Aisyah duduk di bawah pohon yang menghiasi sisi kanan
halaman hotel. Air matanya bercucuran tidak bisa berhenti. Menjadi orang yang
tidak dianggap benar-benar menyakitkan. Semua yang dilakukan sia-sia karena
orang yang ingin dibuat terkesan malah sedikit pun tidak menggubris.
“Kak Aisyah, Lisa minta maaf.” Lisa menghampiri Aisyah
dengan tangan penuh kantung belanjaan. “Lisa beneran enggak tahu kalau Kak Bayu
sedang bersama wanita itu.”
Aisyah tersenyum meski ia tahu Lisa tidak dapat melihat
senyumannya. “Tidak apa-apa, Lis. Aku juga yang bodoh. Sudah sering Mas Bayu
mengatakan kalau dia tidak akan pernah menganggap keberadaanku. Dia juga tidak
akan pernah menganggapku sebagai istrinya. Tapi, tetap saja aku selalu berharap
semua akan berubah. Aku benar-benar bodoh.”
“Kalau begitu, lepas saja cadar yang Kakak pakai.” Lisa
terbawa emosi. “Kakak pakai cadar karena diminta Kak Bayu, kan? Dan Kakak
menurut saja karena dia suami Kakak. Jadi, kalau Kak Bayu enggak pernah
nganggap Kakak sebagai istrinya, Kakak
enggak punya kewajiban untuk memakai cadar itu, dong?”
“Tidak, Lis. Mas Bayu memang tidak menganggapku sebagai
istrinya, tapi itu kan cuma dia. Bagaimana dengan Allah? Sejak ijab kabul
terucap, Allah telah mencatat statusku sebagai seorang istri.” Aisyah menghela
napas. “Surga seorang istri ada pada baktinya kepada seorang suami. Meski aku
tidak dianggap, aku akan tetap melaksanakan apa yang menjadi kewajibanku. Aku
hanya berharap, Mas Bayu menjadi imam yang baik untukku.” Aisyah menengadah ke
langit, berharap doanya akan segera terkabul.
“Bagaimana kalau orang yang Kak Aisyah tunggu bukan Kak
Bayu? Maksud Lisa, bagaimana kalau Kak Bayu enggak akan pernah berubah?”
“Entahlah. Tidak masalah kalau Mas Bayu tidak mencintaiku,
Lis. Aku hanya tidak tahan melihat tangan Mas Bayu memeluk wanita tadi. Kalau
Mas Bayu memang mencintainya, kenapa Mas Bayu tidak menikah dengannya saja?
Lebih baik seperti itu daripada mereka melakukan zina seperti tadi.”
“Lisa juga enggak tahu, Kak. Tiba-tiba aja Papa minta Kak
Bayu nikah kemarin. Padahal, Papa juga tahu kalau Kak Bayu punya pacar.”
Bola mata Aisyah melebar. Mendengar pernyataan Lisa, ia
merasa telah menghancurkan kehidupan Bayu. Pak Samudera memaksa Bayu menikah
karena merencanakan sesuatu. Sudah sepantasnya Bayu kesal karena menjadi objek
dari rencana itu, bukan?
Lisa meletakkan kantung belanjaan, lalu duduk di samping
Aisyah. Ia menghela napas, mengikuti pandangan kakak iparnya itu. Mereka berdua
terlihat seperti orang tolol, menatap setiap mobil yang keluar masuk parkiran
hotel.
“Ayo kita pulang! Kenapa juga kita di sini lama-lama?”
Aisyah berdiri dan menarik tangan Lisa. Dibawanya kantung belanjaan menuju
parkiran.
Begitu masuk mobil, pikiran Aisyah langsung melayang. Entah
bagaimana nanti ia akan menghadapi Bayu. Tentu ia tidak akan marah-marah pada
suaminya itu. Ia yang akan malu sendiri jika sampai melakukannya.
Namun, ternyata semua tidak seperti perkiraan Aisyah. Ketika
malam tiba, Bayu pulang dari kantor. Sedikit pun tidak ada kata-kata yang
terucap di antara keduanya. Mereka berpapasan, berada dalam kamar yang sama.
Tetapi, pandangan mereka selalu tertuju pada arah yang berbeda.
“Kenapa kamu masih memakai cadar itu?” tanya Bayu, seusai
makan malam.
“Aku memakainya karena keinginanku.”
“Bohong.”
“Baiklah. Aku tetap memakainya karena aku tidak ingin ada
yang membuat kenangan tentang wajahku, seperti yang Mas Bayu inginkan.”
“Bagus.”
Ingin sekali Aisyah mengambil palu dan menggetok kepala lelaki
di depannya sekarang. Tampang datar Bayu membuat amarahnya menggelegak. Lelaki
itu benar-benar tidak punya perasaan, setidaknya itu yang ada di pikiran Aisyah
saat ini.
Untuk meredam amarahnya, Aisyah keluar kamar. Ia duduk di
sofa, di samping Lisa yang tengah mengerjakan tugas kuliah. Aisyah berusaha tidak
mengganggu adik iparnya dengan tetap bergeming dan mata terpejam.
“Kak Aisyah kenapa?”
“Tidak apa-apa, Lis. Kamu selesaikan tugas kuliahmu saja”
“Gimana Lisa ngerjain tugas kuliah kalau Kak Aisyah masang
tampang bete kayak gitu?”
“Dari mana kamu tahu? Aku kan pakai cadar,” kata Aisyah yang
dijawab Lisa dengan tatapan tajam. “Aku cuma kesal saja, Lis.”
“Beda ya, Kak?”
Lisa menutup laptop, kemudian menyelaraskan duduknya dengan
Aisyah. Ia menarik napas beberapa kali. Untaian kalimat yang ingin diucapkannya
seakan terhambat oleh sesuatu dalam tenggorokan.
“Ada apa? Apa kamu sudah selesai mengerjakan tugas
kuliahmu?”
“Udah, Kak. Tinggal print, doang.” Bola mata Lisa
bergerak, mengamati sudut rumah yang bisa dijangkau oleh pandangannya. “Menurut
Kak Aisyah, gimana kondisi rumah ini?”
“Hah?” Aisyah tidak mengerti dengan pertanyaan Lisa. Ia
bukan arsitek yang bisa menilai seberapa bagus desain sebuah rumah. “Menurutku,
rumah ini bagus. Besar lagi,” kekeh Aisyah.
“Bukan itu maksud Lisa.”
“Lalu?”
“Maksud Lisa, suasana rumah ini. Bukan desain interior atau
sejenisnya.” Lisa bingung untuk menyusun kalimat yang tepat. “Pertanyaannya
diganti, deh. Bagaimana perasaan Kak Aisyah tinggal di rumah ini?”
Aisyah terdiam. Beberapa detik kemudian, sebuah kata
terlintas dalam benaknya untuk menjawab pertanyaan Lisa. “Dingin.”
“Dingin?”
“Ya. Tidak ada kehangatan dalam rumah ini. Kamu, Mas Bayu,
Papa, semua seakan tinggal di dunia yang berbeda. Kamu dengan duniamu sendiri,
sedangkan Mas Bayu dan Papa juga dengan dunia mereka sendiri. Tidak ada yang
mencoba untuk memasuki dunia yang satu untuk saling memahami. Semua tali
penghubung yang ada seperti beku dan mulai terputus.”
“Apa Kak Aisyah tahu bagaimana cara memperbaikinya?”
Aisyah menggeleng. “Meski aku tahu, mungkin aku tidak akan
bisa. Semua tergantung kamu, Mas Bayu dan Papa. Orang lain tidak bisa
mencairkan hubungan ini, Lis. Hanya kalian yang bisa.”
“Apa mungkin dengan sedikit percikan api, rumah ini bisa
kembali hangat?” Lisa meraih lembar bahan tugasnya yang berserakan di atas
meja.
“Kamu memiliki pemikiran yang sama dengan Papa. Aku tahu
sekarang, Papa ingin aku menikah dengan
Mas Bayu karena ingin meruntuhkan tembok pembatas di antara kalian. Papa ingin aku menjadi penghubung antara
kalian bertiga.”
Pemikiran yang bagus. Berbicara dengan Lisa membuat Aisyah
mendapatkan sesuatu yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya. Pak Samudera
membawanya sebagai menantu ternyata memiliki tujuan yang besar.
Aisyah memperhatikan adik iparnya yang sedang membereskan
lembar bahan kuliah. Entah bagaimana ia bisa seakrab ini dengan Lisa. Hanya
gadis ini yang nyaman diajak bicara, asal tidak menyinggung cara berpakaiannya
atau hal pribadi lainnya. Sedikit demi sedikit, Aisyah mulai memahami karakter
Lisa, Pak Samudera, dan Bayu.
Lisa yang ramah, tapi tidak ingin ada yang mengaturnya. Ia
terbiasa bebas, melakukan apa yang ia suka tanpa ada yang menegur. Pak Samudera
yang kaku, tapi berusaha untuk memperbaiki sesuatu yang salah dalam
keluarganya. Ia menyadari hubungannya dengan Lisa dan Bayu tidak terlalu dekat.
Ia ingin memperbaiki itu, tapi tidak tahu bagaimana caranya. Dan orang yang
paling sedikit dipahami Aisyah adalah Bayu. Lelaki itu selalu bisa membuatnya
membeku. Setiap berpapasan, Aisyah ingin menghindar dan menjauh saja. Ia tidak
ingin berusaha memecahkan dinding es yang menutupi lelaki itu. Ia akan
mengikuti apa yang diinginkan Bayu, termasuk untuk menjauh.
Tidak butuh waktu lama untuk Aisyah tersingkir dari rumah
tempatnya bernaung saat ini. Terutama setelah apa yang ia lihat tadi siang.
Sama sekali tidak ada harapan untuknya bertahan. Ia hanya membuang-buang waktu
dan energi dengan menguntai hubungan yang tidak akan pernah menyatu. Tetapi,
sebelum ia benar-benar pergi, tidak ada salahnya untuk mencoba memperbaiki
hubungan Lisa, Pak Samudera, dan Bayu, bukan?
“Lisa.” Tiba-tiba sesuatu muncul dalam benak Aisyah. “Mama
….”
“Mama udah meninggal, Kak,” jawab Lisa dengan tenang. “Ada
yang ngerampok Mama di jalan. Perutnya ditusuk pisau.”
“Innalillahiwainnailaihirojiun.”
“Semua berawal dari meninggalnya Mama. Sejak saat itu, Papa
menyibukkan diri dengan urusan hotel. Papa jarang di rumah dan selalu pergi ke
luar kota. Kak Bayu yang dulu tidak menyukai urusan hotel, tiba-tiba
ikut-ikutan gila kerja.”
“Apa kamu ingin memperbaiki ini semua?”
“Tentu saja. Tapi bagaimana caranya, Kak? Kakak sendiri bisa
menilai bagaimana rumah ini.” Bola mata Lisa mulai memerah.
“Kamu ikuti saja apa yang kukatakan. Jika Allah berkehendak,
semua akan kembali seperti semula.”
“Semoga apa yang direncanakan Kak Aisyah berhasil.”
Saat Aisyah hampir beranjak, Pak Samudera keluar dari ruang
kerjanya membawa sesuatu di tangannya.
“Apa itu, Pa?” Lisa langsung berdiri dan mengambil apa yang
ada di tangan Pak Samudera.
“Itu undangan temen dekat Papa. Mereka mau ngerayain ulang
tahun ketujuh belas putri mereka.”
“Kita akan datang ke pesta itu?” Antusiasme Lisa melonjak
ketika mengetahui apa yang ada di tangannya adalah undangan pesta. Ia memeriksa
tanggal dan tempat acara. “Acaranya lusa dan di hotel Samudera?”
“Iya. Mereka nyewa tempat di hotel kita.”
“Kenapa baru sekarang ngasih undangannya, Pa?” protes Lisa.
“Kalau gini, kita kan enggak punya banyak waktu buat persiapan.”
“Persiapan?” Aisyah tidak mengerti. Orang lain yang
mengadakan pesta, kenapa mereka yang harus melakukan persiapan?
“Iya, Kak. Kita enggak bisa pakai baju biasa dong ke pesta
itu. Itu bukan pesta biasa,lho. Itu pesta sweet seventeen.”
Apa pun alasan Lisa, Aisyah tetap bingung.
“Kak Bayu udah tahu, Pa?” Tiba-tiba Lisa teringat kakaknya itu.
“Sudah. Dia yang mengurus persiapannya. Karena ini pesta temen Papa, jadi Papa
tidak mau dia kecewa pada hotel kita.”
“Ya, sudah. Besok kita beli baju lagi, Kak. Kita harus pilih
baju yang paling bagus.”
“Belanja lagi?” Aisyah terkejut dengan kebiasaan yang satu
ini. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Seperti yang dikatakan Pak Samudera,
mereka tidak bisa membuat teman mertuanya itu kecewa. Untuk itu, mereka juga
harus tampil semaksimal mungkin.
Setelah berdiskusi mengenai masalah pakaian, Aisyah kembali
ke kamar. Ia berharap Bayu sudah tidur hingga tidak perlu lagi menghadapi
suaminya itu. Tetapi, kenyataan tidak pernah sesuai dengan keinginan Aisyah.
Ketika ia membuka pintu, Bayu berdiri tepat di depannya. Bola matanya langsung
menunduk, kalah dengan tajamnya tatapan Bayu.
“Untuk pesta ulang tahun anaknya teman Papa, kamu boleh
tidak mengenakan cadar. Dan ini perintahku.” Bayu menghela napas.
“Kenapa, Mas?”
“Aku tidak ingin kamu menjadi pusat perhatian di pesta itu.
Jadi, kamu boleh tidak memakainya ke sana,” tegas Bayu sekali lagi, kemudian
pergi ke ruang kerjanya.
Aisyah menggelengkan kepala. Entah kenapa, ia merasa semakin
lama sikap Bayu terasa semakin aneh. Jika mereka memang tidak punya hubungan
seperti yang seharusnya, tidak bisakah ia bersikap normal?
Baru kemarin Bayu memerintahkan untuk tetap memakai cadar
dan sekarang harus dilepas lagi? “Benar-benar seenak jidat kalau memerintah.”



Tidak ada komentar:
Posting Komentar