21. Sebuah Janji
Pak Samudera memapah Bayu keluar dari mobil. Terlihat Bayu masih menahan sakit ketika berjalan. Tentu saja, seharusnya ia masih dirawat di rumah sakit. Tetapi, karena sifat keras kepalanya, dokter terpaksa menyetujui.
Begitu sampai di kamar, Bayu merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Bola matanya tidak pernah berhenti bergerak. Mengikuti Aisyah, Lisa, dan Pak Samudera yang mondar-mandir keluar masuk kamar. Di antara mereka ada yang membawa air, merapikan tempat tidur, bahkan ada yang hanya sekadar mengganggu. “Bisa keluar, tidak?” protes Bayu ketika ia sudah tidak tahan lagi. Dari tadi ia sudah berusaha bersabar, tapi tidak ada yang memedulikan.
Aisyah, Pak Samudera, dan Lisa saling bertukar tatapan. Pak Samudera dan Lisa kemudian tertawa sambil perlahan keluar. Keduanya saling mengerti apa yang ada di dalam benak masing-masing.
“Bisa ambilkan laptop di dalam tasku itu?” kata Bayu begitu papa dan adiknya sudah tidak ada dalam kamar.
“Tidak,” tegas Aisyah. “Orang sakit itu harus banyak istirahat. Bukan banyak kerja.”
Bola mata Bayu membola. Ia tidak menyangka kalau Aisyah bisa seberani itu. Untuk mengatakan sebuah kata, Bayu tidak sanggup saking terkejutnya.
Melihat kondisinya saat ini, Bayu merasa inilah awal penderitaannya. Ia tidak akan bisa lagi membuat rencana-rencana untuk membuat Aisyah pergi. Namun, apakah Aisyah pergi merupakan keinginan terbesarnya? Sepertinya tidak. Entah kenapa ia mulai nyaman dengan perhatian yang diberikan Aisyah.
Di malam hari, Bayu tinggal di kamar sendirian. Ia menahan rasa lapar karena gengsi yang terlalu tinggi. Tawaran Aisyah untuk membantunya ke meja makan, ia tolak mentah-mentah. Ia berharap Aisyah terus membujuknya. Namun, tidak sedikit pun ada bujukan yang keluar dari mulut Aisyah.
“Apa dia sudah lelah? Biasanya dia selalu ingin di sampingku, tapi kenapa sekarang malah bersikap biasa saja?” gumam Bayu, memegang perutnya yang menagih jatah malam.
Ponsel Bayu tiba-tiba berbunyi. Ia dengan cepat meraih ponsel yang sengaja diletakkan di dekatnya. Setelah mengetahui kalau telepon yang datang itu dari Keyla, Bayu kembali meletakkan ponsel. Ia malas untuk menjawab pertanyaan Keyla yang pasti hanya akan menanyakan kabar hingga membuat kepalanya bertambah pusing.
“Assalamualaikum!” Seseorang membuka pintu. Sebelum orang yang mengucapkan salam masuk, Bayu memejamkan mata. Ia tidak mau terlihat seperti sedang menunggu.
“Bangun, Mas. Makan dulu, baru minum obat,” kata Aisyah, meletakkan piring dan gelas yang dibawa di atas nakas.
Meski mendengar suara Aisyah, Bayu tetap memejamkan mata. Ia menunggu apa yang akan dilakukan Aisyah selanjutnya.
“Mas, makan dulu.” Aisyah mengguncang tubuh Bayu dengan pelan. Setelah Bayu membuka mata, ia kemudian membantu Bayu untuk duduk. “Luka di perut Mas Bayu tidak apa-apa, kan?” tanya Aisyah ketika melihat Bayu menahan sakit.
Bayu menggeleng. Ia melirik bubur yang ada di atas nakas. “Kenapa lama sekali? Aku sudah lapar dari tadi,” rengek Bayu dalam hati.
Aisyah mulai menyuapi Bayu. Tanpa ada kata yang terucap di antara keduanya, makanan di piring perlahan berkurang. Karena terus mengunyah, tenggorokan Bayu tiba-tiba terasa penuh. Ia tidak sanggup lagi untuk menelan. Untuk meminta air, ia sendiri teramat malu.
“Apa aku boleh minum?” tanya Bayu ketika ia tidak sanggup lagi untuk menelan sesendok bubur yang diberikan Aisyah.
Aisyah yang mendengarnya tersenyum. Ia merasa lucu. Biasanya Bayu sangat lancar mengatakan apa yang ada di pikirannya. Entah sejak kapan ada penyumbat di tenggrokan suaminya itu? “Ada apa dengan Mas Bayu? Biasanya tidak seperti ini?” tanya Aisyah dengan segenap keberanian yang dimiliki.
“Maksudnya?”
“Biasanya Mas Bayu langsung bilang kalau menginginkan sesuatu. Tapi, kenapa sekarang Mas Bayu seperti menahannya? Aku bisa melihatnya, Mas.”
“Umm ….” Bayu mengalihkan pandangannya ke arah lain, lalu menatap wanita di depannya. “Aisyah, apa kamu mau berjanji satu hal padaku?” ucapnya kemudian.
Darah Aisyah berdesir. Ini pertama kalinya Bayu memanggil namanya. Ada sepercik kebahagiaan dan ketakutan yang menyentuh hati Aisyah. Ia begitu bahagia karena Bayu mau menyebut namanya. Namun, ia juga takut dengan janji yang diminta Bayu. Bagaimana kalau janji itu akan menghancurkan cinta yang telah bersusah payah ia untai?
“Mas Bayu ingin aku berjanji apa?” tanya Aisyah, meneguk ludah.
Bayu tidak langsung menjawab. Ia menarik napas sejenak, lalu mengembuskannya. “Aku ingin kamu berjanji tidak akan pergi dari sampingku untuk selamanya.”
Bola mata Aisyah melebar. Apa ini mimpi? Bayu memintanya untuk tidak pergi? Apa tidak salah? Aisyah terpaku, menatap pria yang baru saja menghentikan degup jantungnya.
“Aku ingin kamu tetap menemaniku di sini,” tambah Bayu.
Air mata Aisyah meleleh. Apa ini permainan Bayu lagi? Jika benar, tega sekali ia mempermainkan hati Aisyah. Jika bukan, kenapa? Aisyah tidak bisa menebak alasannya. Tenggorokannya tersumbat dan udara seolah menjauh darinya.
“Maaf, sudah membuatmu menangis.” Bola mata Bayu memerah. Dan, perlahan matanya berkaca-kaca. “Aku tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Selama ini, aku selalu menjauhkan diri dari Papa dan Lisa. Aku membenci Papa dan aku juga membenci diriku sendiri. Mama meninggal karena kami. Karena Papa sibuk dengan urusan kantornya, sedangkan aku sibuk dengan teman-temanku. Kami tidak peduli pada Mama.”
Aisyah semakin terkejut. Bayu sedang tidak mempermainkannya. Pria itu benar-benar menangis. Aisyah meletakkan gelas dan piring di atas nakas. Ia kemudian menarik napas untuk menenangkan hatinya.
“Jika aku mengatakan kalau hidup dan mati seseorang ada di tangan Allah, pasti Mas Bayu sudah mengetahuinya. Tapi, aku ingin mengatakan satu hal. Ini adalah hal yang sangat sulit untuk dilakukan, tapi kalau berhasil melakukannya, efeknya sangat hebat.” Aisyah tersenyum. “Ikhlas. Hanya itu yang bisa kita lakukan, Mas. Air mata, kemarahan, benci, dendam. Semua itu terasa menggoda. Tapi, tidak akan ada hasil yang kita dapat darinya. Meski terasa seperti nyawa dipaksa untuk keluar dari badan, ikhlas tetap jalan terbaik. Berserah diri pada Allah, Mas.”
Aisyah memejamkan mata. Ia teringat kembali saat sang ayah meninggal. Kemarahan dan kebenciannya. Ia tidak menyangka mampu meredamnya. Dan sekarang, ia malah tinggal bersama dengan orang yang ikut serta dalam kejadian itu.
Untuk beberapa saat, hening memenuhi kamar. Aisyah dan Bayu saling bertatapan, seolah mencoba menyelami kesakitan masing-masing.
“Apa kamu akan bertahan di sampingku?” ucap Bayu tiba-tiba. “Jika Rudy terus mendekatimu, apa kamu akan tetap di sampingku? Walaupun aku tidak mampu menjadi imam yang baik untukmu, apa kamu akan tetap bersamaku?”
Aisyah teringat kemarin. Bagaimana Bayu memintanya pergi dan melanjutkan hubungan dengan Rudy. Hatinya sangat sakit saat itu.
“Saat ini, aku tidak bisa menentukan yang terbaik. Tapi, aku akan berusaha bertahan bersama dengan orang yang mempertahankanku.”
“Bertahanlah untukku, Aisyah,” tegas Bayu tanpa ragu.
Air mata Aisyah kembali jatuh. Setelah menahan rasa sakit sejak bertemu, akhirnya cinta yang ia untai perlahan mulai utuh. Bayu telah memintanya untuk bertahan. Dan, itu sudah lebih dari cukup untuk saat ini.
Perlahan, Bayu bergerak. Bola matanya tertuju pada mata Aisyah. Seolah sedang menghipnotis, Bayu terus menatap sambil mendekatkan wajahnya.
Jantung Aisyah kembali bereaksi. Mengetahui jarak antara wajah Bayu dengan wajahnya hanya tinggal beberapa senti, udara yang bersusah payah diraihnya kembali menjauh. Aisyah memejamkan mata, menunggu yang terjadi selanjutnya.
“Kak Aisyah, Kak Bayu udah ….”
Lisa, Pak Samudera, dan Dimas muncul di pintu. Ketiganya mematung di sana. Lisa menyeringai melihat Bayu yang gagal mencium kening Aisyah. Salah waktu. Mereka datang di waktu yang tidak tepat.
“Aku balikin piring ini dulu, Mas.” Aisyah berdiri dari samping Bayu. Sambil berusaha menahan malu, ia menghampiri Lisa, Pak Samudera, dan Dimas. “Papa mau bicara dengan Mas Bayu? Silakan masuk, Pa.”
Lisa menghela napas. Sial. Ia merutuki dirinya sendiri. Sedikit lagi. Andai saja ia, Pak Samudera, dan Dimas datang satu menit lebih lambat. Pasti semua akan tuntas. Namun, Lisa kembali tersenyum lebar saat menyadari satu hal. Bayu telah membuka hatinya.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar