Novel, Short Story, and anymore from Sahrial Pratama

Untaian Cinta Aisyah (Part 26. Panik)

26. Panik




Malam hari, Lisa duduk di depan TV sambil sesekali menoleh ke kamar Keyla yang terletak di lantai dua. Ia menunggu apa lagi yang akan dilakukan Keyla untuk membuat Aisyah jengkel. Saat melihat pintu kamar Keyla terbuka, Lisa lantas berdiri. Keningnya berkerut, melihat Keyla membawa sebuah plastik.

Karena tidak sabar, Lisa berdiri dan menunggu Keyla di ujung tangga.

“Kamu pasti penasaran apa yang ada dalam kantung plastik ini, ‘kan?” ujar Keyla ketika berpapasan dengan Lisa.

Lisa mengalihkan pandangan. Kali ini, ia tidak bisa membantah ucapan Keyla.

“Tenang aja.” Keyla menepuk lengan Lisa. “Ini bukan bom, kok. Ini cuma jilbab. Tadi aku beli online. Yah, packingnya agak berantakan, sih. Tapi, tidak apa-apa selama isinya tidak berantakan. Oh ya, aku juga beliin satu untuk kamu.”

“Tidak butuh.”

“Aku beli ini bukan karena kamu butuh, tapi karena aku ingin membelikannya.” Keyla memberikan salah satu jilbab yang baru dibelinya. “Di mana Aisyah? Aku juga beliin satu buat dia, sekalian mau minta diajari cara pakainya.”

“Kenapa harus Kak Aisyah yang ngajarin Kakak? Aku juga bisa, kok,” kata Lisa, mencegah Keyla untuk menyusun rencana yang bisa membuat Aisyah terluka.

“Ah, Kakak tidak mau kalau kamu yang ngajarin. Nanti, jilbabnya bukannya nutupin kepala, tapi ngegantungin leher,” kekeh Keyla, membuat Lisa hampir meradang. “Cuma bercanda, kok,” ucapnya kemudian.

Keyla berjalan menuju meja makan sambil tertawa cekikikan. Tawanya tidak kunjung reda, meski ia sudah di meja makan dan berdiri di depan Aisyah.

“Ada apa, Key? Kenapa kamu tertawa seperti itu?” tanya Aisyah, melihat Keyla masih tertawa.

“Tidak ada apa-apa.” Keyla berusaha meredakan tawanya, lalu memberikan sebuah jilbab berwarna merah muda pada Aisyah. “Aku beli ini buat kamu. Aku juga beli buat Lisa. Oh ya, aku ingin kamu ngajari aku pakai jilbab ini.”

“Terima kasih, Key. Aku akan mengajarimu nanti.”

“Jangan nanti, sekarang aja. Aku mau semua orang melihatku memakai jilbab waktu makan malam.”

“Bu, sop ini diletakkan di mana?” Bi Darti membawa sebuah baskom dengan asap yang masih mengepul.

Aisyah meletakkan jilbab yang diberikan Keyla dikursi, lalu menggantikan Bi Darti memegang sop yang masih panas. “Bi Darti, tolong minta Ratih bawain ayam goreng tadi siang. Aku sudah panaskan ayamnya, jadi itu masih bisa dimakan,” kata Aisyah, meletakkan sop ke atas meja.

“Ajari aku sekarang, ya,” pinta Keyla, menarik lengan Aisyah hingga sop yang belum sempat diletakkan tumpah mengenai perutnya.

Keyla menjerit. Perutnya terasa terbakar setelah tersiram sop yang masih panas. Ia jatuh sambil terus memegang perutnya. “Bayiku! Panas!” teriak Keyla hingga seisi rumah keluar.

“Ada apa? Apa yang terjadi?” tanya Bayu, keluar dari ruang kerjanya. Pak Samudera, Lisa, dan Dimas pun sudah berdiri, menatap Keyla yang terus merintih.

“Tadi aku mau meletakkan sop ke atas meja, Mas. Tapi, Keyla menarik tanganku dan sop yang kupegang ….” Aisyah tidak mampu meneruskan ucapannya. Ia panik dan tidak bisa berpikir apa-apa. Ketika tangannya menyentuh perut Keyla, ia merasa bersalah. Jika terjadi sesuatu pada bayi yang dikandung Keyla, Aisyah tidak akan memaafkan dirinya sendiri.

“Key, kamu tidak apa-apa?” Bayu memeluk Keyla dan memeriksa perut istrinya itu. Namun, Keyla hanya menjawab dengan tangis dan rintihan.

“Bi Darti, cepat ambilkan es batu!” Pak Samudera memberi perintah. Ia juga panik melihat menantunya kesakitan. “Lisa, siapkan mobil. Kita akan bawa Keyla ke rumah sakit.”

Meski tidak menyukai Keyla, Lisa tidak bisa membantah perintah papanya. Ia juga merasa kasihan melihat Keyla kesakitan seperti itu.

“Key ….” Aisyah mencoba membantu meredakan panas di perut Keyla dengan es batu yang diambil Bi Darti. Namun, Bayu mendorongnya hingga terhempas.

Aisyah menahan perasaannya. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa Bayu mendorongnya karena panik. Namun, bukan ia sendiri yang harus ditenangkannya. Kemarahan Dimas yang berdiri di sampingnya juga perlu dikendalikan. “Kakak tidak apa-apa,” ucap Aisyah pada Dimas lewat gerak bibirnya.

“Mobilnya udah siap,” ujar Lisa kehabisan napas karena berlari.

Aisyah kembali mendekati Keyla untuk membantu Bayu memapahnya. Tetapi, Bayu kembali mendorong Aisyah hingga hampir terjatuh jika saja Dimas tidak sigap memegangnya. “Jangan berani menyentuhnya! Kamu yang membuat Keyla seperti ini. Kamu tidak ingin Keyla melahirkan anakku, makanya kamu melakukan semua ini,” bentak Bayu.

“Kak Bayu.” Lisa berusaha menahan Bayu sebelum kakaknya itu mengucapkan kata-kata yang lebih menyakiti Aisyah.

 “Jangan berani mendekati Keyla,” ujar Bayu dengan nada yang penuh ancaman.

Pak Samudera tidak mampu berkata apa-apa melihat ekspresi Bayu. Ditambah Keyla yang terus merintih, kepalanya terasa mau pecah. “Kita bicarakan ini nanti. Lebih baik sekarang kita bawa Keyla ke rumah sakit sebelum kondisinya makin parah.” Pak Samudera bergegas pergi setelah meminta kunci mobil pada Lisa.

Aisyah yang terkejut dengan ucapan Bayu, berdiri terpaku dengan air mata mengalir di pipinya. Ia terus menatap punggung Bayu yang seolah mengucapkan selamat tinggal untuknya.

“Kak Aisyah, ucapan Kak Bayu ….”

“Ayo kita pergi, Kak!” Dimas menarik tangan Aisyah sebelum Lisa menyelesaikan kalimat yang ingin diucapkan. Dengan amarah yang meggelegak, Dimas membawa kakaknya ke kamar. Ia sudah tidak bisa menoleransi apa yang dilakukan Bayu pada Aisyah. Ia akan membawa Aisyah pulang malam ini juga.

“Barang-barang Kak Aisyah di mana?” tanya Dimas, mengambil koper yang ada di atas lemari.

“Kamu mau ngapain, Dim?” tanya Lisa, merampas koper dari tangan Dimas.

“Apa Kak Lisa tidak melihat Kak Aisyah?” Dimas menunjuk pada kakaknya yang menangis di pinggir tempat tidur. “Kami akan pulang, Kak. Ini yang terbaik.”

“Kalian tidak boleh pergi.” Lisa tidak mau menyerahkan koper yang ada di tangannya.


“Tolong biarkan kami pergi, Kak.” Dimas menarik napas. “Tolong biarkan Kak Aisyah lepas dari penderitaannya. Aku enggak bisa melihat Kak Aisyah menangis lagi. Sudah cukup sampai di sini saja. Kalau kami bertahan lebih lama, aku tidak tahu harus sehancur apa lagi Kak Aisyah.”

Kali ini Lisa tidak bisa membantah ucapan Dimas. Aisyah memang sudah terlalu banyak terluka. Tidak seharusnya ia egois dengan mempertahankan Aisyah untuk mengalami penderitaan lagi.

Dimas memasukkan semua barang Aisyah ke dalam koper yang akhirnya diberikan Lisa. Setelah barang-barang Aisyah selesai dikemas, Dimas bergegas ke kamarnya untuk mengambil barang-barangnya.

“Apa Kak Aisyah akan benar-benar pergi?” tanya Lisa, setelah Dimas pergi.

Aisyah menengadahkan wajah, lalu menyeka kedua matanya. “Dimas benar. Kami harus pergi. Ini yang terbaik.”

“Apakah Kak Aisyah sudah menyerah?”

“Tidak. Aku pergi bukan karena menyerah, tapi hanya karena semua memang sudah selesai.” Aisyah meraih tangan Lisa, lalu menggenggamnya. “Mas Bayu sudah memiliki Keyla. Bahkan, sebentar lagi mereka akan punya anak. Lagi pula, semua sudah lebih baik dari sebelumnya. Seperti yang kujanjikan padamu.”

“Tapi ….”



Aisyah menggeleng. “Aku bukan malaikat. Aku hanya wanita yang bisa terluka dan membenci. Sebelum luka di hatiku menjadi benci yang mendalam, aku harus pergi dan melupakannya.”

“Apa Kak Aisyah tidak mencintai Kak Bayu?”



“Untuk saat ini, cinta bukanlah hal yang tepat untuk ditanyakan. Karena apa yang terbaik, itu yang lebih penting.”

“Dan menurut Kak Aisyah, ini yang terbaik?” Lisa menunjukkan kekecewaannya.

“Menurutku ini yang terbaik, Lis. Aku dan Keyla akan sama-sama terluka jika aku tetap bertahan di sini. Dan yang lebih penting lagi, Mas Bayu akan kesulitan memilih jika aku tetap di dekatnya.”

Aisyah kemudian berdiri setelah mendengar Dimas memanggilnya. Ia memeluk Lisa dengan erat. Hari-harinya akan lebih buruk jika seandainya Lisa tidak ada. “Kamu harus selalu tersenyum, ya. Dan, jangan biarkan Boy main-main denganmu.”

Lisa mengantarkan Aisyah dan Dimas sampai ke pintu gerbang. Mereka akan diantar oleh Pak Slamet ke terminal.

Tiba-tiba saja Lisa merasa sesak. Air matanya tumpah tidak mampu ia bendung. Ini sama seperti saat mamanya meninggal. Ia sedih dan kehilangan arah. Namun, kali ini ia telah berjanji pada dirinya sendiri. Ia akan lebih kuat dan lebih tegar. Ia harus merelakan Aisyah dan Dimas pergi. Karena dengan seperti itu, Aisyah tidak akan terluka lagi seperti yang dikatakan Dimas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

My Instagram