Karena tidak memiliki baju gamis yang sesuai untuk dipakai,
Aisyah berencana untuk ke pasar setelah sarapan nanti. Untuk kesekian kalinya,
ia mematut diri di depan cermin. Apa yang dikenakannya memang tidak sesuai. Rok
dan baju kurung miliknya terasa kurang matching jika dipadukan dengan
cadar.
Aisyah keluar dari kamar. Langkahnya langsung terhenti
melihat semua tatapan orang yang ada di meja makan tertuju padanya. Ia tidak
akan apa-apa jika mereka menatapnya dengan tatapan biasa, tapi ini tidak.
Mereka menatap Aisyah dengan tatapan tidak suka.
Aisyah memeriksa apa yang dikenakannya, dari ujung kepala
hingga ujung kaki. Tidak ada yang aneh menurutnya. Tetapi, tentu saja mereka
terkejut dan merasa aneh karena Aisyah mengenakan cadar.
“Apa itu tidak terlalu berlebihan, Syah?” tanya Pak Samudera
begitu Aisyah sampai di meja makan.
Sebelum Aisyah sempat menjawab. Bayu datang dan berkata,
“Aku yang memintanya mengenakan itu.”
“Kenapa, Kak? Apa pakaian Kak Aisyah tidak berlebihan
seperti yang dikatakan Papa? Kayaknya udah cukup pakai jilbab aja.” Lisa ikut
mengajukan pendapat.
“Aku tidak ingin membunuh diriku sendiri dengan mengingat
wajahnya,” jawab Bayu tanpa rasa bersalah.
“Bayu!” bentak Pak Samudera, berdiri dari kursi. “Apa maksud
semua ini? Aisyah adalah istrimu. Kamu memiliki kewajiban untuk menjaganya.
Papa setuju saja kalau dia mengenakan cadar. Tapi kalau alasannya seperti yang
kamu katakan tadi, Papa tidak akan pernah setuju.”
“Sebelum pernikahan ini terjadi, apa yang Bayu katakan, Pa?”
Bayu menyilangkan tangan di dada. “Bayu setuju dengan pernikahan ini, asalkan
tidak ada yang ikut campur dengan kehidupan Bayu setelahnya.”
“Bayu!” Pak Samudera menatap nanar pada putranya, lalu
beralih pada menantunya. “Aisyah, lepaskan cadar itu!”
“Jangan pernah melepaskannya sesuai kesepakatan kita! Kamu
sudah berjanji.” Bayu menghela napas. “Tapi, terserah kamu mau menuruti siapa,
aku atau Papa.”
Aisyah meneguk ludahnya. Ia menoleh pada Bayu yang dikuasai
amarah, kemudian berganti pada Pak Samudera. Ia memejamkan mata, memikirkan
sejenak keputusan yang akan diambil. “Aku akan tetap mengenakannya, Pa,”
ucapnya mantap.
“Bagus.” Bayu tersenyum seolah baru saja memenangkan sebuah
pertandingan. Ia kemudian berdiri dari kursi.
“Enggak sarapan, Kak?” cegat Lisa.
“Kakak sarapan di kantor saja. Kalau Kakak ikut sarapan, nanti Papa yang
tidak ikut.” Bayu meneruskan langkahnya keluar rumah.
“Maafin Aisyah, Pa.” Bola mata Aisyah menatap lantai. Ia
meremas tangannya dengan keras.
Pak Samudera menghela napas, lalu tersenyum. “Kenapa kamu
harus minta maaf, Syah? Kamu melakukan hal yang benar. Suami kamu itu Bayu,
bukan Papa. Jadi, sudah seharusnya kamu menuruti apa yang dikatakan suamimu.
Papa percaya, suatu saat kamu pasti bisa memenangkan hatinya,” kata Pak
samudera, kemudian tertawa.
“Papa kenapa, sih? Bukannya tadi Papa udah naik pitam, ya?”
“Seperti tidak kenal Papa saja, Lis. Papa kan lagi berakting
tadi.”
“Akting?”
“Ah, sudahlah. Aisyah, ayo duduk, kita sarapan. Papa juga
mau berangkat ke kantor bentar lagi.”
Meski tidak mengerti dengan apa yang terjadi, Aisyah duduk
di kursi yang berseberangan dengan Lisa. Ia menatap Pak Samudera sejenak. Benar
saja. Tidak ada bekas kekesalan di wajah mertuanya itu. Ia percaya, sikap yang
ditunjukkan Pak Samudera baru saja hanya sandiwara.
Pak Samudera bisa saja berakting, tapi berbeda dengan Bayu. Lelaki
itu tidak berakting tadi. Semua kalimat yang keluar dari mulut adalah isi
hatinya. Apa yang diucapkannya sesuai dengan apa yang diinginkannya.
“Oh ya, Dimas di mana?” tanya Pak Samudera.
“Mungkin masih di kamarnya, Pa. Dia memang suka seperti itu
kalau libur sekolah. Habis shalat Subuh, tidur lagi.”
“Ngomong-ngomong soal Dimas. Tadi malam, Lisa udah minta
temen Lisa yang anaknya kepala sekolah itu buat daftarin dia. Tapi enggak tahu
deh, apa Dimas suka sama sekolahnya.”
“Dimas pasti suka, Lis. Aku yakin, kamu pasti memilih
sekolah yang bagus untuk Dimas.”
Sebuah senyuman mengembang di bibir Lisa. Saat ia mengambil
selai, pandangannya tertuju kembali pada cadar yang dikenakan Aisyah. “Kak Aisyah,
apa enggak ribet pakai pakaian begitu? Maksud Lisa, kalau lagi sarapan
sepertinya bisa dicopot dulu, deh.”
“Iya, Syah. Bayu juga enggak lagi ada di sini.” Pak Samudera
menimpali.
“Mas Bayu memang tidak melihat, tapi Allah masih bisa
melihatnya, kan, Pa?”
“Kayaknya Kak Aisyah lebih tahu kalau Allah itu pengertian,
deh. Allah pasti tahu kok kalau Kak Aisyah ngelepasnya cuma untuk makan,
doang.” Lisa menaikkan alisnya.
“Baiklah.” Aisyah mengalah. Ia melepas cadar, lalu mulai
sarapan.
***
“Lis, kalau kamu enggak kuliah, temani Kakak, yuk.”
“Ke mana, Kak?” tanya Lisa, mematikan TV dengan remot yang
ada di tangannya.
“Ke pasar. Kakak mau beli beberapa baju gamis. Kak Aisyah
pikir, apa yang dikenakan Kakak sekarang kurang sesuai.”
“Bentar, Kak. Lisa ganti pakaian dulu.” Lisa beranjak dari
sofa. Ia berlari kecil menuju kamarnya di lantai dua.
Lima belas menit kemudian, Lisa kembali dengan baju kaos
lengan pendek dan jeans ketat. Di
lehernya menggantung kalung yang terbuat dari manik-manik berbagai warna. Ia membiarkan
rambut lurusnya terurai. Dengan penampilan seperti itu, tidak sedikit kaum adam
yang akan menatap ke arahnya begitu ia lewat.
“Apa kamu tidak punya pakaian lain, Lis?”
“Jangan mulai lagi, Kak,” pinta Lisa. “Ayo kita pergi! Entar
moodku keburu hilang.”
Aisyah mengikuti Lisa ke luar rumah. Mereka menuju SUV putih
yang terparkir di dekat pos satpam. “Pak Yanto, kunci mobil mana?” tanya Lisa
pada satpam berambut keriting itu.
“Ini, Non.” Pak Yanto bergegas menghampiri Lisa dan
memberikan kunci mobil. “Makasih, ya, Non. Bapak udah dikasih pinjam mobilnya.
Tapi, Non Lisa dan Bu Aisyah mau pergi ke mana?”
“Lisa mau bawa Kak Aisyah jalan-jalan, Pak.” Lisa bergegas
masuk ke dalam mobil, diikuti Aisyah.
Aisyah tidak menyangka adik iparnya begitu lihai mengendarai
mobil. Tidak butuh waktu lama untuk mereka sampai di pusat kota. Tetapi, kening
Aisyah mengerut ketika ia menyadari kalau Lisa membawanya ke tempat yang tidak
sesuai dengan apa yang ada dalam benaknya.
“Kita mau ke mana, Lis? Bukannya Kak Aisyah minta kamu
menemani kakak ke pasar?”
“Lah, ini juga pasar, Kak. Tapi, pasar yang lebih bersih.”
Lisa memarkirkan mobil di antara mobil lainnya. Ia kemudian turun. Tidak sabar
dengan Aisyah yang masih melongo, Lisa menarik tangan kakak iparnya itu.
“Bukannya ini …?” Aisyah menatap bangunan yang berdiri di
depannya. Orang-orang keluar masuk tiada henti.
“Ya. Kita akan belanja di sini,” kata Lisa tersenyum,
membayangkan barang-barang yang akan dibeli.
“Tunggu dulu, Lis.” Aisyah menarik tangan Lisa. “Kalau tidak
salah, belanja di sini kan mahal. Tidak bisa nawar juga.”
“Aduh, Kak. Lisa enggak tahu lagi pasar ada di mana. Ini
juga sama kok kayak pasar yang Kakak bilang. Tempat jual-beli. Kalau masalah
enggak bisa nawar, ya sudah, enggak usah ditawar, Kak.” Lisa nyengir, lalu
masuk ke dalam mall. Terpaksa Aisyah
mengikuti karena ia juga tidak tahu di daerah mana mereka sekarang.
Lisa menuntun Aisyah masuk ke dalam sebuah toko yang menjual
berbagai pakaian seperti yang diinginkan Aisyah. Saat Aisyah masih terpaku di
pintu toko, Lisa langsung membaur dengan berbagai model pakaian. “Kak, yang ini
bagus, enggak?” Lisa menunjukkan baju gamis berwarna coklat dengan sedikit
bordiran di bagian leher dan pergelangan tangan.
Aisyah mendekat, memeriksa pakaian yang ditunjukkan Lisa.
Indah. Aisyah menyukainya. Tetapi, ketika ia melihat harga yang tertera di
sana, Aisyah langsung berkata, “Kurang cocok sama Kakak.”
Sudut bibir Lisa bergerak membentuk senyum tipis. “Baiklah.
Kita ambil yang ini.”
“Tapi, Lis. Kakak tidak suka dengan modelnya,” protes
Aisyah.
“Kakak bukan enggak suka sama modelnya, tapi enggak suka
sama harganya, iya, kan?” Lisa menyodorkan baju pilihannya pada Aisyah. “Cuma lima
ratus ribu, kok. Murah, Kak.”
“Murah?” Hampir saja Aisyah memekik jika Lisa tidak langsung
membungkam mulut kakak iparnya itu.
***
Bukannya langsung pulang, Lisa malah mengajak Aisyah
jalan-jalan. Aisyah mengetahuinya karena jalan yang mereka lewati tidak sama
saat mereka pergi tadi. Kini mereka sedang berada di Hotel Samudera.
Hotel Samudera terlihat indah meski dilihat hanya dari
parkiran saja. Tepat di depan hotel terdapat air mancur berukuran tidak terlalu
besar. Kiri dan kanan halaman ditanami beberapa pohon sehingga terasa sejuk
melihatnya.
“Kita kenapa ke sini, Lis?”
“Kita ke sini untuk nunjukin apa yang udah kita beli sama
Papa.” Lisa meraih kantung belanjaaan yang ia letakkan di jok belakang. “Karena
tadi kita belanja pakai uang Papa ….”
“Apa?” Aisyah benar-benar memekik. “Katamu tadi, itu uang
kamu. Kenapa sekarang bisa jadi uang Papa? Kamu menipu Kak Aisyah, ya?’
“Enggak, Kak. Ini memang uang Lisa, tapi dikasih Papa. Jadi,
agar Lisa enggak diomeli Papa, sekarang kita perlu buat laporan.”
“Laporan?”
“Ah, entar Kakak ngerti juga.” Lisa turun dari mobil, lalu
melenggang menuju pintu masuk. Semua pegawai hotel yang berpapasan dengannya
menyapa dengan ramah. Tetapi, Lisa malah bersikap datar.
Aisyah kembali memeriksa pakaiannya apa ada yang salah
karena ia juga menjadi sorotan. Semuanya baik-baik saja. Baju gamis yang baru
mereka beli tadi sangat pas dipadukan dengan cadar yang dikenakannya.
Setelah naik lift, Aisyah dan Lisa sampai di ruangan Pak
Samudera yang ada di lantai dua. Sisi ruangan yang berhadapan dengan jalan
memiliki dinding kaca. Jika tirainya tidak diturunkan seperti sekarang, maka
cahaya matahari bebas masuk. Ruangan itu rapi dan kaku. Tidak ada bunga atau
hiasan yang mencolok. Hanya ada figura foto kecil yang diletakkan di atas meja
dan lukisan abstrak di dinding. Sofa yang digunakan untuk menerima tamu juga
terlihat minimalis.
“Aisyah, kamu tidak mau lihat kantor Bayu? Ruangannya ada di
ujung lorong depan ruangan Papa ini,” kata Pak Samudera, sembari mengecek apa
saja yang sudah dibeli oleh Lisa.
“Kak Aisyah, ayo Lisa tunjukin di mana kantor Kak Bayu. Kita
buat Kak Bayu terkejut sampai kejengkang,” ujar Lisa tertawa puas.
“Sepertinya itu tidak perlu, Lis,” tolak Aisyah. Ia takut
jika mereka pergi, Bayu malah akan marah.
“Ayo, Kak!” Lisa merangkul lengan Aisyah. Sebelum menutup
pintu, Lisa berkata, “Papa udah lihat apa yang Lisa beli, kan? Jadi, jangan
marah ya kalau tagihan kartu kredit Lisa bengkak. Semua kan demi menantu Papa.”
Sepanjang langkah menelusuri lorong menuju ruangan Bayu,
Aisyah tiada hentinya meremas tangannya. Dalam hati, ia berdoa agar Bayu tidak
ada di ruangan sehingga ia tidak perlu menerima omelan suaminya itu sekarang.
Tetapi, doanya tidak dikabulkan. Bayu ada di ruangan.
Satu-satunya alasan Aisyah untuk bersikap tenang adalah saat telinganya
mendengar suara cekikikan dari dalam. Pasti suasana hati Bayu sedang baik.
Buktinya, ia bisa tertawa seluwes itu.
“Ketuk dulu, Lis,” pinta Aisyah seolah sudah tahu apa yang
akan dilakukan sang adik ipar.
“Kalau diketuk, berarti kejutannya enggak akan menarik,
Kak.”
Lisa membuka pintu selebar mungkin, membuat Aisyah langsung
bisa melihat ke semua sudut ruangan. Namun, pandangan Aisyah hanya tertuju pada
satu arah. Ia tidak tertarik mengamati desain ruangan Bayu seperti saat
mengunjungi ruangan Pak Samudera. Karena apa yang dilihatnya sekarang sudah
menyita seluruh perhatiannya.
“Kak Bayu!” teriak Lisa, terkejut dengan pemandangan yang
disuguhkan ketika pintu terbuka.
Seorang wanita sedang memeluk Bayu dari belakang. Keduanya
bercengkerama sambil diselingi cekikikan yang menyebalkan. Begitu mendengar
suara Lisa, Bayu berbalik dan melepas pelukan wanita itu. Tetapi, di wajahnya
sama sekali tidak terlihat raut penyesalan. Ia bersikap biasa seakan tidak
melakukan sesuatu yang salah.
“Ada apa, Lis? Tumben ke kantor Kakak? Kamu bolos kuliah
lagi, ya?” tanya Bayu tersenyum. Tidak secuil pun perhatiannya tertuju pada
Aisyah yang berdiri mematung.
“Apa yang Kakak lakukan?” bentak Lisa.
“Apa? Kakak tidak melakukan hal yang salah.” Bayu mengedik.
“Oh, ya, Kakak mau ngenalin kamu sama Keyla … pacar Kakak.”
“Apa?” Lisa memekik. Ia tidak dapat membungkam mulutnya
seperti yang dilakukannya pada Aisyah tadi di toko.
“Lisa, Kak Aisyah tunggu kamu di luar,” ucap Aisyah dengan
suara bergetar. Ia berbalik dengan tubuh yang berusaha keras dijaga agar tidak
roboh. Saat sudah yakin lolos dari jarak pandang Bayu, ia kemudian berlari. Ia
ingin meninggalkan tempat itu secepat mungkin.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar