Novel, Short Story, and anymore from Sahrial Pratama

Untaian Cinta Aisyah (Part 8. Perintahmu Adalah Surga Untukku)


8. Perintahmu Adalah Surga Untukku



Aisyah menghabiskan waktu di dalam kamar. Ia merenungi nasib sial yang menimpanya. Sungguh, Aisyah sangat kesal pada Bayu. Lelaki itu sama sekali tidak tahu bagaimana Aisyah menahan rasa sakit yang semakin dalam menikam. Apa lelaki itu tidak pernah memikirkannya?

Mata Aisyah melirik jam dinding. Pukul sepuluh lewat lima belas menit, Aisyah bangkit dari tempat tidur dan bergegas keluar.

“Kak Aisyah mau ke mana?” tanya Lisa yang sedang duduk di sofa sambil menonton TV.

“Mau ke dapur, Lis. Bantuin Bi Darti sama Ratih masak makan siang.”

“Ngapain, Kak?” Lisa meletakkan cemilan yang ada di tangannya, lalu menarik lengan Aisyah. “Bi Darti sama Mbak Ratih udah jagonya di dapur. Jadi, enggak usah diawasi lagi. Mending Kak Aisyah nemenin Lisa nonton.”

“Nonton?”

“Kalau enggak mau nonton, Kak Aisyah cerita aja, deh. Lisa penasaran banget, gimana pertama kali Kak Aisyah ketemu Kak Bayu.” Cemilan yang ada di atas meja dipindahkan Lisa ke tangan Aisyah.

“Nanti saja Kak Aisyah cerita. Tapi, apa aku boleh tanya sesuatu?”

“Boleh. Mau nanya apa, Kak?”

“Yang kudengar dari Bi Darti, kamu kuliah. Lalu kenapa kamu tidak pergi ke kampus? Dan, satu lagi. Ini masalah semalam. Dari mana kamu semalam sampai pulang pagi seperti tadi? Satu lagi, deh. Kenapa tidak datang di acara pernikahan Kak Aisyah?” tanya Aisyah dengan satu tarikan napas.

“Udah, Kak? Segitu aja pertanyaannya?” kata Lisa yang ikut menahan napas.

“Ya.”

“Oke. Aku jawab. Aku lagi malas kuliah, Kak. Dosennya enggak asyik. Terus, masalah semalam, aku nginep di rumah temen. Jadi, mobil aku itu mogok. Makanya waktu ada temen yang nawarin buat nginep, ya, aku ikut aja. Dan, yang terakhir masalah enggak hadir di pernikahan Kakak, aku punya alasan tersendiri.”

“Alasannya apa?”

“Aku enggak bisa cerita, Kak. Nanti juga Kakak tahu sendiri.”

“Baiklah.” Aisyah meletakkan cemilan di tangannya ke atas meja. Ia kemudian mengamati gadis yang duduk di sampingnya sejengkal demi sejengkal. “Lis, kamu tidak risih memakai pakaian seperti itu?”

Lisa menatap baju yang ia kenakan. Kaos putih ketat berlengan pendek dan hot pant, sepertinya tidak ada masalah. Ia mengenakan pakaian itu sehari-hari dan selama ini tidak merasa aneh. “Aku udah biasa kayak gini, Kak.” Lisa nyengir.

“Pakaian seperti itu bahaya kalau dibawa keluar, Lis.”

Lisa meniupkan udara ke atas hingga rambut lurusnya yang terurai ke depan terhempas ke belakang. “Maaf ya, Kak. Gue bersikap akrab sama Kakak bukan berarti gue mau dengerin ceramah Kakak. Dan gue tegesin, jangan paksa gue pakai baju kayak Kakak.” Lisa menatap rendah pada jilbab yang dikenakan Aisyah. “Pakaian kayak gitu enggak cocok sama style gue.”

Perubahan sikap cara bicara Lisa membuat Aisyah terkejut. Namun, akhirnya ia tersenyum. “Iya. Aku tidak akan menceramahimu lagi, Lis. Aku juga tidak akan memaksamu untuk memakai baju sepertiku. Tapi, aku cuma mau bilang. Seorang wanita adalah perhiasan yang tidak ternilai harganya. Karena itu, seorang wanita harus mampu menjaga dirinya agar tetap berharga hingga bertemu Allah nanti.”

Lisa terdiam, pandangannya tertuju pada TV yang menayangkan acara kuis. Apa pun yang dikatakan Aisyah tidak didengarkannya.

“Aku ke dapur dulu, ya. Mau lihat Bi Darti dan Ratih masak apa.”

***

Di malam hari, Aisyah menunggu Bayu pulang. Hingga jam sembilan tepat, Aisyah tetap menunggu meski cacing di perutnya sudah melakukan demo minta jatah. Sebagai seorang istri, Aisyah tidak akan makan malam sebelum Bayu makan juga. Ya, walaupun Bayu tidak menganggapnya sebagai istri, ia akan tetap berusaha menjadi istri yang berbakti.

Aisyah bergegas keluar saat telinganya menangkap suara mobil berhenti di depan rumah. Ia yakin itu Bayu. Dan tebakannya benar. Dari jendela di samping pintu, ia melihat Bayu turun dari mobil. Meski dengan kaki bergetar hebat, Aisyah tetap menyambut kedatangan sang suami.

Bayu menghampiri Aisyah dengan kepala menunduk. Di tangannya, ia menggenggam kantong plastik. Di saat berhadapan dengan Aisyah, ia langsung memberikan kantong itu.

Kebahagiaan langsung membuncah di hati Aisyah. Ia tidak menyangka Bayu akan memberinya hadiah. Ah, akhirnya hubungan mereka bisa dimulai dengan hal yang baik.

“Apa ini?” tanya Aisyah gembira.

“Kenakan itu dan jangan dilepas,” tegas Bayu. Matanya menatap kedua ujung sepatu, seolah ujung sepatunya adaah hal yang menakjubkan.

Dengan penuh antusias, Aisyah membuka plastik yang diberikan Bayu. Bingung bercampur terkejut. Ia tidak mengerti dengan maksud Bayu memberikan beberapa buah cadar untuknya.

“Ini untuk apa?” Aisyah mengambil salah satu cadar dari dalam plastik.

“Kamu tidak mendengar apa yang aku katakan tadi pagi? Atau kamu sudah lupa? Biar kuperjelas. Aku tidak menginginkanmu dalam hidupku. Jadi, kuminta kenakan cadar itu.” Bayu masih tidak menujukan pandangannya pada Aisyah. “Aku tidak mau ada kenangan tentang wajahmu dalam hidupku. Karena ketika kamu pergi dari rumah ini nanti, aku tidak mau susah payah menghilangkan wajahmu dari kepalaku.”

Untuk beberapa saat, Aisyah terpaku. Hatinya yang hancur terasa digilas hingga menjadi butiran debu. Hampir saja air matanya jatuh jika ia tidak segera mendongakkan wajah, menatap langit-langit teras.



“Perintahmu adalah surga untukku. Selama yang kamu minta tidak bertentangan dengan agama, aku akan melakukannya dengan ikhlas.”

Aisyah mengenakan cadar berwarna biru yang ada di tangannya. Ia bersyukur. Dengan adanya cadar itu, tidak akan ada yang tahu jika ia sedang bersedih.

“Bagus.” Bayu mengangkat wajahnya yang dari tadi menunduk. “Aku tidak tahu warna apa yang kamu suka. Jadi, aku belikan itu semua. Bukankah aku baik?”

Aisyah tersenyum pahit di balik cadar yang dikenakannya. Saat Bayu melewatinya, ia berkata, “Aku akan menyiapkan makan malam, Mas.”

“Terima kasih. Tapi aku sudah makan malam tadi.”

Sekali lagi, Aisyah tersenyum pahit. Benar-benar tidak ada harapan untuknya. Ia dan Bayu seakan berada di dunia berbeda. Hanya ia yang melihat Bayu, sedangkan suaminya itu tidak pernah melihat keberadaannya. Lelaki itu sama sekali tidak mau mengenalnya.

Setelah Bayu pergi ke kamar, Aisyah bergegas menuju kamar mandi yang ada di dapur. Ia menatap bayangannya di cermin yang ada di sana. Sangat berbeda. Ia tidak lagi melihat Aisyah yang dulu. Aisyah yang berpakaian cuek dan hanya mengenakan bergo dalam sehari-hari. Tentu dengan cadar itu ia tidak lagi pantas memakai bergo seperti sekarang. Ia harus memakai jilbab yang lebih panjang dan juga baju yang lebih longgar.

“Tidak buruk.” Kali ini Aisyah tersenyum ikhlas. “Mungkin ini jalan untukku menuju surga.”

Ia kemudian mencoba satu per satu cadar yang dibelikan Bayu. Ada dua puluh cadar. Terdiri dari berbagai warna. Ia senyam-senyum sendiri saat mengenakan cadar itu. Pemikiran yang sempat ditanamkan oleh setan ia buang jauh-jauh. Aisyah menanamkan dalam hati, mungkin Bayu memberikan cadar karena ingin menjadi imam yang baik untuknya. Dan kata-kata yang diucapkannya tadi hanyalah kamuflase untuk menutupi niat yang sesungguhnya.

***

Udara pagi mengembus kencang lewat ventilasi. Bayu mengeratkan selimut. Ia semakin terlena oleh buaian setan yang memanfaatkan kelelahan jiwanya.

Tangan Aisyah hampir menyentuh Bayu. Tetapi, ia langsung mengurungkan niatnya itu begitu teringat seperti apa hubungan mereka. Ia harus menjaga jarak. Jangan sampai ia terluka hanya karena berusaha sok akrab. Mereka bukan kawan ataupun lawan. Mereka hanya sepasang manusia yang memiliki keinginan berbeda.

Seusai shalat Subuh, Aisyah mengaji dengan suara yang agak pelan. Ia menggunakan cadar yang telah diberikan Bayu tadi malam. Hatinya sama sekali tidak keberatan jika harus menggunakan cadar itu selamanya. Namun, jika alasannya hanya karena Bayu tidak ingin mengukir kenangan tentang wajahnya, maka hanya tinggal menunggu waktu untuk hatinya memberontak dan melepas cadar itu.

Alunan ayat-ayat Alquran memenuhi kamar, juga mengusir dinginnya pagi yang semakin mencengkeram lelaki yang berbaring di atas tempat tidur. Suara itu perlahan mengusik. Meski berat, kelopak mata Bayu perlahan terangkat. Ia mencari sumber suara yang mengganggu tidurnya. Dan tidak butuh waktu lama untuk menemukan Aisyah sedang mengaji di atas sajadah.

Kelopak mata Bayu kembali tertutup. Alunan ayat-ayat Alquran yang dibacakan Aisyah membuatnya merasakan sebuah ketenangan yang aneh. Ia menikmati ayat demi ayat yang dibacakan Aisyah melebihi musik klasik yang pernah didengarnya.

Dari tempat tidur, ia melirik Aisyah yang masih bergeming mempertahankan posisinya. Bayu mengembuskan napas lega melihat Aisyah mengenakan cadar yang diberikannya. Dengan seperti ini, ia akan bergerak bebas dan tidak perlu lagi berusaha mengalihkan pandangannya ke arah yang tidak jelas. Sejujurnya, ia sangat terganggu dengan hal itu. Ia takut menabrak sesuatu karena terlalu sibuk menghindari wajah Aisyah.

Beberapa lipatan halus muncul di dahi Bayu. Tadi, suara Aisyah masih biasa saja. Lembut dan meneduhkan. Tetapi, entah kenapa Bayu merasa serat kesedihan ikut serta dalam alunan suara Aisyah. Apakah ayat yang dibaca wanita itu memiliki arti yang memilukan atau karena sikapnya yang keterlaluan?

Rasa penasaran menyusup ke hati Bayu. Ia akui, Aisyah adalah wanita yang baik. Namun, ia tidak memiliki perasaan apa-apa pada wanita itu. Ia belum mengenal Aisyah dan tidak mau berusaha mengenal. Pintu hatinya telah tertutup dan tidak akan ia biarkan diisi oleh orang lain.

Jauh di dalam lubuk hati Bayu, ia tidak tega menyakiti Aisyah lebih lama lagi. Ia berharap Aisyah segera pergi dan ia sendiri akan terbebas dari semua beban berat yang ada di pundaknya. Menurut Bayu, itu yang terbaik. Bukan tanpa alasan ia melakukan itu semua. Ya. Ia memiliki alasan yang kuat. Dan cukup ia yang mengetahui alasan itu, orang lain tidak perlu tahu.

“Mas Bayu sudah bangun?” sapa Aisyah begitu selesai mengaji.

Mulut Bayu menganga. Ia tidak bisa menghindari keterkejutannya. Ia segera berdiri dan bergegas ke kamar mandi. Tetapi, karena terlalu buru-buru, ia menginjak ujung selimut yang membuatnya terjerembab.

Sekali lagi, ia bangun, lalu melangkah selebar mungkin ke kamar mandi. Tanpa ia sadari, ia membanting pintu hingga membuat dirinya sendiri terkejut.

“Bodoh!” umpatnya, mengacak-acak rambut.

Untuk apa ia buru-buru tadi? Membuat malu saja. “Wanita itu yang harus keluar dari sini, bukan aku. Tapi kenapa aku yang merasa sedang dipenjara?”gerutunya.

Bayu berusaha membakar perasaan bersalah yang sempat hinggap. “Dia pasti tersenyum waktu aku jatuh. Tidak ada ampun lagi. Dia harus pergi dari rumah ini. Secepatnya.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

My Instagram