Lamaran yang dibawa Pak Samudera sungguh mengusik.
Sejak hari itu, kata lamaran selalu mengganggu pikiran Aisyah. Setiap ia
melakukan sesuatu, bayangan Pak Samudera datang menghampiri untuk menagih
jawaban.
“Kak Aisyah, Bu Jum datang, nih!” teriak Dimas,
mengagetkan Aisyah yang sedang mencuci piring.
“Bentar!” Aisyah mencuci tangannya yang dipenuhi
busa sabun, lalu mengelapnya dengan rok yang dikenakan.
“Ada apa, Bu?” Aisyah duduk di kursi yang
berseberangan dengan Bu Jum. “Ibu jangan bilang kalau Pak Samudera akan
datang.”
“Sayangnya, apa yang kamu katakan itu benar, Nduk.
Pak Samudera sedang menuju kemari.”
“Apa? Ini baru tiga hari sejak mereka datang
kemarin.” Aisyah terlonjak. Ia berdiri dari kursi. Kedua kakinya kemudian tidak
bisa diam. Ia mondar-mandir sambil terus berkata, “Apa yang harus aku katakan,
Bu? Bagaimana kalau Pak Samudera meminta jawaban?”
“Kenapa kamu jadi panik begitu, Nduk? Kamu hanya
perlu menjawab ‘ya’.” Mata Bu Jum berkilat jail.
“Tidak semudah itu, Bu Jum.”
“Apa lagi yang kamu pikirkan, Syah? Pak Samudera itu
orang yang baik. Kamu ingat waktu bapakmu meninggal, kan? Walaupun sopirnya
yang menyetir, dia tetap mau meminta maaf. Itu bukti kalau dia benar-benar
rendah hati. Dan, masalah mengincar harta. Tentu Ibu tahu kamu tidak akan
pernah berniat seperti itu. Lagi pula, bukan kamu yang mengejar-ngejar mereka.”
“Aku ….” Pandangan Aisyah tertuju pada Pak Samudera
dan Pak Slamet yang berdiri di pintu. Tanpa sadar, ia meneguk ludahnya dengan
mata yang tidak berkedip.
“Kamu melihat apa?” Bu Jum mengikuti tatapan Aisyah.
Begitu melihat Pak Samudera, ia langsung berdiri. Disambutnya kedua tamu itu
dengan ramah.
“Kamu buatin minum untuk Pak Samudera dan Pak
Slamet, Nduk. Mereka pasti haus setelah perjalanan jauh,” kata Bu Jum.
“Tidak usah,
Bu. Kami sedang buru-buru,” tolak Pak Samudera dengan senyuman yang lebar.
Bu Jum terdiam. Apa ini pertanda buruk? Apa mereka
ingin menarik kembali lamaran untuk Aisyah? Bu Jum tiba-tiba gelisah. “Kenapa?
Perjalanan dari Jakarta ke Jogja jauh, lho, Pak,” tanyanya.
“Kami datang kemarin lusa karena ada urusan. Dan
sekarang, kami harus segera kembali ke Jakarta karena ada meeting yang
harus saya hadiri di sana.” Pandangan Pak Samudera tertuju pada Aisyah.
“Bagaimana, Nak? Apa jawabanmu?”
Bu Jum menghela napas lega. Ia bersyukur karena Pak
Samudera tidak menarik lamaran mereka.
Aisyah memalingkan wajah. Ia tak sanggup untuk
bertatapan langsung dengan pria di depannya. Mulutnya terkunci rapat meski
hanya untuk mengucapkan satu kata saja sebagai jawaban.
“Tidak apa-apa jika kamu menolak. Saya tidak akan
memaksa.” Pak Samudera menghela napas. Terlihat jelas ia sangat menyesalkan
jika jawaban Aisyah adalah tidak. Ditepuknya bahu Pak Slamet karena Aisyah
hanya diam. “Ayo kita pulang, Met. Nanti kita terlambat.”
Pak Samudera berdiri diikuti Pak Slamet. Namun, saat
sampai di depan pintu, suara Aisyah mencegat langkah mereka. Pak Samudera
sontak berbalik.
“Saya setuju,” ujar Aisyah, memejamkan mata. “Saya
setuju menikah dengan anak bapak.”
Sebuah senyuman tersungging di bibir Pak Samudera.
“Saya tidak memaksa. Kalau kamu tidak mau, tidak apa-apa,” ucapnya memastikan.
“Saya tidak terpaksa, Pak,” tegas Aisyah, terlebih
pada dirinya sendiri. “Saya setuju untuk menikah dengan anak bapak.”
“Baiklah.” Pak Samudera mengeluarkan ponsel dari
dalam saku. “Tidak mungkin Bayu harus berbicara lewat Bu Jum kalau ingin
mengatakan sesuatu padamu, kan? Jadi, tolong berikan nomor handphonemu, Syah.”
Aisyah kemudian memberikan nomor ponselnya. Setelah
itu, Pak Samudera dan Pak Slamet bergegas pergi.
Bu Jum tersenyum bahagia atas keputusan yang diambil
Aisyah. Tidak peduli dengan apa yang dirasakan gadis itu.
Ada keraguan yang dirasakan Aisyah. Tetapi, seberapa
besar pun keraguan itu, sebuah keputusan harus diambil. Demi kebaikan Dimas dan
dirinya sendiri. Serta mungkin saja ia juga bisa membawa kebaikan untuk
keluarga Pak Samudera nantinya.
Aisyah memejamkan mata, menggumamkan kata maaf
berulang kali. Sebuah kalimat janji kembali terngiang di telinganya. Entah
bagaimana nanti ia menghadapi pengikrar janji itu.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar