Novel, Short Story, and anymore from Sahrial Pratama

April 28, 2019

Untaian Cinta Aisyah (Part 18. Kehilangannya)

by , in
18. Kehilangannya



Pak Samudera mondar-mandir di ruang tengah. Berulang kali ia menoleh pada jam dinding yang menunjukkan pukul tujuh lewat dua puluh. Ia lantas memijat keningnya ketika melihat pintu masih tertutup rapat.

“Ratih!” panggil Pak Samudera.

Gadis yang dipanggil buru-buru keluar dari dapur. “Ya, Pak. Ada apa?”

“Aisyah benar-benar tidak meninggalkan pesan?” tanya Pak Samudera.

“Maaf, Pak. Bu Aisyah tidak mengatakan apa-apa. Kalau tidak salah, Bu Aisyah bahkan belum pulang dari tadi pagi,” jawab Ratih, menundukkan pandangannya. Ia sama sekali tidak berani menatap Pak Samudera karena mengetahui kepanikan sang majikan.

“Belum pulang dari tadi pagi?” Bola mata Pak Samudera melebar. “Kok bisa belum pulang? “

“Saya juga tidak mengerti, Pak.”

“Baiklah. Kamu selesaikan pekerjaanmu saja.”

Pak Samudera merogoh ponsel dari saku. Ia menelepon Bayu buru-buru. “Bayu, apa Aisyah bersamamu?” tanya Pak Samudera setelah telepon tersambung.

“Tidak, Pa,” sahut Bayu bermalas-malasan. “Memang dia tidak bilang apa-apa sebelum pergi?”

“Bagaimana Aisyah bilang apa-apa? Dia bahkan belum pulang dari tadi pagi.” Pak Samudera berusaha menahan amarahnya. “Apa yang terjadi tadi pagi? Apa kamu memarahi Aisyah? Oh ya, kamu memberikan dia ongkos pulang, kan? Oh iya, alamat rumah ini dia sudah tahu, kan?”

“Apa? Ongkos pulang? Alamat rumah?”

“Bayu!” bentak Pak Samudera. “Apa kamu sama sekali tidak berbicara apa-apa dengan Aisyah tadi? Kamu tidak tanya dia tahu jalan pulang atau tidak?”

“Apa masalahnya denganku?”

“Bayu!” Pak Samudera tidak sanggup membendung amarahnya. “Papa mengerti, kamu belum memaafkan Papa atas meninggalnya mamamu. Tapi, Aisyah tidak ada hubungannya dengan itu. Dia tidak salah. Jangan sampai kamu menyesal, Bay. Aisyah tidak boleh bernasib sama dengan mamamu. Dia wanita yang baik. Dan, kamu juga tidak boleh menjadi seperti Papa.”

Tidak ada respons dari Bayu. Telepon telah terputus tanpa ada kata yang membuat pikiran Pak Samudera tenang.

“Aku harus mencari Aisyah.” Pak Samudera bergegas ke kamar untuk mengambil kunci mobil. Sebelum sempat keluar, ia mendengar seseorang mengucapkan salam.

Pak Samudera lantas berlari ke luar kamar. Ia tersenyum lebar saat melihat Aisyah dan Lisa di pintu. “Aisyah, kamu dari mana saja? Kenapa baru pulang sekarang?” tanya Pak Samudera.

“Maaf, Pa.” Aisyah berusaha tersenyum meski tubuhnya terasa remuk. “Aisyah tidak tahu jalan pulang tadi.”

“Iya, Pa. Untung Aisyah bertemu Pak Rudy. Kalau enggak, Kak Aisyah mungkin  masih belum pulang sampai sekarang,” jelas Lisa.

“Pak Rudy?”

“Dosen Lisa di kampus, Pa. Pak Rudy itu teman Kak Aisyah waktu di kampung dulu.” Lisa melingkarkan tangannya di lengan Aisyah.

“Tapi, kenapa dia baru mengantarkanmu sekarang?” Pak Samudera kembali bertanya.

Lisa menghela napas. “Baiklah. Lisa akan ceritain semuanya.”

Aisyah melotot pada Lisa. Dari tatapannya, terlihat jelas kalau ia sedang mengancam adik iparnya itu.

“Sebenarnya apa yang terjadi? Pasti Bayu mengatakan sesuatu, iya, kan?” Pak Samudera berkacak pinggang. “Kamu tidak perlu menyembunyikannya pada Papa. Bayu sudah mengatakannya.”

“Kak Bayu ninggalin Kak Aisyah di tengah jalan, Pa. Jadi, Kak Aisyah harus jalan kaki ke laundry. Bayangkan, Pa. Jalan kaki di bawah terik matahari. Penat, lelah, haus. Semua menjadi satu. Untung Pak Rudy ketemu sama Kak Aisyah. Tapi, Kak Aisyah malah enggak mau dianterin,” ujar Lisa dengan penuh ekspresi.

“Tidak usah berlebihan, Lis. Aku tahu Rudy lagi sibuk. Makanya, aku tidak mau dianterin,” sela Aisyah. Ia menatap ke belakang Pak Samudera, mencari seseorang yang selalu mengganggu pikirannya. “Apa Mas Bayu belum pulang, Pa?” tanyanya ketika tidak melihat orang yang dicari.

“Biarkan saja. Dia juga tidak peduli kamu sudah pulang atau tidak,” ketus Pak Samudera.

Giliran Lisa yang melotot pada Pak Samudera. Apa yang baru saja diucapkan oleh Pak Samudera jelas bukan kalimat yang seharusnya didengar oleh seorang wanita yang berusaha memenangkan hati Bayu.

“Papa minta maaf,” kata Pak Samudera, membuat Lisa menepuk dahinya sendiri.

“Tidak apa-apa, Pa.” Aisyah pergi ke kamar dengan mendung menggelayut di wajahnya.

“Papa gimana, sih?” Lisa menampar lengan Pak Samudera. “Enggak bisa baca kondisi amat. Ngapain Papa minta maaf tadi? Kan semakin jelas.”

Pak Samudera mengedik sambil garuk kepala.

***

Bayu masih bertahan di ruangannya. Ia harus menyelesaikan beberapa berkas untuk meeting besok. Namun, seseorang kembali mengusik pikirannya.

“Ah, kenapa begini lagi?” geram Bayu, menghantam meja.

Tadi siang, ia sudah bersusah payah untuk mendapatkan konsentrasinya kembali setelah sempat diusik oleh sebuah kenangan menyakitkan. Ia bisa kembali menyelesaikan beberapa pekerjaan. Namun, sekarang pikirannya kembali terganggu.

Meski berusaha sekuat mungkin, Bayu akhirnya gagal. Ia tidak bisa fokus. Hujan di luar membuat berbagai pikiran buruk menyelusup ke dalam kepalanya dengan mudah. Di telinganya terus terngiang ucapan Pak Samudera. Dan, ia membenarkan semua itu. Aisyah tidak boleh bernasib sama dengan mamanya. Ia juga tidak mau menjadi seperti papanya.

Bayu bergegas merapikan meja. Kemudian, ia berlari kecil menuju parkiran. Hujan yang turun membuat bajunya basah. “Benar-benar merepotkan!” gerutu Bayu, menyalakan mobil.

Di tengah kegelapan dan hujan, Bayu mengemudi perlahan. Ia melirik ke kiri dan kanan, berharap Aisyah ada di sana. Namun, yang dicari tidak kunjung ketemu hingga ia sampai di tempat mamanya meninggal.



“Aku memang tidak menganggapnya istriku, tapi dia juga tidak boleh bernasib sama dengan Mama,” tegas Bayu, menatap tempat terakhir kali ia bertemu mamanya.

Saat Bayu berniat menginjak gas, dua orang pria tiba-tiba berdiri di depan mobil. Keduanya tersenyum, memindai mobil jengkal demi jengkal.

Bayu membunyikan klakson agar kedua pria itu pergi. Tetapi, bukannya pergi, keduanya malah mendekat. Pria bertubuh gemuk dengan rambut keriting menyeringai. Di tangannya, ia memegang pisau.

“Sial!” umpat Bayu. Niatnya untuk menolong Aisyah membuatnya menghadapi situasi bahaya. Sekarang, ia yang butuh bantuan untuk menghadapi dua pria yang jelas memiliki niat jahat.

Sebelum sempat menelepon polisi, Bayu bergegas membuka pintu mobil karena pria berambut gondrong hendak melempar batu padanya. “Kalian mau apa? Katakan saja. Aku akan memberikannya,” kata Bayu, berusaha menyembunyikan ketakutannya.

“Kami mau semuanya,” kekeh pria bertubuh gemuk, mengangkat pisau tepat di depan wajahnya.

Bola mata Bayu tertuju pada pisau. Bagaimana mamanya terbunuh kembali melintas di benaknya. Ketakutannya lenyap, berganti dengan amarah yang menggelegak. Dengan tangan terkepal, Bayu melangkah maju.

“Jangan mendekat, atau pisau ini akan merobek perutmu,” ancam pria bertubuh gemuk.

Namun, ancaman itu tidak sedikit pun digubris oleh Bayu. Ia mendekat perlahan. “Tidak akan kubiarkan manusia seperti kalian hidup lebih lama,” teriak Bayu di antara hujan yang turun semakin deras.

“Kamu berani melawan?” Pria berambut gondrong tersenyum sinis. Ia melemparkan batu pada Bayu. Namun, lemparannya meleset.

Bayu melayangkan pukulan pada pria berambut gondrong, tapi pria bertubuh gemuk dengan cepat menyambar lengannya. Darah segar merembes, menodai kemeja merah yang dikenakannya. “Ini akibatnya kalau berani melawan,” ujar pria berambut gondrong.

“Ini bukan apa-apa. Aku tidak akan mati hanya karena luka kecil seperti ini.” Bayu kembali menegakkan tubuhnya. “Kalian tidak pantas disebut manusia. Dan, kalian tidak lebih baik dari binatang hina! Manusia seperti apa yang tega menghabisi nyawa orang lain hanya agar bisa makan, hah?” Bayu melemparkan ludahnya tepat di baju pria berambut gondrong.

“Jangan banyak omong!” teriak pria berambut gondrong sambil melayangkan pisau.

Bayu berhasil menghindar. Namun, pria bertubuh gemuk berhasil menahannya. “Apa kamu bilang? Kami binatang? Kalau kami binatang, lalu kamu apa? Kamu adalah mangsa binatang.” Pria bertubuh gemuk tertawa tepat di telinga Bayu, membuat darahnya semakin mendidih.

Bayu meronta, berusaha meloloskan diri. Tetapi, kekuatannya tidak mampu mengalahkan cengkeraman pria bertubuh gemuk.

Ketika pria bertubuh gemuk menahan Bayu, pria berambut gondrong dengan leluasa menjarah mobil. Tidak ada sesuatu yang bisa diambil di sana. Mobil itu bersih, seolah pemiliknya bukan orang kaya.

“Sial! Tidak ada apa-apa di dalam mobil. Kita seharusnya merampok wanita saja. Kalau wanita, mereka selalu memakai perhiasan ke mana-mana. Tapi kalau laki-laki, kita tidak akan mendapatkan apa-apa,” ujar pria berambut gondrong pada rekannya.

“Sial!” umpat pria bertubuh gemuk. “Ya, sudah. Ambil saja dompet dan handphonenya.”

Pria berambut gondrong langsung merogoh celana Bayu. Namun, bola matanya tiba-tiba teruju pada sebuah cincin yang melingkar di jari manis Bayu. “Wah, dia memakai cincin. Pasti ini cincin kawin, iya, kan?” Pria berambut gondrong tersenyum sembari melepaskan cincin dari jari Bayu.

Bayu tidak berusaha mempertahankan cincin itu. Menurutnya, cincin itu ada atau tidak, sama sekali tidak ada beda untuknya. Mungkin juga ini alasan ia memakai cincin itu hari ini, agar ia bisa kehilangannya.

April 28, 2019

Untaian Cinta Aisyah (Part 17. Kenangan Memilukan)

by , in
17. Kenangan Memilukan




Gerimis turun membasahi bumi ketika Bu Renata pulang dari arisan. Sialnya, mobil yang dikirim Pak Samudera untuk menjemput, mogok di jalan yang sepi.

“Kenapa bisa mogok, Pak?” tanya Bu Renata pada Pak Slamet.

“Biar saya periksa dulu, Bu.” Pak Slamet buru-buru keluar. Ia membuka kap mobil untuk memeriksa mesin mobil apa ada masalah.

Bu Renata yang mulai gelisah, mengeluarkan ponsel dari dalam saku. Ia membaca pesan singkat dari Bayu, putranya satu-satunya. Ada sepuluh pesan berbunyi sama, yaitu menanyakan Bu Renata sudah sampai di mana. Pasti Bayu khawatir sms-nya tidak balas, pikir Bu Renata, mengaktifkan dering ponselnya.

“Met, mobilnya kenapa?” Bu Renata menjulurkan kepala lewat jendala.

“Bentar lagi, Bu,” sahut Pak Slamet sambil mengotak-atik mesin.

Bu Renata kembali menyandarkan punggungnya sembari menekan tombol hijau di ponsel. “Bayu, Papa sudah pulang?” tanya Bu Renata setelah telepon tersambung.

“Sudah, Ma. Sekarang lagi ada di ruang kerja,” jawab Bayu diujung ponsel. “Mama kok belum sampai, sih? Ini sudah malam banget, lho, Ma. Apa Pak Slamet belum datang?”

“Mama lagi di jalan, kok. Ini mobilnya mogok, makanya Mama belum sampai.” Bu Renata melirik jam tangannya. “Mungkin setengah jam lagi Mama akan sampai.”

Percakapan Bu Renata dan Bayu berakhir tepat ketika Pak Slamet menutup kap mobil. Berpikir Pak Slamet akan segera kembali masuk, Bu Renata memejamkan mata. Namun, lima menit berselang, ia tidak kunjung mendengar suara pintu mobil dibuka.

Merasa aneh, Bu Renata membuka mata. Ia kemudian memutuskan keluar setelah tidak melihat Pak Slamet ada di sekeliling mobil. “Slamet?” panggilnya, keluar dari mobil tanpa peduli hujan yang membasahi tubuhnya.

“Pak Slamet lagi tidur, Bu.” Seorang pria muncul dari depan mobil, bersama dengan rekannya. Dilihat dari penampilan mereka, insting Bu Renata langsung menyadari ia dalam bahaya.

“Apa yang kalian lakukan pada Slamet?” bentak Bu Renata. Ia berusaha menyembunyikan ketakutan yang menyergap. “Cepat pergi dari sini! Atau kutelepon polisi.”

Pria berkumis tebal tertawa mendengar ancaman Bu Renata. Tangannya sibuk memeriksa isi dompet yang dikenali Bu Renata adalah dompet Pak Slamet. “Apa lo enggak ngasih gaji yang cukup untuk sopir ini? Mana mungkin sopir orang kaya cuma punya uang dua ratus ribu?”

Pria bertubuh kurus yang sedang memainkan ponsel milik Pak Slamet mendekat pada Bu Renata. “Kami tidak melarang untuk menelepon polisi. Tapi, sebelum itu serahkan dulu semua barang berhargamu.”

Bu Renata menelan ludahnya. Ia menimbang sejenak mana yang lebih berharga, nyawanya atau apa yang pada dirinya. “Kalian boleh mengambil semuanya.” Bu Renata melempar tas, gelang, kalung dan ponselnya. “Sekarang, biarkan kami pergi.”

Kedua pria menakutkan itu memungut semua yang dilempar Bu Renata sambil tertawa puas. “Pilihan yang bijak,” ucap pria berkumis tebal.

“Ada satu lagi, tuh.” Pria bertubuh kurus menatap cincin yang melingkar di jari manis Bu Renata. “Cincin itu sepertinya juga sangat mahal.”

“Tidak,” ujar Bu Renata panik. “Ini cincin yang sangat murah. Tolong jangan ambil yang satu ini. Cincin ini pemberian suamiku waktu dia mendapatkan gaji pertama. Ini harganya sangat murah.”

“Kami tidak peduli kalau cincin itu pemberian siapa. Kami juga tidak peduli harganya berapa. Yang penting itu bisa dijual.” Pria bertubuh kurus mengeluarkan pisau dari balik jaketnya. “Lo berikan atau ….”

“Tidak.” Bu Renata berbalik. Ia memacu kakinya. Namun, berlari dengan sepatu hak tinggi bukanlah keputusan yang tepat.

Pria bertubuh kurus dengan mudah mengejarnya. Pria itu membekap Bu Renata sembari berkata, “Cepat lepas cincinnya atau pisau ini akan merobek perutmu.”

“Tidak akan kuberikan!” Bu Renata menggenggam jarinya. Tetapi, ketika ia terus meronta, ia menyadari satu hal, pisau di tangan pria bertubuh kurus telah merobek perutnya.

“Bodoh! Kenapa kamu menusuknya?” Pria berkumis tebal menghampiri. “Kita harus cepat pergi dari sini sebelum ada orang yang lewat.”

Bu Renata merintih kesakitan ketika kedua perampok itu pergi begitu saja. Teriakannya meminta tolong diredam oleh hujan yang mulai turun. Perlahan, suara itu menghilang bersamaan dengan menutupnya kelopak mata Bu Renata.

Sementara Bu Renata meregang nyawa, Bayu terus menunggu di rumah. Ia mondar-mandir di ruang tengah. Sesekali ia melirik jam dinding. Dahinya mengerut ketika melihat jarum jam menunjukkan pukul sembilan malam. Sudah satu jam lebih sejak Bu Renata menelepon, membuat Bayu semakin tidak tenang.

“Papa tidak khawatir? Mama belum pulang, lho, Pa.” Bayu masuk ke ruang kerja Pak Samudera.

“Bentar lagi Mama pasti pulang, kamu tenang saja, Bay. Mama kamu kan memang seperti itu. Suka lupa waktu kalau ketemu sama teman-teman arisannya.” Pak Samudera tetap fokus pada komputernya.

Bayu mendengkus kesal. Ia membanting pintu saat keluar. “Kalau terjadi sesuatu pada Mama, Bayu tidak akan pernah maafin papa,” ujar Bayu.

Karena tidak tenang, Bayu pergi mencari Bu Renata. Di tengah perjalanan, ia melihat sebuah mobil terparkir di pinggir jalan. Bola matanya sontak melebar ketika ia mengenali mobil itu.

“Pak Slamet?” Bayu mengernyit, melihat sosok pria terbaring di depan mobil. Bayu tidak menghampirinya, ia mengamati sekeliling untuk mencari mamanya.

Bayu mengusap wajahnya karena hujan yang turun dengan deras sedikit menghalangi pandangan. Ia lantas berlari ketika melihat sosok lain tergeletak tidak jauh dari mobil. Sebelum ia sampai, air matanya mengalir lebih dulu. “Tidak mungkin,” ujarnya, menggeleng.

“Ma! Mama kenapa?” Bayu berusaha membangunkan Bu Renata. Diguncangnya tubuh Bu Renata dengan keras.

“Darah?” Bayu melotot, melihat perut Bu Renata bernoda merah.

“Ma, bangun, Ma! Bayu ada di sini. Jangan tinggalin Bayu,” ucap Bayu dengan air mata berderai. Ia terus memanggil mamanya. Tetapi, yang dipanggil tidak pernah lagi membuka mata.
“Ma! Bangun, Ma!”

***

Bayu menggeram, tubuhnya bergetar hebat. Aisyah telah mengingatkannya pada satu kejadian. Kejadian yang membuat Bayu kehilangan sisi hangatnya. Yang telah menumbuhkan dinding pemisah antara dirinya, Pak Samudera dan Lisa.

Satu janji yang telah diucapkan Bayu setelah mamanya meninggal, masih ditepatinya hingga saat ini. Ia tidak akan memaafkan Pak Samudera. Tidak akan pernah.



Menurut Bayu, penyebab kematian Bu Renata adalah Pak Samudera yang tidak menjemput langsung. Pak Samudera lebih memlih untuk menyuruh Pak Slamet untuk pergi menjemput. Andai saja Pak Samudera yang menjemput langsung. Andai saja Pak Samudera tidak mengutamakan pekerjaannya. Oh, andai saja!

Bayu meraih berkas-berkas yang telah disiapkan sekretarisnya. Namun, begitu ia membuka lembar pertama, ia hanya bisa melihat darah yang merembes dari perut Bu Renata. Kenangan memilukan itu kembali muncul, membuat huruf yang tertera di atas kertas berubah menjadi tetesan darah.

Bayu menggeram. Ia memukul meja. Harus bagaimana ia sekarang? Ia sudah mengikuti cara papanya untuk melupakan semua hal yang menyakitkan. Ia melarutkan dirinya dalam pekerjaan. Sudah lama ia tidak peduli dengan dunia luar. Sahabat dan keluarga, ia hampir melupakannya.

Keyla? Bayu sendiri tidak mengerti bagaimana ia bisa dekat dengan wanita itu. Ia sama sekali tidak pernah mengulurkan tangan. Wanita itu yang selalu mendekat dan mengejarnya.

Kebersamaan Bayu dan Keyla jelas bukan cinta. Sekali saja tidak pernah terlontar kata indah itu dari mulut Bayu. Pelampiasan, kata yang sangat tepat untuk menjelaskan hubungan keduanya. Di saat marah pada takdir yang harus dijalani,  Bayu selalu bertemu dengan Keyla. Namun, berapa kali pun ia bertemu dengan Keyla, hatinya tidak pernah memperoleh kedamaian sepenuhya.

April 28, 2019

Untaian Cinta Aisyah ( Part 16. Melanjutkan Cinta Yang Tertunda)

by , in
16. Melanjutkan Cinta Yang Tertunda




Untuk sesaat, Aisyah merasa Bayu mulai menganggapnya ada. Namun, kemudian anggapan itu pupus hanya dalam waktu hitungan jam. Semua seolah menekankan bahwa ia memang tidak punya harapan.

Tadi malam di tengah pesta, bukannya pulang bersama Aisyah, Bayu malah lebih memilih mengantarkan Keyla. Lisa yang merasa kakaknya mulai membuka hati pun kecewa dengan akhir semalam. Ia sudah berharap akan ada kemajuan dalam hubungan Aisyah dan Bayu, tapi ternyata masih sama saja.

“Kak Aisyah mau ke mana?” tanya Lisa, melihat Aisyah memegang jas yang dikenakan Pak Samudera tadi malam.

“Bi Darti lagi masak makan siang, sedangkan Ratih pergi ke pasar. Jadi, Kakak yang harus nganterin jas Papa ini ke laundry.”

“Papa suka gitu. Mentang-mentang jasnya dibeli di luar negeri, Papa enggak mau kalau Bi Darti dan Mbak Ratih yang nyuci jas itu. Ngerepotin orang aja.”

“Kak Aisyah tidak merasa direpotin, kok.”

“Oh, iya. Kenapa Kakak enggak sama Kak Bayu aja?” Lisa menatap Bayu yang baru keluar dari ruang kerjanya. Ia belum menyerah setelah apa yang terjadi tadi malam.

Bayu dan Pak Samudera berangkat ke kantor agak siang hari ini. Karena setelah pesta semalam usai, Bayu dan Pak Samudera harus mengurus beberapa hal. Bahkan, keduanya harus pulang pukul tiga pagi.

“Itu ide bagus, Lis.” Pak Samudera datang menimpali.

“Hah? Papa belum pergi ke kantor?” tanya Lisa.

“Tadi masih ada berkas yang Papa harus beresin,” kekeh Pak Samudera.

“Kak Bayu,” cegat Lisa saat Bayu melewati mereka. “Kata Papa, Kakak  harus nganter Kak Aisyah ke laundry.”

Bayu menatap jas yang dipegang Aisyah. Ia mengulurkan tangan, lalu berkata, “Aku saja yang mengantarkannya. Dia tidak perlu ikut.”

“Apa kamu tidak dengar apa yang dikatakan Lisa? Papa bilang kamu ngantar Aisyah ke laundry, bukan ngantar jasnya. Kamu sudah terlambat ke kantor, ‘kan? Lebih baik kamu bergegas daripada telat kejebak macet.”

Bayu mendengus. “Ayo!”

Dengan terpaksa Bayu menurut. Entah ini hal yang baik atau buruk, Aisyah tidak mengerti. Sekarang, ia berada satu mobil dengan Bayu, persis seperti di hari pertama mereka menjadi suami istri.



Bayu tersenyum sinis. “Bagaimana rasanya bertemu dengan orang yang dicintai setelah sekian lama?” ucapnya tiba-tiba.

“Maksudnya, Mas?” Aisyah mengenyit.

“Laki-laki yang tadi malam. Namanya Rudy, iya, kan?” Bayu mengangkat alis. “Aku tahu, kamu mencintai laki-laki itu. Aku juga ingat, bukankah laki-laki itu yang dimaksud Lisa?”

“Apa maksud Mas Bayu?”

“Tidak usah berlagak bodoh. Aku sudah mencari tahu tentang dia. Kalian berasal dari kampung yang sama. Dia merantau ke sini dan menjadi dosen di kampusnya Lisa. Aku tahu dia juga menyukaimu.”

“Itu tidak benar.”

“Apa kamu masih mau berbohong?” Bayu menginjak gas dan mempercepat laju mobil.

“Kami memang sempat berencana untuk menikah. Tapi, itu dulu, Mas. Sekarang, kehidupanku di sini, sebagai istri Mas Bayu.”

“Apa kamu tidak bosan mengatakan itu, hah? Aku punya saran yang bagus. Bagaimana kalau kamu dan dia memulai lagi kisah cinta kalian yang sempat tertunda. Kalian bisa melanjutkan rencana yang belum sempat kalian wujudkan.”

“Apa maksud semua ini, Mas?” bentak Aisyah.

“Diam!” balas Bayu lebih keras. “Sekarang, kamu sudah tidak menggunakan cadar. Seperti yang kukatakan sebelumnya, aku tidak mau membuat kenangan tentang wajahmu dalam hidupku. Jadi, cepatlah pergi dan jangan muncul lagi.”

“Turunkan aku di sini, Mas,” ujar Aisyah dengan suara bergetar.

Tanpa menunggu diminta untuk kedua kalinya, Bayu langsung menghentikan mobil. Begitu berhenti, keduanya keluar bersama.

“Kamu harus ingat apa yang aku katakan. Cepat pergi dari hidupku!” teriak Bayu. Untunglah jalan di mana mereka sekarang sedang sepi sehingga mereka tidak perlu menjadi tontonan.

“Mas Bayu! Apa Mas tidak berpikir apa yang sedang terjadi sekarang? Mas Bayu, Papa, Lisa, seolah tidak ada ikatan. Mas Bayu selalu berbuat apa yang Mas inginkan tanpa mendengarkan apa yang dikatakan orang lain. Papa, entah kenapa Papa juga tenggelam dalam dunianya sendiri. Dan, Lisa. Apa Mas tidak berpikir kalau Lisa membutuhkan Mas Bayu dan Papa? Dia butuh perhatian. Dia perlu sandaran.”

“Diam!” Bayu mengangkat tangan. Hampir saja ia memukul Aisyah jika tidak segera mengendalikan amarahnya. “Kamu tidak tahu apa-apa tentang keluargaku. Jangan pernah berpikir kalau kamu salah satu bagian dari kami. Kamu hanya orang lain dan selamanya akan tetap seperti itu.”

Bayu buru-buru masuk ke dalam mobil. Ia pergi meninggalkan Aisyah dengan jas yang seharusnya diantarkan ke laundry.

Aisyah merasa bagaikan layang-layang yang ditarik ulur. Semalam Bayu mampu bersikap manis, lalu sekarang kembali bersikap sangat menjengkelkan.

Saat Aisyah berjalan, seorang pria datang menghampiri. “Aku melihat semuanya,” ujarnya mengejutkan Aisyah.

“Rudy?” Aisyah menoleh. “Sejak kapan kamu ada di sini?”

“Jadi, laki-laki seperti itu yang menjadi suamimu?” Rudy tersenyum  sinis, menatap mobil Bayu yang hilang di tikungan. Ia sama sekali tidak memedulikan pertanyaan yang diajukan Aisyah. “Dia tidak pantas mendapatkanmu, Aisyah. Kamu terlalu baik untuknya.”

“Apa hakmu berbicara seperti itu, Rud?”

Rudy menatap mata Aisyah yang memerah. “Aku tahu, hanya air mata yang dia berikan padamu. Dia hanya bisa membuatmu sengsara. Apa kamu akan bertahan dengan suami yang seperti itu?”

Aisyah terdiam.

“Aku mencintaimu dan selamanya akan mencintaimu. Aku ….”

“Hentikan, Rud! Aku sudah ….”

“Tolong, jangan potong ucapanku kali ini. Kamu mungkin sakit hati karena aku tidak memberi kabar padamu. Tapi, itu karena aku kehilangan handphoneku. Dan aku lupa nomormu. Aku juga tidak menginginkan semua ini terjadi, Aisyah.”

Aisyah memejamkan mata. Akhirnya, ia tahu alasan Rudy tidak memberi kabar padanya. Rudy tidak melupakannya. Pria itu masih mencintainya.

“Aku berniat setelah libur semester ini akan menjemputmu ke kampung. Aku dosen baru. Jadi, aku tidak bisa bolos mengajar untuk saat ini.”

Aisyah tidak tahan lagi. Jika ia bertahan, bisa-bisa Rudy berhasil meruntuhkan keyakinannya.

“Tinggalkan laki-laki itu, Aisyah. Kita masih bisa bersama. Aku akan memenuhi semua janji yang pernah kuucapkan. Semua impian yang pernah kamu ceritakan, semua akan menjadi nyata.”

“Tidak, Mas. Aku bukan Aisyah yang dulu. Sekarang, aku memiliki kewajiban yang tidak bisa aku tinggalkan.”

“Jangan bodoh, Aisyah. Kamu hanya akan sengsara jika terus bersama laki-laki itu. Kamu tidak akan pernah bahagia. Tidak ada yang bisa kamu harapkan darinya.”

Aisyah menggeram. “Aku memang tidak mengharapkan apa-apa darinya. Karena aku tahu, Allah sudah memenuhi apa yang kuharapkan.”

“Aisyah, tolonglah! Kali ini dengarkan aku.”

“Kamu seorang dosen, ‘kan? Itu berarti, kamu orang yang berpendidikan. Bukankah seharusnya orang yang  berpendidikan tahu bahwa mengganggu rumah tangga orang lain merupakan hal yang salah?”

Rudy mengusap wajahnya. Entah apa yang harus ia katakan agar Aisyah mau meninggalkan Bayu. “Ini bukan masalah berpendidikan atau tidak. Ini masalah hati. Bagaimana mungkin aku berdiam diri, sedangkan wanita yang kucintai menderita di depan mataku? Bagaimana aku berpangku tangan ketika aku melihat wanita yang kucintai dilukai orang lain? Bagaimana aku bisa, Aisyah?”

“Siapa bilang aku terluka?” bantah Aisyah. “Aku sama sekali tidak merasa terluka.”

“Kamu harus membuka mata, Aisyah. Kamu tidak akan bisa mendekat pada Allah jika kamu di sampingnya. Kamu pernah mengatakan akan menikah dengan seorang laki-laki yang mampu menjadi imam untukmu. Dan laki-laki yang sekarang menjadi suamimu bukanlah orang seperti itu. Dia tidak mampu menjadi imam untukmu. Apa kamu tidak memikirkannya? Bagaimana seseorang yang tidak mampu menjadi imam untuk dirinya sendiri akan menuntunmu?”



“Cukup, Rud. Entah ini salah atau benar, aku juga tidak tahu. Tapi, aku yakin, seorang istri yang mencintai suaminya dengan ikhlas, akan bernilai ibadah di mata Allah. Aku percaya itu.”

April 28, 2019

Untaian Cinta Aisyah (Part 15. Mendekat Satu Langkah)

by , in
15. Mendekat Satu Langkah



Lilin sudah ditiup. Begitu pula dengan kue sudah dipotong. Gadis yang berulang tahun silih berganti memperoleh ucapan selamat dan doa dari para tamu undangan.

Sekarang, para tamu sedang disuguhi penampilan seorang penyanyi yang sengaja diundang untuk menghibur. Namun, Aisyah tidak sedikit pun terhibur meski sang penyanyi sudah menyanyikan empat buah lagu. Dari tadi ia merasa tidak tenang walaupun Lisa sudah berulang kali mengingatkannya untuk bersikap santai.

“Kak Aisyah harus bisa ngendaliin diri,” bisik Lisa saat melihat kakak iparnya itu meremas jemari sendiri. “Lihat, Kak. Pak Rudy aja bisa bersikap biasa. Kenapa Kak Aisyah gelisah sendiri?”

Aisyah melirik Rudy, kemudian menarik napas sedalam mungkin. “Aku bisa menghadapi ini,” tegas Aisyah pada dirinya sendiri sembari membuang napas perlahan.

“Sekarang kamu tinggal di mana, Rud?” Aisyah memberanikan diri untuk bertanya, membuat Lisa terbatuk karena tidak menyangka sang kakak ipar akan menyapa Rudy.

“Aku tinggal dekat kampus,” sahut Rudy, tersenyum semringah. Ia begitu bahagia melihat Aisyah mau berbicara dengannya. “Yah, aku sengaja mencari rumah di sana agar tidak terlalu capek pulang pergi ke kampus.”

“Oh ya, bagaimana kabar Pak Santoso dan Bu Mun? Sudah lama aku tidak bertemu mereka.”

“Alhamdulillah, ayah dan ibu sehat. Mereka sering nanyain kabar kamu, lho.”

Suasana kembali canggung saat Rudy menyelesaikan kalimatnya. Teman-teman Lisa yang sebenarnya adalah mahasiswa Rudy di kampus, menghujaninya dengan tatapan penuh selidik. Mereka curiga dosen yang satu ini memiliki hubungan tersembunyi dengan kakak ipar Lisa.

“Kenapa kalian menatap Bapak seperti itu?” ujar Rudy. “Bapak dan Mbak Aisyah ini berasal dari kampung yang sama. Jadi, kalian tidak usah bingung kenapa kami bisa akrab.”

Teman-teman Lisa mengangguk. “Berarti, kami masih punya kesempatan dong, Pak.”

“Dasar, kalian ini! Bapak ini dosen kalian, lho. Bapak bisa kasih nilai D kalau kalian terus godain Bapak seperti ini.”

“Yah. Bapak kenapa hobi banget sih ngancem mahasiswi. Enggak seru, ih! Coba deh, Bapak ganti hobi. Hobi ngisi hati kami dengan cinta, gitu, Pak,” celetuk Lisa, memancing tawa teman-temannya. Rudy dan Aisyah pun tersenyum mendengarnya.

“Sabar, Rud. Begini, nih, kalau dosennya masih muda,” ucap Aisyah tanpa ragu.

Menit berselang. Tanpa sadar, jarak antara Aisyah dan Rudy mulai melebur. Kini keduanya berbicara dengan akrab. Mereka membaur dengan guyonan Lisa dan teman-temannya. Aisyah tidak lagi sungkan untuk tertawa saat salah satu teman Lisa menceritakan hal yang lucu.

Ketika Aisyah tertawa, ia tidak menyadari kalau di ujung sana seseorang mengamatinya. Bola mata pria itu tidak pernah lepas dari wajah Aisyah. Diam-diam, pria itu memperhatikan setiap gerak-geriknya.

“Pestanya meriah, ya,” ujar Keyla, menyadarkan Bayu.

“Ini pesta anaknya seorang pemilik perusahaan besar, bagaimana mungkin tidak meriah?” Bayu belum melepas tatapannya dari wajah Aisyah. Entah kenapa, ia merasa tidak jemu menatap wajah yang selama ini dekat dengannya.

“Kamu lihat siapa, sih? Dari tadi aku ajak bicara, kayaknya kamu enggak ngerespons dengan bener.” Keyla mengerucutkan bibir. Ia tidak segan menunjukkan kekesalannya pada Bayu di depan umum.

Keyla sudah mempersiapkan penampilannya malam ini lebih dari lima jam. Namun, Bayu sama sekali tidak memujinya. Bahkan, pria itu jarang menoleh padanya. Hal yang tidak biasa jika Bayu tidak melontarkan sebuah pujian pada Keyla.

“Bagaimana dengan istrimu? Kapan kamu ceraikan dia? Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi.”

“A-apa?” Pertanyaan Keyla memaksa Bayu untuk menoleh pada wanita itu.

“Aku tanya, kapan kamu ceraikan istrimu itu? Kamu kan udah enggak betah sama dia, kenapa lama-lama, sih?”

“Tidak semudah itu, Key. Dia itu pilihan Papa. Aku tidak bisa seenaknya ceraikan dia. Aku sudah pernah cerita sama kamu, kan?”

“Sampai kapan, Bay?”

“Aku tidak tahu. Aku juga bingung.”

“Kamu kenapa sih, Bay? Aku sudah setuju lho kamu nikah sama perempuan tidak jelas itu. Kenapa? Karena kamu pengen ngebuat Pak Samudera mewariskan hotelnya sama kamu. Tapi, kamu jangan lupa juga dong janjimu. Orang-orang di kantor udah mulai ngegosipin aku. Mereka nyebut aku wanita genit.”

“Selamat malam, Pak Bayu.” Seorang lelaki dengan lemak berlebih menghampiri Bayu dan Keyla.

“Selamat malam, Pak Bambang,” balas Bayu.

“Apa Bapak tidak bersama istri Bapak?” Pria yang bernama Pak Bambang itu tersenyum meledek. “Di kantor sudah ditemani sekretaris, masa di pesta seperti ini juga ditemani sekretaris? Saya tahu, orang seperti kita ini jarang menghabiskan waktu bersama istri. Jadi, saat seperti inilah kita punya kesempatan untuk berduaan. Bukankan seperti itu? Lagi pula, saya belum mengenal istri Pak Bayu, lho.”

Bayu menghela napas. Darahnya terasa mendidih mendengar celotehan Pak Bambang yang sudah seperti emak-emak tukang gosip. “Baiklah. Akan saya kenalkan Bapak dengan istri saya.”

Bayu menuntun Pak Bambang menghampiri Aisyah yang sedang mengobrol dengan teman-teman adiknya. Ia tidak peduli dengan Keyla yang menggerutu karena diabaikan. Sia-sia semua yang dilakukan Keyla untuk membuat Bayu terkesan.

Melihat sang kakak berjalan ke arah mereka, Lisa langsung berbisik pada Aisyah. Ini pertama kali Bayu yang datang menghampiri. Selama ini, Aisyah yang berusaha untuk mendekat.

“Aisyah.” Bayu memalingkan wajah saat menyebut nama itu. Jelas terdengar nada canggung saat suaranya memanggil sang istri. “Kenalkan, ini Pak Bambang. Salah satu rekan bisnis kita.”

“Selamat malam, Pak,” sapa Aisyah dengan pandangan tertuju pada Bayu.

“Selamat malam, Bu Aisyah.” Bola mata Pak Bambang yang terkenal jeli melihat hal ganjil, menatap Aisyah dan Bayu bergantian. Sepasang suami istri yang sedang bertatapan di depannya membuat ia merasa aneh. “Ehem! Saya tahu, Pak Bayu dan Bu Aisyah ini pengantin baru. Tapi, saya yang mengucapkan selamat malam, kenapa Bu Aisyah menatap Pak Bayu? Apa segitu kangennya, ya?”

Aisyah buru-buru mengalihkan pandangannya dari Bayu. Ia kembali meremas tangannya. Namun, apa yang dilakukannya ternyata mengundang Pak Bambang untuk kembali berkomentar. 

“Ngomong-ngomong, cincin kawinnya bagus. Tapi kenapa Pak Bayu tidak mengenakannya?” tanya Pak Bambang, menatap jari manis Bayu.

“Ah, iya. Cincinnya tertinggal di kantor. Saya melepaskannya tadi karena mau ke kamar mandi.” Bayu tersenyum simpul untuk menutupi kebohongannya.

“Pak Bambang tahu banget masalah seperti ini,” kata Lisa sambil melirik Rudy yang memalingkan wajah sejak Bayu menghampiri mereka.

“Ya. Kata orang, saya memang banyak tahunya,” kekeh Pak Bambang. “Kalau begitu, saya permisi dulu. Walaupun saya dan istri saya bukan pengantin baru, tapi dia juga tidak bisa jauh-jauh dari saya, lho.” Pak Bambang menepuk lengan Bayu, lalu pergi.

Begitu Pak Bambang pergi, sandiwara itu pun selesai. Sekarang, Aisyah sibuk menetralisir jantungnya yang berdegup kencang saat Bayu memperkenalkannya sebagai istri. Ia berharap itu akan berjalan untuk selamanya. Namun, itu hanya harapan palsu yang sulit menjadi nyata.



Namun, Bayu tiba-tiba berkata, “Ayo, Aisyah. Malam ini, kamu harus selalu ada di sampingku. Aku tidak mau orang-orang menganggap kita sedang dalam masalah.”

Meski terkejut dengan apa yang diperintahkan Bayu, Aisyah dengan cepat menyahut, “Baik, Mas.” Ia pun mengikuti Bayu, menjauh dari Lisa dan Rudy.

Bayu dan Aisyah berdiri berdampingan. Setiap pasang mata yang lewat langsung menoleh pada mereka. Momen ini tidak bisa dibiarkan begitu saja, karena ini pertama kali pewaris Hotel Samudera membawa sang istri di depan umum. Selain rekan bisnis, para pegawai hotel yang penasaran seperti apa wajah istri pimpinan mereka langsung memanfaatkan momen ini. Beberapa dari mereka bahkan mengambil foto keduanya secara diam-diam.

Pak Samudera yang menyadari apa yang terjadi, tidak melewatkan kesempatan yang ada. Ia memperkenalkan Aisyah pada semua rekan bisnisnya yang hadir pada pesta itu. Untunglah pemilik pesta tidak mempermasalahkannya. Pemilik pesta malah merasa bangga karena pestanya menjadi tempat diperkenalkannya sang menantu dari pemilik hotel berbintang.

“Mulai sekarang, kamu boleh tidak mengenakan cadar.”

“Apa?” Aisyah sontak menoleh pada Bayu. Apa ia tidak salah dengar? Bayu menyuruhnya untuk tidak mengenakan cadar? “Kenapa, Mas?”

“Aku memintamu mengenakan cadar karena aku tidak ingin melihat wajahmu. Aku tidak ingin ada kenangan tentang wajahmu dalam memoriku. Tapi, pesta sialan ini sudah menghancurkannya. Pesta ini memaksaku untuk memintamu melepas cadar itu. Sekarang, aku sudah melihat wajahmu. Jadi, untuk apa kamu menutupinya kalau aku sudah melihatnya?”

Aisyah tersenyum. “Allah selalu punya jalan untuk menyatukan dua insan yang berjodoh,” ucapnya tanpa menoleh pada Bayu.

“Terserah apa katamu. Yang penting saat ini, kamu harus tersenyum. Jangan tunjukkan ekspresi yang membuat orang-orang curiga,” tegas Bayu sekali lagi.

“Apa? I-iya, Mas,” sahut Aisyah, gagap.

“Bagus. Kamu harus tetap berakting seperti itu sampai pesta ini selesai.”

Akting? Ya. Bayu sedang berakting. Hati Bayu belum sepenuhnya mengakui wanita di sampingnya sebagai istri. Tetapi, entah kenapa ia merasa tiak nyaman melihat Aisyah terlalu akrab dengan lelaki yang bersama Lisa tadi.

Saat Bayu dan Aisyah baru saja selesai bersalaman dengan salah satu sahabat Pak Samudera, Keyla menghampiri. “Pak Bayu, Bu Ryanti ingin bertemu Bapak,” dusta Keyla agar Bayu menjauh dari Aisyah.

“Minta dia datang ke sini,” jawab Bayu.

Bola mata Keyla melebar. Ia tidak menyangka Bayu akan mengabaikan isyaratnya. Atau, Bayu memang sengaja tidak mau beranjak?

Aisyah yang mengenal siapa Keyla, tersenyum melihat wanita itu pergi dengan wajah ditekuk. Ia yakin, Bayu telah berjalan satu langkah mendekat padanya. Harapannya kian membesar setelah melihat sikap yang ditunjukkan lelaki itu baru saja. Ia percaya, cinta yang diuntainya masih punya kesempatan untuk menjadi rasa yang utuh.

April 28, 2019

Untait Cinta Aisyah (Part 14. Tidak Mengenalku?)

by , in
14. Tidak Mengenalku?


Bibir Lisa mengerucut. Dahinya membentuk lipatan. Dengan tangan menyilang di dada, ia mengetuk-ngetukkan kakinya ke lantai. Sudah satu jam lebih ia menunggu. Namun, papanya tak kunjung keluar dari kamar.

Penampilannya perlahan ia ubah. Malam ini, ia tak lagi mengenakan pakaian yang terbuka. Gaun coklat dipadukan dengan jilbab berwarna senada, membuat ia terlihat sangat berbeda.

“Pa, udah siap, belum? Lisa keburu lumutan, nih,” teriak Lisa untuk kesekian kalinya.

“Ayo, Papa udah siap.” Pak Samudera buru-buru keluar sebelum Lisa berteriak lagi. “Aisyah mana?”

“Masih di kamar, Pa.” Lisa berdiri dari sofa. “Biar Lisa panggilin dulu, deh.”

Sebelum sempat mengetuk pintu, Aisyah keluar dari kamar. Gaun yang dibeli dengan Lisa tadi siang terlihat indah ia kenakan. Lisa sampai melongo melihat penampilan kakak iparnya itu. Ia tak menyangka kalau wanita berjilbab bisa tampil cantik maksimal.

“Kak Aisyah cantik banget. Kak Bayu pasti nyesel karena udah enggak mau lihat wajah Kak Aisyah.”

“Kamu bisa aja, Lis. Kamu juga cantik. Jauh lebih cantik dari Kak Aisyah.”

“Ayo berangkat!” teriak Pak Samudera dari depan pintu.

Aisyah memindai sekeliling. Ia mencari Bayu. “Mas Bayu enggak ikut, Lis?”

“Kak Bayu udah duluan. Karena acaranya di hotel kita, selesai kerja Kak Bayu enggak pulang lagi. Dia stand by di sana, untuk antisipasi kalau ada masalah.”

Aisyah mengangguk. Ia dan Lisa kemudian buru-buru mengejar Pak Samudera yang sudah lebih dulu menuju mobil.

***

“Kadonya tidak ketinggalan di rumah, kan?” tanya Pak Samudera ketika mobil yang dikendarai sampai di tempat parkir lokasi pesta.

“Kenapa baru nanya sekarang, Pa? Kalau ketinggalan pun enggak mungkin kita jemput lagi, kan?” Lisa menghela napas.

“Eh, aku lupa ngasih tahu Dimas kalau buku-bukunya ada di lemari yang ada di kamar.” Aisyah menepuk dahi.

“Buku yang kita beli tadi, Kak?” tanya Lisa yang langsung dijawab Aisyah dengan anggukan.

“Aduh, Kak Aisyah gimana, sih?” Lisa langsung mencari nomor telepon rumah di ponselnya. Setelah menemukan nomor yang dicari, ia memberikan ponsel pada Aisyah. “Kak Aisyah bilang langsung pada Dimas sekarang. Mungkin dia butuh buku itu untuk belajar.”

“Iya.” Aisyah tersenyum malu. “Papa dan Lisa duluan saja. Aisyah nanti menyusul.”

“Baiklah. Kalau kamu bingung mencari tempatnya di mana, kamu bisa tanya pada resepsionis,” kata Pak Samudera, lalu turun dari mobil, diikuti oleh Lisa.

“Dim, Kakak lupa bilang, buku yang tadi Kak Aisyah beli ada di lemari yang ada di kamar,” ujar Aisyah begitu Dimas mengangkat telepon. “Di lemari yang ada di kamar kakak, ya. Bukan yang ada di kamar kamu.”

Aisyah langsung menutup telepon setelah Dimas mengiyakan. Ia bergegas menuju lobi hotel. Sesampainya di sana, bola matanya bergerak mengamati sekeliling. Tak perlu bertanya pada resepsionis untuk mencari tempat diadakannya pesta karena Aisyah langsung mengikuti beberapa orang yang sepertinya tamu undangan.

Aisyah melewati lorong sebelah kanan meja resepsionis.  Di tengah lorong, terdapat sebuah ruangan tempat pesta berlangsung. Aisyah menelan ludah. Ini pertama kalinya ia hadir di acara semewah ini. Ada ratusan orang di depannya, saling tertawa dan bercanda. Aisyah bisa memastikan kalau harga pakaian yang dikenakan orang-orang di sekelilingnya berpuluh kali lipat dari harga pakaian yang pernah dipakainya saat di kampung.

Kening Aisyah membentuk lipatan. Ia menemukan beberapa pasang mata menatap ke arahnya. Ia benar-benar tak suka menjadi pusat perhatian seperti ini. Sialnya, ia tak menemukan Lisa atau Pak Samudera. Tak ada lagi yang ia kenal di pesta ini selain mertua dan adik iparnya itu.

“Aisyah?” Seorang lelaki menghampiri Aisyah yang masih mencari Lisa di antara tamu undangan.

“Rudy?” Bola mata Aisyah melebar. Ia tak percaya kalau ia dipertemukan lagi dengan Rudy. “Kamu ….”

“Kamu sangat cantik, Aisyah,” ucap Rudy, spontan. Untuk beberapa detik, ia terpaku menatap Aisyah. Namun, segera ia mengalihkan pandangannya saat tersadar. “Ah, iya. Yang ulang tahun ini mahasiswi di kampus. Jadi, aku diundang. Kalau kamu?”

Aisyah merasa semakin tidak nyaman dengan kedatangan Rudy. “Aku datang dengan mertua dan adik iparku. Tapi, aku tidak tahu di mana mereka sekarang.”

“Mau kubantu mencarinya?” Rudy menawarkan diri.
“Tidak, terima kasih. Aku cari sendiri saja. Permisi.” Aisyah dengan cepat melangkahkan kaki. Ia tak peduli ke mana ia pergi, yang penting bisa jauh dari Rudy.



Naas. Karena terlalu sibuk memacu kakinya, Aisyah tak sadar telah menabrak seseorang. Ia terjatuh, hingga para tamu undangan yang ada di dekatnya menoleh. Sial. Bukannya bersembunyi dari tatapan orang-orang, ia malah memancing keributan.

“Mbak tidak apa-apa?” tanya seorang lelaki yang tak sengaja ditabrak oleh Aisyah.

“Saya tidak apa-apa, Mas.” Aisyah bergegas berdiri. Begitu tubuhnya kembali tegak, ia mendadak mematung. Ia terkejut karena orang yang ditabraknya adalah Bayu, suaminya sendiri. Tetapi, kenapa Bayu memanggilnya dengan sebutan ‘Mbak’ bukan langsung nama? Apa Bayu sama sekali tidak mengenalinya? Atau lelaki itu sengaja pura-pura tidak kenal?

“Mas Bayu tidak mengenalku?” Aisyah memastikan apa dugaannya tidak salah.

Bayu tersenyum. “Maaf, Mbak. Tapi, siapa, ya?”

“Mas tidak berpura-pura, kan?” Air mata Aisyah hampir jatuh. Bagaimana mungkin ia tak dikenali oleh suaminya sendiri? Sungguh menyedihkan.

Melihat Bayu dan Aisyah, Pak Samudera datang menghampiri. “Bayu, kamu lagi sama Aisyah? Kalian bicaranya nanti saja. Cepat kamu temui Bu Retno, dia mau tanya soal kue yang dipesan apa udah sesuai permintaan.”

Bayu tak merespons. Tatapannya masih tertuju pada wanita di depannya. Aisyah? Apa ia tak salah dengar? Bagaimana bisa wanita di depannya adalah Aisyah? Ia tak pernah menduga kalau wanita yang selama ini menjadi istrinya secantik ini. Ini pertama kalinya Bayu menatap bola mata Aisyah. Tanpa sadar, ia langsung terhipnotis oleh mata yang menatapnya dengan sendu.

“Cepat!” Pak Samudera menarik lengan Bayu untuk segera pergi.

Bayu perlahan menjauh. Namun, beberapa kali ia menoleh ke belakang sambil bertanya pada dirinya sendiri, “Apa itu benar Aisyah?”

“Aisyah? Kenapa kamu melamun?” Pak Samudera menyentak sang menantu. “Lisa ada di sudut sana. Kamu ngobrol sama dia saja, daripada bengong di sini sendirian.”

“I-iya, Pa.”

Aisyah bergegas ke tempat yang ditunjuk Pak Samudera. Lisa benar-benar ada di sana. Ia dikelilingi teman-temannya yang mungkin saja sedang mengomentari fashion terbaru gadis itu.

“Kak Aisyah ke mana aja?” tanya Lisa.

“Kakak sudah keliling mencari kamu. Tahu-tahunya ada di sini.” Aisyah menyodorkan ponsel yang dipinjamnya. “Ini ponselmu.”

“Enggak usah cemberut gitu, Kak. Entar cantiknya pudar, lho.”

“Kak Aisyah tidak cemberut, tapi cuma jengkel.” Aisyah melirik teman-teman Lisa, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga adik iparnya itu. “Menurutmu, Mas Bayu itu benar-benar tidak kenal Kak Aisyah, ya?”

Dahi Lisa mengerut. “Kak Aisyah ngomong apa, sih?” Lisa menebar senyuman pada teman-temannya, kemudian menjauh.

“Tadi, Kak Aisyah tidak sengaja bertabrakan sama Mas Bayu. Tapi anehnya, dia tidak mengenali kakak.” Terdengar nada kekecewaan dalam kalimat Aisyah.

Lisa menggaruk kepala. “Masa Mas Bayu enggak pernah lihat wajah Kak Aisyah?”
“Itu dia. Kakak juga bingung.” Aisyah menerawang. Ia mencoba mengingat pertemuan pertamanya dengan Bayu. “Waktu Papa dan Mas Bayu datang ke rumah, Mas Bayu memang selalu mengalihkan pandangannya. Tapi, masa dia tidak pernah lihat kakak walaupun sekilas?”

“Udah, ah. Kita bahas nanti aja. Enggak enak kalau kita ngomong bisik-bisik di sini. Nanti kita dikira lagi ngegosipin orang.”

Lisa kembali menghampiri teman-temannya bersama Aisyah. Namun, Rudy telah bergabung di sana. Saat Aisyah hendak melangkah mundur, Lisa dengan cepat menarik lengan sang kakak ipar. “Dengan Kak Aisyah terus menjauh seperti ini, maka Kakak enggak akan pernah bangkit dari kenangan Kakak. Maju, Kak. Hadapi apa yang ada di depan.”


April 28, 2019

Untaian Cinta Aisyah ( Part 13. Cantik Seperti Bidadari)

by , in
13. Cantik Seperti Bidadari



Lisa buru-buru pulang dari kampus. Tidak ia pedulikan mata kuliah yang diajarkan oleh salah satu  dosen yang pelit memberi nilai hari ini. Begitulah Lisa, kalau sudah berkaitan dengan hal yang berbau pesta, ia tidak akan bisa berdiam diri.

“Kak Aisyah, cepat siap-siap! Kita ke mall hari ini.” Lisa berteriak hingga suaranya memenuhi sudut rumah.

“Ngapain?” Aisyah yang datang dari dapur bertanya pada Lisa yang sudah sampai di tengah tangga. “Bukannya semalam kita baru beli pakaian baru? Kakak pikir, itu bisa kita pakai, deh.”

“Nanti aku jelasin, Kak.”

Aisyah memutar mata. Seperti biasa, Lisa tidak akan mendengar apa yang dikatakan semua orang. “Baiklah. Sekalian Kak Aisyah mau beli buku untuk Dimas nanti.”

Setengah jam kemudian, Lisa keluar dari kamar. Penampilannya sangat berbeda. Aisyah yang menunggu di depan pintu sampai melongo dibuatnya. Belum pernah ia melihat Lisa secantik itu.

“Gimana penampilan Lisa, Kak?” Lisa berputar-putar di depan Aisyah.

“Masyaallah! Kamu cantik banget, Lis,” ucap Aisyah dengan mata berkaca-kaca. “Kamu bener-bener cantik.”

Lisa tersenyum lebar. Ia kembali memeriksa apa yang dikenakannya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Jilbab merah muda yang menutupi kepalanya sudah rapi. Baju kurung dan rok yang membalut tubuhnya pun terlihat sesuai.

“Lisa pakai pakaian begini, karena enggak mau penampilan kita terlalu berbeda waktu di mall nanti, Kak,” kekeh Lisa.

“Terserah, deh. Pokoknya ini awal yang sangat bagus.” Aisyah meraih lengan adiknya iparnya yang tampil dengan penampilan baru.

Ternyata, tidak hanya Aisyah yang terkejut dengan penampilan baru Lisa. Pak Yanto yang membuka gerbang pun ikut terperangah. Pria berkumis tebal itu tidak melepaskan pandangannya dari Lisa hingga mobil sang majikan luput dari matanya.

Sesampainya di mall, Lisa langsung membaur dengan pakaian-pakaian yang hendak dibelinya sambil terus menggerutu. “Papa, sih. Kenapa kemarin baru ngingetin kalau pestanya entar malem? Pasti sengaja, nih, biar kita enggak bisa belanja dengan nyaman.”

“Kamu juga, Lis. Kenapa harus belanja seperti ini, sih?”

Lisa tidak merespons. Pandangannya tertuju pada sebuah gaun yang dipakaikan pada sebuah manekin. Gaun berwarna biru bersih, layaknya langit tanpa awan. Ditambah hiasan manik-manik berwarna putih dibagian leher dan pinggang. “Gaun yang sempurna,” ucap Lisa mengangguk.

“Itu buat kamu, Lis?” tanya Aisyah, mengikuti pandangan Lisa.

“Enggak. Itu untuk Kak Aisyah. Ayo kita buat Kak Bayu nyesel karena udah ngabaikan Kakak.” Lisa memainkan alis, membuat Aisyah geli sendiri melihatnya.

Saat keluar dari toko, Lisa melihat teman-temannya berjalan ke arahnya. Dengan penampilan barunya saat ini, ia pasti digoda habis-habisan oleh mereka. Untuk menghindari ejekan teman-temannya, Lisa buru-buru membalikkan badan. Namun, salah satu dari temannya memanggil nama Aisyah.

“Sial. Kenapa mereka harus mengenali Kak Aisyah?” gerutu Lisa, mengentakkan kakinya.

“Kak Aisyah lagi belanja?” sapa Boy yang memang terkenal ramah.

“Iya. Kalian mau belanja juga?”

Boy mengamati teman-temannya sambil tersenyum. “Kami cuma mau jalan-jalan, Kak. Oh, ya, Kak Aisyah sama siapa? Adik Kak Aisyah, ya?” Bola mata Boy tertuju pada Lisa yang masih tetap memunggungi teman-temannya.

“Kalian benar-benar tidak mengenalnya?”

“Emang dia siapa, Kak?” Rima mendekat.

Lisa mengambil keputusan sebelum Rima menyentuh pundaknya. “Kejutan!” serunya sambil memutar badan. Ia tersenyum lebar. Tetapi, terlihat jelas kalau senyum itu dipaksakan. Kedua telinganya ia siagakan untuk mendengar respons teman-temannya, karena ia sudah menutup matanya dengan rapat lebih dulu.

Untuk sejenak, Boy dan teman-temannya melongo, mengamati Lisa. Tidak sedikit pun di antara mereka percaya dengan apa yang mereka lihat. Lisa yang terkenal anti dengan pakaian tertutup kini mengenakannya. Sungguh benar-benar sebuah keajaiban.

Rima menarik ujung kemeja Boy. Mereka kemudian tertawa bersama. Berkali-kali mereka menatap Lisa dari ujung kepala hingga ke ujung kaki hingga membuat Lisa kesal.

“Apa ada yang lucu?” sergah Lisa, menghentikan tawa Boy dan yang lainnya.

Lisa menatap tajam Boy. Ia tidak masalah jika Rima dan yang lainnya menertawakannya. Namun, tidak untuk Boy. Lisa merasa sakit melihat Boy tertawa.

Berdiri di antara Lisa dan Boy, membuat Aisyah merasakan sesuatu. Aisyah bisa mengetahui kalau adik iparnya memiliki rasa pada pemuda di depannya.

“Bukankah Lisa terlihat cantik, Boy? Dia seperti bidadari. Anggun dan baik hati. Apa kamu sependapat denganku?” Aisyah menaikkan alis.

Mendengar ucapan Aisyah, pipi Lisa sontak merona. Bidadari? Yang benar saja. Pernyataan Aisyah itu hanya membuat Lisa tidak mampu menatap Boy.

“Iya. Kak Aisyah benar. Dia cantik, seperti bidadari,” ucap Boy, tersenyum menatap Lisa.



“Kecantikan seorang wanita akan terlihat saat kamu mengenal siapa dia lebih dalam lagi. Kamu akan terpesona dengan caranya berbicara, berjalan, tersenyum, marah, dan bersikap. Saat itulah cinta yang sesungguhnya akan timbul.” Aisyah menarik tangan Lisa. “Ayo kita pergi.”

Lisa terus menunduk. Ketika melewati Boy dan yang lainnya, ia mendengar seseorang berbisik, “Lo benar-benar cantik, kayak bidadari. Gue serius.” Senyuman Lisa mengembang dan jantungnya berdetak kencang ketika mengenali suara itu adalah suara Boy.

Hingga sampai di pintu mall, senyuman Lisa belum memudar. Orang-orang yang berpapasan dengannya bahkan sampai mengernyitkan kening, mengira ia sudah gila.

“Lis, kamu pakai cadar deh kalau tidak mau dianggap gila,” protes Aisyah.

“Emangnya kenapa, Kak?” tanya Aisyah sambil terus tersenyum lebar.

“Kamu masih tanya kenapa? Apa kamu tidak sadar kalau kamu senyam-senyum tidak jelas dari tadi? Karena Boy, ya?”

“Bu-bukan,” sanggah Lisa, gelagapan.

“Kalau tidak, kenapa kamu harus gugup begitu? Dan, kenapa pipimu jadi merah seperti tomat?” Aisyah semakin semangat menggoda Lisa.

Lisa menangkup wajahnya dengan kedua tangan, menyembunyikan pipi yang seperti baru saja dikenakan blush on. Ia benar-benar malu. Bola matanya berputar, mencari suatu hal yang bisa mengalihkan perhatian Aisyah.

“Pak Rudy?” gumam Lisa. Ia tidak ingin mengalihkan pembicaraan dengan menyebut nama pria yang memiliki masa lalu dengan Aisyah. Namun, nama itu meluncur begitu saja ketika pria yang dimaksud mendekat.

“Lisa, kalian belanja apa?” sapa Rudy.

“Cuma beli baju, Pak. Anaknya temen Papa ada yang ulang tahun nanti malam. Makanya kami perlu baju baru,” kekeh Lisa.

Rudy melirik Aisyah. Ia sungguh merindukan wanita itu. Tetapi, kenyataan sungguh teramat menyakitkan. Wanita yang ia rindukan itu telah menjadi istri orang lain. Status itu mungkin bisa saja berubah. Namun, ia akan menjadi makhluk yang egois jika mengharapkan hal itu terjadi.

“Pak Rudy mau beli apa?”

“Saya juga mau beli baju. Nanti malam ada mahasiswi yang ulang tahun.”

“Ulang tahun seorang mahasiswi?” Kening Lisa mengerut. Sepenting itukah ulang tahun seorang mahasiswi untuk seorang dosen?

“Mahasiswi ini anaknya yang sering memberikan bantuan untuk acara-acara yang diselenggarakan kampus. Jadi, dari pihak dosen banyak yang diundang.”

Lisa mengangguk. “Pantas saja. Oh, ya, Kak Aisyah enggak mau ngomong apa-apa sama Pak Rudy?” ujar Lisa tanpa sadar. Ia segera menutup mulutnya saat mata Aisyah menatap tajam padanya.

Menyadari perhatian Rudy tertuju ke arahnya, Aisyah cepat-cepat menyusun kalimat yang bisa mengelakkan pembicaraan mereka lebih panjang lagi. “Apa kamu punya masalah di kampus yang harus aku bicarakan, Lis?” tanya Aisyah.

“Enggak ada, Kak.” Lisa menggeleng.

“Kalau tidak ada, apa kita bisa pulang? Sepertinya, kamu butuh persiapan ekstra buat acara nanti malam.”

“Kak Aisyah betul!” seru Lisa.

Mereka pun buru-buru pamit pada Rudy. Bukan karena Lisa merasa butuh persiapan ekstra, tapi karena ia merasa bersalah pada Aisyah. Ia sudah jelas tahu bagaimana hubungan Aisyah dan Rudy, tapi tetap saja ia tidak menggunakan rem pada mulutnya saat berbicara.

April 28, 2019

Untaian Cinta Aisyah (Part 12. Tidak Ada yang Tersisa)

by , in
12. Tidak Ada yang Tersisa



Sesampainya di rumah, hal yang pertama kali dilakukan oleh Lisa adalah mencari Aisyah. Sejak di kampus tadi, ia sudah tidak sabar untuk menginterogasi kakak iparnya itu. Air mata Aisyah yang mengalir ketika bertemu salah satu dosennya, menimbulkan tanda tanya besar dalam benak Lisa.

“Kak Aisyah!” panggil Lisa sambil menggedor pintu kamar.

“Ada apa, Lis? Apa ada masalah?” tanya Aisyah panik.

“Ada masalah yang sangat besar,” gurau Lisa. “Aku enggak tahu gimana nyelesein masalahnya, Kak. Masalah ini benar-benar gawat.”

Aisyah menarik lengan Lisa menuju sofa di ruang tengah. Ia menekan bahu gadis itu untuk duduk. “Sebenarnya, masalah apa yang kamu maksud, Lis? Coba ceritakan.”

“Masalah ini bakal selesai kalau Kak Aisyah jujur.” Lisa mendekatkan wajahnya. “Jawab pertanyaan Lisa dengan sejujur-jujurnya, Kak. Kalau enggak, masalah ini enggak bakal semakin besar.”

“Iya. Kak Aisyah akan jawab sejujur-jujurnya. Emang ada masalah apa, sih?” Aisyah tidak sabar dengan ucapan Lisa yang berulang-ulang.

“Apa hubungan Kak Aisyah dengan Pak Rudy, dosen Lisa di kampus tadi?” Lisa semakin mendekatkan wajahnya. “Jawab, Kak. Pakai jujur aja, enggak usah pakai bohong. Bohong itu asem, enggak enak.”

“Umm ….” Aisyah berpikir sejenak. Ia ragu untuk menjawab pertanyaan Lisa. Selama ini, ia sudah bersusah payah untuk menghapus masa lalu itu. Dan, sekarang ia harus mengingat dan menceritakan kenangan yang begitu memilukan untuknya. Ah, rasanya berat sekali.

“Ayo jawab, Kak. Masalah ini bakal terus membesar dan bakal mengundang masalah lainnya kalau Kak Aisyah enggak jujur. Apa yang Kakak bilang kemarin? Kakak ingin memperbaiki rumah ini, kan? Jadi, kalau Kakak enggak jujur, apa yang dikatakan Kak Aisyah enggak bakal pernah terwujud.”

“Baik. Aku akan menceritakannya.” Aisyah menghela napas sembari terus meremas tangannya. “Sebelum pergi ke Jakarta, Rudy berjanji untuk menikah dengan Kakak. Ia berjanji untuk memberi kabar setidaknya sekali tiga hari. Tapi, kira-kira dua bulan yang lalu, dia berhenti memberi kabar. Dia menghilang dan nomornya tidak pernah aktif.”

Lisa bersandar ke sofa. Ternyata air mata yang dilihatnya tadi adalah akibat luka yang masih terasa sakit di hati kakak iparnya. Dan sekarang, dengan hubungan Aisyah yang tidak baik dengan Bayu, sebuah tanda tanya kembali mencuat. Apakah Aisyah akan pergi meninggalkan Bayu dan berpaling pada Rudy?

“Kak Aisyah pasti sangat mencintai Pak Rudy sampai Kakak enggak bisa nahan air mata Kakak, iya, kan?” Lisa memastikan kalau apa yang ada dalam benaknya tidak salah.

Aisyah memutar mata. Ia mencari ke dalam hatinya sisa cinta untuk Rudy. Namun, ia ragu. Hatinya terasa sakit, mengingat kenangan manis saat Rudy mengucapkan janji yang membuatnya melayang. Janji yang membuat hatinya bahagia hingga berani mengukir mimpi yang indah.

Ia tidak akan semenderita ini andai Rudy tidak menghilang. Ia tidak akan pernah setuju untuk menikah dengan Bayu, jika Rudy masih ada di sampingnya. Ia tidak perlu takut, seandainya Rudy ada untuk menjadi sandarannya menggantikan sang ayah. Lalu, ia tidak perlu menerima semua hinaan yang dilontarkan Bayu padanya. Oh, seandainya.

“Aku sangat membencinya,” aku Aisyah, mengepalkan tangan.

Lisa tersenyum. “Kalau Kak Aisyah membencinya, berarti Kakak masih mencintainya. Kebencian Kak Aisyah akan memudahkan Pak Rudy untuk masuk ke dalam hati Kakak lagi. Pak Rudy akan mudah melumpuhkan hati Kakak karena kenangan yang kalian miliki.”

“Itu tidak akan pernah terjadi. Dia hanya masa lalu dan akan selamanya menjadi masa lalu.”

“Apa itu benar, Kak?” Tangan Lisa menyilang di dada, layaknya seseorang yang bertugas untuk menginterogasi. “Apa Kak Aisyah bakal bertahan pada sikap Kak Bayu dan enggak peduli pada Pak Rudy?”

“Tentu saja.”

“Lisa enggak yakin. Kakak seperti enggak kenal Pak Rudy saja. Pak Rudy itu pintar ngerayu, Kak. Dia pernah praktekinnya di kelas. Walaupun Pak Rudy itu dosen killer, tapi tetap saja dia banyak fans.” Lisa menerawang, membayangkan wajah Rudy. “Kulit sawo matang, tinggi, senyumnya manis, dan tegas. Bener-bener idola cewek di kampus, deh, Kak.”

“Kamu dukung siapa, sih?” Aisyah mengerucutkan bibir di balik cadarnya. “Kamu bener-bener tidak bisa menjaga perasaan orang, ya?”

“Bukannya gimana-gimana, Kak.” Wajah Lisa berubah menjadi serius. “Kalau Kakak bersama dengan Pak Rudy, mungkin akan lebih baik. Kakak lihat perlakuan Kak Bayu, kan? Semua akan lebih buruk jika Kakak bertahan di sini.”

“Itu tidak mungkin, Lisa. Aku adalah seorang istri. Dan tugas seorang istri adalah bersama dengan suaminya. Jika aku menyerah karena hal kecil seperti ini, berarti imanku terlalu lemah untuk meyakini Allah ada bersamaku.”

“Tapi, Kak Bayu enggak akan berubah, Kak.”

“Aku akan berusaha,” ujar Aisyah mantap. “Jika aku keluar dari rumah ini, maka aku akan keluar dengan memperbaiki apa yang bisa kuperbaiki.”

“Aku berharap Kak Aisyah menepati itu.”

***

Setelah salat Isya, Aisyah berdiam diri di dalam kamar. Ia duduk di pinggir ranjang sambil meremas ujung jilbabnya. Pembicaraan dengan Lisa tadi sore sungguh tidak membuatnya nyaman. Lisa berjanji untuk  mengatakan apa yang sudah diceritakan Aisyah pada Bayu. Katanya, untuk membuat Bayu cemburu. Cemburu? Satu-satunya hal yang diharapkan Aisyah untuk terjadi. Tetapi, kenyataan itu akan sangat sulit untuk terwujud.

“Kak Aisyah, udah makan malam, belum? Kok enggak ikut makan? Kata Kak Bayu, Kakak enggak enak badan. Apa itu benar?” Dimas membuka pintu kamar.

Aisyah memunculkan kepalanya dari balik selimut. “Kakak makan nanti saja, Dim,” ucapnya dengan wajah yang memelas.

“Apa Kak Aisyah sakit? Kalau iya, aku bilangin ke Om Samudera buat ke dokter, ya, Kak. Pasti Om Samudera akan mengantarkan Kakak ke rumah sakit.”

“Kakak enggak lagi sakit, kok. Cuma kelelahan aja,” kata Aisyah berbohong.

Dimas mengangguk. “Ya, sudah. Aku balik makan dulu, Kak. Kalau Kak Aisyah butuh sesuatu, panggil Dimas aja.”

“Aisyah, ayo makan!” Pak Samudera muncul di belakang Dimas. “Apa harus seisi rumah ini yang memanggilmu, hah? Dim, cepat panggil semua orang. Sepertinya, kakakmu sekarang udah berubah jadi manja.”

“Tidak, Pa.” Aisyah buru-buru keluar. Ucapan mertuanya bagaikan sebuah tamparan keras untuknya. Ah, sejak kapan pula ia berubah jadi cengeng seperti sekarang? Ia harus menghadapi apa pun yang akan dikatakan Bayu setelah mendengar cerita dari Lisa. Ia tidak boleh takut.

“Akhirnya, Kak Aisyah muncul juga ke permukaan,” kata Lisa menyambut Aisyah dengan senyum jail. “Udah siap menghadapi dunia, Kak?”

“Memangnya ada apa? Apa akan terjadi perang dunia lagi? Papa belum siapin senjata soalnya,” ujar Pak Samudera berusaha membaur.

“Papa siapin mental aja,” kekeh Lisa, puas melihat ekspresi panik Aisyah.

Aisyah menghela napas. “Aku sudah menyiapkan senjata. Jadi, aku sudah siap,” ucapnya, melirik Bayu yang fokus mengunyah potongan ayam.

Beberapa detik kemudian, tidak ada suara terdengar. Masing-masing sibuk melahap makan malam yang tersedia, sedangkan Aisyah masih berusaha menetralisir ekspresi wajahnya. Bayu mempertahankan ekspresi masam, sementara Lisa senyam-senyum meliriknya dan Aisyah.  Sesekali Pak Samudera dan Dimas mengangkat wajah karena tidak mengerti.

“Oh, ya, sepertinya sedikit nepotisme enggak akan masalah, kan, Pa?” Pandangan Lisa tertuju pada Pak Samudera, lalu bergeser pada Aisyah. “Aku minta bantuannya, dong, Kak.”

“Bantuan apa?”

“Kakak deket sama Pak Rudy, kan? Jadi, tolong bilangin sama Pak Rudy, jangan galak-galak, dong. Kan, sayang tampang ganteng cuma dipakai buat marah-marah. Sama kalau ngasih nilai sama Lisa itu jangan pelit.”

“Pak Rudy? Siapa itu?” sela Pak Samudera.

“Dosen Lisa di kampus, Pa. Dosennya ganteng banget, tapi galak,” sesal Lisa.

“Kamu kenal dengan dosen itu, Syah?” Pak Samudera menatap menantunya tanpa mengetahui kalau jantung Aisyah sedang berpacu seolah sedang berlomba. “Kamu kenal di mana, Syah? Kok, kamu tidak pernah cerita kalau ada temanmu yang mengajar di kampusnya Lisa?”

“Kak Aisyah juga ….”

“Cuma orang bodoh yang menangis ketika melihat orang yang dirindukan ada di depan mata. Kalau orang pintar, dia pasti sudah menyapa atau bahkan memeluknya.” Bayu berhasil menyerobot Lisa untuk berbicara. Ia meneguk air, lalu bergegas pergi ke ruang kerja.

“Ada apa sama Bayu?” tanya Pak Samudera.

Lisa mengedik.

Orang bodoh? Aisyah mengepalkan tangan. Lagi. Bayu membuatnya kesal. Dalam benaknya Aisyah bertanya, Kenapa dia harus marah? Untuk apa dia berkata seperti tadi, sementara dia sendiri yang mengatakan kalau di antara kami tidak ada apa-apa?

Seusai makan malam, enggan rasanya Aisyah untuk masuk ke dalam kamar. Daripada tidur di samping Bayu yang bagaikan pedang siap siaga mencincangnya, lebih baik ia tidur di sofa. Namun, semua itu hanya akan membuat masalah semakin runyam.

Di sinilah Aisyah, berdiri dengan kaki gemetar dan tangan selalu di remas. Ia menatap ranjang yang kosong karena Bayu sedang berada di ruang kerja. Ia perlahan memejamkan mata. “Kenapa kamu baru datang sekarang?” batin Aisyah mengingat pertemuannya dengan Rudy tadi siang.

“Masih memikirkan pacarmu yang baru nongol?” Suara Bayu berhasil membuat jantung Aisyah hampir berhenti berdetak.

“Tidak.”

“Kenapa kamu tidak memikirkannya? Lebih baik kamu pikirkan dia agar kalian bisa merencanakan pernikahan kalian yang tertunda.”



“Aku tidak sedang memikirkannya dan tidak akan pernah. Karena sekarang, otakku selalu memikirkanmu,” ujar Aisyah tiba-tiba. Kalimatnya berhasil membuat Bayu terpaku. “Ada apa denganmu, Mas? Apa kamu tidak bisa menatapku sekali saja? Apa kamu tidak bisa menerima kenyataan kalau kita sudah … menikah?”

“Tidak.” Bayu berjalan ke seberang ranjang. “Aku tidak akan pernah menerima kenyataan itu. Titik.”

“Kalau begitu, kenapa kamu selalu menggangguku?”

“Mengganggu? Jika kamu merasa terganggu, kenapa tidak pergi saja dari rumah ini?”

Aisyah tertawa. “Itu hanya ada dalam mimpimu, Mas. Aku tidak akan pergi dari rumah ini semudah itu. Aku akan merebut semua harta yang ada di rumah ini. Tidak terkecuali.”

“Bagus. Kamu sudah menunjukkan belangmu yang sebenarnya.”

Aisyah menelan ludah. Bagaimana bisa ia mengatakan hal yang tidak pernah terpikirkan olehnya selama ini? Merebut harta? Yang benar saja.

Kalimat istigfar terucap beruntun dari bibirnya. Entah apa yang harus dilakukannya untuk mengambil hati Bayu, sementara pria itu enggan untuk sekadar menoleh. Dan, dilihat dari kejadian di kantor, sepertinya Bayu sudah memiliki seseorang yang mengisi hatinya. Pantas saja Bayu tidak menerima pernikahannya dengan Aisyah. Jika benar seperti itu, bukankah lebih baik mengatakan dari awal sehingga tidak ada yang terluka?


April 28, 2019

Untaian Cinta Aisyah (Part 11. Ia Datang Ketika Hati Mulai Lupa)

by , in
11. Ia Datang Ketika Hati Mulai Lupa



Aisyah sedang mengurus berkas-berkas yang diperlukan untuk Dimas masuk sekolah. Rencananya, hari ini ia akan mendaftarkan Dimas sesuai dengan apa yang dikatakan Lisa. Untunglah ada teman Lisa sehingga urusan pendaftaran Dimas menjadi lebih mudah.

“Bu, mobilnya sudah siap.” Pak Yanto mengetuk pintu.

“Terima kasih, Pak. Kami akan keluar.”

Tangan Aisyah dengan sigap memasukkan berkas-berkas yang sudah selesai disusun ke dalam tas. Dimas pun sudah rapi dengan pakaian seragam SMP-nya. Mereka siap berangkat sebelum telepon rumah tiba-tiba berdering. Aisyah buru-buru mengangkat telepon, sedangkan Dimas keluar lebih dulu.

“Halo. Assalamualaikum.”

“Kak Aisyah! Please! Tolong anterin tugasku yang semalam, dong, Kak. Kakak tahu, kan? Yang Lisa kerjakan itu.” Lisa mengerocos begitu Aisyah mengangkat telepon.

“Memangnya kamu letakkan di mana?”

“Di dalam kamar, Kak. Di atas meja rias. Cepet, ya, Kak. Bentar lagi dosennya masuk, nih.”

“Dasar! Kamu ada-ada aja. Sudah tahu tugasnya dibawa hari ini. Eh, pakai acara ditinggal,” gerutu Aisyah. “Kalau nanti Kak Aisyah kejebak macet bagaimana?”

“Enggak apa-apa, Kak. Pokoknya Kakak nyampe ke sini.”

“Baiklah.”

Aisyah menutup telepon, lalu buru-buru naik ke kamar Lisa. Tidak butuh waktu lama untuk Aisyah menemukan tugas yang dimaksud adik iparnya itu. Tetapi, bukan hanya tugas saja yang ditemukan oleh Aisyah. Ia juga menemukan tas belanjaan berisi beberapa potong jilbab. Senyuman mengembang di bibir Aisyah. Dari tas belanjaan itu, Aisyah mengetahui bahwa Lisa sudah memiliki niat yang baik, tapi mungkin gadis itu belum tahu bagaimana memulainya.

“Pak Yanto tahu di mana kampusnya Lisa?” Aisyah bertanya setelah sampai di pos satpam. Mobil yang dikirim dari kantor oleh Pak Samudera terparkir di luar, menunggu Aisyah untuk berangkat.

“Tahu, Bu.”

“Bisa Pak Yanto jelaskan ke Pak Slamet, kan?’

“Pak Slamet? Ah, kalau Pak Slamet, dia juga tahu di mana kampus Non Lisa, Bu. Sebelum punya mobil sendiri, Pak Slamet sering nganterin Non Lisa ke kampus.”

Aisyah mengangguk. “Kalau temennya Lisa yang anaknya kepala sekolah itu, apa Pak Yanto kenal?”

“Tidak, Bu.” Pak Yanto garuk kepala. “Tapi, mungkin Pak Slamet tahu. Soalnya dia sering juga nganter-jemput ke rumah temennya Non Lisa.”

“Baiklah. Terima kasih, ya, Pak.” Aisyah bergegas keluar. Ia langsung masuk ke dalam mobil di mana Dimas sudah menunggu.

“Kita pergi sekarang, Bu?”

“Iya, Pak.” Aisyah merebahkan kepalanya. “Pak Slamet tahu kampusnya Lisa, kan?”

“Kampusnya Non Lisa? Tahu, Bu. Ini kita mau daftarkan Den Dimas ke sekolah yang dibilang Non Lisa juga, kan? Nah, kampusnya itu tidak jauh dari sekolah yang mau kita datangi ini, Bu.”

Aisyah berpaling pada adiknya yang tengah fokus membaca buku. “Dim, kamu tidak apa-apa kalau Pak Slamet yang menemanimu untuk mendaftar? Soalnya Kakak mau ngasih tugasnya Lisa yang tertinggal di rumah.”

“Enggak apa-apa, Kak. Dimas juga udah bilang semalam kalau Dimas bisa sendiri yang daftar. Kata Kak Lisa kan cuma tinggal nyerahin berkasnya, doang.”

“Baiklah.” Aisyah tersenyum bangga dengan adiknya yang mulai mandiri. “Pak Yanto, kita ke kampusnya Lisa dulu, lalu Pak Yanto temani Dimas daftar sekolah, ya.”

“Siap, Bu.”

Empat puluh menit kemudian, Aisyah sudah berdiri di depan gerbang kampus Lisa. Mahasiswa keluar masuk gedung perkuliahan. Saat melewati Aisyah, banyak di antara mereka yang menatap geli. Mereka tidak terbiasa melihat wanita bercadar memasuki area kampus.

“Kak Aisyah!” Lisa berlari kecil menghampiri Aisyah. Ia langsung mengambil tugasnya dari tangan kakak iparnya itu. “Terima kasih ya, Kak. Untung ada Kak Aisyah. Kalau enggak, bisa mampus aku. Dosennya ini killer banget. Yang enggak bawa tugas bisa-bisa langsung dapet nilai D.”

“Killer?”

“Kejam, Kak.”

Aisyah mengangguk. Kemudian, pandangannya teralihkan oleh empat orang mahasiswi yang datang menuju ke arahnya. Para mahasiswi itu menatap sambil berbisik-bisik.

“Lisa, ini siapa?” tanya salah satu dari mahasiswi itu.

“Oh, ini Kak Aisyah, Rim. Kakak ipar gue, istrinya Kak Bayu.”

“Istrinya Kak Bayu?” Gadis yang bernama Rima terkejut. “Bukannya Kak Bayu pacaran dengan Kak Keyla? Kak Keyla itu kan cantik, kenapa Kak Bayu bisa putus?”

“Kalau pacaran belum tentu nikah, kan?” jawab Lisa enteng. “Buktinya, Kak Bayu pacaran sama Kak Keyla, tapi nikahnya sama Kak Aisyah. Jodoh memang enggak bisa ditebak.”

“Ini benar-benar enggak salah? Sejak kapan Kak Bayu ganti selera?”

Aisyah melotot pada Rima. “Jodoh itu bukan masalah selera, tapi masalah hati. Kalau kalian suka melihat laki-laki tampan di majalah, belum tentu kalian merasa nyaman bersamanya,” tegasnya.

Rima terdiam. Ia tidak menyangka Aisyah berani menjawab apa yang dikatakannya.

“Woi!” Seorang mahasiswa datang dan langsung merangkul Lisa. Ia mencubit pipi dan mengacak-acak rambut gadis itu dengan akrab. “Tugas lo udah datang, belum? Lo enggak mau kan dapet nilai D?”

“Lisa, siapa dia?” tanya Aisyah, menatap tajam mahasiswa yang masih melingkarkan tangan di leher Lisa. Kalau ia tidak sedang berada di keramaian, Aisyah pasti sudah menghajar mahasiswa itu habis-habisan.

“Boy, lepas.” Lisa bergerak beberapa langkah ke samping hingga mahasiswa yang bernama Boy itu tidak dapat menjangkaunya.

Ketika Boy menyadari siapa yang ada di depannya, ia langsung kikuk. “Kenapa enggak bilang ada ustazah di sini? Tahu begitu, aku enggak ngerangkul Lisa tadi. Maaf ya, Ustazah.” Boy menunjukkan deretan giginya yang rapi sambil menggaruk kepala. “Tapi, ada acara apa, nih? Kok, pakai undang ustazah segala?”

Rima dan teman-temannya tersenyum mendengar ucapan Boy, sedangkan Lisa cemberut. Ia takut Aisyah tersinggung dengan teman-temannya.

“Ini bukan ustazah, oon.” Lisa mengklarifikasi. “Ini kakak ipar gue, istrinya Kak Bayu. Namanya Kak Aisyah.”

“Kakak ipar?” Boy sama terkejutnya dengan Rima tadi. Tetapi, ia langsung berusaha mengendalikan ekspresi wajahnya. Ia kembali menggaruk kepala sambil cengengesan, lalu berkata, “Maaf, Kak. Aku enggak tahu kalau kakak itu istrinya Kak Bayu. Soalnya, Lisa enggak ngasih undangan pas nikahannya Kak Bayu, sih.”

“Oh, ya, Kak Aisyah. Ini Boy, temen Lisa yang anaknya kepala sekolah itu.”

“Bukan saja anak kepala sekolah, tapi anak pemilik sekolah,” tambah Boy, mengangkat dagu.

“Apa kamu sudah menikah dengan Lisa?” Aisyah bertanya pada Boy, membuat bola mata Lisa dan teman-temannya melebar.

“Nikah?” ujar Boy tidak percaya. “Pacaran aja belum, masa langsung nikah.”

“Kalau begitu, jangan sekali lagi menyentuh Lisa seperti tadi. Adik iparku ini bukan barang di kaki lima yang bisa disentuh seenak jidat siapa saja,” tegas Aisyah, menunjukkan sorot matanya yang paling tajam. “Kalau mau mengobrol dengannya, datanglah ke rumah dengan cara yang baik.”

Lisa menepuk dahinya sendiri. “Aduh, Kak Aisyah ngomong apa, sih? Ini bukan waktunya ceramah, Kak.”

“Tapi, Lis ….”

“Aisyah.” Seorang lelaki tiba-tiba datang menyapa. Rima dan teman-temannya langsung menepi, memberi lelaki itu jalan agar bisa lewat.

Melihat wajah lelaki yang menghampiri, Aisyah merasa bumi seolah bergetar. Matahari seakan mendekat. Dan, hujan bagaikan mengguyur. Aisyah merasa seluruh tubuhnya panas dingin. Kedua kakinya bergerak-gerak seperti ada yang menggoncang tubuhnya.

“Rudy?” ucapnya tanpa sadar.

Aisyah masih tidak percaya dengan sosok lelaki yang mendekat ke arahnya. Ia mengenali lelaki itu, tapi hatinya tidak yakin itu lelaki yang sama. Semakin dekat lelaki itu melangkah, semakin sesak pula dada Aisyah. Dan tidak ia sadari, air matanya mengalir.

Terlambat. Kenapa Rudy baru muncul sekarang? Di saat Aisyah sudah terlanjur menderita. Di saat Aisyah hampir mampu untuk melupakan. Entah perasaan Aisyah masih sama dengan beberapa bulan yang lalu. Namun, sepertinya tidak. Kondisinya tidak sama lagi, begitu pula dengan hatinya.

“Kak Aisyah? Kenapa Kakak menangis?” Lisa membawa Aisyah kembali pada kenyataan. “Kak Aisyah enggak apa-apa, kan? Atau Kakak sedang sakit? Kalau sedang sakit, ayo kita ke rumah sakit.”

“Tidak, Lis. Kakak tidak apa-apa.”

“Syukurlah.” Pandangan Lisa beralih pada Rudy yang berdiri di antara mereka. “Oh ya, Pak Rudy, ini tugas saya.”

“Tugas?” Rudy meraih lembaran kertas yang diberikan Lisa dengan pandangan masih tertuju pada Aisyah. Ia menatap sepasang bola mata yang selalu dirindukannya itu.

“Jadi, nilai D-nya dicancel kan, Pak,” kata Lisa, nyengir.

“Ya.”

“Yes,” ujar Lisa girang.

Lisa memeriksa jam tangannya. Sial. Ia harus segera pergi. Ada kuliah yang akan dimulai beberapa menit lagi. Semua kebingungan dan pertanyaan yang terbentuk di kepalanya ketika melihat kedatangan Rudy dan air mata Aisyah terpaksa harus dipendam dulu. “Kak Aisyah, Lisa masuk dulu, ya.”

Aisyah mengangguk.

Setelah Lisa pergi, Aisyah tetap bergeming dengan bola mata tertuju pada Rudy. Ia baru tersadar saat seorang mahasiswa tidak sengaja menyenggolnya. Begitu memperoleh kesadarannya kembali, ia mengucapkan istigfar sambil berbalik badan.

“Aisyah,” panggil Rudy, menghentikan langkah wanita yang berniat untuk pergi.

“Ada apa, Rud? Apa ada masalah dengan kuliah Lisa?”

“Tidak.” Dahi Rudy mengerut mendengar Aisyah menanyakan tentang kuliah Lisa. “Kenapa kamu menanyakan kuliah Lisa? Apa kamu punya hubungan dengannya?”

“Aku kakak iparnya. Jadi, kalau ada masalah dengan kuliahnya, kamu bisa bicara padaku.”

“Aku tidak ingin bicara tentang kuliah Lisa. Aku ingin bicara tentang kita.”



“Tentang kita?” Aisyah tersenyum di balik cadar. “Kita sudah berakhir sejak kamu tidak memberi kabar, Rud.”

“Aku punya alasan untuk itu.” Rudy memejamkan mata. “Aku bisa jelaskan semuanya.”

“Tidak perlu, Rud. Penjelasanmu tidak akan membawa dampak apa-apa. Semua tidak akan berubah meski kamu memberi penjelasan sampai mulutmu berbusa.” Aisyah kembali melangkah, tapi berhasil dicegat oleh Rudy.

“Ada apa sebenarnya, Aisyah? Dan, sekarang kamu memakai cadar? Aku sempat ragu waktu Lisa menyebut namamu tadi. Tapi, untunglah aku masih mengenalimu dengan cadar ini. Apakah ini benar-benar Aisyah yang kukenal?”

“Ya, aku Aisyah. Hanya saja, kondisiku tidak lagi sama.”

“Maksudnya?” Lipatan di dahi Rudy semakin bertambah. “Apanya yang tidak lagi sama? Untukku, kamu masih Aisyah yang sama. Walaupun sekarang kamu memakai cadar, kamu tetap Aisyah yang dulu.”

“Apa kamu tidak mendengar apa yang kukatakan? Aku adalah kakak ipar dari mahasiswi yang bernama Lisa. Itu berarti, aku adalah istri dari kakaknya Lisa,” tegas Aisyah agar Rudy menyudahi percakapan mereka.

“Istri?” Mata Rudy melebar. Tenggorokannya tersumbat hingga ia tidak bisa bernapas dengan normal. “Tidak mungkin,” ucapnya kemudian setelah berhasil menetralisir keterkejutannya.

“Apanya yang tidak mungkin, Rud? Ini adalah kenyataannya. Aku adalah istri dari Bayu Andra Samudera,” tegas Aisyah sekali lagi, membuat pijakan Rudy seolah terbelah dan merobohkan impiannya.

April 21, 2019

Untaian Cinta Aisyah (Part 10. Aku yang Bodoh)

by , in

10. Aku yang Bodoh



Aisyah duduk di bawah pohon yang menghiasi sisi kanan halaman hotel. Air matanya bercucuran tidak bisa berhenti. Menjadi orang yang tidak dianggap benar-benar menyakitkan. Semua yang dilakukan sia-sia karena orang yang ingin dibuat terkesan malah sedikit pun tidak menggubris.



“Kak Aisyah, Lisa minta maaf.” Lisa menghampiri Aisyah dengan tangan penuh kantung belanjaan. “Lisa beneran enggak tahu kalau Kak Bayu sedang bersama wanita itu.”

Aisyah tersenyum meski ia tahu Lisa tidak dapat melihat senyumannya. “Tidak apa-apa, Lis. Aku juga yang bodoh. Sudah sering Mas Bayu mengatakan kalau dia tidak akan pernah menganggap keberadaanku. Dia juga tidak akan pernah menganggapku sebagai istrinya. Tapi, tetap saja aku selalu berharap semua akan berubah. Aku benar-benar bodoh.”

“Kalau begitu, lepas saja cadar yang Kakak pakai.” Lisa terbawa emosi. “Kakak pakai cadar karena diminta Kak Bayu, kan? Dan Kakak menurut saja karena dia suami Kakak. Jadi, kalau Kak Bayu enggak pernah nganggap  Kakak sebagai istrinya, Kakak enggak punya kewajiban untuk memakai cadar itu, dong?”

“Tidak, Lis. Mas Bayu memang tidak menganggapku sebagai istrinya, tapi itu kan cuma dia. Bagaimana dengan Allah? Sejak ijab kabul terucap, Allah telah mencatat statusku sebagai seorang istri.” Aisyah menghela napas. “Surga seorang istri ada pada baktinya kepada seorang suami. Meski aku tidak dianggap, aku akan tetap melaksanakan apa yang menjadi kewajibanku. Aku hanya berharap, Mas Bayu menjadi imam yang baik untukku.” Aisyah menengadah ke langit, berharap doanya akan segera terkabul.

“Bagaimana kalau orang yang Kak Aisyah tunggu bukan Kak Bayu? Maksud Lisa, bagaimana kalau Kak Bayu enggak akan pernah berubah?”

“Entahlah. Tidak masalah kalau Mas Bayu tidak mencintaiku, Lis. Aku hanya tidak tahan melihat tangan Mas Bayu memeluk wanita tadi. Kalau Mas Bayu memang mencintainya, kenapa Mas Bayu tidak menikah dengannya saja? Lebih baik seperti itu daripada mereka melakukan zina seperti tadi.”

“Lisa juga enggak tahu, Kak. Tiba-tiba aja Papa minta Kak Bayu nikah kemarin. Padahal, Papa juga tahu kalau Kak Bayu punya pacar.”

Bola mata Aisyah melebar. Mendengar pernyataan Lisa, ia merasa telah menghancurkan kehidupan Bayu. Pak Samudera memaksa Bayu menikah karena merencanakan sesuatu. Sudah sepantasnya Bayu kesal karena menjadi objek dari rencana itu, bukan?

Lisa meletakkan kantung belanjaan, lalu duduk di samping Aisyah. Ia menghela napas, mengikuti pandangan kakak iparnya itu. Mereka berdua terlihat seperti orang tolol, menatap setiap mobil yang keluar masuk parkiran hotel.

“Ayo kita pulang! Kenapa juga kita di sini lama-lama?” Aisyah berdiri dan menarik tangan Lisa. Dibawanya kantung belanjaan menuju parkiran.

Begitu masuk mobil, pikiran Aisyah langsung melayang. Entah bagaimana nanti ia akan menghadapi Bayu. Tentu ia tidak akan marah-marah pada suaminya itu. Ia yang akan malu sendiri jika sampai melakukannya.

Namun, ternyata semua tidak seperti perkiraan Aisyah. Ketika malam tiba, Bayu pulang dari kantor. Sedikit pun tidak ada kata-kata yang terucap di antara keduanya. Mereka berpapasan, berada dalam kamar yang sama. Tetapi, pandangan mereka selalu tertuju pada arah yang berbeda.

“Kenapa kamu masih memakai cadar itu?” tanya Bayu, seusai makan malam.

“Aku memakainya karena keinginanku.”

“Bohong.”

“Baiklah. Aku tetap memakainya karena aku tidak ingin ada yang membuat kenangan tentang wajahku, seperti yang Mas Bayu inginkan.”

“Bagus.”

Ingin sekali Aisyah mengambil palu dan menggetok kepala lelaki di depannya sekarang. Tampang datar Bayu membuat amarahnya menggelegak. Lelaki itu benar-benar tidak punya perasaan, setidaknya itu yang ada di pikiran Aisyah saat ini.

Untuk meredam amarahnya, Aisyah keluar kamar. Ia duduk di sofa, di samping Lisa yang tengah mengerjakan tugas kuliah. Aisyah berusaha tidak mengganggu adik iparnya dengan tetap bergeming dan mata terpejam.

“Kak Aisyah kenapa?”

“Tidak apa-apa, Lis. Kamu selesaikan tugas kuliahmu saja”

“Gimana Lisa ngerjain tugas kuliah kalau Kak Aisyah masang tampang bete kayak gitu?”

“Dari mana kamu tahu? Aku kan pakai cadar,” kata Aisyah yang dijawab Lisa dengan tatapan tajam. “Aku cuma kesal saja, Lis.”

“Beda ya, Kak?”

Lisa menutup laptop, kemudian menyelaraskan duduknya dengan Aisyah. Ia menarik napas beberapa kali. Untaian kalimat yang ingin diucapkannya seakan terhambat oleh sesuatu dalam tenggorokan.

“Ada apa? Apa kamu sudah selesai mengerjakan tugas kuliahmu?”

“Udah, Kak. Tinggal print, doang.” Bola mata Lisa bergerak, mengamati sudut rumah yang bisa dijangkau oleh pandangannya. “Menurut Kak Aisyah, gimana kondisi rumah ini?”

“Hah?” Aisyah tidak mengerti dengan pertanyaan Lisa. Ia bukan arsitek yang bisa menilai seberapa bagus desain sebuah rumah. “Menurutku, rumah ini bagus. Besar lagi,” kekeh Aisyah.

“Bukan itu maksud Lisa.”

“Lalu?”

“Maksud Lisa, suasana rumah ini. Bukan desain interior atau sejenisnya.” Lisa bingung untuk menyusun kalimat yang tepat. “Pertanyaannya diganti, deh. Bagaimana perasaan Kak Aisyah tinggal di rumah ini?”

Aisyah terdiam. Beberapa detik kemudian, sebuah kata terlintas dalam benaknya untuk menjawab pertanyaan Lisa. “Dingin.”

“Dingin?”

“Ya. Tidak ada kehangatan dalam rumah ini. Kamu, Mas Bayu, Papa, semua seakan tinggal di dunia yang berbeda. Kamu dengan duniamu sendiri, sedangkan Mas Bayu dan Papa juga dengan dunia mereka sendiri. Tidak ada yang mencoba untuk memasuki dunia yang satu untuk saling memahami. Semua tali penghubung yang ada seperti beku dan mulai terputus.”

“Apa Kak Aisyah tahu bagaimana cara memperbaikinya?”

Aisyah menggeleng. “Meski aku tahu, mungkin aku tidak akan bisa. Semua tergantung kamu, Mas Bayu dan Papa. Orang lain tidak bisa mencairkan hubungan ini, Lis. Hanya kalian yang bisa.”

“Apa mungkin dengan sedikit percikan api, rumah ini bisa kembali hangat?” Lisa meraih lembar bahan tugasnya yang berserakan di atas meja.

“Kamu memiliki pemikiran yang sama dengan Papa. Aku tahu sekarang, Papa ingin aku  menikah dengan Mas Bayu karena ingin meruntuhkan tembok pembatas di antara kalian.  Papa ingin aku menjadi penghubung antara kalian bertiga.”

Pemikiran yang bagus. Berbicara dengan Lisa membuat Aisyah mendapatkan sesuatu yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya. Pak Samudera membawanya sebagai menantu ternyata memiliki tujuan yang besar.

Aisyah memperhatikan adik iparnya yang sedang membereskan lembar bahan kuliah. Entah bagaimana ia bisa seakrab ini dengan Lisa. Hanya gadis ini yang nyaman diajak bicara, asal tidak menyinggung cara berpakaiannya atau hal pribadi lainnya. Sedikit demi sedikit, Aisyah mulai memahami karakter Lisa, Pak Samudera, dan Bayu.

Lisa yang ramah, tapi tidak ingin ada yang mengaturnya. Ia terbiasa bebas, melakukan apa yang ia suka tanpa ada yang menegur. Pak Samudera yang kaku, tapi berusaha untuk memperbaiki sesuatu yang salah dalam keluarganya. Ia menyadari hubungannya dengan Lisa dan Bayu tidak terlalu dekat. Ia ingin memperbaiki itu, tapi tidak tahu bagaimana caranya. Dan orang yang paling sedikit dipahami Aisyah adalah Bayu. Lelaki itu selalu bisa membuatnya membeku. Setiap berpapasan, Aisyah ingin menghindar dan menjauh saja. Ia tidak ingin berusaha memecahkan dinding es yang menutupi lelaki itu. Ia akan mengikuti apa yang diinginkan Bayu, termasuk untuk menjauh.

Tidak butuh waktu lama untuk Aisyah tersingkir dari rumah tempatnya bernaung saat ini. Terutama setelah apa yang ia lihat tadi siang. Sama sekali tidak ada harapan untuknya bertahan. Ia hanya membuang-buang waktu dan energi dengan menguntai hubungan yang tidak akan pernah menyatu. Tetapi, sebelum ia benar-benar pergi, tidak ada salahnya untuk mencoba memperbaiki hubungan Lisa, Pak Samudera, dan Bayu, bukan?

“Lisa.” Tiba-tiba sesuatu muncul dalam benak Aisyah. “Mama ….”

“Mama udah meninggal, Kak,” jawab Lisa dengan tenang. “Ada yang ngerampok Mama di jalan. Perutnya ditusuk pisau.”

Innalillahiwainnailaihirojiun.”

“Semua berawal dari meninggalnya Mama. Sejak saat itu, Papa menyibukkan diri dengan urusan hotel. Papa jarang di rumah dan selalu pergi ke luar kota. Kak Bayu yang dulu tidak menyukai urusan hotel, tiba-tiba ikut-ikutan gila kerja.”

“Apa kamu ingin memperbaiki ini semua?”

“Tentu saja. Tapi bagaimana caranya, Kak? Kakak sendiri bisa menilai bagaimana rumah ini.” Bola mata Lisa mulai memerah.

“Kamu ikuti saja apa yang kukatakan. Jika Allah berkehendak, semua akan kembali seperti semula.”

“Semoga apa yang direncanakan Kak Aisyah berhasil.”

Saat Aisyah hampir beranjak, Pak Samudera keluar dari ruang kerjanya membawa sesuatu di tangannya.

“Apa itu, Pa?” Lisa langsung berdiri dan mengambil apa yang ada di tangan Pak Samudera.

“Itu undangan temen dekat Papa. Mereka mau ngerayain ulang tahun ketujuh belas putri mereka.”

“Kita akan datang ke pesta itu?” Antusiasme Lisa melonjak ketika mengetahui apa yang ada di tangannya adalah undangan pesta. Ia memeriksa tanggal dan tempat acara. “Acaranya lusa dan di hotel Samudera?”

“Iya. Mereka nyewa tempat di hotel kita.”

“Kenapa baru sekarang ngasih undangannya, Pa?” protes Lisa. “Kalau gini, kita kan enggak punya banyak waktu buat persiapan.”

“Persiapan?” Aisyah tidak mengerti. Orang lain yang mengadakan pesta, kenapa mereka yang harus melakukan persiapan?

“Iya, Kak. Kita enggak bisa pakai baju biasa dong ke pesta itu. Itu bukan pesta biasa,lho. Itu pesta sweet seventeen.”

Apa pun alasan Lisa, Aisyah tetap bingung.

“Kak Bayu udah tahu, Pa?” Tiba-tiba Lisa teringat kakaknya itu. “Sudah. Dia yang mengurus persiapannya. Karena ini pesta temen Papa, jadi Papa tidak mau dia kecewa pada hotel kita.”

“Ya, sudah. Besok kita beli baju lagi, Kak. Kita harus pilih baju yang paling bagus.”

“Belanja lagi?” Aisyah terkejut dengan kebiasaan yang satu ini. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Seperti yang dikatakan Pak Samudera, mereka tidak bisa membuat teman mertuanya itu kecewa. Untuk itu, mereka juga harus tampil semaksimal mungkin.

Setelah berdiskusi mengenai masalah pakaian, Aisyah kembali ke kamar. Ia berharap Bayu sudah tidur hingga tidak perlu lagi menghadapi suaminya itu. Tetapi, kenyataan tidak pernah sesuai dengan keinginan Aisyah. Ketika ia membuka pintu, Bayu berdiri tepat di depannya. Bola matanya langsung menunduk, kalah dengan tajamnya tatapan Bayu.

“Untuk pesta ulang tahun anaknya teman Papa, kamu boleh tidak mengenakan cadar. Dan ini perintahku.” Bayu menghela napas.

“Kenapa, Mas?”

“Aku tidak ingin kamu menjadi pusat perhatian di pesta itu. Jadi, kamu boleh tidak memakainya ke sana,” tegas Bayu sekali lagi, kemudian pergi ke ruang kerjanya.

Aisyah menggelengkan kepala. Entah kenapa, ia merasa semakin lama sikap Bayu terasa semakin aneh. Jika mereka memang tidak punya hubungan seperti yang seharusnya, tidak bisakah ia bersikap normal?

Baru kemarin Bayu memerintahkan untuk tetap memakai cadar dan sekarang harus dilepas lagi? “Benar-benar seenak jidat kalau memerintah.”

My Instagram