Novel, Short Story, and anymore from Sahrial Pratama

Untait Cinta Aisyah (Part 14. Tidak Mengenalku?)

14. Tidak Mengenalku?


Bibir Lisa mengerucut. Dahinya membentuk lipatan. Dengan tangan menyilang di dada, ia mengetuk-ngetukkan kakinya ke lantai. Sudah satu jam lebih ia menunggu. Namun, papanya tak kunjung keluar dari kamar.

Penampilannya perlahan ia ubah. Malam ini, ia tak lagi mengenakan pakaian yang terbuka. Gaun coklat dipadukan dengan jilbab berwarna senada, membuat ia terlihat sangat berbeda.

“Pa, udah siap, belum? Lisa keburu lumutan, nih,” teriak Lisa untuk kesekian kalinya.

“Ayo, Papa udah siap.” Pak Samudera buru-buru keluar sebelum Lisa berteriak lagi. “Aisyah mana?”

“Masih di kamar, Pa.” Lisa berdiri dari sofa. “Biar Lisa panggilin dulu, deh.”

Sebelum sempat mengetuk pintu, Aisyah keluar dari kamar. Gaun yang dibeli dengan Lisa tadi siang terlihat indah ia kenakan. Lisa sampai melongo melihat penampilan kakak iparnya itu. Ia tak menyangka kalau wanita berjilbab bisa tampil cantik maksimal.

“Kak Aisyah cantik banget. Kak Bayu pasti nyesel karena udah enggak mau lihat wajah Kak Aisyah.”

“Kamu bisa aja, Lis. Kamu juga cantik. Jauh lebih cantik dari Kak Aisyah.”

“Ayo berangkat!” teriak Pak Samudera dari depan pintu.

Aisyah memindai sekeliling. Ia mencari Bayu. “Mas Bayu enggak ikut, Lis?”

“Kak Bayu udah duluan. Karena acaranya di hotel kita, selesai kerja Kak Bayu enggak pulang lagi. Dia stand by di sana, untuk antisipasi kalau ada masalah.”

Aisyah mengangguk. Ia dan Lisa kemudian buru-buru mengejar Pak Samudera yang sudah lebih dulu menuju mobil.

***

“Kadonya tidak ketinggalan di rumah, kan?” tanya Pak Samudera ketika mobil yang dikendarai sampai di tempat parkir lokasi pesta.

“Kenapa baru nanya sekarang, Pa? Kalau ketinggalan pun enggak mungkin kita jemput lagi, kan?” Lisa menghela napas.

“Eh, aku lupa ngasih tahu Dimas kalau buku-bukunya ada di lemari yang ada di kamar.” Aisyah menepuk dahi.

“Buku yang kita beli tadi, Kak?” tanya Lisa yang langsung dijawab Aisyah dengan anggukan.

“Aduh, Kak Aisyah gimana, sih?” Lisa langsung mencari nomor telepon rumah di ponselnya. Setelah menemukan nomor yang dicari, ia memberikan ponsel pada Aisyah. “Kak Aisyah bilang langsung pada Dimas sekarang. Mungkin dia butuh buku itu untuk belajar.”

“Iya.” Aisyah tersenyum malu. “Papa dan Lisa duluan saja. Aisyah nanti menyusul.”

“Baiklah. Kalau kamu bingung mencari tempatnya di mana, kamu bisa tanya pada resepsionis,” kata Pak Samudera, lalu turun dari mobil, diikuti oleh Lisa.

“Dim, Kakak lupa bilang, buku yang tadi Kak Aisyah beli ada di lemari yang ada di kamar,” ujar Aisyah begitu Dimas mengangkat telepon. “Di lemari yang ada di kamar kakak, ya. Bukan yang ada di kamar kamu.”

Aisyah langsung menutup telepon setelah Dimas mengiyakan. Ia bergegas menuju lobi hotel. Sesampainya di sana, bola matanya bergerak mengamati sekeliling. Tak perlu bertanya pada resepsionis untuk mencari tempat diadakannya pesta karena Aisyah langsung mengikuti beberapa orang yang sepertinya tamu undangan.

Aisyah melewati lorong sebelah kanan meja resepsionis.  Di tengah lorong, terdapat sebuah ruangan tempat pesta berlangsung. Aisyah menelan ludah. Ini pertama kalinya ia hadir di acara semewah ini. Ada ratusan orang di depannya, saling tertawa dan bercanda. Aisyah bisa memastikan kalau harga pakaian yang dikenakan orang-orang di sekelilingnya berpuluh kali lipat dari harga pakaian yang pernah dipakainya saat di kampung.

Kening Aisyah membentuk lipatan. Ia menemukan beberapa pasang mata menatap ke arahnya. Ia benar-benar tak suka menjadi pusat perhatian seperti ini. Sialnya, ia tak menemukan Lisa atau Pak Samudera. Tak ada lagi yang ia kenal di pesta ini selain mertua dan adik iparnya itu.

“Aisyah?” Seorang lelaki menghampiri Aisyah yang masih mencari Lisa di antara tamu undangan.

“Rudy?” Bola mata Aisyah melebar. Ia tak percaya kalau ia dipertemukan lagi dengan Rudy. “Kamu ….”

“Kamu sangat cantik, Aisyah,” ucap Rudy, spontan. Untuk beberapa detik, ia terpaku menatap Aisyah. Namun, segera ia mengalihkan pandangannya saat tersadar. “Ah, iya. Yang ulang tahun ini mahasiswi di kampus. Jadi, aku diundang. Kalau kamu?”

Aisyah merasa semakin tidak nyaman dengan kedatangan Rudy. “Aku datang dengan mertua dan adik iparku. Tapi, aku tidak tahu di mana mereka sekarang.”

“Mau kubantu mencarinya?” Rudy menawarkan diri.
“Tidak, terima kasih. Aku cari sendiri saja. Permisi.” Aisyah dengan cepat melangkahkan kaki. Ia tak peduli ke mana ia pergi, yang penting bisa jauh dari Rudy.



Naas. Karena terlalu sibuk memacu kakinya, Aisyah tak sadar telah menabrak seseorang. Ia terjatuh, hingga para tamu undangan yang ada di dekatnya menoleh. Sial. Bukannya bersembunyi dari tatapan orang-orang, ia malah memancing keributan.

“Mbak tidak apa-apa?” tanya seorang lelaki yang tak sengaja ditabrak oleh Aisyah.

“Saya tidak apa-apa, Mas.” Aisyah bergegas berdiri. Begitu tubuhnya kembali tegak, ia mendadak mematung. Ia terkejut karena orang yang ditabraknya adalah Bayu, suaminya sendiri. Tetapi, kenapa Bayu memanggilnya dengan sebutan ‘Mbak’ bukan langsung nama? Apa Bayu sama sekali tidak mengenalinya? Atau lelaki itu sengaja pura-pura tidak kenal?

“Mas Bayu tidak mengenalku?” Aisyah memastikan apa dugaannya tidak salah.

Bayu tersenyum. “Maaf, Mbak. Tapi, siapa, ya?”

“Mas tidak berpura-pura, kan?” Air mata Aisyah hampir jatuh. Bagaimana mungkin ia tak dikenali oleh suaminya sendiri? Sungguh menyedihkan.

Melihat Bayu dan Aisyah, Pak Samudera datang menghampiri. “Bayu, kamu lagi sama Aisyah? Kalian bicaranya nanti saja. Cepat kamu temui Bu Retno, dia mau tanya soal kue yang dipesan apa udah sesuai permintaan.”

Bayu tak merespons. Tatapannya masih tertuju pada wanita di depannya. Aisyah? Apa ia tak salah dengar? Bagaimana bisa wanita di depannya adalah Aisyah? Ia tak pernah menduga kalau wanita yang selama ini menjadi istrinya secantik ini. Ini pertama kalinya Bayu menatap bola mata Aisyah. Tanpa sadar, ia langsung terhipnotis oleh mata yang menatapnya dengan sendu.

“Cepat!” Pak Samudera menarik lengan Bayu untuk segera pergi.

Bayu perlahan menjauh. Namun, beberapa kali ia menoleh ke belakang sambil bertanya pada dirinya sendiri, “Apa itu benar Aisyah?”

“Aisyah? Kenapa kamu melamun?” Pak Samudera menyentak sang menantu. “Lisa ada di sudut sana. Kamu ngobrol sama dia saja, daripada bengong di sini sendirian.”

“I-iya, Pa.”

Aisyah bergegas ke tempat yang ditunjuk Pak Samudera. Lisa benar-benar ada di sana. Ia dikelilingi teman-temannya yang mungkin saja sedang mengomentari fashion terbaru gadis itu.

“Kak Aisyah ke mana aja?” tanya Lisa.

“Kakak sudah keliling mencari kamu. Tahu-tahunya ada di sini.” Aisyah menyodorkan ponsel yang dipinjamnya. “Ini ponselmu.”

“Enggak usah cemberut gitu, Kak. Entar cantiknya pudar, lho.”

“Kak Aisyah tidak cemberut, tapi cuma jengkel.” Aisyah melirik teman-teman Lisa, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga adik iparnya itu. “Menurutmu, Mas Bayu itu benar-benar tidak kenal Kak Aisyah, ya?”

Dahi Lisa mengerut. “Kak Aisyah ngomong apa, sih?” Lisa menebar senyuman pada teman-temannya, kemudian menjauh.

“Tadi, Kak Aisyah tidak sengaja bertabrakan sama Mas Bayu. Tapi anehnya, dia tidak mengenali kakak.” Terdengar nada kekecewaan dalam kalimat Aisyah.

Lisa menggaruk kepala. “Masa Mas Bayu enggak pernah lihat wajah Kak Aisyah?”
“Itu dia. Kakak juga bingung.” Aisyah menerawang. Ia mencoba mengingat pertemuan pertamanya dengan Bayu. “Waktu Papa dan Mas Bayu datang ke rumah, Mas Bayu memang selalu mengalihkan pandangannya. Tapi, masa dia tidak pernah lihat kakak walaupun sekilas?”

“Udah, ah. Kita bahas nanti aja. Enggak enak kalau kita ngomong bisik-bisik di sini. Nanti kita dikira lagi ngegosipin orang.”

Lisa kembali menghampiri teman-temannya bersama Aisyah. Namun, Rudy telah bergabung di sana. Saat Aisyah hendak melangkah mundur, Lisa dengan cepat menarik lengan sang kakak ipar. “Dengan Kak Aisyah terus menjauh seperti ini, maka Kakak enggak akan pernah bangkit dari kenangan Kakak. Maju, Kak. Hadapi apa yang ada di depan.”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

My Instagram