Novel, Short Story, and anymore from Sahrial Pratama

Untaian Cinta Aisyah (Part 15. Mendekat Satu Langkah)

15. Mendekat Satu Langkah



Lilin sudah ditiup. Begitu pula dengan kue sudah dipotong. Gadis yang berulang tahun silih berganti memperoleh ucapan selamat dan doa dari para tamu undangan.

Sekarang, para tamu sedang disuguhi penampilan seorang penyanyi yang sengaja diundang untuk menghibur. Namun, Aisyah tidak sedikit pun terhibur meski sang penyanyi sudah menyanyikan empat buah lagu. Dari tadi ia merasa tidak tenang walaupun Lisa sudah berulang kali mengingatkannya untuk bersikap santai.

“Kak Aisyah harus bisa ngendaliin diri,” bisik Lisa saat melihat kakak iparnya itu meremas jemari sendiri. “Lihat, Kak. Pak Rudy aja bisa bersikap biasa. Kenapa Kak Aisyah gelisah sendiri?”

Aisyah melirik Rudy, kemudian menarik napas sedalam mungkin. “Aku bisa menghadapi ini,” tegas Aisyah pada dirinya sendiri sembari membuang napas perlahan.

“Sekarang kamu tinggal di mana, Rud?” Aisyah memberanikan diri untuk bertanya, membuat Lisa terbatuk karena tidak menyangka sang kakak ipar akan menyapa Rudy.

“Aku tinggal dekat kampus,” sahut Rudy, tersenyum semringah. Ia begitu bahagia melihat Aisyah mau berbicara dengannya. “Yah, aku sengaja mencari rumah di sana agar tidak terlalu capek pulang pergi ke kampus.”

“Oh ya, bagaimana kabar Pak Santoso dan Bu Mun? Sudah lama aku tidak bertemu mereka.”

“Alhamdulillah, ayah dan ibu sehat. Mereka sering nanyain kabar kamu, lho.”

Suasana kembali canggung saat Rudy menyelesaikan kalimatnya. Teman-teman Lisa yang sebenarnya adalah mahasiswa Rudy di kampus, menghujaninya dengan tatapan penuh selidik. Mereka curiga dosen yang satu ini memiliki hubungan tersembunyi dengan kakak ipar Lisa.

“Kenapa kalian menatap Bapak seperti itu?” ujar Rudy. “Bapak dan Mbak Aisyah ini berasal dari kampung yang sama. Jadi, kalian tidak usah bingung kenapa kami bisa akrab.”

Teman-teman Lisa mengangguk. “Berarti, kami masih punya kesempatan dong, Pak.”

“Dasar, kalian ini! Bapak ini dosen kalian, lho. Bapak bisa kasih nilai D kalau kalian terus godain Bapak seperti ini.”

“Yah. Bapak kenapa hobi banget sih ngancem mahasiswi. Enggak seru, ih! Coba deh, Bapak ganti hobi. Hobi ngisi hati kami dengan cinta, gitu, Pak,” celetuk Lisa, memancing tawa teman-temannya. Rudy dan Aisyah pun tersenyum mendengarnya.

“Sabar, Rud. Begini, nih, kalau dosennya masih muda,” ucap Aisyah tanpa ragu.

Menit berselang. Tanpa sadar, jarak antara Aisyah dan Rudy mulai melebur. Kini keduanya berbicara dengan akrab. Mereka membaur dengan guyonan Lisa dan teman-temannya. Aisyah tidak lagi sungkan untuk tertawa saat salah satu teman Lisa menceritakan hal yang lucu.

Ketika Aisyah tertawa, ia tidak menyadari kalau di ujung sana seseorang mengamatinya. Bola mata pria itu tidak pernah lepas dari wajah Aisyah. Diam-diam, pria itu memperhatikan setiap gerak-geriknya.

“Pestanya meriah, ya,” ujar Keyla, menyadarkan Bayu.

“Ini pesta anaknya seorang pemilik perusahaan besar, bagaimana mungkin tidak meriah?” Bayu belum melepas tatapannya dari wajah Aisyah. Entah kenapa, ia merasa tidak jemu menatap wajah yang selama ini dekat dengannya.

“Kamu lihat siapa, sih? Dari tadi aku ajak bicara, kayaknya kamu enggak ngerespons dengan bener.” Keyla mengerucutkan bibir. Ia tidak segan menunjukkan kekesalannya pada Bayu di depan umum.

Keyla sudah mempersiapkan penampilannya malam ini lebih dari lima jam. Namun, Bayu sama sekali tidak memujinya. Bahkan, pria itu jarang menoleh padanya. Hal yang tidak biasa jika Bayu tidak melontarkan sebuah pujian pada Keyla.

“Bagaimana dengan istrimu? Kapan kamu ceraikan dia? Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi.”

“A-apa?” Pertanyaan Keyla memaksa Bayu untuk menoleh pada wanita itu.

“Aku tanya, kapan kamu ceraikan istrimu itu? Kamu kan udah enggak betah sama dia, kenapa lama-lama, sih?”

“Tidak semudah itu, Key. Dia itu pilihan Papa. Aku tidak bisa seenaknya ceraikan dia. Aku sudah pernah cerita sama kamu, kan?”

“Sampai kapan, Bay?”

“Aku tidak tahu. Aku juga bingung.”

“Kamu kenapa sih, Bay? Aku sudah setuju lho kamu nikah sama perempuan tidak jelas itu. Kenapa? Karena kamu pengen ngebuat Pak Samudera mewariskan hotelnya sama kamu. Tapi, kamu jangan lupa juga dong janjimu. Orang-orang di kantor udah mulai ngegosipin aku. Mereka nyebut aku wanita genit.”

“Selamat malam, Pak Bayu.” Seorang lelaki dengan lemak berlebih menghampiri Bayu dan Keyla.

“Selamat malam, Pak Bambang,” balas Bayu.

“Apa Bapak tidak bersama istri Bapak?” Pria yang bernama Pak Bambang itu tersenyum meledek. “Di kantor sudah ditemani sekretaris, masa di pesta seperti ini juga ditemani sekretaris? Saya tahu, orang seperti kita ini jarang menghabiskan waktu bersama istri. Jadi, saat seperti inilah kita punya kesempatan untuk berduaan. Bukankan seperti itu? Lagi pula, saya belum mengenal istri Pak Bayu, lho.”

Bayu menghela napas. Darahnya terasa mendidih mendengar celotehan Pak Bambang yang sudah seperti emak-emak tukang gosip. “Baiklah. Akan saya kenalkan Bapak dengan istri saya.”

Bayu menuntun Pak Bambang menghampiri Aisyah yang sedang mengobrol dengan teman-teman adiknya. Ia tidak peduli dengan Keyla yang menggerutu karena diabaikan. Sia-sia semua yang dilakukan Keyla untuk membuat Bayu terkesan.

Melihat sang kakak berjalan ke arah mereka, Lisa langsung berbisik pada Aisyah. Ini pertama kali Bayu yang datang menghampiri. Selama ini, Aisyah yang berusaha untuk mendekat.

“Aisyah.” Bayu memalingkan wajah saat menyebut nama itu. Jelas terdengar nada canggung saat suaranya memanggil sang istri. “Kenalkan, ini Pak Bambang. Salah satu rekan bisnis kita.”

“Selamat malam, Pak,” sapa Aisyah dengan pandangan tertuju pada Bayu.

“Selamat malam, Bu Aisyah.” Bola mata Pak Bambang yang terkenal jeli melihat hal ganjil, menatap Aisyah dan Bayu bergantian. Sepasang suami istri yang sedang bertatapan di depannya membuat ia merasa aneh. “Ehem! Saya tahu, Pak Bayu dan Bu Aisyah ini pengantin baru. Tapi, saya yang mengucapkan selamat malam, kenapa Bu Aisyah menatap Pak Bayu? Apa segitu kangennya, ya?”

Aisyah buru-buru mengalihkan pandangannya dari Bayu. Ia kembali meremas tangannya. Namun, apa yang dilakukannya ternyata mengundang Pak Bambang untuk kembali berkomentar. 

“Ngomong-ngomong, cincin kawinnya bagus. Tapi kenapa Pak Bayu tidak mengenakannya?” tanya Pak Bambang, menatap jari manis Bayu.

“Ah, iya. Cincinnya tertinggal di kantor. Saya melepaskannya tadi karena mau ke kamar mandi.” Bayu tersenyum simpul untuk menutupi kebohongannya.

“Pak Bambang tahu banget masalah seperti ini,” kata Lisa sambil melirik Rudy yang memalingkan wajah sejak Bayu menghampiri mereka.

“Ya. Kata orang, saya memang banyak tahunya,” kekeh Pak Bambang. “Kalau begitu, saya permisi dulu. Walaupun saya dan istri saya bukan pengantin baru, tapi dia juga tidak bisa jauh-jauh dari saya, lho.” Pak Bambang menepuk lengan Bayu, lalu pergi.

Begitu Pak Bambang pergi, sandiwara itu pun selesai. Sekarang, Aisyah sibuk menetralisir jantungnya yang berdegup kencang saat Bayu memperkenalkannya sebagai istri. Ia berharap itu akan berjalan untuk selamanya. Namun, itu hanya harapan palsu yang sulit menjadi nyata.



Namun, Bayu tiba-tiba berkata, “Ayo, Aisyah. Malam ini, kamu harus selalu ada di sampingku. Aku tidak mau orang-orang menganggap kita sedang dalam masalah.”

Meski terkejut dengan apa yang diperintahkan Bayu, Aisyah dengan cepat menyahut, “Baik, Mas.” Ia pun mengikuti Bayu, menjauh dari Lisa dan Rudy.

Bayu dan Aisyah berdiri berdampingan. Setiap pasang mata yang lewat langsung menoleh pada mereka. Momen ini tidak bisa dibiarkan begitu saja, karena ini pertama kali pewaris Hotel Samudera membawa sang istri di depan umum. Selain rekan bisnis, para pegawai hotel yang penasaran seperti apa wajah istri pimpinan mereka langsung memanfaatkan momen ini. Beberapa dari mereka bahkan mengambil foto keduanya secara diam-diam.

Pak Samudera yang menyadari apa yang terjadi, tidak melewatkan kesempatan yang ada. Ia memperkenalkan Aisyah pada semua rekan bisnisnya yang hadir pada pesta itu. Untunglah pemilik pesta tidak mempermasalahkannya. Pemilik pesta malah merasa bangga karena pestanya menjadi tempat diperkenalkannya sang menantu dari pemilik hotel berbintang.

“Mulai sekarang, kamu boleh tidak mengenakan cadar.”

“Apa?” Aisyah sontak menoleh pada Bayu. Apa ia tidak salah dengar? Bayu menyuruhnya untuk tidak mengenakan cadar? “Kenapa, Mas?”

“Aku memintamu mengenakan cadar karena aku tidak ingin melihat wajahmu. Aku tidak ingin ada kenangan tentang wajahmu dalam memoriku. Tapi, pesta sialan ini sudah menghancurkannya. Pesta ini memaksaku untuk memintamu melepas cadar itu. Sekarang, aku sudah melihat wajahmu. Jadi, untuk apa kamu menutupinya kalau aku sudah melihatnya?”

Aisyah tersenyum. “Allah selalu punya jalan untuk menyatukan dua insan yang berjodoh,” ucapnya tanpa menoleh pada Bayu.

“Terserah apa katamu. Yang penting saat ini, kamu harus tersenyum. Jangan tunjukkan ekspresi yang membuat orang-orang curiga,” tegas Bayu sekali lagi.

“Apa? I-iya, Mas,” sahut Aisyah, gagap.

“Bagus. Kamu harus tetap berakting seperti itu sampai pesta ini selesai.”

Akting? Ya. Bayu sedang berakting. Hati Bayu belum sepenuhnya mengakui wanita di sampingnya sebagai istri. Tetapi, entah kenapa ia merasa tiak nyaman melihat Aisyah terlalu akrab dengan lelaki yang bersama Lisa tadi.

Saat Bayu dan Aisyah baru saja selesai bersalaman dengan salah satu sahabat Pak Samudera, Keyla menghampiri. “Pak Bayu, Bu Ryanti ingin bertemu Bapak,” dusta Keyla agar Bayu menjauh dari Aisyah.

“Minta dia datang ke sini,” jawab Bayu.

Bola mata Keyla melebar. Ia tidak menyangka Bayu akan mengabaikan isyaratnya. Atau, Bayu memang sengaja tidak mau beranjak?

Aisyah yang mengenal siapa Keyla, tersenyum melihat wanita itu pergi dengan wajah ditekuk. Ia yakin, Bayu telah berjalan satu langkah mendekat padanya. Harapannya kian membesar setelah melihat sikap yang ditunjukkan lelaki itu baru saja. Ia percaya, cinta yang diuntainya masih punya kesempatan untuk menjadi rasa yang utuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

My Instagram