola mata Lisa dan teman-temannya melebar.
“Nikah?” ujar Boy tidak percaya. “Pacaran aja belum, masa langsung nikah.”
“Kalau begitu, jangan sekali lagi menyentuh Lisa seperti tadi. Adik iparku ini bukan barang di kaki lima yang bisa disentuh seenak jidat siapa saja,” tegas Aisyah, menunjukkan sorot matanya yang paling tajam. “Kalau mau mengobrol dengannya, datanglah ke rumah dengan cara yang baik.”
Lisa menepuk dahinya sendiri. “Aduh, Kak Aisyah ngomong apa, sih? Ini bukan waktunya ceramah, Kak.”
“Tapi, Lis ….”
“Aisyah.” Seorang lelaki tiba-tiba datang menyapa. Rima dan teman-temannya langsung menepi, memberi lelaki itu jalan agar bisa lewat.
Melihat wajah lelaki yang menghampiri, Aisyah merasa bumi seolah bergetar. Matahari seakan mendekat. Dan, hujan bagaikan mengguyur. Aisyah merasa seluruh tubuhnya panas dingin. Kedua kakinya bergerak-gerak seperti ada yang menggoncang tubuhnya.
“Rudy?” ucapnya tanpa sadar.
Aisyah masih tidak percaya dengan sosok lelaki yang mendekat ke arahnya. Ia mengenali lelaki itu, tapi hatinya tidak yakin itu lelaki yang sama. Semakin dekat lelaki itu melangkah, semakin sesak pula dada Aisyah. Dan tidak ia sadari, air matanya mengalir.
Terlambat. Kenapa Rudy baru muncul sekarang? Di saat Aisyah sudah terlanjur menderita. Di saat Aisyah hampir mampu untuk melupakan. Entah perasaan Aisyah masih sama dengan beberapa bulan yang lalu. Namun, sepertinya tidak. Kondisinya tidak sama lagi, begitu pula dengan hatinya.
“Kak Aisyah? Kenapa Kakak menangis?” Lisa membawa Aisyah kembali pada kenyataan. “Kak Aisyah enggak apa-apa, kan? Atau Kakak sedang sakit? Kalau sedang sakit, ayo kita ke rumah sakit.”
“Tidak, Lis. Kakak tidak apa-apa.”
“Syukurlah.” Pandangan Lisa beralih pada Rudy yang berdiri di antara mereka. “Oh ya, Pak Rudy, ini tugas saya.”
“Tugas?” Rudy meraih lembaran kertas yang diberikan Lisa dengan pandangan masih tertuju pada Aisyah. Ia menatap sepasang bola mata yang selalu dirindukannya itu.
“Jadi, nilai D-nya dicancel kan, Pak,” kata Lisa, nyengir.
“Ya.”
“Yes,” ujar Lisa girang.
Lisa memeriksa jam tangannya. Sial. Ia harus segera pergi. Ada kuliah yang akan dimulai beberapa menit lagi. Semua kebingungan dan pertanyaan yang terbentuk di kepalanya ketika melihat kedatangan Rudy dan air mata Aisyah terpaksa harus dipendam dulu. “Kak Aisyah, Lisa masuk dulu, ya.”
Aisyah mengangguk.
Setelah Lisa pergi, Aisyah tetap bergeming dengan bola mata tertuju pada Rudy. Ia baru tersadar saat seorang mahasiswa tidak sengaja menyenggolnya. Begitu memperoleh kesadarannya kembali, ia mengucapkan istigfar sambil berbalik badan.
“Aisyah,” panggil Rudy, menghentikan langkah wanita yang berniat untuk pergi.
“Ada apa, Rud? Apa ada masalah dengan kuliah Lisa?”
“Tidak.” Dahi Rudy mengerut mendengar Aisyah menanyakan tentang kuliah Lisa. “Kenapa kamu menanyakan kuliah Lisa? Apa kamu punya hubungan dengannya?”
“Aku kakak iparnya. Jadi, kalau ada masalah dengan kuliahnya, kamu bisa bicara padaku.”
“Aku tidak ingin bicara tentang kuliah Lisa. Aku ingin bicara tentang kita.”
“Tentang kita?” Aisyah tersenyum di balik cadar. “Kita sudah berakhir sejak kamu tidak memberi kabar, Rud.”
“Aku punya alasan untuk itu.” Rudy memejamkan mata. “Aku bisa jelaskan semuanya.”
“Tidak perlu, Rud. Penjelasanmu tidak akan membawa dampak apa-apa. Semua tidak akan berubah meski kamu memberi penjelasan sampai mulutmu berbusa.” Aisyah kembali melangkah, tapi berhasil dicegat oleh Rudy.
“Ada apa sebenarnya, Aisyah? Dan, sekarang kamu memakai cadar? Aku sempat ragu waktu Lisa menyebut namamu tadi. Tapi, untunglah aku masih mengenalimu dengan cadar ini. Apakah ini benar-benar Aisyah yang kukenal?”
“Ya, aku Aisyah. Hanya saja, kondisiku tidak lagi sama.”
“Maksudnya?” Lipatan di dahi Rudy semakin bertambah. “Apanya yang tidak lagi sama? Untukku, kamu masih Aisyah yang sama. Walaupun sekarang kamu memakai cadar, kamu tetap Aisyah yang dulu.”
“Apa kamu tidak mendengar apa yang kukatakan? Aku adalah kakak ipar dari mahasiswi yang bernama Lisa. Itu berarti, aku adalah istri dari kakaknya Lisa,” tegas Aisyah agar Rudy menyudahi percakapan mereka.
“Istri?” Mata Rudy melebar. Tenggorokannya tersumbat hingga ia tidak bisa bernapas dengan normal. “Tidak mungkin,” ucapnya kemudian setelah berhasil menetralisir keterkejutannya.
“Apanya yang tidak mungkin, Rud? Ini adalah kenyataannya. Aku adalah istri dari Bayu Andra Samudera,” tegas Aisyah sekali lagi, membuat pijakan Rudy seolah terbelah dan merobohkan impiannya.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar