19. Terulang Lagi
Petir menggelegar hingga membangunkan Aisyah. Ia tersentak dan langsung melihat jam dinding. Pukul 12 malam. Pandangannya perlahan beralih ke samping. Lantas keningnya mengerut karena tidak menemukan Bayu di sampingnya.
Aisyah keluar kamar untuk mencari Bayu. Ia memeriksa ke ruang kerja, dapur dan kamar tamu. Tetapi, ia hanya menemukan kamar kosong. Apa Mas Bayu belum pulang? pikir Aisyah.
Ia melangkah selebar mungkin menuju kamar Lisa. Karena tidak punya nomor telepon Bayu, Aisyah akan meminta Lisa yang menelepon. Sebenarnya Aisyah tidak enak membangunkan Lisa, tapi fisarat buruk memenuhi kepalanya.
“Lis!” Aisyah mengetuk pintu.
Pintu kamar Lisa tidak segera terbuka. Aisyah harus berteriak dan menggedor sampai Lisa terjaga. Dengan rambut yang kusut dan iler mengalir di sudut bibir, Lisa membuka pintu. “Ada apa, Kak? Apa Kak Bayu nakal? Ambil aja sapu, Kak. Hajar sampai minta ampun.”
“Kamu ngomong apa, sih?” Aisyah membuka mata Lisa. “Mas Bayu belum pulang. Kamu coba telepon dia, deh.”
“Kenapa enggak Kak Aisyah aja yang telepon? Kakak kan punya nomor Kak Bayu,” protes Lisa.
“Nomornya udah dihapus Mas Bayu. Kamu tahu sendiri kan kalau mas Bayu tidak mau bicara pada Kakak?” Aisyah memasang wajah memelas yang membuat Lisa tidak bisa menolak permintaannya.
“Oke. Lisa telepon Kak Bayu, biar Kak Aisyah tenang.”
Lisa kemudian menelepon Bayu. Telepon pertama tidak diangkat. Begitu pula dengan telepon yang kedua dan ketiga. “ Ke mana sih Kak Bayu? Teleponnya kok enggak diangkat?”
“Bagaimana, Lis? Apa ponselnya aktif?”
“Ponselnya aktif kok, Kak. Tapi enggak diangkat.” Lisa memasukkan ponselnya ke dalam saku. “Kak Aisyah enggak usah khawatir, pasti Kak Bayu baik-baik aja, kok. Mungkin dia lagi lembur di kantor. Atau mungkin dia lagi sama ….”
Aisyah melotot sebelum Lisa mengkhiri ucapannya. “Telepon kantornya sekarang!” perintah Aisyah.
Karena merasa bersalah, Lisa langsung menelepon kantor Bayu. Namun, hasilnya sama saja. “Tetap enggak diangkat, Kak.”
“Itu kamu telepon ke ruangannya langsung?” Lisa mengangguk, menjawab pertanyaan Aisyah. “Sekarang telepon resepsionis hotel atau satpam.”
“Resepsionis? Satpam?” Lisa memberengut. “Yah. Kalau nelepon resepsionis, diikira kita nanti mau pesen kamar.”
“Kak Aisyah tidak mau tahu.” Aisyah bersikukuh.
Lisa menghela napas, lalu masuk ke dalam. Sebelum sempat Aisyah kembali mengoceh, Lisa keluar dengan jilbab menutupi kepalanya. “Ayo kita ke kamar Papa, Kak.”
“Kenapa ke kamar Papa? Kita kan mau nelepon hotel?” protes Aisyah.
“Lisa enggak bisa nelepon ke hotel, Kak. Lisa kan bukan karyawan di sana. Kalau kita nekad nelepon, nanti kita dikira iseng. Kalau Papa yang telepon, pasti langsung direspons sama resepsionis, kan bosnya?” Lisa menarik tangan Aisyah menuju kamar Pak Samudera.
Begitu sampai di kamar Pak Samudera, Lisa langsung menggedor. Perintah Aisyah untuk mengetuk perlahan tidak diacuhkan. “Pa, bangun, Pa! Ada situasi gawat, nih!” teriak Lisa.
“Ada apa, Lis?” Pak Samudera muncul dengan tangan mengucek mata.
“Ini perintah Kak Aisyah, lho, Pa. Ingat, ini Kak Aisyah yang minta.” Lisa memberi tekanan saat menyebut nama Aisyah hingga membuat wanita yang dimaksud terpaksa menundukkan kepala. “Kak Bayu belum pulang. Jadi, Kak Aisyah mau minta Papa telepon ke hotel. Lisa udah bilang kalau Kak Bayu baik-baik aja. Tapi, menantu kesayangan Papa ini enggak mau dengar. Menantu Papa terus ngotot ….”
Pak Samudera langsung masuk kamar sebelum Lisa selesai berbicara. “Begini nih yang bikin kesal. Belum selesai bicara langsung pergi. Gercep amat kalau menantunya yang minta,” keluh Lisa.
Ketika Pak Samudera masih di dalam kamar, Aisyah mencubit lengan Lisa. “Kamu bicara apa tadi, Lis?” ujar Aisyah yang disambut kekehan Lisa.
Beberapa menit kemudian, Pak Samudera kembali keluar. “Papa sudah menelepon resepsionis hotel. Mereka bilang, Bayu sudah pulang sekitar jam delapan tadi.”
Aisyah melirik jam dinding. “Itu empat jam yang lalu, Pa. Tidak mungkin Mas Bayu belum sampai.” Pandangan Aisyah tertuju keluar jendela. Hujan yang turun hanya menyisakan gerimis. Namun, firasat buruk semakin memenuhi kepala Aisyah.
“Kita harus mencari Mas Bayu, Pa. Mungkin sesuatu terjadi pada Mas Bayu.”
Pak Samudera menggaruk kepala. Sebenarnya, ia tidak khawatir jika Bayu belum pulang. Karena selama ini, Bayu sering tidak pulang ke rumah. Bahkan, beberapa kali Bayu tidak pulang sampai berhari-hari. Tetapi, melihat kepanikan Aisyah, Pak Samudera terpaksa menuruti keinginan sang menantu.
***
“Kamu lihat kiri, Papa lihat kanan, ya,” kata Pak Samudera dengan tangan memegang setir.
Pak Samudera melirik Aisyah. Ia merasa kasihan pada menantunya itu. Raut kekhawatiran di wajah Aisyah membuat hati Pak Samudera seolah teriris. “Andai saja kamu melihat ini, Bay. Aisyah sangat mengkhawatirkanmu. Ia tidak bisa tenang karena belum melihatmu. Tapi, kenapa kamu malah tidak peduli padanya, Bay?” ucap Pak Samudera dalam hati.
“Pa, bukannya itu mobil Mas Bayu?” Aisyah mencondongkan kepalanya. Bola matanya menyipit, menatap sebuah mobil yang terparkir di seberang jalan.
“Pa, berhenti!” Aisyah berteriak. Ia melesat ke luar begitu mobil berhenti. Melihat sosok pria tergeletak, lutut Aisyah ikut lemas. Ia roboh dengan napas tercekat.
“Ada apa, Syah?” Pak Samudera menghampiri. Ia membawa payung di tangannya.
Namun, Aisyah tidak menjawab. Ia kembali berdiri, lalu berlari untuk memastikan sosok yang dilihatnya bukan pria yang dicari. Berharap itu bukan Bayu, Aisyah menemukan kekecewaan. Sosok pria yang tergeletak di tengah hujan itu benar Bayu.
“Mas Bayu? Mas Bayu kenapa? Bangun, Mas.” Aisyah tidak sanggup menahan air matanya. Melihat kemeja Bayu yang robek dan noda merah yang mulai memudar, ia tidak bisa mengendalikan diri. Dipeluknya Bayu dengan erat sambil sesekali mencium puncak kepala suaminya itu. Ketika tangannya menyentuh luka di perut Bayu, tangisan Aisyah semakin keras.
“Tidak. Mas Bayu harus bangun. Harus bangun! Tolong buka matamu, Mas!” pinta Aisyah.
Sementara Aisyah meraung, Pak Samudera tidak berbuat apa-apa. Ia mematung, menatap tubuh Bayu dalam pelukan sang menantu. Dalam benaknya, ia teringat kejadian yang sama. Ya, ketika Bu Renata meninggal. Kejadian yang sama dan situasi yang sama.
“Pa, ayo kita bawa Mas Bayu ke rumah sakit!” ujar Aisyah, menyadarkan Pak Samudera.
Pak samudera tersentak. Ia langsung mengangkat Bayu, meski harus dibantu oleh Aisyah.
Di dalam mobil, Aisyah tidak berhenti menangis. Ia terus berusaha membangunkan Bayu. “Mas, kamu harus kuat, ya. Sebentar lagi kita sampai di rumah sakit. Mas Bayu harus kuat,” ucapnya, menepis air yang mengalir di wajah Bayu.
Pak Samudera yang duduk di kursi pengemudi, sesekali menoleh ke belakang. Bola matanya berkaca-kaca melihat wajah pucat Bayu. Dalam hati, Pak Samudera tidak berhenti mengucapkan doa agar kejadian yang menimpa istrinya tidak terulang lagi.
Di tengah perjalan menuju rumah sakit, Aisyah merasakan Bayu gemetar dalam pelukannya. “Mas Bayu kedinginan?” tanya Aisyah tanpa ragu melepas jilbabnya. Dengan tangan gemetar, Aisyah melepas pakaian Bayu hingga luka di perut suaminya itu jelas terlihat.
“Mas Bayu harus bertahan. Kumohon,” bisik Aisyah, mengelap wajah Bayu dengan jilbab yang setengah basah.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar