28. Bukan Urusanmu
Aisyah menarik napas lega. Ia baru selesai membersihkan rumah yang dipenuhi debu setelah ditinggal beberapa bulan. Begitu pula dengan Dimas. Sampai dua gelas air tidak cukup untuk menghilangkan rasa lelahnya.
“Apa tidak sebaiknya kita menelepon Lisa? Mungkin dia menunggu kabar kita apa sudah sampai.”
“Enggak,” tolak Dimas. “Kita enggak boleh menelepon atau menghubungi mereka, Kak. Aku sudah enggak mau melihat dan mendengar suara mereka.”
Aisyah mencubit pipi Dimas. “Wah, adikku ini sedang marah, ya?” kata Aisyah, tersenyum lebar.
Dimas berdiri untuk menghindari cubitan Aisyah. “Aku mau ketemu teman-temanku, Kak. Mungkin mereka sudah kangen melihat wajahku yang tampan dan menawan ini.” Dimas menyisir rambutnya dengan jari.
“Wah, ini yang kamu dapat dari sekolah di sana?” kekeh Aisyah. “Kamu jadi narsis, ya. Atau jangan-jangan kamu sudah punya pacar di sana? Itu tidak boleh, Dim. Kamu masih kecil, belum boleh pacar-pacaran.”
“Kak Aisyah ngomong apa, sih?” Dimas bergegas pergi sebelum kakaknya itu mengoceh semakin tidak jelas.
“Assalamualaikum!” Tidak berapa lama setelah Dimas pergi, Bu Jum datang tergopoh-gopoh. “Apa yang terjadi, Nduk? Kenapa kamu tidak beritahu Ibu kalau kalian sudah pulang? Untung Ibu ketemu Dimas tadi. Kalau tidak, mungkin Ibu akan jadi orang terakhir yang tahu kalian sudah pulang.”
Aisyah tersenyum. “Wa’alaikum salam, Bu,” ucapnya dengan tenang. “Aisyah akan beritahu Bu Jum, kok. Tadi Aisyah dan Dimas beres-beres dulu, baru memanggil Bu Jum. Kan, tidak enak memanggil Bu Jum dengan rumah berdebu.”
“Kalau kamu panggil Ibu dari tadi, Ibu malah bisa bantu beres-beres,” sungut Bu Jum.
“Itu yang tidak Aisyah inginkan, Bu. Masa kami baru pulang, langsung ngerepotin Bu Jum?” kekeh Aisyah.
“Ya, sudahlah.” Bu Jum mengibaskan tangannya, lalu ekspresinya tiba-tiba berubah serius. “Tapi kenapa kalian pulang, Nduk? Apa ada masalah? Bayu tidak menyakitimu, kan? Jangan bilang itu terjadi. Kalau tidak, aku akan mengulek laki-laki itu dan seluruh keluarganya. Apalagi Pak Samudera. Dia yang berjanji kalau Bayu tidak akan menyakitimu.”
“Aku tidak apa-apa, Bu.” Aisyah berusaha menenangkan Bu Jum dengan senyumannya. “Semua memang harus berakhir. Dari awal, ini kan sudah salah. Mas Bayu tidak pernah menginginkan pernikahan ini.”
“Bayu menceraikanmu, Nduk? Kalian sudah cerai?”
Aisyah menggeleng. “Belum. Mas Bayu belum menceraikan Aisyah. Hanya saja, Mas Bayu sudah menikah lagi.”
“Lalu? Bukankah kamu sudah setuju kalau dia menikah lagi?” Bu Jum berdiri saking marahnya. “Kenapa baru sekarang kamu protes? Kalau dia belum menceraikanmu, kamu yang minta cerai. Sekarang juga. Bagaimana mungkin dia menikah lagi, sementara kamu masih sehat bugar begini? Benar-benar perlu diberi pelajaran mereka.”
“Ini bukan keinginan Mas Bayu, Bu. Dia juga tidak menginginkannya.”
Bu Jum kembali duduk. “Kalau Bayu tidak menginginkan pernikahan itu, berarti Pak Samudera yang memaksa? Walaupun kamu menjelaskannya berulang kali, sepertinya Ibu tidak akan pernah mengerti, Nduk.”
“Aisyah juga jadi bingung, Bu.”
“Lah, bagaimana kamu, Nduk? Ibu tidak mengerti karena memang tidak mau mengerti. Tapi, coba kamu jelaskan sekali lagi, Nduk.” Bu Jum menggaruk kepalanya.
“Wanita itu hamil, Bu. Jadi, Mas Bayu terpaksa menikahinya.”
“Hamil? Siapa yang menghamilinya?”
“Mas … Bayu,” jawab Aisyah, ragu.
“Apa?” Bu Jum kembali berdiri sambil tertawa sinis. “Bayu tidak menginginkan pernikahan itu? Tapi, dia membuat wanita itu hamil. Wah, anak Pak Samudera benar-benar gila, ya. Dia tidak mau menikah, tapi dia membuat wanita itu hamil. Benar-benar gila.”
“Kondisinya tidak seperti yang Bu Jum pikirkan.” Aisyah memijat keningnya. Bu Jum sama sekali tidak mengerti dengan kondisi Bayu saat itu. Namun, Aisyah urung untuk menjelaskan.
“Tapi, bagaimana dengan sekolah Dimas, Nduk? Dia baru mulai sekolah di sana, ‘kan?”
“Aku juga tidak mengerti, Bu. Mungkin dia harus pindah lagi.” Aisyah mengusap wajahnya. Ia juga bingung memikirkan sekolah Dimas. Karena pernikahannya yang tidak jelas, sekolah Dimas menjadi terganggu.
***
Di sore hari, matahari bersinar terik. Rudy sedang mondar-mandir di depan Hotel Samudera. Beberapa kali ia menoleh ke dalam, tapi ia kembali berbalik. “Apa aku tidak apa-apa melakukan ini?” tanyanya pada diri sendiri.
“Ada yang bisa saya bantu, Pak?” Satpam yang dari tadi memperhatikan Rudy akhirnya mendekat.
Rudy tersenyum. “Tidak apa-apa, Pak. Saya sedang menunggu seseorang.”
Satpam itu mengangguk. “Bapak bisa menunggu di dalam. Di sana ada kursi. Daripada Bapak mondar-mandir di sini, saya ikut pusing melihatnya,” kekeh si satpam sambil menunjuk deretan kursi yang ada di lobi.
Rudy memutuskan untuk masuk ke dalam daripada membuat si satpam pusing. Ia menoleh ke kiri dan kanan, mengamati sekeliling dengan saksama. Setelah puas memindai sudut lobi, ia menghela napas. Dalam hati, ia membandingkan dirinya sendiri dengan Bayu. “Aku memang tidak apa-apanya kalau dibandingkan dengan dia,” sesal Rudy.
Ia tidak punya nyali lagi untuk menemui Bayu. Padahal, ketika mendengar Aisyah telah kembali ke kampung, Rudy sangat marah. Bahkan, ketika mengajar tadi, ia sudah menyusun kalimat-kalimat kasar yang akan diucapkannya. Tetapi, realita telah mengalahkan kemarahannya.
Daripada lebih malu lagi, Rudy memutuskan untuk pergi. Namun, ketika ia baru berbalik, seseorang menyetuh pundaknya. Ia menoleh sejenak ke belakang. Mampus, batin Rudy.
“Selamat sore! Kamu temannya Aisyah, kan? Ada yang bisa kubantu?” Bayu menyapa dengan ramah, tidak seperti pertama kali mereka bertemu.
Rudy menarik napas panjang, lalu menatap Bayu. “Iya. Tapi, aku bukan mau memesan kamar di sini. Aku mau menemuimu untuk mengatakan satu hal.”
“Apa?”
Rudy menatap kiri dan kanan. Ada beberapa pegawai Hotel Samudera yang mondar-mandir di sekelilingnya. Jika ia menarik kerah kemeja Bayu seperti yang ada dalam rencananya, mungkin ia akan langsung diusir.
Rudy tertawa sinis. “Hotel ini memang luar biasa. Hanya orang-orang dengan kantung tebal yang bisa memesan kamar di sini.”
“Tidak seperti itu juga.”
“Tidak usah dibahas.” Rudy mengibaskan tangannya. “Apa dengan menjadi pemilik hotel semewah ini, kamu bisa melakukan semua sesuka hatimu?”
Bayu mengernyit. Ia tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan Rudy. “Aku tidak mengerti dengan apa yang kamu bicarakan. Sebaiknya kita ke ruanganku. Tidak enak bicara di sini.”
“Aku hanya sebentar.” Rudy menyilangkan tangan di dada. “Apa yang terjadi pada Aisyah?”
“Aisyah? Apakah Lisa yang menceritakan itu padamu?”
“Bukan. Apa kamu tidak tahu kalau Aisyah tinggal di daerah pedesaan? Gosip di sana sangat cepat berkembang. Pamanku yang ada di sana sampai menelepon hanya untuk menanyakan tentang kebenaran Aisyah.”
“Kebenaran?”
“Orang-orang di sana menggosipkan Aisyah sebagai istri yang tidak becus, apa kamu tahu itu?”
“Maaf. Tapi, sebenarnya ini bukan urusanmu. Ini rumah tangga kami dan orang lain tidak perlu ikut campur.” Bayu meradang. “Aisyah adalah istriku. Aku adalah suaminya. Dan, kamu adalah orang lain. Paham?”
“Aku memang orang lain. Tapi, aku orang yang peduli dengannya. Aku tidak perlu ikatan pernikahan untuk peduli dengan seorang teman, bukan?”
Bayu melotot. Ia tidak terima dengan ucapan Rudy. Sebelum amarahnya semakin memuncak, ia memutuskan untuk pergi. Berhadapan dengan Rudy sama saja akan menambah masalahnya. Semua ucapan Rudy yang mengindikasikan ia menyakiti Aisyah, sedikit pun tidak bisa ia toleransi.



Nungguin part 29 hihihi..
BalasHapusSuka cerita ini.
Segera diposting Kk
HapusNunggu part berikutnya, part 27 menguras air mata. Kasihan Aisyah
BalasHapus