Aisyah menghabiskan
waktu di dalam kamar. Ia merenungi nasib sial yang menimpanya. Sungguh, Aisyah
sangat kesal pada Bayu. Lelaki itu sama sekali tidak tahu bagaimana Aisyah
menahan rasa sakit yang semakin dalam menikam. Apa lelaki itu tidak pernah
memikirkannya?
Mata Aisyah melirik
jam dinding. Pukul sepuluh lewat lima belas menit, Aisyah bangkit dari tempat
tidur dan bergegas keluar.
“Kak Aisyah mau ke
mana?” tanya Lisa yang sedang duduk di sofa sambil menonton TV.
“Mau ke dapur, Lis.
Bantuin Bi Darti sama Ratih masak makan siang.”
“Ngapain, Kak?” Lisa
meletakkan cemilan yang ada di tangannya, lalu menarik lengan Aisyah. “Bi Darti
sama Mbak Ratih udah jagonya di dapur. Jadi, enggak usah diawasi lagi. Mending
Kak Aisyah nemenin Lisa nonton.”
“Nonton?”
“Kalau enggak mau
nonton, Kak Aisyah cerita aja, deh. Lisa penasaran banget, gimana pertama kali Kak
Aisyah ketemu Kak Bayu.” Cemilan yang ada di atas meja dipindahkan Lisa ke
tangan Aisyah.
“Nanti saja Kak Aisyah
cerita. Tapi, apa aku boleh tanya sesuatu?”
“Boleh. Mau nanya apa,
Kak?”
“Yang kudengar dari Bi
Darti, kamu kuliah. Lalu kenapa kamu tidak pergi ke kampus? Dan, satu lagi. Ini
masalah semalam. Dari mana kamu semalam sampai pulang pagi seperti tadi? Satu
lagi, deh. Kenapa tidak datang di acara pernikahan Kak Aisyah?” tanya Aisyah
dengan satu tarikan napas.
“Udah, Kak? Segitu aja
pertanyaannya?” kata Lisa yang ikut menahan napas.
“Ya.”
“Oke. Aku jawab. Aku
lagi malas kuliah, Kak. Dosennya enggak asyik. Terus, masalah semalam, aku nginep
di rumah temen. Jadi, mobil aku itu mogok. Makanya waktu ada temen yang nawarin
buat nginep, ya, aku ikut aja. Dan, yang terakhir masalah enggak hadir di
pernikahan Kakak, aku punya alasan tersendiri.”
“Alasannya apa?”
“Aku enggak bisa
cerita, Kak. Nanti juga Kakak tahu sendiri.”
“Baiklah.” Aisyah
meletakkan cemilan di tangannya ke atas meja. Ia kemudian mengamati gadis yang
duduk di sampingnya sejengkal demi sejengkal. “Lis, kamu tidak risih memakai
pakaian seperti itu?”
Lisa menatap baju yang
ia kenakan. Kaos putih ketat berlengan pendek dan hot pant, sepertinya
tidak ada masalah. Ia mengenakan pakaian itu sehari-hari dan selama ini tidak
merasa aneh. “Aku udah biasa kayak gini, Kak.” Lisa nyengir.
“Pakaian seperti itu
bahaya kalau dibawa keluar, Lis.”
Lisa meniupkan udara
ke atas hingga rambut lurusnya yang terurai ke depan terhempas ke belakang.
“Maaf ya, Kak. Gue bersikap akrab sama Kakak bukan berarti gue mau dengerin
ceramah Kakak. Dan gue tegesin, jangan paksa gue pakai baju kayak Kakak.” Lisa menatap
rendah pada jilbab yang dikenakan Aisyah. “Pakaian kayak gitu enggak cocok sama
style gue.”
Perubahan sikap cara
bicara Lisa membuat Aisyah terkejut. Namun, akhirnya ia tersenyum. “Iya. Aku
tidak akan menceramahimu lagi, Lis. Aku juga tidak akan memaksamu untuk memakai
baju sepertiku. Tapi, aku cuma mau bilang. Seorang wanita adalah perhiasan yang
tidak ternilai harganya. Karena itu, seorang wanita harus mampu menjaga dirinya
agar tetap berharga hingga bertemu Allah nanti.”
Lisa terdiam,
pandangannya tertuju pada TV yang menayangkan acara kuis. Apa pun yang
dikatakan Aisyah tidak didengarkannya.
“Aku ke dapur dulu,
ya. Mau lihat Bi Darti dan Ratih masak apa.”
***
Di malam hari, Aisyah
menunggu Bayu pulang. Hingga jam sembilan tepat, Aisyah tetap menunggu meski
cacing di perutnya sudah melakukan demo minta jatah. Sebagai seorang istri,
Aisyah tidak akan makan malam sebelum Bayu makan juga. Ya, walaupun Bayu tidak
menganggapnya sebagai istri, ia akan tetap berusaha menjadi istri yang
berbakti.
Aisyah bergegas keluar
saat telinganya menangkap suara mobil berhenti di depan rumah. Ia yakin itu
Bayu. Dan tebakannya benar. Dari jendela di samping pintu, ia melihat Bayu
turun dari mobil. Meski dengan kaki bergetar hebat, Aisyah tetap menyambut
kedatangan sang suami.
Bayu menghampiri
Aisyah dengan kepala menunduk. Di tangannya, ia menggenggam kantong plastik. Di
saat berhadapan dengan Aisyah, ia langsung memberikan kantong itu.
Kebahagiaan langsung
membuncah di hati Aisyah. Ia tidak menyangka Bayu akan memberinya hadiah. Ah,
akhirnya hubungan mereka bisa dimulai dengan hal yang baik.
“Apa ini?” tanya
Aisyah gembira.
“Kenakan itu dan
jangan dilepas,” tegas Bayu. Matanya menatap kedua ujung sepatu, seolah ujung
sepatunya adaah hal yang menakjubkan.
Dengan penuh antusias,
Aisyah membuka plastik yang diberikan Bayu. Bingung bercampur terkejut. Ia
tidak mengerti dengan maksud Bayu memberikan beberapa buah cadar untuknya.
“Ini untuk apa?”
Aisyah mengambil salah satu cadar dari dalam plastik.
“Kamu tidak mendengar
apa yang aku katakan tadi pagi? Atau kamu sudah lupa? Biar kuperjelas. Aku
tidak menginginkanmu dalam hidupku. Jadi, kuminta kenakan cadar itu.” Bayu
masih tidak menujukan pandangannya pada Aisyah. “Aku tidak mau ada kenangan
tentang wajahmu dalam hidupku. Karena ketika kamu pergi dari rumah ini nanti,
aku tidak mau susah payah menghilangkan wajahmu dari kepalaku.”
Untuk beberapa saat,
Aisyah terpaku. Hatinya yang hancur terasa digilas hingga menjadi butiran debu.
Hampir saja air matanya jatuh jika ia tidak segera mendongakkan wajah, menatap
langit-langit teras.
“Perintahmu adalah
surga untukku. Selama yang kamu minta tidak bertentangan dengan agama, aku akan
melakukannya dengan ikhlas.”
Aisyah mengenakan
cadar berwarna biru yang ada di tangannya. Ia bersyukur. Dengan adanya cadar
itu, tidak akan ada yang tahu jika ia sedang bersedih.
“Bagus.” Bayu
mengangkat wajahnya yang dari tadi menunduk. “Aku tidak tahu warna apa yang
kamu suka. Jadi, aku belikan itu semua. Bukankah aku baik?”
Aisyah tersenyum pahit
di balik cadar yang dikenakannya. Saat Bayu melewatinya, ia berkata, “Aku akan
menyiapkan makan malam, Mas.”
“Terima kasih. Tapi
aku sudah makan malam tadi.”
Sekali lagi, Aisyah
tersenyum pahit. Benar-benar tidak ada harapan untuknya. Ia dan Bayu seakan
berada di dunia berbeda. Hanya ia yang melihat Bayu, sedangkan suaminya itu
tidak pernah melihat keberadaannya. Lelaki itu sama sekali tidak mau
mengenalnya.
Setelah Bayu pergi ke
kamar, Aisyah bergegas menuju kamar mandi yang ada di dapur. Ia menatap
bayangannya di cermin yang ada di sana. Sangat berbeda. Ia tidak lagi melihat
Aisyah yang dulu. Aisyah yang berpakaian cuek dan hanya mengenakan bergo dalam sehari-hari. Tentu dengan
cadar itu ia tidak lagi pantas memakai bergo
seperti sekarang. Ia harus memakai jilbab yang lebih panjang dan juga baju yang
lebih longgar.
“Tidak buruk.” Kali
ini Aisyah tersenyum ikhlas. “Mungkin ini jalan untukku menuju surga.”
Ia kemudian mencoba
satu per satu cadar yang dibelikan Bayu. Ada dua puluh cadar. Terdiri dari
berbagai warna. Ia senyam-senyum sendiri saat mengenakan cadar itu. Pemikiran
yang sempat ditanamkan oleh setan ia buang jauh-jauh. Aisyah menanamkan dalam
hati, mungkin Bayu memberikan cadar karena ingin menjadi imam yang baik
untuknya. Dan kata-kata yang diucapkannya tadi hanyalah kamuflase untuk
menutupi niat yang sesungguhnya.
***
Udara pagi mengembus
kencang lewat ventilasi. Bayu mengeratkan selimut. Ia semakin terlena oleh
buaian setan yang memanfaatkan kelelahan jiwanya.
Tangan Aisyah hampir
menyentuh Bayu. Tetapi, ia langsung mengurungkan niatnya itu begitu teringat
seperti apa hubungan mereka. Ia harus menjaga jarak. Jangan sampai ia terluka
hanya karena berusaha sok akrab. Mereka bukan kawan ataupun lawan. Mereka hanya
sepasang manusia yang memiliki keinginan berbeda.
Seusai shalat Subuh,
Aisyah mengaji dengan suara yang agak pelan. Ia menggunakan cadar yang telah
diberikan Bayu tadi malam. Hatinya sama sekali tidak keberatan jika harus
menggunakan cadar itu selamanya. Namun, jika alasannya hanya karena Bayu tidak ingin
mengukir kenangan tentang wajahnya, maka hanya tinggal menunggu waktu untuk
hatinya memberontak dan melepas cadar itu.
Alunan ayat-ayat
Alquran memenuhi kamar, juga mengusir dinginnya pagi yang semakin mencengkeram lelaki
yang berbaring di atas tempat tidur. Suara itu perlahan mengusik. Meski berat,
kelopak mata Bayu perlahan terangkat. Ia mencari sumber suara yang mengganggu
tidurnya. Dan tidak butuh waktu lama untuk menemukan Aisyah sedang mengaji di
atas sajadah.
Kelopak mata Bayu
kembali tertutup. Alunan ayat-ayat Alquran yang dibacakan Aisyah membuatnya
merasakan sebuah ketenangan yang aneh. Ia menikmati ayat demi ayat yang
dibacakan Aisyah melebihi musik klasik yang pernah didengarnya.
Dari tempat tidur, ia
melirik Aisyah yang masih bergeming mempertahankan posisinya. Bayu mengembuskan
napas lega melihat Aisyah mengenakan cadar yang diberikannya. Dengan seperti
ini, ia akan bergerak bebas dan tidak perlu lagi berusaha mengalihkan
pandangannya ke arah yang tidak jelas. Sejujurnya, ia sangat terganggu dengan
hal itu. Ia takut menabrak sesuatu karena terlalu sibuk menghindari wajah
Aisyah.
Beberapa lipatan halus
muncul di dahi Bayu. Tadi, suara Aisyah masih biasa saja. Lembut dan
meneduhkan. Tetapi, entah kenapa Bayu merasa serat kesedihan ikut serta dalam
alunan suara Aisyah. Apakah ayat yang dibaca wanita itu memiliki arti yang
memilukan atau karena sikapnya yang keterlaluan?
Rasa penasaran
menyusup ke hati Bayu. Ia akui, Aisyah adalah wanita yang baik. Namun, ia tidak
memiliki perasaan apa-apa pada wanita itu. Ia belum mengenal Aisyah dan tidak
mau berusaha mengenal. Pintu hatinya telah tertutup dan tidak akan ia biarkan
diisi oleh orang lain.
Jauh di dalam lubuk
hati Bayu, ia tidak tega menyakiti Aisyah lebih lama lagi. Ia berharap Aisyah
segera pergi dan ia sendiri akan terbebas dari semua beban berat yang ada di
pundaknya. Menurut Bayu, itu yang terbaik. Bukan tanpa alasan ia melakukan itu
semua. Ya. Ia memiliki alasan yang kuat. Dan cukup ia yang mengetahui alasan
itu, orang lain tidak perlu tahu.
“Mas Bayu sudah
bangun?” sapa Aisyah begitu selesai mengaji.
Mulut Bayu menganga.
Ia tidak bisa menghindari keterkejutannya. Ia segera berdiri dan bergegas ke
kamar mandi. Tetapi, karena terlalu buru-buru, ia menginjak ujung selimut yang
membuatnya terjerembab.
Sekali lagi, ia
bangun, lalu melangkah selebar mungkin ke kamar mandi. Tanpa ia sadari, ia
membanting pintu hingga membuat dirinya sendiri terkejut.
“Bodoh!” umpatnya,
mengacak-acak rambut.
Untuk apa ia buru-buru
tadi? Membuat malu saja. “Wanita itu yang harus keluar dari sini, bukan aku.
Tapi kenapa aku yang merasa sedang dipenjara?”gerutunya.
Bayu berusaha membakar
perasaan bersalah yang sempat hinggap. “Dia pasti tersenyum waktu aku jatuh.
Tidak ada ampun lagi. Dia harus pergi dari rumah ini. Secepatnya.”



Tidak ada komentar:
Posting Komentar