25. Pahit
Takdir itu sama sekali tidak bisa dihindarkan. Karena satu bulan kemudian, Keyla telah berada di rumah Pak Samudera dengan status sebagai istri Bayu. Bukan membawa bahagia, melainkan membawa kelam. Tidak ada yang tersenyum, semua menyambut Keyla dengan dahi berkerut.
Pesta pernikahan diadakan sederhana dua hari yang lalu. Hanya akad nikah tanpa ada resepsi. Meski seperti itu, semua pegawai hotel Samudera mengetahui tentang pernikahan ini. Mereka membicarakan Keyla, menuduh Keyla bertingkah genit sehingga berhasil merebut Bayu dari Aisyah.
“Lisa, kamu lihat Bayu, enggak?” tanya Keyla, keluar dari kamar.
“Tanya aja sama tembok.” Lisa lewat begitu saja menuju meja makan. Sejak kedatangan Keyla, Lisa belum pernah tersenyum lagi.
Keyla mendengkus, menahan kesal. Ia merasa tidak pantas menerima perlakuan seperti ini. Ia bukan wanita yang ditemukan di jalanan begitu saja. Sekarang, ia adalah istri Bayu dan sedang mengandung penerus keluarga Samudera.
“Selamat pagi, Aisyah,” sapa Keyla ketika ia melihat Aisyah keluar dari kamar. “Apa kamu melihat Bayu?”
“Selamat pagi. Aku belum melihat Mas Bayu dari semalam. Bukannya Mas Bayu tidur di …” Aisyah menahan sesak di dadanya, “di kamarmu?”
“Tidak. Semalam aku tidur sendiri.”
Mendengar jawaban Keyla, Aisyah bergegas ke ruang kerja Bayu. Dugaan Aisyah tepat. Bayu sedang berada di ruangan itu dengan wajah menempel ke meja. Mas Bayu tidur di sini, batin Aisyah.
“Mas Bayu, bangun. Udah pagi, Mas.” Aisyah mengguncang tubuh Bayu dengan pelan. “Mas Bayu hari ini ke kantor, ‘kan?”
Bayu mengangkat kepalanya, lalu meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku.
“Kenapa Mas Bayu tidur di sini?” tanya Aisyah.
Bayu tidak menjawab. Ia malah memeluk Aisyah dengan erat. “Aku tidak tahu apa aku sanggup terus seperti ini.” Bayu menghela napas. “Aku tidak bisa berbuat seperti apa yang sudah kurencanakan. Setiap berdiri di depan pintu kamar Keyla, aku merasa menjadi laki-laki yang paling hina di dunia ini.”
“Semua ini sudah terjadi, Mas. Kita tidak bisa menghapus kesalahan di masa lalu. Tapi, kita bisa memperbaikinya dengan melakukan yang terbaik di masa sekarang.”
“Bayu.” Keyla menerobos masuk. “Apa kamu tidak bisa menghargai aku sedikit saja? Apa kamu juga tidak sadar kalau aku sedang mengandung anakmu? Ini buah cinta kita, Bay.”
“Jangan mulai lagi, Key. Ini masih pagi.” Bayu mendekati Keyla. “Ayo kita keluar.”
“Siapa yang mulai duluan, Bay. Kamu yang duluan.” Keyla menepis tangan Bayu yang berusaha meraih tangannya. “Semalaman aku nungguin kamu. Dan, pagi ini aku nyariin kamu. Tapi, kamu malah di sini berpelukan dengan Aisyah. Kamu anggap aku ini apa, Bay? Kamu memangnya tidak menyayangi anak kita?”
“Tidak seperti itu, Key. Semalam aku harus menyelesaikan beberapa laporan sebelum ditunjukkan ke Papa. Jadi, karena kelelahan, aku tidur di sini.”
“Alah, itu cuma alasanmu.” Keyla keluar dengan wajah ditekuk.
“Ayo, Syah.” Bayu menoleh pada Aisyah, lalu keluar. Kepalanya terasa akan pecah menghadapi sikap Keyla yang selalu membuatnya tidak tenang. Ya, bukan salah Keyla sepenuhnya. Bayu sendiri memiliki andil besar dari sikap yang ditunjukkan istri keduanya itu. Salahnya tidak bisa bersikap seperti dulu pada Keyla. Dulu ia bisa bersikap mesra. Memeluk dan mencium Keyla dengan mudah. Tetapi, setelah ia memutuskan membuka hati untuk Aisyah, perasaan canggung tiba-tiba saja menyergap seperti benteng yang menghalangi tangannya.
***
“Rotinya enggak enak, ya. Pahit,” celetuk Lisa, meletakkan roti kembali ke piring. Ia kemudian menatap Dimas yang sama sekali tidak menyentuh sarapannya. “Sarapannya enggak enak, kan, Dim?”
Dimas tidak menjawab, ia hanya memutar-mutar piring dengan pandangan kosong.
“Walaupun sarapannya kurang enak, tapi anak kita suka. Iya, kan, Bay?” Keyla meletakkan tangannya di atas tangan Bayu. “Kamu enggak mau nyapa anak kita, Bay? Kamu belum pernah nyapa dia, lho.”
Lisa mengalihkan pandangannya. Ia hampir muntah mendengar nada bicara Keyla yang sok imut dan sok manja. Hampir saja kalimat yang menyakitkan keluar dari mulutnya. Namun, Lisa menahan kekesalannya karena anak yang ada dalam kandungan Keyla juga adalah keponakannya sendiri.
“Aisyah, kamu juga boleh menyapa anak dalam perutku. Karena bagaimana pun, kamu juga adalah ibunya.” Keyla sengaja memancing kemarahan Aisyah. Ini juga untuk membalas kejadian tadi pagi.
“Iya, Key. Tapi, sebaiknya kita tidak banyak bicara ketika makan,” sahut Aisyah tersenyum lebar.
Bayu menghela napas. Ia berdiri sambil berkata, “Aku berangkat dulu. Pa, Bayu duluan.”
Melihat Bayu pergi, Aisyah ikut berdiri dari kursi. Namun, Keyla tidak mau kalah. Ia ikut mengantar Bayu berangkat ke kantor. Ini bukan pertama kalinya Keyla mengantarkan Bayu seperti ini. Ia sudah sering melakukannya ketika Bayu menginap di rumahnya dulu. Bahkan, lebih sering dari Aisyah.
“Mas Bayu,” panggil Aisyah. Ia meraih tangan suaminya itu dan menciumnya. “Hati-hati, Mas.”
Bayu tersenyum, lalu mencium kening Aisyah. “Kamu harus bertahan Aisyah. Aku mencintaimu lebih dari apa pun.”
“Bayu.” Keyla datang menyusul. “Kamu tidak lupa kebiasaan lamamu, ‘kan? Atau jangan-jangan kamu sudah berubah? Kalau kamu lupa atau sudah berubah, aku mau ingatin kamu, deh. Dulu kamu sering nginap di rumahku, ingat, kan? Dan waktu kamu mau pergi ke kantor, kamu selalu nyium pipi kiri dan kananku. Jangan bilang kamu lupa.”
Bayu menatap Aisyah. Melihat istrinya itu memalingkan wajah, Bayu mengulurkan tangan. Niatnya untuk bersalaman, tapi Keyla malah ingin mencium. Sialnya, tidak jadi karena Bayu langsung menghindar.
“Kak Aisyah, Dimas nyariin, tuh. Dia lupa naruh bukunya di mana,” kata Lisa, dengan wajah ditekuk.
“Iya.” Aisyah buru-buru masuk.
“Kamu enggak bareng sama Kakak, Lis?” tanya Bayu, sengaja menghindar dari Keyla.
“Enggak, Kak. Aku sama Papa aja.”
Bayu mengangguk, lalu pergi. Ia mengabaikan Keyla yang seperti ingin mengatakan sesuatu. Ketika sudah masuk mobil, Bayu memijat keningnya. Entah sampai kapan ia bisa menghadapi suasana seperti ini. Aisyah yang selalu diam dan Keyla yang terlalu agresif. Benar-benar membuat pusing. Apa akan ada kata tenang dalam pernikahannya?
“Kak Keyla sengaja manas-manasin Kak Aisyah?” ujar Lisa, mencegat Keyla.
“Apa kamu tidak bisa menunjukkan sikap hormat sedikit saja di depanku, Lis?” Keyla menyilangkan tangan di dada. Kemudian, ia tersenyum, “Aku pernah ke rumah ini dan beberapa kali melihatmu di kantor Bayu. Tapi, waktu itu kamu tidak memakai jilbab seperti sekarang. Apa ini semua karena Aisyah?”
“Jangan pedulikan penampilan Lisa, Kak. Lisa juga kenal Kak Keyla. Bahkan, teman-teman Lisa juga kenal Kakak. Tapi, satu hal yang harus Kakak ingat. Jangan pernah menyakiti Kak Aisyah. Kak Aisyah itu wanita yang baik, tidak seperti ….”
Keyla menegang. “Kamu mau bilang aku bukan wanita yang baik, hah?” Keyla menghela napas. “Aku sudah capek mendengar itu, Lis. Di kantor, aku jadi bahan omongan karyawan lain. Mereka menghinaku, mengatakan aku wanita murahan. Dan di sini, di rumah suamiku sendiri aku juga dicap bukan wanita baik-baik.” Keyla kembali menarik napas. “Apa kamu tidak bisa melihat kalau aku juga menderita?”
“Menderita?”
“Bayu yang datang padaku, bukan aku yang merayunya. Ingat itu. Bukan aku yang menawarkan dadaku sebagai tempat bersandarnya, dia yang datang sendiri.” Keyla melotot tajam. “Kutegaskan sekali lagi, dia yang datang sendiri padaku.”
“Apa itu benar?” Lisa tidak mau kalah. “Sebagai seorang wanita, seharusnya kita enggak membuka pintu rumah begitu saja untuk seorang laki-laki, terutama kalau wanita itu hanya tinggal sendiri.”
“Bayu bukan orang lain untukku, Lis.”
“Ya, aku tahu Kak Bayu bukan orang lain untuk Kak Keyla. Kalian sama-sama kuliah di London, aku tahu. Aku sering lihat foto-foto Kak Bayu sama Kak Keyla di sosmednya.” Lisa manarik napas. Perlahan, air matanya menetes. Ia teringat saat mamanya meninggal. “Di saat Kak Bayu datang ke rumah Kakak, apa dia langsung merebahkan kepalanya di dada Kak Keyla? Lisa tahu pada saat itu Kak Bayu tertekan banget karena meninggalnya mama. Tapi, sebagai seorang sahabat, Kak Keyla seharusnya mendekatkannya pada Allah, bukan menjerumuskannya.”
“Apa kamu bilang? Menjerumuskannya?” Keyla tidak terima.
Lisa mengalihkan pandangan. Ia tersenyum sinis, lalu berkata, “Sebagai seseorang yang berpendidikan, Kakak seharusnya bisa menjaga diri.”
Lisa buru-buru masuk ke dalam rumah sebelum Keyla sempat membalas ucapannya. Mengobrol dengan Keyla, hanya akan membuat darahnya mendidih. Ia tahu tidak seharusnya menyalahkan Keyla begitu saja. Tetapi, melihat Keyla selalu menunjukkan kelebihannya di depan Aisyah, Lisa merasa tidak bisa diam begitu saja.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar