Novel, Short Story, and anymore from Sahrial Pratama

Untaian Cinta Aisyah (Part 27. Kalut)

27. Kalut



“Bagaimana kondisi istri saya, Dok?” tanya Bayu ketika dokter selesai memeriksa Keyla.
Dokter itu tersenyum, lalu menjawab, “Bapak tenang saja. Istri dan bayi Bapak baik-baik saja. Untunglah baju istri Bapak agak longgar dan dia menarik bajunya sehingga tidak mengenai perut. Jadi, tidak ada masalah. Tapi, untuk memastikan kondisinya, lebih baik istri Bapak menginap untuk malam ini.”

“Iya, Dok,” sahut Bayu, mengembuskan napas lega.

“Kalau begitu, kami permisi dulu, Pak.” Dokter yang memeriksa Keyla pergi bersama dengan dua orang suster yang membantunya.

Bayu menatap Keyla yang sedang tertidur. Ia benar-benar bersyukur istrinya itu baik-baik saja. Dunianya sempat terasa gelap saat melihat Keyla merintih kesakitan sambil memegang perutnya tadi. “Untunglah tidak terjadi apa-apa,” desah Bayu.

Pak Samudera merangkul Bayu. “Ayo kita bicara di luar agar Keyla bisa istirahat. Kalau kita di sini, nanti bisa mengganggunya.”

Bayu menurut. Ia mengikuti Pak Samudera keluar dan duduk di kursi yang ada di depan kamar Keyla. Mereka melepas lelah setelah panik yang mendera beberapa jam belakangan ini.

“Bay, apa kamu tidak ingin menelepon Aisyah?” kata Pak Samudera ketika Bayu mulai memejamkan mata.

Kelopak mata Bayu terbuka. Nama Aisyah seolah mendobrak pintu kesadarannya. Ia langsung merogoh ponsel dari saku dan menelepon Aisyah. Tetapi, berapa kali pun Bayu mencoba menelepon, Aisyah tidak kunjung menjawab

Memorinya mendadak memunculkan gambar-gambar yang sama sekali sulit diterima oleh Bayu. Ia mendorong Aisyah dan mengatakan Aisyah sengaja mencelakai Keyla. Mengingat kejadian itu, Bayu meremas kepalanya. Ia tidak percaya sudah melakukan semua itu pada Aisyah.

“Bay, tenangkan dirimu.” Melihat Bayu sangat gelisah karena telepon yang tidak diangkat, Pak Samudera berdiri. “Mungkin Aisyah sedang tidur sekarang.”

“Tidak mungkin, Pa. Aisyah bukan orang yang seperti itu. Kalau ada orang yang terluka, dia pasti tidak akan bisa tidur,” ujar Bayu.

“Kalau kamu tahu itu, kenapa kamu masih membentaknya tadi, hah? Kalau Aisyah memang wanita seperti yang kamu katakan, apa mungkin dia melakukan semua itu pada Keyla?”

Bayu terdiam. Bibirnya bergetar. Namun, tidak sepatah kata pun ia ucapkan. Ia juga tidak mengerti apa yang ada dalam benaknya hingga bisa melakukan itu. Ia sangat kalut ketika Keyla kesakitan. Sudah banyak derita yang diberikannya pada Keyla. Dan, ia tidak bisa menambahnya lagi dengan membuat Keyla kehilangan bayinya.

Ya, perasaan bersalah itu sungguh mengganggu. Meski sudah menikah, tapi perasaan Bayu belum berubah untuk Keyla. Ia tidak akan pernah bisa mencintai Keyla seperti ia mencintai Aisyah.

Cinta? Kapan cinta itu datang? Entahlah. Hanya saja Bayu menyadari kalau ia tidak mau kehilangan Aisyah.

Pak Samudera menuntun Bayu untuk kembali duduk. “Aisyah wanita yang baik. Dia pasti mengerti kenapa kamu melakukan itu. Dia pasti tahu kalau kamu tidak sengaja.”

“Aku harus pulang dan menemuinya, Pa. Aku harus minta maaf. Setiap detik, aku tidak akan bisa tenang sebelum bertemu dengan Aisyah.”

“Apa kamu akan pulang dan meninggalkan Keyla di sini sendirian? Dia juga istrimu, Bay. Kamu yang mengatakan itu.” Pak Samudera menahan Bayu. “Kamu bertemu Aisyah besok pagi saja. Kamu harus bersabar.”

Bayu tidak bisa berbuat apa-apa. Semua yang dikatakan Pak Samudera benar. Bayu tidak bisa melupakan Keyla begitu saja. Meski akan terasa lambat, tapi malam akan berlalu juga. Pagi akan datang dan ia akan bertemu dengan Aisyah, kemudian menjelaskan semuanya.

***

Seperti yang dikatakan Pak Samudera, mereka pulang di pagi hari setelah kondisi Keyla diperiksa dokter untuk memastikan ia dan bayinya baik-baik saja. Keyla sudah mampu berjalan dengan baik dan rasa panas di perutnya sudah tidak terasa.

“Bagaimana kondisi … Kak Keyla?” tanya Lisa menyambut Keyla, Bayu dan Pak Samudera. Setelah bertanya, ia mengalihkan pandangan ke arah lain.

“Keyla baik-baik saja,” jawab Pak Samudera. “Oh ya, Aisyah di mana? Dimas sudah pergi sekolah, ya?”

Bayu membantu Keyla ke kamarnya, sementara Pak Samudera mengobrol dengan Lisa. Sembari berjalan, bola mata Bayu melirik ke kiri dan kanan. Ia mencari seseorang yang sejak semalam ingin ditemuinya. Tetapi, ia tidak melihat atau mendengar suara dari wanita yang dirindukannya itu.

Setelah mengantar Keyla ke kamar, Bayu kembali turun. Ia pergi ke kamar, dapur, ruang kerjanya, dan ke kamar Dimas. Namun, ia tidak menemukan Aisyah meski sudah berkeliling rumah.

“Apa Papa tahu Aisyah di mana?” tanya Bayu pada Pak Samudera yang baru keluar kamar.

“Lisa belum mengatakannya?”

“Mengatakan apa, Pa?” Dahi Bayu berkerut. Ia merasakan firasat buruk.

“Tadi waktu kamu mengantarkan Keyla ke kamar, Lisa bilang, Aisyah dan Dimas pergi.”

“Pergi?” ujarnya tidak percaya. “Mereka pergi ke mana? Kok pergi tidak pamit sama Bayu atau pada Papa?”

Pak Samudera menarik napas. “Mereka kembali ke kampung. Dan, ini adalah keputusan Aisyah. Dia tidak mau tinggal di rumah ini lagi.”

Bayu menggeleng. “Tidak bisa, Pa. Aisyah tidak bisa meninggalkanku seperti ini. Dia tidak boleh pergi sebelum mendengar penjelasanku. Tidak mungkin Aisyah pergi. Dia sudah berjanji.”

Bayu berlari ke luar. Ia akan mengejar Aisyah. Tidak akan ia biarkan Aisyah pergi begitu saja tanpa mengucapkan apa-apa padanya. Bayu sadar kalau Aisyah tersakiti dengan sikapnya tadi malam. Tetapi, pergi tanpa mendengar penjelasannya, Bayu tidak bisa menerimanya.

“Kak Bayu!” teriak Lisa ketika Bayu baru membuka pintu mobil. Ia kemudian berlari kecil menghampiri kakaknya itu. “Kak Bayu tidak boleh mengejar Kak Aisyah,” kata Lisa, menutup pintu mobil.

“Apa yang kamu katakan, Lisa? Aisyah adalah istriku. Aku berhak untuk membawanya kembali ke rumah ini.”

“Kak Bayu memang suami Kak Aisyah, tapi Kakak tidak berhak menyakitinya. Kak Bayu tidak memiliki hak untuk melukainya lebih dalam dan menghancurkannya lebih parah lagi.”

“Apa yang kamu katakan, Lisa?” Bayu memijat keningnya. “Kamu tahu kalau Kakak sudah berubah, ‘kan? Kamu tahu kalau Kakak sangat mencintai Aisyah. Kamu tahu kalau Kakak tidak akan menyakitinya. Dan semalam, itu tidak sengaja. Kakak hanya panik melihat Keyla kesakitan.”



“Ya. Kak Keyla. Semua karena Mak Lampir itu.” Lisa melirik jendela kamar Keyla yang bisa dilihat dari bawah. “Kak Aisyah tahu kalau Kakak mencintainya. Kak Aisyah juga tahu kalau Kakak tidak sengaja melakukan tindakan bodoh seperti semalam. Tapi, Kak Aisyah tidak sanggup lagi, Kak. Dia sudah terlalu sakit. Dan, jika terus dia bertahan di sini, dia takut tidak bisa bangkit lagi.”

“Aku tidak peduli,” tegas Bayu, membuka kembali pintu mobil.

“Kak Bayu!” Lisa tidak mau kalah. Ia menutup lagi pintu mobil. “Tolong Kakak mengerti. Kalau Kakak membawa Kak Aisyah tinggal di sini, maka akan banyak orang yang terluka. Bukan hanya Kak Aisyah dan Keyla, tapi Dimas juga. Apa Kakak tidak memikirkan Dimas? Dia melihat semuanya, Kak. Dia tidak mungkin terima kalau Kakaknya diperlakukan seperti ini. Dan, Kak Keyla. Ya, aku memang tidak menyukai Kak Keyla, tapi aku juga kasihan padanya. Dia sedang hamil. Dia sedang mengandung anak Kak Bayu. Kakak juga tidak pantas memperlakukan dia seperti ini. Kakak harus menjaganya. Coba Kak Bayu pikir, kalau Kak Aisyah tinggal di sini, apa Kak Bayu akan memberi perhatian penuh pada anak yang dikandung Kak Keyla?”

Lisa mengambil kunci mobil yang ada di tangan Bayu. “Biarkan Kak Aisyah pergi. Ini adalah keputusannya. Dan, Kakak harus melakukan yang terbaik untuk anak Kakak. Jangan sampai pengorbanan Kak Aisyah sia-sia.” Lisa kemudian masuk, membawa kuncil mobil untuk memastikan Bayu tidak menyusul Aisyah.

Sementara itu, Bayu terkulai lemas. Ia bersandar pada mobil dengan mata terpejam. “Aisyah,” panggilnya. Tidak sekali, tapi berulang kali ia memanggil nama Aisyah hingga tanpa sadar air matanya menetes.

1 komentar:

My Instagram